LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Detik-Detik Menentukan
DIIIT... DIIIT... DIIIT...
Suara beep dari remote di tangan Rio terdengar jelas di tengah keheningan gudang yang mencekam. Lampu merah kecil di alat itu berkedip cepat, sinkron dengan detak jantung semua orang di sana.
"Waktu berjalan, Sabiru!" teriak Rio, wajahnya basah oleh keringat dingin tapi matanya gila. "Dua menit lagi! Kalau aku tekan tombol ini, kita semua jadi abu! Termasuk kakak kesayanganmu itu!"
Allbiru berdiri tegap di samping Sabiru, napasnya teratur meski situasi genting. Dia melirik Sabiru, memberi kode mata: 'Percaya sama aku?'
Sabiru mengangguk tipis. Jari-jarinya menari liar di atas keyboard laptop yang layarnya masih menyala redup. Kode-kode hijau berlarian cepat, mencoba menembus frekuensi sinyal remote Rio.
"Sinyalnya di-enkripsi manual," gerutu Sabiru pelan, keringat mulai mengalir di pelipisnya. "Aku butuh waktu 30 detik buat break-nya. Kita nggak punya waktu segitu!"
"Mundur! Semua mundur!" Rio mundur selangkah, menjauhkan diri dari mereka, sambil terus mengarahkan remote ke lantai tengah gudang tempat sumber dengungan bom terdengar makin keras. "Atau aku tekan sekarang juga!"
Aldo, yang sedari tadi mengincar posisi tembak, perlahan menurunkan pistolnya sedikit. "Rio, dengerin aku. Kalau kau ledakkan bom ini, kau juga mati. Proyek Genesis yang kau incar selama 20 tahun nggak akan pernah kau dapatkan kalau kau mati konyol di sini!"
"Aku nggak peduli!" bentak Rio histeris. "Kalau aku nggak bisa punya itu, nggak ada orang lain yang boleh punya! Terutama bukan anak-anak Arisendra!"
Tiba-tiba, Allbiru melangkah maju satu langkah. Tangannya terangkat, telapak terbuka. Gerakan itu membuat Rio refleks mundur lagi, jarinya makin menekan tombol merah.
"Tunggu!" suara Allbiru tegas, berwibawa, memotong kepanikan. "Kau bilang kau benci Ayah karena dia mengambil kredit atas karyamu? Karena dia menghina risetmu?"
Rio mendengus. "Dia mencuri ide saya! Dia bikin saya terlihat bodoh di depan investor!"
"Salah," potong Allbiru tajam. Matanya menatap lurus ke jiwa Rio. "Ayah nggak pernah mencuri. Dia justru menyelamatkan duniamu dari kegagalan. Riset energimu itu cacat, Rio. Tidak stabil. Kalau dipaksakan, itu bakal meledak sendiri bahkan tanpa bom sekalipun. Ayah tahu itu. Makanya dia hentikan proyekmu. Dia nyelamatin nyawamu, bukan menghancurkanmu!"
"BOHONG!" Rio berteriak, tangannya gemetar hebat. "Kalian semua bohong!"
"Cek datanya sendiri!" seru Sabiru tiba-tiba. Dia memutar layar laptopnya menghadap Rio. "Aku baru aja akses server pribadi Ayah. Ada file simulasi gagal yang disembunyikan Rio. Lihat grafik merahnya? Itu tanda ketidakstabilan inti energi. Kau mau mati demi sesuatu yang memang sudah rusak dari sananya?"
Rio terpaku. Matanya melotot melihat grafik di layar laptop Sabiru. Data itu... terlalu detail. Terlalu akurat. Ingatan masa lalu menyerbu otaknya. Rapat-rapat tertutup, peringatan Arisendra yang dulu dia anggap sebagai penghinaan... ternyata itu peringatan keselamatan.
Keraguan mulai muncul di wajah Rio. Tekanan jarinya pada tombol remote sedikit berkurang.
"Itu... itu palsu..." gumam Rio, tapi suaranya nggak lagi sekuat tadi.
"Nggak palsu," kata Allbiru, melangkah makin dekat, memanfaatkan celah keraguan itu. "Serahkan remotenya, Rio. Masih ada waktu buat memperbaiki nama baikmu. Jangan jadi martir buat kesalahan sendiri."
Rio terdiam. Napasnya memburu. Keringat deras mengucur.
Detik-detik berlalu.
Bip... Bip... Bip...
Waktu tinggal 45 detik.
Tiba-tiba, mata Rio menyala lagi. Bukan penyesalan, tapi kemarahan murni. "Ah, sudahlah! Mati saja kalian semua!"
Dia hendak menekan tombol itu sekuat tenaga!
"TIDAK!" teriak Aldo.
Tapi sebelum jari Rio menyentuh permukaan tombol, sesuatu terjadi.
Laptop Sabiru mengeluarkan suara 'TING!' nyaring.
SIGNAL OVERRIDDEN.
REMOTE CONTROL DISABLED.
Lampu merah di remote Rio mendadak padam. Gelap.
Tidak ada suara dengungan lagi. Bom di lantai berhenti berbunyi. Hening total.
Rio menekan-nekan tombol itu panik. "Apa ini?! Kenapa nggak nyala?! Hidup! HIDUP!"
"Sudah kubilang," kata Sabiru sambil menutup laptopnya pelan. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menang. "Sinyal remote-mu sudah aku ambil alih. Bomnya sudah dalam mode safe. Nggak bakal meledak."
Rio terduduk lemas di lantai beton. Remote itu jatuh dari tangannya. Dia tertawa kecil, lalu berubah jadi tawa histeris yang menyedihkan. "Gagal... Gagal lagi... Aku selalu kalah dari keluarga sialan itu..."
Aldo segera bergerak cepat, menerjang Rio dan memborgol tangannya erat-erat dengan zip-tie khusus. "Rio Pratama, kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan, penculikan, percobaan pembunuhan, dan terorisme."
Allbiru langsung berlari mendekati Sabiru, memeluknya erat. Tubuhnya masih gemetar sisa adrenalin. "Kau gila, Biru... Kau benar-benar gila. Tapi terima kasih. Kau nyelamatin kita semua."
Sabiru membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Allbiru. "Kita tim, Kak. Ingat? Satu buka dari luar, satu buka dari dalam. Dan satu lagi..." Dia menoleh ke arah Aldo yang sedang menggiring Rio. "...ada yang jagain belakang."
Tiba-tiba, dari luar gudang, terdengar suara sirine polisi yang makin lama makin dekat. Lampu biru merah menyapu dinding gudang melalui celah-celah jendela.
"Polisi datang," kata Aldo sambil menyeret Rio yang pasrah. "Mereka dapat lokasi dari data yang kita kirim ke KPK tadi malam. Tepat waktu."
Malia?
Sabiru teringat sesuatu. "Yah, Ibu mana? Rio bilang dia sandera Ibu tadi!"
Rio yang sedang diseret mendengus sinis. "Ibumu? Hah. Dia nggak di sini. Dia cuma umpan biar kalian datang ke jebakan bodoh ini. Dia aman di rumah sakit, sedang diperiksa polisi soal keterlibatannya dulu sebagai saksi."
Leganya rasa di dada Sabiru begitu besar sampai lututnya lemas. Allbiru sigap menopangnya.
"Oke, cukup drama untuk malam ini," kata Allbiru sambil tersenyum lelah. "Ayo kita pulang. Aku butuh mandi air panas dan tidur selama tiga hari nonstop."
"Setuju," sahut Sabiru sambil tertawa kecil, air mata lega akhirnya menetes. "Tapi sebelum itu..."
Dia menatap Rio yang sedang digiring keluar oleh polisi. Wajah pria itu hancur, habis, tak lagi punya kuasa.
"...aku ingin pastikan dia nggak akan pernah bisa menyakiti siapa pun lagi."
"Firasatmu benar," kata Aldo sambil menepuk pundak Sabiru. "Dengan bukti-bukti yang kau ungkapkan malam ini, Rio bakal menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi tanpa kemungkinan bebas bersyarat."
Mereka bertiga berjalan keluar gudang.
Udara pagi yang segar menyambut mereka. Matahari mulai terbit sepenuhnya, mengusir sisa-sisa kegelapan malam yang kelam.
Di kejauhan, ambulans dan mobil polisi hilir mudik.
Sabiru menarik napas dalam-dalam.
Perang kode telah usai.
Pertempuran fisik telah dimenangkan.
Tapi perjalanan mereka belum selesai. Masih ada satu hal yang belum terungkap sepenuhnya: Lokasi pasti "Black Site" atau pulau terpencil tempat bagian terakhir dari Proyek Genesis disembunyikan. Dan mungkin, di sana masih ada sisa-sisa jaringan Rio yang perlu dibersihkan.
Tapi untuk saat ini...
Sabiru menggenggam tangan Allbiru erat-erat.
Mereka selamat. Mereka bersama. Dan itu sudah cukup untuk memulai hari baru.
"Long wait kita belum selesai sepenuhnya, Kak," bisik Sabiru sambil menatap matahari terbit.
"Allbiru tersenyum, mengecup kening Sabiru pelan. "Nggak apa-apa. Selama kita bersama, menunggu jadi lebih mudah."