NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - Masalah Dunia Nyata

Sore itu, langkah Aureliana Virestha terdengar lebih cepat saat ia keluar dari area pasar, meskipun ia berusaha menjaga ritmenya tetap wajar di mata orang lain. Tangannya menggenggam kantong kecil berisi uang dengan lebih erat dari biasanya, seolah benda itu bisa hilang jika ia sedikit saja lengah. Udara sore yang hangat tidak benar-benar ia rasakan, karena pikirannya dipenuhi oleh hal lain yang jauh lebih mengganggu. Ia bisa merasakan perubahan itu dengan jelas, bukan dari lingkungan, melainkan dari cara orang-orang mulai memandangnya.

Beberapa hari lalu, ia hanyalah seseorang yang lewat tanpa menarik perhatian, duduk di sudut kecil, menjual sedikit hasil tanpa banyak interaksi. Kini, situasinya tidak lagi sesederhana itu. Tatapan yang ia tangkap bukan lagi sekadar penasaran, melainkan mulai mengandung perhitungan, seperti orang-orang yang mencoba memahami sesuatu yang tidak biasa. Aureliana menunduk sedikit, langkahnya tetap stabil, tetapi pikirannya terus berputar mencari kemungkinan.

Lorong kecil di sisi pasar terasa lebih sempit dari biasanya saat ia melewatinya, dan sebelum ia benar-benar keluar, suara yang memanggil namanya membuat tubuhnya langsung berhenti. Nada suara itu tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak langsung menoleh, memberi dirinya waktu sepersekian detik untuk menenangkan ekspresi.

“Aureliana.”

Ia akhirnya berbalik perlahan, pandangannya langsung menemukan sosok yang sudah ia kenali dalam beberapa hari terakhir. Damar Arvian berdiri beberapa meter di belakangnya, dengan ekspresi yang terlihat santai, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit diabaikan. Pria itu bukan tipe yang banyak bicara, namun justru karena itu, setiap kata yang keluar darinya terasa lebih diperhatikan.

Damar berjalan mendekat tanpa terburu-buru, langkahnya ringan, seolah percakapan ini tidak memiliki beban apa pun. Aureliana tetap diam di tempatnya, tidak mundur, tetapi juga tidak mendekat. Jarak di antara mereka cukup untuk menjaga ruang, namun tidak cukup untuk menghindari percakapan.

“Sibuk ya akhir-akhir ini.”

Nada suara Damar terdengar biasa, bahkan hampir seperti basa-basi yang sering ia dengar dari orang lain. Namun Aureliana tidak lengah, karena ia tahu pembicaraan seperti ini jarang benar-benar sesederhana itu. Ia mengangguk tipis, menjaga jawabannya tetap singkat tanpa membuka ruang lebih jauh.

“Lumayan.”

Jawaban itu keluar datar, tanpa emosi yang berlebihan, cukup untuk terdengar sopan tetapi tidak mengundang kelanjutan. Damar tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.

“Barang kamu selalu cepat habis.”

Kalimat itu terdengar ringan, hampir seperti pujian biasa di antara pedagang. Namun cara Damar mengucapkannya membuat Aureliana merasakan sesuatu yang lain, seperti pengamatan yang sudah berlangsung lebih dari sekali. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengatur napasnya agar tetap stabil.

“Rezeki.”

Satu kata itu ia pilih dengan sengaja, karena cukup umum dan tidak memberikan informasi tambahan apa pun. Damar tertawa pelan, suara rendahnya tidak menarik perhatian orang lain di sekitar mereka.

“Iya, rezeki memang.”

Ia berhenti beberapa langkah di depan Aureliana, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk menekan ruang pribadi. Pandangannya berubah sedikit lebih serius, tidak lagi sekadar mengamati.

“Kalau boleh tahu, kamu dapat barang itu dari mana?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga, lebih langsung dari sebelumnya, tanpa dibungkus basa-basi panjang. Aureliana sudah memperkirakan ini akan terjadi, sehingga ia tidak menunjukkan reaksi yang mencolok. Ia mengulang jawaban yang sudah ia siapkan sejak awal.

“Kebun kecil di luar kota.”

Nada suaranya tetap tenang, tidak tergesa, tidak ragu, seolah itu adalah hal yang sudah lama ia jalani. Damar mengangguk pelan, tetapi ekspresinya tidak berubah, masih menyimpan keraguan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.

“Sendiri?”

“Iya.”

Jawaban itu keluar cepat, tanpa tambahan penjelasan. Aureliana tidak ingin membuka celah yang bisa ditelusuri lebih jauh. Beberapa detik hening terjadi di antara mereka, dan keheningan itu terasa lebih berat dari percakapan sebelumnya.

Damar kembali tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar, tetapi tetap tidak sepenuhnya hangat. Ia menatap Aureliana dengan cara yang membuatnya merasa sedang dinilai, bukan hanya dilihat.

“Kalau begitu, kamu hebat.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun nada yang digunakan membuatnya terasa seperti sesuatu yang lebih dalam. Aureliana tidak membalas dengan senyum, hanya mempertahankan ekspresi netral yang sudah ia bangun sejak awal.

“Kalau kamu butuh bantuan jual, atau mau kerja sama… aku bisa bantu.”

Aureliana mengangkat pandangannya sedikit, menatap langsung ke mata Damar untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai. Ia mengerti arah pembicaraan ini tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. Kerja sama berarti berbagi hasil, berbagi akses, dan mungkin membuka sesuatu yang seharusnya tetap ia simpan sendiri.

“Belum perlu.”

Jawabannya tenang, tidak keras, tetapi cukup jelas sebagai penolakan. Damar tidak langsung menyerah, ia tetap berdiri di tempatnya, seperti seseorang yang masih mencoba membaca situasi.

“Sayang kalau kamu jalan sendiri. Kamu bisa dapat lebih banyak.”

Aureliana menggeleng tipis, menjaga nada suaranya tetap stabil.

“Cukup seperti ini.”

Ia tidak menambahkan alasan, tidak memberikan ruang untuk negosiasi. Batas itu ia pasang dengan sengaja. Damar akhirnya menghela napas ringan, seolah menerima, meskipun tidak sepenuhnya puas.

“Ya sudah. Kalau berubah pikiran, bilang saja.”

Ia mundur satu langkah, tetapi sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali tertuju pada Aureliana, kali ini lebih dalam.

“Dunia ini tidak ramah buat yang sendirian.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan ancaman, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan. Aureliana tidak menjawab, ia hanya menatap Damar beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari pasar.

Langkahnya tetap teratur, tetapi pikirannya tidak lagi setenang sebelumnya. Kalimat itu terus terulang di kepalanya, bercampur dengan semua kejadian beberapa hari terakhir. Ia menyadari bahwa situasinya sudah berubah, dan perubahan itu tidak bisa ia abaikan.

Ia tidak langsung kembali ke rumah sakit, melainkan berjalan memutar melalui jalan yang lebih sepi. Matanya sesekali melirik ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Setiap suara langkah terdengar lebih jelas, setiap gerakan kecil di pinggir jalan terasa mencurigakan.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya yakin tidak ada yang memperhatikannya secara langsung. Barulah ia kembali menuju rumah sakit, langkahnya sedikit melambat, tetapi pikirannya masih bekerja tanpa henti.

Begitu pintu kamar tertutup, ia bersandar sejenak, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tangannya masih menggenggam uang itu, namun kali ini perasaan yang muncul tidak lagi ringan seperti sebelumnya.

Ia berjalan ke tempat tidur, duduk perlahan, lalu membuka genggamannya. Uang itu tetap sama, tidak berubah, tetapi maknanya kini berbeda. Ini bukan hanya hasil dari kerja kerasnya, melainkan sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain dengan cara yang tidak selalu baik.

Aureliana menutup mata sejenak, membiarkan pikirannya menata ulang semua yang baru saja terjadi. Wajah Damar, nada suaranya, dan kalimat terakhirnya terus muncul, seolah memberi peringatan yang tidak bisa diabaikan.

Ketika ia membuka mata kembali, pandangannya sudah berbeda. Lebih tajam, lebih berhati-hati, dan tidak lagi hanya fokus pada ruang miliknya. Dunia luar tetap ada, dengan segala aturan dan orang-orang yang siap memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Ia berdiri perlahan, berjalan ke arah jendela, lalu menatap langit sore yang mulai berubah warna. Cahaya yang masuk ke dalam kamar terasa tenang, tetapi tidak cukup untuk meredakan pikirannya.

Ia mulai menyusun ulang rencananya dengan lebih serius. Frekuensi penjualan harus dikurangi, lokasi harus diubah, dan jumlah barang yang dibawa harus lebih terkontrol. Ia juga harus mulai memikirkan cara agar hasilnya tidak terlihat terlalu mencolok dibanding yang lain.

Setiap langkah harus diperhitungkan dengan lebih matang, karena kesalahan kecil saja bisa menarik perhatian yang lebih besar. Aureliana menggenggam tangannya perlahan, merasakan sisa ketegangan yang masih ada di dalam dirinya.

Rasa cemas belum hilang, tetapi kini disertai kesadaran yang lebih jelas. Ia tidak bisa hanya mengandalkan ruang itu tanpa memikirkan konsekuensi di luar. Ia harus menyesuaikan diri dengan dunia yang tidak selalu memberi ruang aman.

Aureliana menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Wajahnya kembali tenang, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa disangkal di baliknya. Ia sudah memilih jalan ini, dan tidak ada alasan untuk mundur sekarang.

Ia akan menjaga apa yang ia miliki, apa pun risikonya. Namun kali ini, ia tidak hanya akan bertahan. Ia akan belajar membaca situasi, memahami orang-orang di sekitarnya, dan bergerak dengan lebih hati-hati dari sebelumnya.

Karena ia tahu, bukan hanya ruang itu yang harus ia pahami. Dunia luar pun memiliki aturannya sendiri, dan jika ia ingin tetap berdiri, ia harus bisa bermain di keduanya tanpa kehilangan kendali.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!