Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ezar belum menyerah. Helaan napas tertahan, kalimat penyemangat kembali bersua, "Mas... Papah semakin hari semakin tua. Mas Dewa nggak kasihan lihat Papah jungkir balik mengurus perusahaan. Kantor selalu menunggu kedatangan Mas Dewa. Buktikan sama Papah bahwa Mas Dewa juga bisa bangkit. Buat Papah bangga, meskipun dengan versi Mas Dewa sendiri." Ezar menyentuh pundak kakaknya. "Jangan lupa minum obat, dan segeralah tidur! Selamat malam, Mas...." Langkah kaki itu terayun menuju pintu keluar.
Dewa masih bergeming beberapa menit, sebelum dirinya bangkit kembali. Arloji di nakas sudah menunjukan pukul 8 malam, ia hampir lupa menunaikan kewajibannya; sholat Isyak. Segera mungkin Dewa masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu
Sementara di kamar sebelah, Ezar baru saja berniat merebahkan tubuhnya yang seharian ini dibantai oleh keadaan. Sebelum itu, segelas air sepertinya dapat merilekskan isi kepalanya begitu air tadi menjalar pada tenggorokannya.
Segelas sudah tertenggak tatas. Mulut itu masih mengembung, matanya menyipit kearah gawai diatas nakas.
Dan ketika terbuka, bebrapa pesan dari Asistennya mulai Ezar buka satu persatu.
Mata Ezar membola tajam. Air dalam mulutnya keluar, terbatuk bak mencekik lehernya.
"Jadi... Suaminya Miranda masih hidup? Tapi... Kenapa kantor bilang jika sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Dan... Jika pria tadi suaminya, kenapa harus keluar sendiri-sendiri? Apa Identitas Arya di sembunyikan?"
Malam itu Ezar urungkan niatnya untuk sekedar istirahat. Pria tampan itu bangkit, dadanya kembali terguncang hebat hanya karena memikirkan kehidupan Miranda.
"Sial? Apa yang terjadi sebenarnya. Aku nggak bisa tunggu besuk untuk mencari tahu. Aku harus melihat sendiri," tanpa berpikir dua kali, Ezar menyambar jaket serta kuncinya dan berniat turun ke bawah.
Belum sampai turun. Tanganya masih menggantung pada handle pintu. Samar-samar Ezar mendengar suara lantunan ayat suci Al-Quran yang entah siapa yang membacanya malam-malam seperti ini.
Suara itu bukalah seperti suara seorang yang fasih membaca Qur'an. Ada jeda di setiap helaan napas. Namun, si pembaca masih terus berusaha.
Ezar penasaran. Menutup pintu pun secara pelan. Semakin ia berjalan, suara itu semakin terdengar jelas dari kamar Kakaknya~Dewa.
Langkah Ezar kembali menggantung, saat gawainya bergetar.
Drtt!!
Hal itu mengalihkan fokusnya. Ia urungkan niatnya untuk mendekat. Nama sang rekan terpampang, dan hal itu membuat Ezar segera turun ke bawah.
" Iya, baik Pak Harlan. Saya coba lihat dulu datanya."
Setelah memutuskan turun, semua keraguan dan rasa ingin tahunya terhempas. Dan kini, Ezar masih berkutat di ruang kerja hingga obrolan penting itu berakhir.
Hoodie sudah ia kenakan, Ezar juga menanggalkan tudungnya pada kepala. Dan saat keluar, Bu Ria syok dengan penampilan putranya itu.
Lampu temaram itu berubah terang. Lagi-lagi langkah Ezar berhenti. Helaan napas menyamai.
"Ezar... Malam begini mau kemana? Pakai baju item-item pula. Bikin Mamah jantungan aja." Bu Ria sudah berdiri di samping saklar lampu.
Ezar menghembuskan napas lirih. "Ezar mau nongkrong aja, Mah!"
"Tapi ini udah jam 10 lewat, Zar!"
Mendengarkan ocehan Mamhnya hanya akan mengulur waktu. Ezar mendekat, meninggalkan kecupan hangat pada kepala Ibunya sekilas. "Udah ya, Mah. Nanti Ezar pulang nggak sampai larut kok."
"Ezar....!!! Anak itu ya, suka bikini Mamahnya kesal," gerutu Bu Ria.
Mobil mewah itu melesat kencang. Pukul 10 keadaan jalanan cukup sepi. Ezar dengan seribu pertanyaan dalam kepalanya, semakin kuat menancap pedal gas mobilnya. Tak memerlukan waktu lama, hanya beberapa menit, mobil itu sudah memasuki perumahan tempat tinggal Miranda.
Ezar menepikan mobilnya agak menyamping. "Apa dia belum pulang? Atau sudah tidur?" gumamnya.
Di tepi pagar itu, Ezar tampak menelisik garasi Miranda. Disana tidak ada mobil yang terparkir. Sementara lampu teras depan masih menyala.
Dari arah belakang, terdengar deru mobil yang akan menepi di sebrang tempat mobilnya. Ezar reflek menolehkan badanya. Dan rupanya, mobil itu berhenti di depan rumah Miranda.
"Ternyata dia baru pulang. Kemana saja mereka?" Ezar menghatamkan matanya, dan melihat gerak Miranda bersama Afran.
Pria tampan disebrang, dengan sikap sigap membukakan pintu, karena Miranda tampak kualahan menggendong putranya juga membawa dua paperbag yang berisikan mainan dan makanan. Jadi Afran sedikit membantu membawakan.
"Mas Afran, terimakasih banyak! Maaf jika Tama bersikap lancang," ucapnya tidak enak.
Afran hanya menanggapinya dengan senyum kecil. "Tidak perlu kamu cemaskan, Miranda! Sekarang kamu masuk, Tama juga sudah pules banget tidurnya," katanya sambil mengusap kepala Tama. "Kalau begitu saya permisi."
Ezar tertegun. Mobil yang dibawa pria tadi sudah melenggang pergi. "Pria itu pergi? Apa maksud semua ini? Kenapa pria itu nggak ikut masuk?" dihantam asumsi yang berlebihan membuat kepala Ezar berdenyut. "Ah sial! Siapa sebenarnya sosok Arya itu?"
Miranda menunduk sekilas. Tiba-tiba saja matanya memicing, di sebrang rumahnya terdapat mobil mewah yang berhenti di depan rumah tetangganya. Beberapa asumsi Miranda meledak. Siapakah pemilik mobil itu? Jika pun tamu tetangganya, kenapa mobil itu tidak di masukan ke garasi?
Mengingat Tama sudah mulai tak nyaman dalam gendongannya, Miranda enyahkan dan bergegas masuk ke dalam.
"Alhamdulillah... Ya Allah, makasih udah bantuin saya seharian ini," gumam Miranda menghembuskan napas lega. Putranya sudah ia rebahkan di atas ranjang. Sembari merentangkan tanganya yang terasa kebas akibat gendongan Tama tadi, Miranda kini meletakan mainan tadi diatas rak khusus.
Setelah menyelimuti putranya, Miranda berniat keluar untuk sekedar mengunci pagar rumah.
Baru saja Miranda keluar membuka pintu. Rupanya, di pagar rumahnya tadi ada seorang pria yang sedang berdiam diri memakai pakaian tudung hitam. Wajahnya tertunduk tak begitu jelas. Bukanya takut, Miranda langsung memekik,
"Heiii... Siapa kamu!"
Deg!
Cepat-cepat Ezar membalikan badan dan berniat untuk kembali ke dalam mobil. Tapi siapa sangka, langkah kaki Miranda lebih cepat dari kakinya.
Ezar terpaku. Kalimat Miranda berhasil mengikat kakinya, hingga bergerak saja rasanya susah.
"Sial! Miranda nggak boleh tahu kalau aku mengawasi rumahnya sejak tadi. Nggak, nggak! Aku harus segera masuk mobil dan pergi," batin Ezar terdorong.
Miranda menyipitkan mata. Ada perasaan cemas sekaligus ketakutan yang membekukan hatinya. "Siapa kamu! Mau maling, ya?"
Ezar segera mungkin bergegas masuk ke dalam mobil, segera pergi dari area perumahan.
Sapu ijuk tadi kembali Miranda luruhkan. Rupanya, pria itu pemilik mobil tadi. Miranda sempat terkejut juga. Namun Miranda dapat mengingat, di sana terdapat huruf E dalam plat mobil pria itu.
"Siapa sih? Malam-malam bikin orang parno saja. Apa dia penculik ya? Awas saja kalau aku ketemu sama mobil tadi," puas menggerutu, Miranda kembali masuk ke dalam.
Bukan untuk sekedar santai. Bukan pula beristirahat merebahkan tubuhnya. Di sana, diatas meja, tumbukan kain beserta pakaian dari para tetangganya sudah menunggu untuk di jahit. Menatap setumpuk rejeki itu membuat Miranda menghela napas syukur. Setidaknya, Tuhan masih memberinya rejeki dalam porsi lain.
Di tengah persiapanya akan berperang dengan dunia. Tiba-tiba gawai Miranda bergetar di sebelahnya.
"Nomor siapa ini?" Miranda menyipitkan matanya.
Miranda terpaksa mengangkat, siapa tahu salah satu admin tempatnya melamar kerja. Dengan lirihan 'Bismillah' Miranda menjawab panggilan itu.
"Hallo, Assalamualaikum... Miranda, ini saya, Afran! Maaf mengganggu lagi."
Dan ternyata yang menghubungi Miranda adalah Afran. Setelah tadi ada perbincangan mengenai masalah kerjaan, mungkin saja pria itu akan memberi sedikit peluang untuk Miranda.
"Walaikumsalam, iya, ada apa Mas Afran?"
Di sebrang, Afran masih belum sempat turun dari mobilnya. Ia juga baru mendapat kabar dari rekanya malam ini. "Oh ya, Mir... Saya baru mendapat kabar dari rekan Saya tadi, dan memang dia masih membutuhkan jasa jahit untuk membantu karyawan di konveksinya. Tadi aku juga udah kasih tahu sama dia, kamu hanya bantuin pemasangan label merk saja. Itu untuk prodak Jilbab. Kamu juga bisa kerjain di rumah jika tidak sibuk. Mendekati puasa ini, pesanan jilbab mereka membludak, jadi kamu pasti tau sendiri lah."
Miranda tersenyum puas menahan rasa bahagianya. Syukur dalam hatinya menggema, tak menyangka hidupnya masih di kelilingi orang-orang baik.
"Mas Afran terimakasih banyak ya. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Mas Afran," suara Miranda sampai bergetar saking bahagianya.
Afran disana juga merasa bersyukur dapat membantu Miranda. Bukan karena ada maksud terselubung. Tapi, dalam hidup Janda itu ada Tama, seorang Yatim yang barus ia kasihi.
Panggilan terputus. Afran sudah berniat turun. Langkahnya teratur, wajahnya menegak begitu teduh.
Namun begitu pintu terbuka, ia syok, kekasihnya~Lita, sudah berdiri di dalam pintu bersama Ibunya.
...----------------...
Maaf kak, 2 bab dulu ya. Hari minggu masih tetep produktif nih di real life septi. Tapi babnya udah di kasih panjang kok. Besuk baru di kasih crazy up❤❤
Sekamat berakhir pekan🎉❤