Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Pulang
Waktu seolah memiliki caranya sendiri untuk melesat tanpa permisi. Hari-hari yang awalnya terasa berat dan penuh ketegangan, perlahan berubah menjadi sebuah rutinitas yang aneh bagi seorang Erlangga Mahendra Wijaya.
Dahulu, jadwalnya sangat kaku: pagi bekerja di kantor hingga larut, siang rapat yang menguras emosi, dan malam pulang ke apartemen yang sunyi atau pulang ke rumah untuk sekadar merebahkan tubuh dalam kedinginan. Namun sekarang, ada satu variabel baru yang mengubah segalanya 'Zea'.
Sudah beberapa hari ini, rutinitas malamnya tidak lagi hambar. Meski Zea tak pernah lagi menginap sejak kejadian "ojek mahal" itu, gadis itu tetap menjalankan kewajibannya sesuai kontrak. Setiap sore, setelah kuliahnya usai atau setelah mengunjungi ibunya, Zea akan datang untuk membersihkan apartemen, memastikan setiap sudut tidak berdebu, dan memasak makan malam sebelum akhirnya pulang.
Entah kapan tepatnya itu terjadi, namun apartemen yang dulu terasa seperti galeri seni yang dingin dan kosong, kini mulai terasa seperti tempat yang benar-benar ditinggali manusia. Aroma masakan rumahan yang tertinggal di udara dan letak barang-barang yang sedikit berubah memberikan nyawa pada ruangan itu.
Hubungan mereka pun mengalami pergeseran halus. Zea masih sering membantah, masih suka mendengus kesal saat dikritik, dan Langga tahu betul gadis itu sering memanggilnya dengan sebutan "Menyebalkan" atau "Bajingan" saat ia sedang di dapur. Tapi, ada satu hal yang berbeda: rasa takut yang biasanya membayang di mata Zea perlahan memudar, digantikan oleh keberanian yang kadang membuat Langga kewalahan.
Hari ini adalah akhir pekan. Langga berdiri di depan cermin besar di ruangannya, merapikan jas abu-abu gelapnya. Sesuai janjinya pada sang Ibu, ia akan pulang ke rumah keluarga besar Wijaya.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan singkat muncul.
Mamah:
Jangan lupa pulang. Kalau kamu batal lagi atau alasan ada rapat mendadak, Mamah akan datang ke kantormu pakai daster sekarang juga.
Langga terkekeh kecil membaca ancaman ibunya yang selalu dramatis. Ia membalas dengan jemari lincah.
Langga:
Kalo datang ke sini. Jangan pakai daster ke kantor, Mamah bisa buat saham perusahaan anjlok jika ada yang melihat.
Setelah mengirim pesan itu, Langga terdiam sejenak. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mencari sebuah nomor yang baru saja ia simpan secara manual kemarin. Ia menekan tombol panggil.
Beberapa nada dering terdengar, cukup lama sampai akhirnya sambungan itu terangkat.
“Halo? Maaf, ini siapa ya?” suara Zea terdengar di seberang sana, sedikit terengah-engah.
Langga langsung mendengus, kembali ke mode bosnya yang angkuh. “Lama sekali jawabnya. Kamu tahu saya sibuk? Waktu saya sangat berharga hanya untuk menunggu kamu menyapa 'halo'.”
Di seberang sana, suara Zea langsung berubah ketus. “Iya maaf, Pak. Tadi saya lagi bantu Ibu duduk, ponselnya di meja. Ada apa lagi sih, Pak? Saya sudah kirim laporan kebersihan tadi pagi, kan?”
Langga bersandar di meja kerjanya, memutar-mutar pulpen dengan satu tangan. “Hari ini saya tidak ke apartemen. Saya pulang ke rumah orang tua.”
“…”
“Jadi kamu tidak usah datang untuk beberes atau memasak makan malam,” lanjut Langga.
Suara Zea mendadak berubah cerah, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre. “Wah, beneran, Pak? Berarti saya libur total hari ini?”
“Iya.”
“Alhamdulillah... akhirnya bisa napas lega sehari!” seru Zea riang.
“Jangan senang dulu,” potong Langga cepat. “Besok kamu tetap harus datang seperti biasa. Apartemen saya tidak boleh berdebu satu hari pun.”
“Iya, iya, saya tahu. Ya iyalah, kan kontraknya begitu.” Zea bergumam pelan.
“Dan satu lagi,” Langga berdehem, sedikit canggung namun tertutup oleh suaranya yang pongah. “Save kontak saya.”
Zea terdiam sesaat. “Hah?”
“Save nomor ini. Banyak orang di luar sana yang berebut hanya untuk mendapatkan nomor pribadi saya. Kolega bisnis saya harus melewati sekretaris dulu untuk bisa menelepon saya. Jadi, anggap ini sebuah kehormatan besar bagi kamu.”
Hening selama dua detik. Langga menunggu jawaban kagum yang tidak kunjung datang.
“Pak…” suara Zea terdengar ragu.
“Apa?”
“Bolehkah saya blokir saja? Rasanya hidup saya bakal lebih tenang kalau nomor ini hilang dari daftar kontak,” ujar Zea tanpa beban.
Langga menyipitkan mata, meski Zea tidak melihatnya. “Kamu makin berani, ya? Kamu lupa siapa yang memegang kendali atas biaya rumah sakit ibumu?”
“Yah, keluar lagi ancamannya. Saya tidak takut lagi, Pak, karena saya mulai kebal. Bapak tidak akan tega memblokir akses pengobatan ibu saya cuma gara-gara masalah nomor telepon, kan?”
Langga menahan senyumnya agar tidak meledak. Gadis ini benar-benar sudah mulai mengenali celah di balik sikap dinginnya. “Sudah. Jangan banyak bicara. Simpan nomornya sekarang.”
“Baik, Pak. Sudah saya simpan.”
“Dan beri nama yang sopan. Jangan panggil saya dengan sebutan aneh,” perintah Langga lagi.
“Memangnya Bapak bakal tahu saya simpan pakai nama apa?” tanya Zea penuh selidik.
“Jika kamu macam-macam, saya akan mengetahuinya. Ingat, saya punya akses ke mana pun,” ancam Langga dengan nada misterius.
Zea mendecak pelan. “Seram amat. Dikit-dikit ancaman. Ya sudah, sudah saya simpan kok. Sudah ya, Pak? Saya sibuk, ibu mau minum obat.”
Tanpa menunggu jawaban, Langga justru memutus telepon lebih dulu secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya kembali, merasa puas karena telah memberikan perintah terakhir.
Di Rumah Sakit
Zea menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan wajah sebal. Bibirnya mengerucut. “Nyebelin banget sih... beneran kayak anak kecil yang harus dituruti kemauannya.”
Ia segera membuka kontak baru yang tadi sempat ia namai asal. Ia menghapus nama "Majikan Galak" dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih mewakili perasaannya saat ini.
Nama Kontak: Pak CEO Manja Tukang Ngatur 😒
Setelah puas, ia menyimpan kontak itu dengan senyum kemenangan. Di ranjang rumah sakit, ibunya memperhatikan Zea dengan tatapan lembut dan senyum tipis yang penuh arti.
“Itu siapa, Zea?” tanya sang Ibu pelan.
Zea refleks menyembunyikan ponsel di balik punggungnya. “Eh... bukan siapa-siapa, Bu. Cuma urusan kerjaan sampingan Zea saja.”
Ibunya menyipitkan mata, menatap wajah putrinya yang tampak sedikit lebih "hidup" dari biasanya. “Cowok? Teman kampus?”
“BUKAN! Mana mungkin Zea punya teman cowok se nyebelin itu!” seru Zea cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kalau bukan, kenapa mukamu merah begitu? Seperti habis berdebat tapi senang,” goda ibunya lagi.
“Mana ada merah?! Ini panas saja karena AC ruangannya kurang dingin, Bu!” kilah Zea sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
Ibunya tertawa pelan, lalu meraih tangan Zea dan mengusapnya lembut. “Hati-hati ya, Zea. Kadang-kadang...” sang Ibu menjeda, matanya menatap jauh ke depan. “Orang yang paling menyebalkan di awal, justru yang paling susah untuk dilupakan nantinya.”
Zea langsung menggeleng keras, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar kalimat ibunya. “Ogah! Zea ogah kalau harus berurusan lebih jauh sama orang kayak dia! Dia itu... ah, pokoknya menyebalkan!”
Ibunya tertawa lagi. “Katanya tidak suka, tapi tiap kali kamu membahas orang ini, ceritamu semangat sekali. Matamu juga berbinar, tidak sedih seperti biasanya.”
Zea menggembungkan pipinya, memilih untuk diam. Dalam hati, ia berbisik dengan rasa sesak yang tiba-tiba muncul.
'Seandainya Ibu tahu apa yang sebenarnya dia lakukan padaku... seandainya Ibu tahu pertemuan awal kami bukan hal yang manis... Ibu pasti tidak akan bicara begitu.'
Seketika senyum di wajah Zea memudar sedikit. Rasa bersalah dan beban kontrak itu kembali terasa nyata. Namun, ia segera menutupinya dengan senyum paksa. “Pokoknya dia itu nyebelin, Bu. Titik.”
Ibunya hanya tersenyum lembut, tidak ingin mendebat lebih jauh. “Baiklah, terserah kamu saja.”
Sementara Itu
Langga berjalan menyusuri basement kantornya yang luas menuju mobil sport hitam kesayangannya. Ia masuk ke kursi pengemudi, menyesuaikan posisi duduknya, dan menyalakan mesin. Suara raungan mesin mobil mewah itu menggema di rungan sunyi sebelum melaju keluar gedung.
Mobil itu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat di sore hari, menuju kawasan elit di mana rumah besar keluarga Wijaya berada.
Sepanjang perjalanan, pemandangan kota di balik jendela seolah hanya menjadi latar belakang yang samar. Pikirannya justru terus melayang pada percakapan singkatnya dengan Zea barusan.
Tentang suara Zea yang terdengar kesal tapi tetap menjawab teleponnya. Tentang bagaimana gadis itu sekarang berani menantang ancamannya. Dan entah kenapa, memikirkan Zea yang mungkin sedang mengomel di rumah sakit membuat Langga merasa terhibur.
Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa ia sadari. Mungkin, pulang ke rumah keluarga besar yang penuh dengan pertanyaan membosankan tentang pernikahan dan warisan hari ini tidak akan terlalu buruk. Karena setidaknya, ada satu hal yang kini berbeda dalam hidupnya.