NovelToon NovelToon
Ning Moza

Ning Moza

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Alvaro Genta Al-Farisi Pov

Bukankah aku adalah orang yang egois? Dan bukankah sama hal nya Aku bahagia diatas penderitaan Ning Moza? Disaat Ning Moza tengah menangis atau kah sedih aku tidak bisa di sampingnya. Seharusnya aku selalu ada dikala Ning Moza meras sendiri, sedih, namun apa yang aku lakukan kini belum sampai di posisi itu. Karena aku tahu Ning Moza belum bisa menerima kenyataan ini.

Aku merasa sebagai seorang suami yang tidak bejus, ketika Ning Moza membutuhkanku justru aku hanya diam, dan ketika Ning Moza menangis aku hanya bisa berdoa dalam diam ku. Ingin ku rengkuh tubuh mungil nya, ingin ku usap air matanya, dan ingin ku hibur agar senyuman menghiasi wajahnya. Suara isak tangisnya membut ku tak berani menatapnya, aku hanya diam ketika Ning Moza menangis dengan memunggungi ku. Bukan berarti aku tidak ingin menghibur nya, namun aku tk berani bertingkah ynag justru akan membuat Ning Moza marah. Aku tahu sikap Ning Moza yang tak gampang menerima seseorang yang asing baginya.

Dan hari ini adalah hari dimana hari yang seharusnya aku dan Ning Moza berangkat ke Jakarta, namun dengan Ning Moza yang sedang mendiamkan ku akhirnya tidak bisa.

"Yang.udah ngerajukknya" kata ku dengan menghampiri Ning Moza yang tengah menikmati angin malam di balkon kamar.

Ning Moza masih terus diam tak merespon ku sama sekali.

"Ya sudah nggak jadi ke Jakarta" kata ku dengan masuk ke kamar

"Jadi " kata Ning Moza tiba tiba membuatku membalikkan arah menghadap Ning Moza

"Saestu Yang?" tak percaya ku

"Njihh" katanya dengan menundukkan kepalanya

*****

Aku yakin suatu saat nanti Ning Moza juga akan bisa menerima semua kenyataan ini bahwa sanya aku yang akan membahagiakan Ning Moza.

Bukankah aku adalah salah satu orang yang beruntung bisa mendapatkan Ning Moza. Padahal sangat banyak yang datang ke kediaman Abah Khariri dengan maksud dan tujuan sama dengan ku yaitu meng khitbah Ning Moza. Seperti halnya Gus Ahkam, seorang putra dari pemilik pondok pesantren yang memiliki santri ribuan. Abah lun tolak maksut dan tujuan Gus Ahkam. Dan satu lagi Gus Nauval, Gus Nauval adalah putra dari pemilik pesantren juga dan Abah Gus Nauval pun juga berteman baik dengan Abt. Aku tidak tahu apa alasanya Abah menolak maksud Gus Nauval. Pada intinya disitu aku terkagum kan dengan keberanian Gus Nauval, yang datang meng khitbah Ning Moza tanpa harus membawa kedua orang tuanya. Padahal kalau di lihat dari umur Gus Nauval masih seumuran dengan Ning Moza. Awalnya aku tidak yakin kalau Ning Moza dan Gus Nauval sama-sama memiliki perasaan. Terlihat dengan cara Ning Moza menatap Gus Nauval, dan sebaliknya Gus Nauval juga memiliki khas sendiri ketika tersenyum kearah Ning Moza.

Masih teringat jelas ketika tanpa sadari aku menatap Gus Nauval dengan tatapan tajam ku,aku tidak bermaksud apa apa namun entah mengapa aku merasa sangat lancang. Awalnya aku memang tidak berfikir sampai kearah maksud dan tujuannya Gus Nauval. Karena pada saat itu Abah sudah tahu apa maksud dan tujuan Gus Nauval, Abah segera memanggilkan Ning Moza: Karena di situ bertepatan akupun juga meng khitbah Ning Moza, namun aku lebih dulu meng khitbah Ning Moza sebelum Gus Nauval.

*****

"Njenengan, mboten makan Yang?" tanyaku ketika Ning Moza justru langsung menuju kamar selesai dari pondok putri.

Ning Moza tak menjawab hanya menatap ku sebentar, setelah itu kembali. E langkahkan kakinya masukan kekamar.

"Sayang panggil ku "wonten nopo loh? Cerita mawon kataku dengan menatap Ning Moza serius.

"Njenengan kalo mau dahar, dahar dulu saja. Kulo sampun kenyang" katanya dengan masuk kekamar mandi

Aku masih tetap setia menunggu Ning Moza keluar dari kamar mandi. Namun Ning Moza tak kunjung keluar dari kamar mandi. Rasa khawatir menyelinap begitu saja, segera ku ketok pintu kamar mandi.

"Tok, tok, tok"

"Yang kamu nggak papa? "khawatir ku

Tak ada jawaban apapun dari Ning Moza, namun aku mendengar ada isak tangis. Apakah Ning Moza sedang menang? Lagi lagi aku hanya diam, aku tidak tahu harus apa? Ap harus ku dobrak pintunya? Tidak. Itu sungguh tidak mungkin. Nanti akan membuat Ning Moza justru tambah marah.

Akhirnya ku kembali duduk disana dengan menunggu Ning Moza keluar. Langkah ku yerjenti dengan suara nada dering telepon Ning Moza. Segera ku angkat telepon nya

"Assalamu'alaikum" suara seorang laki-laki dari sebrang sana

Aku hanya diam. Sepertinya aku tahu ini suara siapa?

"Nad? Assalamu'alaikum. Nadaaa"

Aku masih tetap diam. Benar ini memang suaran Gus Nauval.

"Nad kamu nggak papa?" khawatir nya Gus Nauval

"Ceklekk"

Suara pintu terbuka. Ning Moza keluar dari kamar mandi dengan mata yang sembab. Sebenarnya ada ap ini? Dengan cepat aku mematikan sambungan telepon nya.

Ning Moza menatap ku sebentar lalu menundukkan kepalanya.

"Wonten nopo yang? Cerita" kataku dengan mendekati Ning Moza

"Ngampunte Gus" katanya dengan menghambur kan tubuhnya ke dalam pelukan ku. Aku masih terdiam tak membalas pelukan Ning Moza. Dengan perlahan ku beranikan untuk memeluk Ning Moza.

Tangis Ning Moza justru semakin kencang hingga berganti menjadi isakan. Kub iarkan Ning Moza merasakan tenang. Sampai akhirnya Ning Moza melepaskan pelukan nya.

"Maaf Gus"katanya dengan menundukkan kepalanya

"kenapa harus selalu minta maaf? "Kataku dengan mengangkat wajah Ning Moza dan ku hapus air matanya.

"Duduk dulu Yang, tak ambilin air minum" kataku dengan menuntun Ning Moza duduk di atas ranjang. Lalu ku ambil air yang terletak diatas meja

"Minum dulu" kataku dengan memberikan minum pada Ning Moza

"Terimakasih" katanya

"Kalo sudah membaik, cerita ya Yang" kataku lalu kutinggalkan Ning Moza. Menuju balakon kamar. Pikiran ku kini sedang kacau. Ada apa sebenarnya Ning Moza dan Gus Nauval?. Entahlah. Aku tidak akan memaksa Ning Moza untuk bercerita.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!