Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Karung untuk Sang Sultan
Halo teman-teman maaf ya aku jarang up cerita ini
Soalnya aku lagi ngejar sidang bulan depan, doakan lancar ya teman-teman supaya aku bisa wisuda bulan Juni nanti🥰
Happy reading ❣️
***
Siang itu, matahari Jakarta seolah mendukung suasana hati Aiswa yang sedang berbunga-bunga. Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil yang sangat familiar terparkir manis. Aditya berdiri di sampingnya, tersenyum tipis menyambut kekasihnya.
"Mas Adit!" Aiswa berlari kecil, semangatnya sudah mencapai level empat puluh lima.
"Tumben banget jemput ke sekolah? Mas nggak lagi kesambet jin penunggu restoran, kan?"
Aditya terkekeh, meski matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa.
"Lagi kangen aja. Yuk, kita cari makan siang."
Di sepanjang perjalanan, Aiswa terus berceloteh tentang murid-murid TK-nya yang ajaib. Namun, ia menyadari ada yang aneh.
Aditya lebih banyak diam, tangannya menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. Sesekali ia melamun, nyaris melewatkan lampu merah jika Aiswa tidak berteriak.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah kafe estetik yang tenang. Setelah memesan makanan, suasana berubah menjadi sangat serius. Kehangatan yang tadi dibawa Aiswa perlahan menguap saat melihat ekspresi Aditya yang mendadak kelam.
"Sayang, Mas mau bicara sesuatu yang... berat," ujar Aditya lembut.
Suaranya terdengar seperti sedang memikul beban satu ton semen.
Aiswa meletakkan sendoknya. Instingnya mulai berteriak.
"Tentang apa, Mas? Jangan bilang Mas mau mutusin aku karena ketemu bidadari di restoran baru?"
Aditya menggeleng lemah.
"Kamu tahu kan Mas baru dapat investor baru?" Aiswa mengangguk pelan.
"Orang itu... orang itu adalah Pak Devan Argian."
Hening.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Mata Aiswa membelalak sempurna hingga nyaris keluar dari kelopaknya.
"Devan Argian? Bapaknya Zianna? Duda sultan yang sombongnya minta ampun dan nganterin aku pakai jet pribadi kemarin?!"
Aditya mengangguk pasrah.
"Dunia ini sesempit ini atau emang tuh bapak-bapak yang sengaja mempersempitnya?!" geram Aiswa sambil menepuk meja pelan.
"Fix, ini pasti kerjaan dia!"
Aditya meraih tangan Aiswa, menggenggamnya erat seolah takut wanita itu akan menghilang. Dengan suara bergetar, Aditya menceritakan semuanya, tentang suntikan dana lima miliar, tentang foto-foto candid di Bali, hingga ancaman penarikan investasi jika mereka tidak putus sore ini.
Aiswa melongo. Ia merasa sedang berada di dalam plot sinetron Sultan yang Terobsesi.
"Dia beneran bilang gitu? Dia mau narik modalnya kalau kita nggak putus? Itu orang otaknya ditaruh di mana sih? Di dompet?!"
"Maaf, Ai... Mas bingung sekali. Mas nggak mau kehilangan restoran yang Mas bangun dari nol, tapi Mas juga nggak sanggup kalau harus ngelepasin kamu," ucap Aditya frustrasi.
"Tapi Mas akan usahakan cari investor lain secepatnya. Kita jangan menyerah, ya?"
Melihat ketulusan di mata Aditya, Aiswa justru merasa iba sekaligus murka. Ia tahu betul, mencari investor lima miliar dalam hitungan jam itu mustahil. Dan ia juga tahu, Devan Argian bukan tipe orang yang memberikan ancaman kosong.
Aiswa bangkit dari duduknya. Ia menarik napas panjang, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir Aditya untuk membungkam kalimat pasrah pria itu.
"Mas tenang aja. Jangan cari investor baru dulu," ujar Aiswa dengan nada yang tiba-tiba tenang namun mematikan.
Ia mulai menggulung lengan kemeja kerjanya sampai ke siku, persis seperti preman yang siap tawuran.
"Biar aku yang urus bapak-bapak kurang kerjaan itu. Dia emang beneran perlu dikasih pelajaran tata krama tingkat PAUD!"
"Ai, kamu mau kemana?" Aditya terperangah.
"Aku mau melabrak singa di kandangnya! Mas pulang duluan aja, nggak usah anter aku. Aku mau urus urusan 'internal' sama duda sinting itu!" Setelah mengatakan itu.
Aiswa menyambar tasnya dan berlalu dengan langkah kaki yang menghentak bumi. Di dalam taksi, emosi Aiswa masih meluap-luap.
Sumpah, kalau ada karung ukuran jumbo di sini, udah gue bungkus tuh orang terus gue buang ke laut Jawa! batinnya geram.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia namai
'Bapak Zianna'
Bapak Zianna: Sudah putus dengan pacar kamu, kan?
Aiswa mendesis, giginya bergemeretak.
"Sok tau banget nih orang! Tingkat kepedeannya udah nembus langit ketujuh!"
Dengan jari yang menekan layar sekuat tenaga, Aiswa membalas:
Aiswa: Saya mau bertemu. Sekarang. SHARE LOCK!
Satu menit kemudian, sebuah titik lokasi di sebuah gedung pencakar langit masuk ke ponselnya. Aiswa menatap keluar jendela dengan tatapan tajam. Ia tidak peduli seberapa kaya Devan, seberapa berkuasa pria itu, atau seberapa tampan wajahnya. Baginya sekarang, Devan hanyalah seorang pengganggu yang harus dijinakkan.
Entah apa yang akan terjadi saat "Singa Betina" ini bertemu dengan "Harimau Sultan" di sarangnya. Satu yang pasti, kantor Argian Group tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.