NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REITH

Rex melangkah perlahan menuju anak laki-laki itu, langkahnya terasa berat di lantai kayu cafè yang sedikit mengerik.

Tatapan penasaran di matanya cepat berganti dengan kejutan yang tak bisa disembunyikan—wajah anak laki-laki itu memiliki lekukan alis, bentuk bibir, dan sudut rahang yang sangat mirip dengannya.

Cahaya lampu neon yang kusam di luar hanya menyoroti kesamaan yang semakin mencolok.

Melihat ketegangan yang mengelilingi udara antara Rex dan anak laki laki yang bernama Rey itu, Orion akhirnya mengeluarkan napas panjang dan memulai percakapan, mencoba menghilangkan ketegangan yang sudah mulai membayangi ruangan.

"Rey, kau ingat aku bukan? Beberapa bulan lalu aku pernah mampir ke sini untuk memesan makanan di sini. Kau yang melayani aku saat itu kan?" tanya Orion dengan nada yang berusaha rileks, meskipun matanya tetap memperhatikan dinamika antara kedua pria yang wajahnya serupa.

Tak ada suara yang keluar dari Rey. Anak laki-laki itu hanya berdiri dengan tubuh tegak, matanya tetap terpaku pada Rex dengan ekspresi yang sulit ditebak—seolah sedang mencari sesuatu yang hilang atau membandingkan bayangan yang pernah ada dalam ingatannya.

"Rey! Aku bilang jangan sembarang membuka pintu buat orang yang tidak kamu kenal...." seruan keras terdengar dari dalam area dapur, namun ucapannya terhenti mendadak saat Storm muncul dan melihat Orion yang datang bersama dengan seorang pria.

"Oh... Kakak ipar? Wah, tidak nyangka kamu datang kesini. Ada apa?" ucap Storm dengan wajah yang masih penuh kebingungan, tangannya masih mengusap serbet yang digunakan untuk membersihkan meja.

"Ada Sue?" tanya Orion langsung ke inti masalah, matanya menyapu sekeliling cafè.

" Sue? Ia sedang keluar sebentar, mungkin dalam lima belas menit lagi pulang. Mau tunggu di dalam saja?," ajak Storm dengan senyum yang sedikit terpaksa, lalu mengajak mereka masuk.

Cahaya di dalam cafè memang sangat minim—hanya beberapa lampu gantung dengan bohlam kecil yang menyala tipis, sehingga bayangan besar menutupi sebagian wajah Rex.

Storm yang sibuk mengatur kursi tak menyadari kesamaan wajah antara teman Orion dengan Rey yang masih berdiri di dekat pintu.

"Silakan duduk," ucap Storm sambil berjalan menuju kulkas yang terletak di pojok dekat meja dapur, tangannya menggeser beberapa ember bersih yang berada di lantai. Ia kemudian mencolokkan sakelar lampu utama untuk membuat ruangan lebih terang.

Lampu menyala dengan kilatan ringan, menerangi setiap sudut cafè dengan jelas. "Mau minum sesuatu, kakak ipar?" kata Storm, namun suaranya terpotong mendadak.

Matanya melebar lebar dan pandangannya terpaku pada wajah Rex—kesamaan yang mencolok dengan Rey membuatnya kebingungan dan sedikit takut, jantungnya mulai berdebar kencang di dadanya.

Rey tampak jauh lebih tenang dibandingkan Storm. Ia tetap berdiri dengan posisi yang sama, memandangi Rex yang kini berdiri di depan pintu dengan tatapan yang dalam, seolah sedang menyelami setiap detail wajah lelaki tersebut.

Sementara itu, Orion tampak cukup santai saat memilih kursi di dekat jendela dan duduk dengan rileks, seolah tidak menyadari ketegangan yang sudah meluas di seluruh ruangan.

Storm menelan ludahnya dengan suara yang terdengar jelas di dalam cafè yang sunyi. Ia bergerak perlahan ke arah meja kecil di dekat dapur, jari-jarinya meluncur ke laci bawah dengan hati-hati. Ia mengambil pistol yang sudah disiapkan jauh sebelum ini, lalu menyembunyikannya dengan cermat di belakang pinggang, tertutup oleh apron kerja yang masih dikenakannya.

Setelah itu, ia berjalan kembali dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, wajahnya berusaha tampak biasa saja.

Ia menaruh dua botol mineral dingin di atas meja tempat Orion duduk, tetesan air mancur dari botol membuat meja kayu menjadi basah sedikit.

"Rey... Datang sini," panggil Storm dengan nada yang tenang namun tegas, matanya memberikan isyarat kepada anak itu tanpa terlihat.

Rex dan Orion merasakan bagaimana suasana menjadi semakin dingin—seolah ada angin dingin yang masuk tanpa melalui pintu atau jendela.

Storm yang awalnya ramah kini hanya terdiam, meskipun ia berusaha untuk tetap tampak rileks, tangan kirinya tetap berada di belakang tubuhnya, menjaga pistol yang disembunyikannya.

"Rey!" panggil Storm lagi, suara sedikit lebih keras saat melihat anak itu masih tak bergerak sama sekali.

Akhirnya, Rey menoleh perlahan dari Rex, matanya masih penuh dengan pertanyaan yang tak terucapkan. Ia mulai berjalan menuju Storm dengan langkah yang lambat, setiap langkahnya seolah dihitung.

"Hei... Dude. Apa kamu berdiri aja di sana?," ucap Orion dengan nada yang tetap santai, seolah tidak melihat bagaimana ketegangan yang melingkupi Storm dan Rey.

Rex menghela napas perlahan lalu berjalan mendekati mereka bertiga. Ia memilih kursi di sebelah Orion, tubuhnya tetap tegang dan matanya tidak bisa lepas dari wajah Rey yang kini berdiri di dekat Storm.

"Kenalkan, ini temanku Rex. Dia datang dari London, kebetulan ada bisnis yang harus diselesaikan di kota ini," paparkan Orion.

"Rex, ini Storm—dia dan kakaknya yang mengelola cafè ini. Dan anak tampan yang itu adalah Rey," lanjut Orion dengan senyum, namun senyumnya.

Rex memandangi Orion dengan tatapan yang jelas menunjukkan bahwa ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak diinginkan.

Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya—sebuah ikatan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan seperti getaran yang mengalir di sepanjang tulang punggungnya.

Tangan kiri Storm semakin erat menggenggam gagang pistol di belakang tubuhnya, sementara tangan kanannya tetap berada di bahu Rey, sedikit mengeratkan pegangan pada kain baju anak itu sebagai bentuk perlindungan dan juga isyarat agar tidak menjawab apa pun.

"Siapa nama ibumu?" tanya Rex dengan suara yang agak serak kepada Rey yang ada di depannya. Rasa penasaran di dalam dirinya sudah meluap, membuatnya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.

Storm semakin erat menjepit bahu Rey, jari-jarinya menekan kulit anak itu sebagai peringatan yang jelas.

Rex dengan mudah melihat tanda-tanda bahwa Storm sedang mencoba melindungi Rey darinya, membuatnya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kesamaan wajah mereka.

*

Situasi yang menengangkan itu akhirnya pecah saat suara mesin mobil terdengar jelas masuk ke dalam pekarangan cafè.

Sorot lampu depan mobil menyinari sebagian jendela cafè, membuat bayangan bergoyang di dinding.

Orion menoleh ke arah sumber cahaya, dan segera melihat Sue yang baru saja turun dari mobilnya.

Wanita itu mengenakan jas blazer yang sedikit kusut dan tas selempang besar di bahunya, berjalan dengan langkah mantap menuju pintu cafè.

Ia tampak membawa beberapa tas plastik yang kemungkinan berisi bahan makanan atau kebutuhan harian.

Sue melihat mobil Orion yang terparkir di sisi pekarangan, ekspresi wajahnya menjadi lebih tegas.

Ia membuka pintu cafè dengan perlahan, lonceng kecil di atas pintu berbunyi lembut mengiringi kedatangannya.

Ia memasuki ruangan dengan sikap yang tenang, seolah sudah siap menghadapi pria seperti Orion.

Namun saat ia melangkah lebih jauh ke dalam, pandangannya tertuju pada dua pria yang duduk di meja tengah.

Salah satunya adalah Orion yang segera memberikan senyum manis padanya, dan yang satunya lagi duduk dengan punggung menghadapnya.

Di sisi lain meja, ia melihat Storm dan Rey yang berdiri dengan posisi siap siaga, wajah Storm tampak sangat tegang dan matanya memberikan isyarat yang jelas bahwa bahaya sedang mengancam.

Dengan gerakan yang lambat namun pasti, Sue membuka resleting tas selempangnya. Jari-jarinya menemukan pistol yang sudah ia siapkan jauh hari, mengenggamnya erat tanpa mengeluarkannya dari tas.

Ia mencoba membaca situasi dengan cermat, menilai setiap gerakan yang mungkin dilakukan oleh orang-orang di depannya.

"Sue, hai... Aku datang lagi, karena merindukanmu," ucap Orion dengan nada yang tetap santai, meskipun ia tahu betul bahwa wanita di depannya saat ini sangat waspada terhadap keberadaannya dan teman sekaligusnya.

"Apa yang kamu inginkan kali ini?" tanya Sue dengan suara yang rendah namun jelas, langkahnya perlahan mendekati kelompok mereka, mata tak pernah lepas dari wajah Orion dan teman yang masih duduk dengan punggung menghadapinya.

Namun saat ia sudah berdiri tepat di depan meja, Sue secara tidak sengaja melihat wajah teman Orion yang baru saja menoleh ke arahnya.

Ekspresi kejutan yang muncul di wajahnya persis sama dengan yang pernah terpampang di wajah Storm beberapa saat yang lalu—mata melebar, bibir sedikit terbuka, dan tubuhnya tampak kaku sejenak.

Suasana di dalam cafè menjadi semakin mencekam. Udara yang tadinya sudah terasa dingin kini semakin menyengat, seperti angin pantai yang membawa rasa basah dan kesunyian masuk ke dalam ruangan yang kecil itu.

Kring... kring...

Bunyi lonceng pintu yang lebih keras terdengar saat seseorang membukanya dengan sedikit tergesa-gesa, membawa beberapa tas belanjaan yang penuh di kedua tangannya. Suara kaki yang mengenakan sepatu menghentak di lantai kayu.

Semua orang di dalam cafè secara refleks menoleh ke arah pintu.

"Mom!" panggil Rey dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan, lalu berlari cepat ke arah pintu tanpa mempedulikan ketegangan yang ada di ruangan.

Klak... Klik...

Dalam sekejap, suara pelatuk pistol yang siap ditembak terdengar jelas. Sue dan Storm secara bersamaan menarik pistol mereka dan menodongkannya tepat ke arah Orion dan Rex. Mata mereka penuh dengan waspada.

"Wwooooww... Tenang saja, tenang saja..." Ucap Orion sambil cepat mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda bahwa ia tidak berniat berbuat salah.

Suasana menjadi semakin panas dan penuh ketegangan saat Rex berdiri perlahan dari kursinya.

Matanya terpaku pada sosok wanita yang baru saja masuk dan sedang merangkul Rey dengan erat—wanita yang dipanggil "Mom" oleh anak laki-laki yang wajahnya serupa dengannya, membuat seluruh misteri yang mengganjal di dalam hatinya semakin jelas.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!