Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Jawaban
"Kamu mau kan... jadi pacarku?" lanjut Bara, suaranya lebih pelan tapi terdengar sangat bersungguh-sungguh.
Keheningan kembali menyergap. Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Angin yang berhembus pun tak mampu mencairkan keheningan yang berlangsung cukup lama itu. Bara semakin gelisah, tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan dua buah gantungan kunci couple, dua kelinci putih yang lucu—Tuzi dan Kako, melambangkan seperti karakter mereka.
(Tuzi : Kelinci putih yang sangat ekspresif, ceria, dan kadang terlihat sedikit manja. Tuzi sering melakukan gerakan-gerakan lucu yang menggambarkan perasaan senang.
Kako: Teman atau pasangan Tuzi yang biasanya digambarkan sedikit lebih tenang atau sering menjadi target kejahilan Tuzi, namun mereka selalu bersama)
"Kalau kamu mau jadi pacarku, kamu ambil satu," gumamnya sambil menyodorkan benda itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Laras menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merona merah karena malu. Hening sejenak, sampai akhirnya jemari Laras bergerak ragu, lalu perlahan mengambil gantungan kunci—Tuzi dari telapak tangan Bara. Seketika, beban berat yang menghimpit dada Bara menguap. Senyumnya merekah lebar, kali ini bukan senyum yang dipaksa, melainkan binar kebahagiaan yang murni.
"Jadi... hari ini... kita resmi jadian?" tanya Bara, memastikan sekali lagi dengan mata yang berbinar-binar.
Laras mengangguk pelan, masih tanpa kata.
"YESSS!" Bara bersorak kencang hingga suaranya bergema di area rooftop.
Ekspresinya berubah drastis, dari cowok kaku yang penuh keringat dingin menjadi Bara yang ekspresif dan penuh semangat. Laras tak bisa menahan tawa melihat perubahan kilat itu. Kegugupan yang tadi menyelimuti mereka pun pecah oleh tawa renyah Laras. Namun, Bara mendadak terdiam, teringat sesuatu. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Laras dengan kerlingan nakal.
"Berarti kalau sudah pacaran, kita boleh..." Bara menyatukan kedua ujung telunjuknya, memberi isyarat gerakan berciuman dengan ekspresi yang dibuat-buat polos.
Wajah Laras makin memanas. Dengan cepat, ia mendaratkan pukulan di bahu Bara.
"Ngawur! apa sih, Bar?!"
Bara tertawa terbahak-bahak, menghindar dari serangan Laras. Suasana yang tadinya mencekam kini berubah menjadi sangat menggemaskan. Bara mengusap bahunya yang baru saja dipukul Laras sambil terkekeh. Meski terasa panas, hatinya jauh lebih hangat sekarang. Ia kembali duduk dengan tegak, seolah beban berat yang sejak tadi dipanggulnya di pundak sudah terbang dibawa angin.
"Iya, iya, ampun! Belum juga lima menit jadian udah kena KDRT," canda Bara.
Laras hanya mendengus, tapi tangannya sibuk mengambil satu potong sandwich buatannya. Ia menyodorkannya ke arah Bara.
"Nih, makan. Biar nggak ngawur lagi pikirannya."
Bara menerima roti itu dengan semangat. Ia menggigitnya cukup besar, mengunyahnya dengan ekspresi yang sangat dramatis seolah-olah sedang menyantap makanan dari restoran bintang lima.
"Wah... gila. Enaaaak bangeeeet," ujar Bara dengan mulut yang masih sedikit penuh.
"Rasanya kayak ada manis-manisnya gitu. Pacarku memang idaman.. Ya iya laaah. PACARKUUU..."
"Hmm.. Gombal!" seru Laras, meski ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang semakin lebar.
Ia sendiri mulai menggigit sandwich-nya. Rasanya memang enak, atau mungkin suasana hatinya saja yang sedang membuat segalanya terasa sempurna.
"Bar," panggil Laras pelan di sela kunyahannya.
"Hmm?"
"Besok-besok nggak usah pake mandi parfum lagi ya. Aku lebih suka bau Bara yang biasanya," bisik Laras jujur.
Bara tertegun sejenak, lalu menatap Laras dengan tatapan yang jauh lebih tenang dan lembut. Ia mengangguk perlahan.
"Iya, PACARKUU"
Lalu mereka tertawa bersama, suaranya memenuhi langit rooftop. Setelah sandwich di dalam kotak itu ludes tak bersisa, Laras bergerak lebih dulu. Ia berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang rok seragamnya untuk membersihkan debu semen yang menempel. Tak mau ketinggalan, Bara pun bangkit, melakukan hal yang sama.
Laras mulai melangkah menuju pintu. Tangan kanannya berayun santai di udara. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar yang hangat menangkap jemarinya, menahan ayunan itu. Laras menoleh, mendapati Bara yang menatapnya dengan binar mata yang berbeda—lebih dalam dan tulus.
"Laras..." panggil Bara pelan.
"Aku... boleh peluk kamu enggak?"
Pertanyaan itu membuat jantung Laras mencelos sesaat. Ia menatap lekat mata Bara, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah rasa sayang yang meluap. Laras tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat berarti bagi Bara.
Bara melangkah maju. Ia melingkarkan lengannya di bahu Laras. Awalnya terasa kaku dan canggung, seolah ia takut akan merusak momen ini. Namun, saat hidung Laras bersentuhan dengan dada Bara, ia menghirup aroma khas Bara yang menenangkan. Aroma itu seolah menandai wilayah keamanan baru bagi Laras. Tanpa sadar, Laras menyandarkan kepalanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Bara, membalas pelukan itu dengan lembut.
Merasakan balasan itu sebagai lampu hijau, Bara menghela napas lega. Ia membawa Laras lebih dekat, mempererat dekapannya seolah ingin memastikan bahwa gadis ini benar-benar miliknya sekarang.
Di atas rooftop yang sunyi, hanya suara deru angin yang menjadi saksi saat Bara merunduk dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Laras. Cukup lama bibirnya menempel di sana, seolah sedang menyalurkan seluruh janji yang tak sempat terucap.
"Aku sayang kamu, Laras. Makasih ya," bisik Bara tepat di depan keningnya.
Laras mendongak, menatap wajah Bara yang kini terlihat begitu bahagia. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, lalu mengangguk mantap.
"Aku juga, Bar."
Bara perlahan mengendurkan dekapannya. Tangannya masih bertengger di bahu Laras, enggan benar-benar melepas gravitasi yang baru saja menyatukan mereka. Laras mendongak, menatap lekat sepasang mata Bara yang masih berpendar bahagia. Namun, ada gurat kecemasan yang tiba-tiba menyelinap di sela senyumnya.
"Bar, aku boleh minta satu permintaan?" suara Laras merendah, nyaris berbisik di antara deru angin.
"Apa itu? Selagi aku bisa, Insyaallah aku kabulkan."
"Rahasiakan hubungan kita ya."
Seketika, senyum di wajah Bara membeku. Alisnya bertaut rapat, tatapannya seolah bertanya, Loh, kenapa? Bukankah momen ini adalah kemenangan yang seharusnya ia rayakan? Ia ingin seluruh koridor sekolah tahu bahwa Laras milik Bara.
"Maksudnya... kita backstreet?" tanya Bara bingung.
Laras mengangguk cepat.
"Kamu tahu keluargaku, kan?"
Bara terdiam. Ia memutar otak, mencoba mencari fragmen informasi tentang latar belakang gadis di depannya. Yang ia tahu, Laras adalah gadis cantik yang anggun, pemberani dan baik hati. Sisanya? Kosong. Bara memasang ekspresi polos, benar-benar tidak menangkap maksud arah pembicaraan ini.
"Jangan bilang kamu nggak tahu, Bar," Laras mendesis, sedikit tak percaya.
Bara meringis canggung, tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Jujur... aku nggak tahu. Emangnya kenapa? Ayah kamu galak? Atau kakak kamu petinju?"
Laras tertawa kecil melihat kepolosan Bara yang terkadang di luar nalar.
"Aku cucu pemilik yayasan sekolah ini, Bara," bisik Laras mantap.
Detik itu juga, Bara melongo. Mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya membelalak menatap Laras seolah gadis itu baru saja mengaku sebagai agen rahasia. Bayangan tentang nenek pemilik yayasan yang terkenal disiplin, kolot, dan memiliki tatapan tajam langsung melintas di benak Bara.
"Cucu... yang punya sekolah?"
Ijin mampir🙏