Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: RAJA DI TENGAH GEROMBOLAN SERIGALA
Suasana di dalam Kedai Seribu Tahun seketika membeku. Semua pengunjung menoleh ke arah pintu, lalu memindahkan pandangan mereka ke meja sudut di mana Chen Si duduk santai.
"Gawat! Itu orang-orang Sekte Pedang Awan! Mereka benar-benar datang mencari masalah!" bisik salah satu tamu.
"Pemuda itu pasti tamat riwayatnya. Sekte Pedang Awan itu terkenal sangat pendendam dan kejam. Apalagi mereka datang sebanyak ini, pasti sudah membawa ahli kuat."
Zhao Yun, yang wajahnya masih bengkak dan memar, menunjuk Chen Si dengan mata memancarkan kebencian dan kemenangan.
"Kakel! Itu dia! Orang yang menghina Sekte kita! Yang memukuli kami dan merampas harta kami!" teriaknya keras agar semua orang mendengar.
Dari barisan orang-orang Sekte Pedang Awan, melangkah maju seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna biru tua yang lebih tebal dan memiliki tiga garis emas di lengan. Wajahnya dingin, matanya tajam seperti elang, dan aura yang dipancarkannya jauh lebih padat dan mematikan dibandingkan murid-muridnya.
Itu adalah Elder Qing Feng, salah satu pengurus inti di sekte tersebut, dengan kekuatan setara Penguasa Bumi Pertengahan!
Qing Feng menatap Chen Si dengan tatapan merendahkan. Ia tidak melihat adanya aura kuat yang memancar dari tubuh pemuda itu, hanya energi yang terasa stabil namun biasa saja.
"Kau..." suara Qing Feng berat dan bergema, "Yang telah berani melukai murid-muridku dan merampas properti sekte?"
Chen Si tidak segera menjawab. Ia dengan santai mengangkat gelas anggurnya, menyesapnya perlahan, lalu menaruh gelas itu kembali ke meja dengan suara ting yang pelan namun terdengar jelas di tengah keheningan.
"Kalian datang agak cepat," kata Chen Si santai. "Aku kira anjing-anjing kecil tadi sudah cukup bijak untuk pulang dan mengobati luka. Ternyata malah membawa induknya ikut malu."
BRUK!
Meja-meja di sekitar Chen Si tiba-tiba retak! Tekanan dari tubuh Qing Feng meledak keluar, menekan seluruh ruangan!
"Berani sekali kau bicara seperti itu!" desis Qing Feng marah. "Di Kota Hujan Jernih ini, belum ada yang berani berbicara kasar padaku. Hari ini, aku akan mencabik-cabik mulutmu dan membuatmu menyesal pernah dilahirkan!"
"Jangan banyak omong. Kalau mau bertarung, ayo. Jangan ganggu aku makan," tantang Chen Si sambil mengambil sepotong daging panggang dengan sumpitnya.
Kesombongan Chen Si benar-benar memicu amarah semua orang di sana.
"Gila! Pemuda ini benar-benar tidak tahu takut! Elder Qing Feng itu level Penguasa Bumi lho!"
"Sudah bisa dipastikan dia akan mati hari ini."
Duel Satu Lawan Seratus
"Bagus! Bagus sekali!" Qing Feng tertawa marah. "Murid-muridku! Kelilingi dia! Jangan biarkan dia lari! Aku akan menghancurkannya di sini!"
Puluhan ahli Sekte Pedang Awan langsung menyebar, menghunuskan pedang mereka. Sinar pedang biru putih memenuhi seluruh ruangan restoran mewah itu. Mereka siap memotong Chen Si menjadi daging cincang kapan saja.
Qing Feng mengangkat tangannya, siap memberikan serangan pembuka yang mematikan.
"Tunggu..." tiba-tiba Chen Si angkat bicara.
"Hah? Takut sekarang? Terlambat!" ejek Qing Feng.
"Bukan," Chen Si menggeleng. "Aku cuma mau bilang... Meja ini makanannya mahal. Kalau hancur, kalian yang bayar ya."
"MATI!!"
Qing Feng tidak tahan lagi. Ia menebaskan tangannya ke bawah.
"Teknik Pedang Awan: Ribuan Bilah Mematikan!"
WUSH WUSH WUSH!!
Ratusan bilah pedang energi terbentuk di udara, lalu meluncur turun menghujani posisi Chen Si tanpa ampun! Serangan ini cukup kuat untuk meratakan sebuah gedung bertingkat!
Semua orang di restoran itu menutup mata, tidak sanggup melihat pemandangan mengerikan yang akan terjadi.
Namun...
DING DING DING DING!!!
Suara benturan logam terdengar bertubi-tubi seperti hujan es di atas atap seng.
Ketika mereka membuka mata, mereka melihat pemandangan yang membuat mereka ternganga tak percaya.
Chen Si masih duduk tenang di kursinya. Di sekelilingnya, tidak ada perisai energi yang mewah. Ia hanya memutar-mutar sumpitnya dengan kecepatan yang tidak terlihat mata!
KLING! KLING!
Setiap serangan pedang energi yang datang, dipukul balik oleh sumpit kayu biasa di tangannya! Serangan sekuat itu terpental kemana-mana, menabrak dinding dan langit-langit, membuat lubang-lubang besar, tapi tidak satu pun yang menyentuh ujung rambut Chen Si!
"Baga... bagaimana mungkin?!" Qing Feng terbelalak. Matanya hampir melorot keluar. "Menggunakan sumpit untuk menangkis serangan energi?! Itu mustahil!"
"Bajumu kotor," kata Chen Si tiba-tiba. Ia berdiri perlahan. "Dan kalian sudah merusak makan siangku."
Saat Chen Si berdiri, sebuah aura yang samar namun sangat berat mulai menyebar. Bukan aura tajam seperti pedang, tapi aura kuno, agung, dan menekan seperti gunung tinggi yang menimpa dada.
"Kau pikir level 'Penguasa Bumi' itu hebat?" Chen Si melangkah maju selangkah. "Di mataku, itu baru level cukup untuk jadi penjaga pintu belakang."
Kekuatan Alkemis yang Sebenarnya
"Omong kosong! Bawa dia!!" teriak Qing Feng panik. Ia sendiri yang menyerang!
Pedang panjangnya dihunuskan, memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Ia muncul tepat di depan Chen Si dalam sekejap, menusuk tepat ke jantung dengan kecepatan suara!
"Tusukan Langit Pembunuh!"
Serangan ini sangat cepat dan licik. Bahkan ahli level sama pun akan kesulitan menghindar.
Namun, Chen Si tidak menghindar. Ia justru mengulurkan tangan kanannya, membuka telapak tangan menghadap ujung pedang yang tajam itu.
"Kembali ke asal."
PAK!
Telapak tangan Chen Si menangkap ujung pedang itu! Tangan kosong melompong menangkap bilah baja yang tajam dan berenergi!
"Apa?!" Qing Feng kaget setengah mati. Ia mencoba menarik pedangnya, mencoba menusuk lebih dalam, tapi pedang itu seperti menancap di batu adamant. Tidak bergerak sama sekali.
"Energimu terlalu kotor," bisik Chen Si di telinga Qing Feng. "Terlalu banyak kekacauan. Tidak terlatih."
Tiba-tiba, dari telapak tangan Chen Si mengalirkan sebuah energi keemasan yang sangat murni dan hangat. Energi itu masuk ke dalam pedang, lalu menyusup ke lengan Qing Feng!
"AAAAAAHHHH!!" Qing Feng berteriak kesakitan bukan main. Ia merasa tangannya seperti terbakar api surgawi!
"Lihat. Begini caranya mengalirkan energi dengan benar," kata Chen Si dingin.
Ia memutar pergelangan tangannya sedikit.
KRAK! BRAK!
Tangan Qing Feng terkilir, dan pedangnya terlepas. Chen Si tidak memberi ampun, ia menonjok dada Qing Feng dengan satu pukulan biasa saja.
Tapi...
BOOM!!
Tubuh Qing Feng yang kokoh terlempar seperti boneka kain, menabrak puluhan meja dan akhirnya menembus dinding restoran keluar ke jalan raya! Ia tergeletak tak berdaya, mulutnya memuntahkan darah deras, dan kultivasinya tertekan sementara oleh energi Chen Si!
Seluruh murid Sekte Pedang Awan terdiam kaku. Pemimpin mereka yang dianggap tak terkalahkan... kalah dalam satu serangan?!
Chen Si melangkah keluar dari meja, menatap mereka semua dengan mata dingin.
"Siapa lagi? Atau kalian mau pulang sekarang sambil membawa sampah kalian?"
Kedatangan Tokoh Penting
Situasi semakin genting. Murid-murid Sekte Pedang Awan ketakutan tapi juga malu jika harus lari begitu saja. Mereka ragu-ragu, tidak maju tidak mundur.
Tiba-tiba, dari lantai dua restoran, turun seorang wanita.
Wanita itu sangat cantik jelita, mengenakan gaun berwarna ungu keemasan. Rambutnya hitam panjang diikat dengan pita emas. Aura yang dipancarkannya sangat lembut namun membuat siapa pun merasa segan. Di dadanya terdapat lambang sebuah bejana dan api—lambang resmi Guild Alkemis!
Keberadaan wanita ini membuat seluruh keributan seketika berhenti total.
"Siapa dia? Itu... Itu Nona Yue Yao! Penilai utama Guild Alkemis di kota ini!"
"Gila! Orang penting itu turun tangan!"
Yue Yao tidak menoleh ke arah murid-murid yang ketakutan itu. Matanya justru tertuju lurus ke arah Chen Si, dengan tatapan terkejut dan penasaran yang luar biasa.
"Tuan..." suara Yue Yao lembut namun berwibawa. "Energi yang baru saja kau gunakan tadi... Energi keemasan yang sangat murni itu... Apakah itu..."
Chen Si menoleh, menatap wanita itu. Ia bisa menebak identitasnya hanya dari lambang dan auranya.
"Kalian dari Guild Alkemis ya?" tanya Chen Si.
"Benar. Saya Yue Yao," wanita itu membungkuk sopan, sikapnya sangat berbeda dengan orang-orang sombong sebelumnya. "Saya tidak bermaksud ikut campur urusan perselisihan kalian. Tapi... saya baru saja merasakan aroma 'Api Roh' yang sangat tinggi. Apakah Tuan juga seorang Alkemis?"
Pertanyaan itu membuat semua orang tertegun.
"Alkemis? Dia? Pemuda kampungan ini?" Zhao Yun yang masih terluka langsung tertawa sinis. "Nona Yue jangan tertipu! Dia cuma orang kasar yang andalkan otot! Mana mungkin dia Alkemis!"
Chen Si tersenyum miring. Ia melihat Yue Yao, lalu melihat sekeliling.
"Alkemis... Bisa dibilang begitu. Hanya saja, levelku mungkin sedikit lebih tinggi dari yang kalian bayangkan."
"Berani-beraninya mengaku Alkemis!" tiba-tiba suara lain terdengar.
Dari luar, datang lagi sekelompok orang. Kali ini mereka mengenakan jubah kekaisaran. Dan di depan mereka, ada seorang dokter tua dengan tas obat di punggungnya.
Itu adalah Master Hua, Alkemis tingkat Dua bintang yang paling terkenal di kota ini, dan juga tamu kehormatan Keluarga Murong!
"Hmph! Bocah kurang ajar! Mengaku Alkemis seenaknya?!" hardik Master Hua dengan wajah merengut. "Aku sudah menjadi Alkemis selama lima puluh tahun pun tidak berani sombong seperti itu! Hari ini aku akan mengajarkanmu arti sopan santun!"
Master Hua mengeluarkan sebuah mangkuk batu dari tasnya. "Lihat ini! Ini adalah Pil Pemulihan Darah Merah buatan tanganku! Satu butir saja harganya seratus batu roh! Kau punya barang sehebat ini?!"
Chen Si menatap pil merah itu dengan tatapan meneliti, lalu dia menggeleng pelan.
"Kualitasnya buruk. Terlalu banyak kotoran. Efek sampingnya pasti bikin pusing dan susah tidur," komentar Chen Si santai.
"APA KATA KAU?!" Master Hua marah besar. "Kau berani menghina karyaku?! Kau pikir kau siapa?! Kaisar Alkemis?!"
"Aku bukan kaisar," Chen Si tersenyum misterius. "Aku hanya tahu, bahwa pil yang kubuat... tidak akan pernah seburuk ini."
Chen Si merogoh sakunya, mengambil sebuah kotak batu kecil hasil rampokan tadi, lalu mengambil satu butir pil kecil berwarna emas bening yang bersinar lembut.
Ia melemparkan pil itu ke udara.
"Lihat baik-baik. Ini baru disebut Pil."