Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Kediaman Raja Kota
"Paman Liu, namaku sekarang Feng Yan. Paman pasti mengerti kenapa aku memakai nama ini bukan?" ucap Feng Yan pelan dan memasukkan pedangnya ke dalam cincin penyimpanan dimensi.
"Hmm, Feng Yan? Baiklah aku mengerti kondisimu saat ini? Sekarang sudah lewat tengah malam mari kita kembali ke kediamanku terlebih dahulu." Raja kota Liu mengajak mereka pergi bersamanya.
"Aku tidak menyangka kalau paman ternyata raja kota Pintu Angin. Tapi paman, kami harus segera pergi dari sini" Feng Yan terlihat enggan kembali ke kota.
"Adik Feng, kita tidak akan
Ditangkap bukan? Tanya Yunzhi yang sekarang terlihat lebih bersikap lembut.
Mendengar ucapan gadis muda itu Raja kota Liu hanya tertawa kecil " Nona, kalau kau teman bocah ini maka aku akan melupakan semua yang terjadi."
Penjelasan dari raja kota membuat Yunzhi menjadi lebih tenang.
"Huang... ehem, Maksudku Feng Yan kenapa kau sangat ingin pergi dari sini? Bukankah kau tidak memiliki tujuan apapun. Tinggalah bersamaku, aku akan merawatmu seperti anak sendiri. Dengan begitu hutang budiku pada mendiang ibumu akan terbalaskan."
"Maaf Raja kota, bolehkah aku tahu apa hubunganmu dengan adik Feng?"
tanya Yunzhi penasaran.
"Aku memiliki hubungan baik
Dengan ibu dan pamannya, dan aku memiliki banyak hutang budi pada ibu bocah ini. Dan aku sudah mengenal baik bocah ini karena cukup sering bertemu di kediaman Huang" Raja kota menjelaskan pada Yunzhi.
"Bagaimana Yan'er? Tinggal lah denganku, putriku pasti senang mendapat teman sebaya."
"Terima kasih paman, tapi orang-orang tetua Dong sangat ingin membunuhku. Dan jarak dari Huang ke kota ini tidak terlalu jauh"
"Tetua Dong? Memangnya kenapa dia ingin membunuhmu?" tanya Liu Yaoshan dengan geram.
"Kau tidak perlu takut, selagi ada aku Liu Yaoshan mereka tidak akan berani menyentuhmu selagi kau berada di dalam kota."
"Sudahlah malam ini ikut saja dulu ke tempatku, besok pagi kita bicarakan lagi."
"Adik Feng, kalau kau ikut ke kediamannya lalu bagaimana denganku?" bisik Yunzhi pelan.
"Apa hubungannya denganmu?
Bukankah kau sangat ingin menghajarku sebelumnya." balas Feng Yan pelan. Sekarang kakak sudah di luar kota tentu saja bebas kemanapun."
"Kau!" Yunzhi menunjuk wajah Feng Yan dengan kesal.
"Bocah, apa hubunganmu dengan nona Zhao ini? Apa kalian berteman?" tanya Raja kota.
"Eh," Feng Yan menggaruk kepalanya karena tidak tahu menjawab seperti apa. Karena sebelumnya gadis itu sangat ingin menghajarnya walau itu
Murni kesalahan Feng Yan sendiri.
"Kami memiliki tujuan yang sama sebelumnya, Kota Awan Salju" Feng Yan mencoba menjelaskan tanpa menceritakan awal perkenalan mereka.
"Hehe Tuan Liu, kami sudah sepakat menjadi rekan seperjalan." Yunzhi sangat percaya diri mengatakan itu, padahal dia gadis kaya yang tidak memiliki apapun saat ini.
"Baiklah, nona Zhao boleh saja ikut dengan kami kalau memang mau."
Yunzhi bernapas lega setelah mendengar ucapan raja kota.
Sesampainya di kediaman Liu, Feng Yan menceritakan semua yang ia alami semenjak di usir dari keluarga Huang.
Matahari baru saja terbit dari ufuk timur, namun Feng Yan terlihat sudah berlatih di lapangan latihan kediaman
Raja kota Liu.
"Tuan, siapa bocah yang giat ini?
Hari masih gelap tapi sudah berlatih beladiri" tanya kepala penjaga kediaman Liu yang terlihat berusia sekitar lima puluh tahun.
"Dia keponakanku yang datang tadi malam, aku sudah menyuruhnya istirahat. Namun dia bersikeras karena sudah dua hari tidak berlatih katanya." Sambil menggelengkan kepala Tuan Liu melihat sikap Feng Yan yang memang sangat gila dalam berlatih.
"Namanya Feng Yan, coba kau tebak berapa usianya"
"Mungkin sekitar dua belas tahun, sungguh menakjubkan diusia itu sudah berkultivasi. Bakatnya sungguh sangat langka" ucap ketua penjaga.
Hahaha
"Bagaimana bila kukatakan usianya kurang dari sebelas tahun, apa kau percaya pak tua Man?"
"Apa?! Itu tidak mungkin! Kecuali..i. dia bocah buangan Huang!" Ketua penjaga yang ternyata bernama Man Choi.
Liu Yaoshan memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya " rahasiakan hal ini dari orang lain. Jangan sampai ada yang tahu tentang bocah ini selain dirimu.
Man Choi mengangguk tanda mengerti.
"Tapi kenapa tuan membawanya kemari? Meski ia memiliki bakat bagus, tapi memiliki inti pecah lima tidak akan ada artinya."
"Pak tua Man Choi, kau akan lebih terkejut bila kukatakan ia sudah berada di tahap akhir pemurnian tubuh."
"Haaah" Man Choi benar-benar terbelalak setelah mendengar ucapan tuannya. Namun kemudian ia melihat Feng Yan melatih jurus pedang Cahaya Bintang.
Fluktuasi energi yang keluar dari tubuh pemuda belia itu sudah membuktikan ucapan tuan Liu sebelumnya.
"Hiyaaa!"
Feng Yan melompat tinggi ke udara dan menebaskan energi dari pedang ke lantai lapangan latih.
Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kediaman raja kota, bahkan Zhao Yunzhi yang sedang tidur pun sampai terbangun. Dua orang yang asik menyaksikan Feng Yan berlatih itu terlihat sangat Kagum dengan bakat yang dimiliki Feng Yan. Kekurangannya hanya tidak beruntung memiliki inti pecah lima. "Bakat mengerikan ini memiliki nasib yang buruk, sungguh sangat disayangkan sekali." ucap Man Choi. "Tuan, bukankah dia memiliki akar elemen api?" Liu hanya memberi anggukan tanda mengerti maksud dari pelayannya itu. "Aku juga berencana meminta tetua Liu Bai Shan untuk melatihnya alkimia dan menjadi tabib. Dengan itu kuharap ia bisa ke ranah yang cukup tinggi walaupun akan sulit." "Hanya saja bocah itu cukup keras kepala meminta tinggal disini hanya untuk sebulan saja." Tuan Liu hanya bisa menarik napas karena semalam sudah berusaha membujuk Feng Yan untuk Tinggal lebih lama. Klaim "Huaaah" "Siapa sih pagi-pagi sudah berisik? Mengganggu tidur nyenyak ku saja." Zhao YunZhi bangun dengan kesal karena ia masih lelah dan kurang tidur karena kejadian malam sebelumnya. Saat melihat ke pelataran belakang ia bertambah kesal setelah melihat orang yang mengganggu tidurnya. "Kakak Zhao kau sudah bangun?" Senyum Feng Yan menghilang setelah bertatapan dengan mata melotot YunZhi. "Apa dia masih membenciku? Dasar wanita pendendam" batin Feng Yan karena salah menduga penyebab kekesalan YunZhi "Kakak Zhao, kalau kau selalu marah setiap saat. Aku sungguh cemas kalau Kakak akan jadi nenek peot". Feng Yan duduk di atas pagar pembatas halaman dan teras di dekat nona Zhao. Ptaak "Aww" Feng Yan meringis dan menggosok kepalanya setelah di jitak cukup keras. "Sekali lagi kau bilang aku seperti nenek-nenek, jangan salahkan aku bila semua rambut di kepalamu kucabut hingga gundul" Feng Yan meneguk liur setelah melihat wajah Zhao YunZhi yang terlihat sangat menyeramkan karena amarah. "Kakak Zhao kenapa kau tidak bisa diajak bercanda? Dasar galak!" Feng Yan langsung berlari setelah mengatakan hal itu, tentu saja ia tidak ingin kepalanya kena jitak lagi. "Kau!! ish, "Zhao Yunzhi Menghentakkan kakinya karena kesal.