"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA AIRLANGGA
"Iya, katakan apa kemauan kamu, Arya."
"Aku memiliki syarat."
"Alihkan seluruh aset miliknya atas nama ku, tanpa terkecuali."
Arya memijat keningnya yang berdenyut. Ia tidak menyangka akan menjadi manusia serakah, dengan meminta Nathan memindahkan seluruh kekayaan milik putra tunggalnya dengan atas namanya.
Dengan di jemput dua mobil yang sama, Arya hanya menurut saat di minta untuk masuk ke dalam satu mobil hitam. Ia yakin, kalau Nathan berada di mobil satunya dan mengawasinya.
"Saya senang Anda kembali, Tuan."
Di dalam mobil itu hanya ada didinya dan satu pria seusianya, Wira Mahendra. Wira di utus oleh Nathan secara langsung untuk menjadi sekretaris pribadi Arya, dan mengurus semua tentang Arya.
"Aku tidak menyangka kalau Ayah benar-benar bisa melengserkan putra semata wayangnya dan di berikan kepada ku. Pasti kamu tidak menyangka,"
Wira tertawa pelan, pria itu juga sedikit terkejut segala di beritahu oleh Nathan tengang keputusannya. Bahkan terjadi pertengkaran sengit antara Nathan dan Hendra, putranya.
"Anda benar, Tuan."
Mereka berdua terdiam setelah itu. Hingga kedua mobil hitam itu keluar dari pelosok desa asri, Arya memejamkan matanya sejenak dan membiarkan mobil yang di kemudikan oleh wira pergi membawanya.
"Saya dengar, Anda baru saja keluar dari rumah sakit. Apakah anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Wira melirik Arya dari spion.
Arya hanya mengangguk, "kamu khawatir?" gurau Arya dengan tawa pelan seraya menantang pelan kursi kemudi. Wira hanya tersenyum tipis, ia senang bisa berkenalan dan bekerja sebagai sekretaris Arya.
Menurutnya, Arya jauh lebih pantas menjadi pemimpin di bandingkan dengan Hendra. Sifat dari putra Nathan itu membuatnya geleng-geleng kepala, selalu menghamburkan uang dan berlaku seenaknya. Arya jauh memiliki kharisma dan aura seorang pemimpin, ia menyukai setiap gerak-gerik pria di belakangnya.
"Bagaimana dengan Adik anda?"
"Dia sudah menikah dengan putra dari rival Nathan," jawab Arya dengan ketus. Ia kurang menyukai kalau membahas rival dan permusuhan antara keluarga Airlangga dengan keluarga Darmawangsa.
"Berarti dengan Tuan Arnold? Wah, saya tidak menyangka."
Tak lama kedua mobil itu memasuki area sebuah hotel mewah, dengan di sambut beberapa pegawai sekaligus resepsionis hotel, Arya menatap bangunan tinggi itu dengan datar.
"Jas Anda, Tuan." Arya mengambil jas navy dan memakainya tanpa mengancingi jas.
"Ayo, Nak." Arya mengikuti langkah Nathan di depannya. Pria tua yang sudah berjalan harus di dampingi dengan tongkat.
"Aku kira Ayah akan langsung mengajakku pulang ke mansion," ucap Arya sedikit ketus. Ia juga tidak berharap akan langsung pulang ke rumah besar itu. Mereka berdua berada di situasi canggung di dalam lift menuju lantai paling atas di hotel.
"Setelah ini saja, lagipula pasti Hendra sedang mengamuk lagi." jawab Nathan dengan menggeleng pelan. Ia juga tak menyangka, kalau putra yang ia banggakan malah menyimpang bahkan tidak berguna sedikitpun.
"Lagipula putra Ayah itu memang selalu mengamuk sedari dulu," sindir Arya membuat Nathan terdiam. Hingga mereka tiba di lantai paling atas, ruangan kosong yang sempat Nathan sulap menjadi Penthouse pribadi yang mewah. Nathan dan Arya masuk ke dalam ruangan itu, Arya melirik sekitaran yang sungguh mewah dengan lampu gantung yang besar.
"Duduk dan baca ini,"
Arya membuka berkas putih itu dan membacanya dengan seksama, tatapannya langsung tertuju kepada Nathan yang sedang menatapnya di seberang sofa. Ia mengira kalau Nathan akan mengabaikan syaratnya yang terlalu berat, tapi pria tua itu benar-benar melakukan yang ia minta.
"Aku sudah memindahkan semua aset Hendra atas nama kamu, dan ini satu hadiah dari ku." Arya menatap beberapa kartu dan juga beberapa kunci di hadapannya. "Ambil dan lakukan yang kamu mau, Nak."
Good job, Arya.
...****************...
"Long time no see, Hendra!" sapa Arya kepada pria di hadapannya. Pria yang sudah menampilkan wajah marah dan penuh dendam, di sebelahnya ada seorang pria yang tidak Arya kenal. Mungkin saja kekasih hati Hendra? Mengingat Hendra adalah penyuka sesama jenis.
"Brengsek! Kembalikan semua harta ku, pria sialan!"
Hendra langsung menarik kerah kemeja Arya, pria itu tertawa dan dengan santai menepis tangan Hendra dari kerah kemejanya. "Ayah kamu yang melakukan itu, aku hanya menerimanya dengan senang hati." kilah Arya dengan senyuman remeh.
Arya meminta Wira untuk mengajak temu Hendra di sebuah bar di pusat kota, bar yang memiliki private room untuk tamu spesial, dan salah satunya adalah Arya. Arya tak menyentuh minuman, tapi ia sering berkunjung dulu hanya untuk bersantai tanpa sepengatahuan Anjani dahulu.
"KAMU PASTI SUDAH MENGHASUT AYAH KU, ARYA!" hardik Hendra dengan urat-urat yang menonjol.
"Sayang, jangan seperti itu. Aku takut," ucap pria di sebelah Hendra membuat Arya bergidik ngeri sekaligus geli. Hendra dan pria gemulai di sebelahnya, terang-terangan mengumbar kemesraan yang seharusnya tidak mereka tunjukkan.
"Ah, kalian ini sungguh menjijikkan," sahut Arya dengan tatapan tajam. Hendra semakin menatap Arya dengan tajam dan tiba-tiba saja melayangkan sebuah gelas minuman ke arah Arya.
PRANG ....
Arya terdiam, hingga tetesan darah terjatuh dari wajahnya menyadarkan pria itu. "TUTUP MULUT MU DAN KEMBALIKAN SEMUA HARTA KU!"
Arya mengusap pelipisnya yang terluka dan menatap pria di sebelah Hendra. "Kalau kamu ingin mendapatkan kembali harta mu, maka berubah dan tinggalkan dia!" tekannya dengan menunjukkan secara terang-terangan pria gemulai yang di rangkul oleh Hendra.
"What?"
"JANGAN MENGURUSI HIDUP KU! HIDUP KAMU ITU JAUH LEBIH RENDAH DI BANDINGKAN AKU,"
"Aku bisa saja menuntut mu ke pengadilan atas kasus penganiayaan, Hendra. Apakah kamu tidak memikirkan Ayah mu yang sedang sakit?"
"SILAKAN SAJA! SEHARUSNYA KAMU SADAR DIRI KARENA DI ADOPSI OLEH AYAHKU!" teriakan Hendra semakin menggema. Arya merasa kaca di sekitarannya bergetar pelan.
"Aku sadar diri dan seharusnya kamu juga sadar diri kalau hanya kamu putra yang di banggakan oleh Ayah." ucap Hendra begitu menusuk. Tatapan pria itu tampak santai walaupun darah mulai menetes dari pelipisnya.
Hendra terdiam tapi pria itu semakin merangkul pria yang menjadi kekasih hatinya. Dengan gaya hidup menyimpang, dirinya tahu kalau hal ini kriminal dan sebuah kejahatan besar untuk sebagian besar, tapi penyimpangan bukanlah tindak pidana, hanya menyimpang dari moral dan norma manusia. Tapi melihat bagaimana Ayahnya sendiri mengadopsi pria asing, membuat Hendra tidak terima.
Nathan bahkan memindahkan seluruh aset mengatasnamakan Arya, menghapus nama Hendra dari hak waris secara sepihak, membuat Hendra semakin membenci Arya. Terlebih lagi dengan permusuhan antara keluarga Airlangga dengan Darmawangsa, Hendra benar-benar tidak bisa bebas karena selalu diawasi oleh seseorang tidak di kenal.
Melihat diamnya Hendra, Arya menyunggingkan senyuman miring. "Aku kembali bukan berarti aku melanggar janji ku pada mu. Aku kembali hanya untuk Ayah,"
Walaupun Nathan bukan ayah kandungnya, tidak bisa di pungkiri kalau Nathan adalah pria yang baik dan menyayangi dirinya. Mungkin sebuah anugrah bagi Arya karena di adopsi oleh pria seperti Nathan.
"Kamu memang sudah melanggar janji mu,"
"Tidak," bantah Arya. "Bukankah kita sudah memiliki kesepakatan bersama, selama aku tidak muncul di hadapan mu, kamu akan berubah? Seharusnya aku yang mengatakan, kalau kamu yang melanggarnya."
Arya dan Hendra memiliki kesepakatan kecil yang benar-benar berdampak besar. Sejak awal, Hendra membuat kesepakatan di mana Arya tidak boleh kembali ke kota maka Hendra akan berubah serta meninggalkan dunia menyimpangnya. Tapi kali ini, Arya datang dan membuat Hendra tak berkutik.
"Ayah terus memaksa ku untuk setuju menyematkan nama Airlangga di belakang nama ku, tapi aku menolak karena aku merasa tidak berhak serta aku menghargai mu sebagai putra kandungnya."
"Tapi kamu ...."
"Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk merebut semua harta mu, aku memang meminta syarat kepada Ayah tapi aku juga tak menyangka kalau dia akan mengabulkannya. Bukankah kita impas?"
Arya menghela napas, ia merasa terlalu banyak bicara kali ini. dengan masih memegangi pelipisnya, Arya memilih untuk meninggalkan Hendra. Wira yang sejak tadi duduk di dekat ruangan, terkejut melihat darah keluar dari pelipis atasannya.
"Perlu kita ke rumah sakit, Tuan?"
"Iya, aku juga ingin beristirahat sejenak."
Wira tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan, tapi melihat Arya yang terluka, ia cukup menyimpulkan satu hal, kalau Hendra melukai Arya dengan gelas.