NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:38.8k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.18

Harlan menatap lekat wajah Alisa yang tengah teremenung. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, tapi lebih banyak rasa kagum yang perlahan mulai muncul.

“Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang, lebih kita bayar buku nya dan pergi ke tempat lain.”

Alisa mengangguk, lalu mengambil buku yang sejak tadi ia peluk, lalu berjalan menuju kasir.

Harlan yang melihat itu hanya tersenyum kecil, lalu mengikuti langkahnya dari belakang.

Sesampainya di kasir, Alisa meletakkan buku pilihannya di meja kasir. Sang petugas kasir tersenyum ramah, lalu mulai memindai buku tersebut.

Sementara itu, Harlan berdiri di sampingnya, sesekali melirik ke arah Alisa. Memperhatikan setiap gadis itu, yang terlihat juga oo antusias untuk memiliki buku tersebut.

“Pakai ini saja.” ucapnya sembari menyodorkan black card miliknya. Saat j kasir menyebutkan total harga yang harus Alisa bayarkan.

Alisa menoleh, sedikit terkejut. Namun kali ini, ia tidak langsung menolak dan membiarkan Harlan yang membayar.

***

Setelah transaksi selesai, keduanya keluar dari toko buku itu. Suasana mall kembali terasa ramai, berbanding terbalik dengan suasana toko buku yang tenang, yang baru saja mereka tinggalkan.

Alisa membawa kantong berisi buku itu dalam genggamannya. Senyum terus terukir di wajah cantiknya, seakan menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini.

“Mas…” panggilnya tiba-tiba, membuat Harlan menoleh.

“Hm?”

Alisa menghentikan langkahnya, lalu menatap Harlan dengan ragu. Sebelum akhirnya berkata…

“Terima kasih dan maaf kalau sudah merepotkan,”

“Sama-sama dan sama sekali tidak merepotkan. Jika butuh sesuatu lagi, jangan ragu untuk mengatakannya kepadaku, ya,”

“Iya, Mas,”

“Lalu, sekarang kita lanjut kemana?”

“Hari sudah malam. Sebaiknya kita kembali ke hotel saja,”

“Baiklah.”

Harlan mengangguk setuju, meski sebenarnya, ia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama diluar bersama dengan Alisa.

Akan tetapi, Harlan juga tidak ingin memaksa yang akan membuat Alisa merasa tidak nyaman.

Keduanya pun berjalan berdampingan menyusuri koridor mall yang masih ramai menuju ke lantai bawah. Sepanjang perjalanan menuju ke luar mall, keduanya berjalan dalam diam.

Tidak ada lagi percakapan yang terjalin di antara mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sesekali, Harlan melirik ke arah Alisa. Gadis itu terlihat lebih santai dibanding sebelumnya. Tangannya masih menggenggam erat dua paperbag yang berisikan barang-barang yang baru saja dibelikan oleh Harlan untuknya.

“Kamu terlihat senang sekali.” ucap Harlan tiba-tiba. Mengalihkan perhatian Alisa.

Alisa menoleh, sedikit terkejut. Namun tak butuh waktu lama, senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

“Bagaimana tidak senang. Dibelikan barang-barang yang dulu hanya bisa aku lihat, tanpa bisa aku beli.” jawabnya jujur.

Harlan terkekeh. Entah kenapa, jawaban jujur itu membuatnya merasa ikut bahagia, hingga tanpa sadar hal itu membuatnya tertawa sedikit lepas.

“Kamu benar-benar wanita yang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini aku temui dan mencoba mendekatiku. Semoga… pertemuan kita ini, adalah jawaban dari setiap doaku.” gumam Harlan dalam hati.

Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di hotel. Kedua bergegas, silih berganti menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Sudah malam, sebaiknya kita istirahat,” ucap Harlan setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi.

“Iya, Mas.” jawab Alisa.

Keduanya pun akhirnya membaringkan tubuh lelah mereka diranjang. Bersiap menyambut hari esok yang entah, akan ada kejutan apa lagi setelah hari ini berlalu dengan tenang.

***

Sementara itu, di Kediaman Wibisono.

“Bagaimana? Sudah bisa dihubungi?” tanya Bu Yuni dengan nada tak sabar.

Pak Ali yang berdiri di dekat jendela hanya menggeleng pelan. Wajahnya sudah terlihat lelah karena sejak hari pernikahan itu, ia jadi tidak bisa menghubungi Alisa.

“Sepertinya… Alisa memblokir nomorku, Ma,” jawabnya lirih, diakhiri dengan helaan nafas yang panjang dan berat.

“Apa? Diblokir?” tanya Bu Yuni dengan suara yang mulai meninggi.

“Dasar anak tidak tahu sopan santun! Nomor orang tua kok diblokir. Begini jadinya kalau anak dibiarkan begitu saja dan tidak di….”

“Cukup!” sela Pak Ali memotong ucapan Bu Yuni.

Nada bicaranya kali ini berbeda dari biasanya. Lebih keras, lebih dingin, dan penuh dengan penekanan. Membuat Bu Yuni terdiam seketika.

“Jaga mulutmu itu, Yuni. Sekali lagi aku dengar kamu mengatakan hal seperti itu tentang putriku. Aku… tidak akan segan-segan untuk menceraikanmu.” lanjutnya, menatap tajam ke arah istrinya.

Bu Yuni tersentak, matanya bahkan sampai membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Papa kok bilang begitu? Apa yang Mama katakan itu benar adanya! Putri kamu itu tidak tahu sopan santun. Masa kontak orang tuanya sendiri diblokir?” balasnya dengan suara yang mulai bergetar, antara kesal dan juga takut.

Pak Ali tertawa hambar, tanpa sedikitpun merasa kalau ada yang lucu, yang harus ditertawakan. Ia hanya menertawakan dirinya sendiri.

“Iya… dia mungkin salah karena sudah memblokir ayahnya. Tapi perlu kamu ingat. Orang-orang yang sudah membuatnya jadi seperti itu… adalah kita.” ucapnya pelan, namun sarat penekanan.

Dahi Bu Yuni mengernyit. Seolah tak terima dengan pernyataan suaminya barusan.

“Maksud Papa, apa? Kenapa jadi kita?”

“Iya. Tentu saja kita. Kalau saja dulu aku tidak terlalu percaya dan terus menuruti semua ucapanmu… Putriku tidak akan mungkin melakukan semua ini.” lanjut Pak Ali, suaranya merendah, namun tetap terdengar tegas, penuh tekanan.

“Loh, kok malah nyalahin aku sih, Pa? Yang salah itu putrimu! Kenapa jadi aku yang disalahkan?” dengan cepat Bu Yuni menyanggah ucapan suaminya.

Pak Ali semakin menatap lekat kearah sang istri. Ada kekecewaan yang terlihat begitu jelas di matanya.

“Iya, putriku memang salah. Tapi setidaknya… dia masih punya hati.” ucapnya, menjeda sejenak ucapanya, menghela nafas demi mengurai rasa sesak yang datang menghimpit dadanya.

“Dia masih mau berkorban, demi menolong kita… menutupi aib yang putrimu ciptakan.”

Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban dari Bu Yuni, Pak Ali langsung berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan kamar dan juga Bu Yuni yang masih terdiam di tempatnya.

Sepeninggalan Pak Ali, Bu Yuni masih juga terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang mampu ia keluarkan. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kata-kata di hadapan suaminya sendiri.

Sejak pernikahan Harlan dan Alisa berlangsung, kehangatan di rumah itu seolah ikut menghilang. Rumah yang dulu dipenuhi oleh kehangatan, canda dan tawa pemiliknya, kini sudah tidak ada lagi.

Hari demi hari, perdebatan dan pertengkaran kecil kerap terjadi, membuat situasi rumah menjadi tak senyaman dulu.

Dan saat ini, bukan hanya hubungan Alisa dengan Ayahnya yang retak… Namun juga, hubungan antara Pak Ali dan Bu Yuni yang perlahan berada di ambang kehancuran.

1
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Ani Basiati
lanjut thor
Uba Muhammad Al-varo
Alisa, Harlan semoga mereka berdua cepat diberikan keturunan 💪💪💪
Reni Anjarwani
lama bgt upnya
Siti M Akil
hadeh bertahun² kma baru nyadar
Oma Gavin
keputusan yg terlambat tsoinlrbih baik dari pada tidak pernah sadar akan kesalahannya, pak ali jgn pernah lagi luluh sama rengekan dan tangisan yuni semua palsu
Ida Litong
mantap. lanjutttt
Lusi Hariyani
baru sadar pak ali...
Reni Anjarwani
harus tegas pak ali
Teh Yen
nah loh d cerai Bu.,,, wah engg nyangka deh pak Ali bakal talak Bu Yuni yah ku pikir mau marah besar aj gt eeh ternyata yah
Teh Yen
nah itulah fakta tentang putri kalian yg kalian bangga banggakan itu
Teh Yen
lagian kenapa demi perushaaan meminta bertukar posisi apakah dengan betukar posisi perusahaan pak Ali akan selamat oh Tidka dong Harlan Tidka sebodoh itu camkan itu yah
ih gedeg banget deh pengen tak petok keplana pak Ali sama palu biar sadar 😤😤😤
Teh Yen
kenapa.diam pak Ali kenapa masih membela mereka bukan ank kandung yg selma ini kamu acuhkan huuu dasar orang" engg tau malu kalian pikir bisa membuat Alisa terpojok ,terhina hemm Tidka lagi yah Tidka akan bisa ada Harlan yg akan setia berada d sisi Alisa dan membela nya jangan jangan harap rencana kalian berhasil
Teh Yen
ah pasti itu modus pak Ali intinya minta uang lagi tuh dia kan banyak utang dan blom bisa bayar pasti bikin alasan apapun buat mojokin Alisa dan minta uang dari harlan
Teh Yen
ah syukurlah ternyata Harlan sudah bertindak d belakang Alisa tanpa sepengetahuan nya
Ani Basiati
lanjut💪💪💪
Ida Sriwidodo
Semoga ajaa Marisa n maknya ngga malah bikin drama baru.. fitnah Harlan ke pak Ali dengan bilang klo itu anaknya Harlan 😭😭😤😤
partini: kebanyakan cerita kaya gitu ya sits
total 1 replies
Lusi Hariyani
akhir y terbongkar jg kebusukan marisa
Oma Gavin
Slh akhirnya terbongkar kebohongan marisa knp di aborsi suruh tanggung jawab dong yg menghamili kecuali Marisa memang jual diri jadi ngga tau siapa bapaknya kan banyak yg nyelip 😂
Ani Basiati
anak kandung dibuang anak tiri disayang ayah macam apa itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!