NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Tiga tahun telah berlalu sejak malam badai di Mansion Mahendra. Tiga tahun yang bagi sebagian orang adalah waktu untuk bersantai, namun bagi Adelard, itu adalah masa inkubasi dalam neraka. Dengan otak jeniusnya, ia menyelesaikan SMA melalui jalur akselerasi dan menamatkan kuliah ilmu komputer dalam waktu yang memecahkan rekor nasional. Tanpa nama Mahendra, ia membangun "A-Shield" dari sebuah kontrakan sempit menjadi firma keamanan siber paling disegani di pasar gelap, sebelum akhirnya melegalkannya untuk proyek-proyek strategis.

Hari ini, di gedung kementerian pertahanan yang megah, sebuah proyek enkripsi data nasional senilai triliunan rupiah akan diperebutkan.

Di lobi utama, sebuah mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti. Tuan Mahendra turun dengan setelan jas *custom* seharga ratusan juta rupiah. Di sampingnya, Clarissa melangkah dengan anggun mengenakan gaun formal dari rumah mode ternama. Tiga tahun kuliah di jurusan bisnis—yang lebih banyak diisi dengan pesta daripada belajar—tidak melunturkan kesan "putri mahkota" pada dirinya.

"Ingat, Clarissa," Tuan Mahendra menepuk tangan putrinya dengan hangat. "Perhatikan bagaimana Ayah bernegosiasi. Proyek ini akan menjadi jaminan masa depanmu saat kau memimpin Mahendra Group nanti."

Clarissa tersenyum manja, memeluk lengan ayahnya di depan para wartawan. "Tentu, Ayah. Dengan koneksi kita, siapa yang berani melawan Mahendra Group? Semua perusahaan lain hanyalah semut."

Pemandangan itu begitu harmonis. Siapa pun yang melihat mereka akan bersumpah bahwa mereka adalah pasangan ayah dan anak kandung yang paling sempurna. Kehangatan yang terpancar dari Tuan Mahendra kepada Clarissa adalah jenis kasih sayang yang tidak pernah dirasakan Adelard selama belasan tahun.

Saat mereka melangkah menuju ruang tunggu VIP, langkah Clarissa terhenti. Matanya membelalak melihat sesosok wanita yang berdiri di dekat jendela besar, menatap cakrawala kota. Wanita itu mengenakan setelan jas kerja berwarna abu-abu arang yang sangat tajam, rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura otoritas yang dingin dan tak tersentuh.

"Adel?" gumam Clarissa, suaranya mengandung nada ejekan yang tak tertahankan.

Adelard berbalik perlahan. Wajahnya tidak lagi tirus karena lapar. Matanya yang tajam kini memancarkan ketenangan seorang pemangsa yang telah lama mengintai.

"Oh, jadi ini benar kau?" Clarissa melangkah mendekat dengan tawa kecil yang menghina. "Aku hampir tidak mengenalimu. Kau terlihat... lumayan, untuk seseorang yang dulu tidur di atas tikar plastik. Kudengar kau memaksakan diri kuliah? Sayang sekali kau tidak menerima tawaran Ayah tiga tahun lalu untuk kuliah di kampus daerah yang murah itu. Ayah kan sudah bilang, dia bersedia membiayaimu asal sesuai dengan 'kemampuan' otakmu yang terbatas."

Tuan Mahendra ikut mendekat, menatap Adel dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah yang terkubur dan kesombongan yang masih tegak.

"Adel," Tuan Mahendra menyapa, suaranya berat. "Kau terlihat baik. Tapi apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan tempat untuk mencari sumbangan atau pekerjaan staf administrasi."

Adel menatap ayahnya, lalu beralih ke Clarissa yang masih memeluk lengan Tuan Mahendra seolah sedang memamerkan barang jarahan.

"Aku di sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Tuan Mahendra," jawab Adel tenang. Suaranya tidak lagi bergetar karena emosi. "Dan Clarissa... terima kasih atas perhatianmu soal pendidikanku. Tapi gelar *Summa Cum Laude* dari institut teknologi terbaik tidak butuh biaya dari tangan yang kotor."

Clarissa tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian beberapa pejabat yang lewat. "Lihat, Ayah! Dia masih saja bermimpi. Dia pikir dengan ijazah dan perusahaan kecilnya itu dia bisa berdiri di ruangan yang sama dengan kita? Kau tahu ini proyek apa, Adel? Ini proyek keamanan negara. Mahendra Group sudah menyiapkan modal ratusan miliar. Kau? Modalmu apa? Keringat dan air mata panti asuhan?"

"Kita lihat saja di dalam," ucap Adel singkat.

---

Pintu ruang presentasi dibuka. Panel hakim terdiri dari jenderal militer dan ahli teknologi papan atas. Tuan Mahendra dan Clarissa duduk di kursi utama dengan percaya diri. Mereka adalah kandidat nomor satu.

"Silakan, Mahendra Group," instruksi ketua panel.

Tuan Mahendra berdiri, mempresentasikan sistem keamanan yang sebenarnya merupakan pengembangan dari modul yang dulu diciptakan Adel sebelum diusir. Di sampingnya, Clarissa berdiri dengan angkuh, sesekali memberikan komentar tentang "stabilitas finansial" perusahaan mereka. Mereka terlihat seperti pemenang yang tak tergoyahkan.

"Sangat mengesankan," puji salah satu jenderal. "Tapi kami butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pengembangan lama. Kami butuh revolusi."

"Sekarang, giliran A-Shield Technology," panggil ketua panel.

Adelard berdiri. Ia melangkah ke depan tanpa membawa dokumen fisik yang tebal. Ia hanya membawa sebuah *flashdisk* kecil. Saat ia mulai bicara, suasana ruangan berubah.

"Tuan-tuan, sistem yang baru saja dipresentasikan oleh Mahendra Group memiliki satu lubang fatal," Adel memulai, matanya mengunci pandangan Tuan Mahendra yang mulai gelisah. "Enkripsi mereka menggunakan algoritma statis yang mudah ditembus oleh AI generasi terbaru dalam waktu kurang dari tiga puluh detik. Saya tahu itu, karena... sayalah yang merancang dasar algoritma itu tiga tahun lalu."

Tuan Mahendra terbelalak. Wajahnya mulai pucat.

Adel kemudian menampilkan layar proyeksi. Grafik-grafik rumit yang bergerak dinamis memenuhi ruangan. "A-Shield menawarkan *Dynamic Quantum Encryption*. Sistem ini berubah setiap milidetik, menciptakan labirin data yang tidak bisa dipetakan. Ini bukan sekadar pertahanan; ini adalah serangan balik otomatis bagi siapa pun yang mencoba meretas."

Adelard berbicara dengan kefasihan yang luar biasa. Ia menjelaskan teknis dengan presisi yang membuat para ahli di ruangan itu mengangguk kagum. Clarissa, yang hanya mengerti permukaan dari bisnis ayahnya, mulai merasa panas di kursinya. Ia melihat ayahnya mulai berkeringat dingin, tangan pria itu bergetar saat menyadari bahwa proposal Adel berkali-kali lipat lebih canggih daripada miliknya.

"Berapa biaya operasional yang Anda tawarkan?" tanya seorang jenderal dengan nada tertarik.

"Sepertiga dari harga Mahendra Group," jawab Adel tanpa ragu. "Karena saya membangun infrastruktur ini dengan efisiensi murni, bukan dengan biaya pameran atau gaya hidup mewah para eksekutifnya."

Sindirannya menusuk tepat ke jantung Clarissa.

"Ini tidak mungkin!" Clarissa tiba-tiba interupsi, lupa akan etiket rapat formal. "Dia hanya menjiplak! Ayah, katakan sesuatu! Dia pasti mencuri data kita!"

"Diam, Clarissa!" desis Tuan Mahendra, suaranya serak karena malu. Ia melihat para hakim menatap putrinya dengan pandangan merendahkan.

Tuan Mahendra menatap Adel yang berdiri tegak di depan sana. Di mata Adel, ia tidak lagi melihat gadis kecil yang menangis meminta pengakuan. Ia melihat seorang raksasa intelektual yang baru saja meruntuhkan kredibilitasnya hanya dalam waktu lima belas menit. Ia melihat darah Mahendra yang asli—jenius, dingin, dan mematikan—sedang menghancurkan dirinya sendiri.

---

Setelah sesi presentasi berakhir, pengumuman pemenang sementara jatuh secara mutlak kepada A-Shield.

Di lorong gedung yang sunyi, Tuan Mahendra mencegat Adel. Clarissa mengekor di belakang dengan wajah merah padam karena marah dan malu.

"Adel! Tunggu!" Tuan Mahendra memanggil.

Adel berhenti, namun ia tidak berbalik. "Ada apa lagi, Tuan Mahendra? Apakah Anda ingin menawarkan 'kampus daerah' lainnya untukku?"

"Kenapa kau lakukan ini?" suara Tuan Mahendra bergetar. "Kau ingin menghancurkan Ayah? Kau tahu proyek ini adalah nyawa perusahaan kita tahun ini!"

Adel berbalik, menatap ayahnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak sedang menghancurkanmu, Tuan Mahendra. Aku hanya sedang menunjukkan apa yang terjadi ketika Anda membuang berlian karena takut berlian itu terlalu tajam untuk tangan Anda yang penuh kebohongan."

Clarissa maju, menunjuk wajah Adel dengan jari yang bergetar. "Kau pikir kau sudah menang? Kau tetap saja tidak punya keluarga! Lihat aku! Ayah tetap mencintaiku, Ayah tetap membawaku ke sini! Kau hanya punya teknologi sampah itu, tapi kau sendirian!"

Adel menatap Clarissa dengan rasa kasihan yang dalam. "Clarissa, kau boleh memiliki 'ayah' itu, kau boleh memiliki kasih sayang palsunya, dan kau boleh memiliki rumah mewah itu. Tapi di meja tender tadi, dunia melihat siapa yang sebenarnya pantas menyandang nama besar. Ayahmu gemetar bukan karena dia takut padaku, tapi karena dia sadar... bahwa dia telah membesarkan seorang boneka, sementara dia membuang satu-satunya orang yang bisa menjaga takhtanya tetap tegak."

Adel menoleh pada Tuan Mahendra untuk terakhir kali. "Nikmatilah perjalanan pulangmu dengan 'putri kesayanganmu' ini. Tapi siapkan dirimu, karena ini baru awal dari keruntuhan Mahendra Group. Darah asli Mahendra tidak butuh belas kasihan, ia hanya butuh hasil nyata."

Adel melangkah pergi dengan langkah yang ringan, meninggalkan Tuan Mahendra yang terpaku menatap punggung putri kandungnya. Di sampingnya, Clarissa terus meracau marah, namun Tuan Mahendra tidak lagi mendengarkan. Ia menyadari bahwa harmoni yang ia bangun selama tiga tahun ini hanyalah gelembung sabun yang baru saja pecah oleh realitas yang bernama Adelard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!