NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:152k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Pertahanan yang Mulai Runtuh

Pria itu membuka amplop, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan menyodorkannya.

“Silakan Anda lihat sendiri.”

Atyasa membaca lembar demi lembar dengan tenang. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada riwayat pekerjaan yang jelas. Hanya satu hal yang membuat alisnya perlahan berkerut.

“Dia baru tercatat sejak pindah ke kota ini…”

Pria di depannya mengangguk. “Data sebelumnya tidak ada, Pak. Seolah… dia muncul begitu saja.”

Jari Atyasa mengetuk pelan permukaan meja. Tatapannya perlahan menggelap.

“Orang tanpa masa lalu tidak pernah benar-benar sederhana,” gumamnya pelan. Ia menatap dokumen itu lagi. “Cari lebih dalam. Aku ingin tahu… dia sebenarnya siapa.”

Atyasa kembali menatap pria di depannya. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus pikiran orang itu.

“Soal ibunya di rumah sakit?” tanyanya pelan.

Pria itu terdiam sejenak, tampak menimbang kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia tahu, satu kalimat yang salah bisa membuat suasana ruangan ini berubah menjadi badai.

Ia menarik napas pendek. “Pengawasan sangat ketat, Pak.”

Alis Atyasa sedikit terangkat.

“Ibu Are dipindahkan ke ruang khusus dengan pengamanan berlapis. Tidak sembarang orang bisa masuk. Bahkan dokter dan perawat pun dibatasi.”

Atyasa menyandarkan punggungnya perlahan, matanya tak lepas dari pria itu.

“Hanya dokter penanggung jawab dan perawat yang ditunjuk langsung yang bisa mengakses ruangan,” lanjutnya hati-hati. “Semua akses tercatat. Kamera aktif dua puluh empat jam. Tidak ada celah untuk mengusik wanita itu tanpa terdeteksi.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Jari Atyasa mengetuk pelan permukaan meja. Sekali. Dua kali.

Tatapannya perlahan menggelap, mengingat kembali percakapan mereka di rumah sakit tempo hari.

"Saya hanya menjelaskan konsekuensi."

Rahang Atyasa mengeras tipis. Kini ia tahu, pria itu tidak sedang menggertak. Ia benar-benar sudah menyiapkan semuanya.

Bibir Atyasa melengkung tipis, tapi tak ada kehangatan di sana. Hanya ketertarikan yang dingin… bercampur kewaspadaan. “Benar-benar... Menarik,” gumamnya pelan.

Ia menatap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang jauh. “Seorang tukang parkir… tapi bergerak seperti orang yang terbiasa menghadapi ancaman.”

Pria di depannya tetap diam.

Atyasa menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Ini bukan kebetulan,” lanjutnya pelan. “Tidak mungkin seseorang tanpa latar belakang bisa mengatur pengamanan seketat itu.”

Tatapannya berubah tajam. “Cari tahu siapa saja yang berdiri di belakangnya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara rendah. “Dan jangan sampai dia tahu kita sedang mencari.”

Pria itu mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Setelah pintu tertutup, Atyasa menatap kosong ke arah jendela. Setelah sekian lama, ia merasakan sesuatu yang jarang muncul dalam dirinya. Bukan takut, tapi… kewaspadaan.

“Kalau kau bukan siapa-siapa…” gumamnya pelan. “…lalu kenapa semua ini terasa seperti menghadapi seseorang yang sudah lama berada di atas papan permainan?”

Instingnya mengatakan… pria ini akan menjadi masalah besar. Dan kali ini, mungkin bukan masalah yang bisa ia kendalikan.

***

Are mengendarai mobil Zelia dengan tenang seperti biasa. Tangannya mantap di setir, ekspresinya datar seperti tak ada yang bisa mengusiknya.

Di kursi penumpang, Zelia menoleh tanpa malu, menatapnya lekat-lekat. Senyum tipis terbit di bibirnya, jelas memperlihatkan rasa kagum yang tak disembunyikan sedikit pun.

“Sudah puas lihatnya?” tanya Are tanpa menoleh, suaranya rendah.

“Belum,” jawab Zelia santai.

Tatapannya malah makin terang-terangan.

Are menghela napas pelan. “Dasar aneh.”

“Aneh apanya?”

Are tertawa pendek. “Biasanya seorang gadis bakal malu atau canggung kalau ketahuan mengagumi pria. Tapi kau…” ia menggeleng pelan, tetap fokus ke jalan, “…malah terang-terangan.”

Zelia menyeringai kecil.

“Apa urat malumu sudah putus?” lanjut Are.

“Benar,” jawab Zelia cepat.

Lalu tanpa ragu, tangannya naik mengelus dada Are pelan, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Gerakan Are nyaris tak berubah, tapi rahangnya sedikit menegang. Ia melirik sekilas, tatapannya lebih gelap dari biasanya.

“Tapi cuma sama kamu,” bisik Zelia ringan.

Keheningan beberapa detik terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih berat.

“Lagipula,” lanjutnya sambil tersenyum nakal, “aku tidak mengagumi pacar orang, apalagi suami orang. Aku mengagumi suamiku sendiri. Siapa yang mau protes?”

Are menghembuskan napas pelan, lebih panjang dari sebelumnya. “Dasar gak waras,” gumamnya.

Tapi tangannya di setir mencengkeram sedikit lebih kuat. Ada kehangatan yang menjalar di dadanya… terlalu jelas untuk diabaikan.

“Kamu yang bikin aku tidak waras,” balas Zelia cepat. “Jadi kamu harus tanggung jawab.”

Mobil berhenti di lampu merah.

Are akhirnya menoleh. Tatapannya turun ke wajah Zelia yang masih tersenyum puas, lalu ke bibirnya… hanya sepersekian detik. Namun cukup lama untuk membuat udara di dalam mobil berubah.

“Zelia,” suaranya rendah, hampir seperti peringatan.

“Hm?”

“Jangan main-main.”

Nada suaranya terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.

Bukannya mundur, Zelia malah mendekat sedikit. “Aku tidak main-main.”

Lampu berubah hijau.

Are segera mengalihkan pandangan ke depan dan kembali menginjak gas. Namun detik itu sudah cukup membuat detak jantungnya berubah ritme.

Diam-diam ia menyadari sesuatu yang mulai berbahaya. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran wanita ini. Mulai menikmati sentuhannya. Mulai… sulit menjaga jarak.

"Ini tidak benar."

Sementara Zelia bersandar santai di kursinya dengan senyum kecil yang tak hilang. Seolah tahu persis apa yang sedang terjadi. Dan menikmati setiap detiknya.

Entah mengapa, Are merasa gemas melihatnya. Perasaan itu muncul begitu saja, tanpa izin, tanpa peringatan.

"Wanita ini… benar-benar tidak tahu batas."

Atau mungkin… justru tahu, tapi sengaja mendorongnya pelan-pelan.

Are menatap jalan di depan, tapi fokusnya tak lagi sepenuhnya di sana. Sudut matanya terus menangkap bayangan Zelia yang duduk santai seolah dunia ini tak punya masalah apa pun.

Tenang. Ringan. Hangat.

Berbeda sekali dengan dirinya yang sejak awal selalu hidup dengan kendali.

"Kenapa setiap kali bersamanya… semua pertahananku rasanya melonggar?"

Ia menghela napas pelan. Tatapannya tanpa sadar kembali melirik ke samping.

Zelia masih tersenyum kecil, memainkan ujung rambutnya dengan santai, benar-benar terlihat nyaman berada di dekatnya.

Dada Are terasa menghangat.

"Sial."

Perasaan ini tidak boleh dibiasakan. Ia sudah terlalu lama hidup dengan batas yang jelas. Dengan jarak yang aman.

Tapi wanita ini… selalu datang tanpa aturan. Dan yang paling berbahaya, ia tidak merasa terganggu. Malah… mulai menikmatinya.

Sudut bibir Are terangkat tipis tanpa sadar. Senyum pahit. "Kalau terus begini… aku yang akan kalah duluan."

Ia mengencangkan genggaman di setir sejenak, mencoba menarik kembali kendali yang perlahan goyah.

Namun saat Zelia bergeser sedikit di kursinya lalu menghela napas santai, aroma lembut parfumnya kembali tercium samar.

Dan Are sadar satu hal yang membuat dadanya berdenyut lebih kuat. Ia sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran wanita ini di dekatnya. Terlalu nyaman. Terlalu… ingin mempertahankannya.

Ia berdeham pelan, seolah menertawakan dirinya sendiri.

"Sejak kapan aku jadi selemah ini?"

Tapi pertanyaan itu tak benar-benar ingin ia jawab. Karena jauh di dalam hatinya, ia sudah tahu. Dan itu yang membuatnya paling berbahaya.

Zelia yang masih bersandar santai membuka ponselnya. Beberapa detik kemudian sudut bibirnya terangkat puas.

"Gak nyangka beritanya bakal heboh gini."

“Berita apa?” tanya Are tanpa menoleh.

 

...✨"Ada permainan yang mulai bergerak. Dan Are baru sadar… ia tidak hanya mempertaruhkan rahasianya, tapi juga hatinya."...

..."Dia terbiasa hidup dengan kendali....

...Sampai seorang wanita datang… dan membuatnya lupa cara menjaga jarak."✨...

.

To be continued

1
Pa Muhsid
ob bawa rujak cingur dan bajigur beuh mantep
Pa Muhsid
buset si otor pintar banget ya main perasaan pembaca
Pa Muhsid
kata aku are itu penguasa yang berputar haluan karena kondisi
anonim
Zelia sudah menemukan kebahagiaan yang lama telah hilang kini mempunyai keluarga utuh. Ada suami, anak, Papa walaupun mertua, Ibu yang juga mertua.

Are juga menemukan kebahagiaan, menikah dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya.

Pradana juga bisa bernapas lega. Tidak Putranya tidak meninggalkan dirinya. Putranya tidak lagi sendiri.

Dan mempunyai penerus keluarga.

**Terima kasih Author, cerita yang bagus dengan ending sempurna. Sehat selalu, penuh Berkat dan RahmatNYA🙏🏻👍🏻👍🏻💖
anonim: Amiiin. Sama-sama kembali kasih Mbak Nana 🙏🙏
total 2 replies
anonim
Mereka berdua ini seakan-akan lupa akan dosa-dosanya. Perbuatan mereka sangat kejam terhadap Zelia.

Sudah hidup nyaman. Rumah. Uang. Fasilitas. Semua dari Ibunya Zelia.

Mereka tidak tahu diri. Menjebak Zelia. Berniat mengambil semua yang Zelia miliki. Dan hampir membuat Zelia kehilangan anaknya.

Kini Desti dan Dian harus menerima konsekuensinya. Kehilangan segalanya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi karena ulah mereka sendiri.
anonim
Are sudah berada di gedung Angkasa Group.

Desti dan Dian menurunkan harga diri mereka dengan berlutut di depan Zelia.

Desti minta maaf pada Zelia. Pengakuan yang di buat-buat. Sudah terlambat. Hampir merenggut nyawa Zelia dan anak dalam kandungannya.

Dian apa lagi. Pengakuan yang di buat-buat menurut versinya sendiri.

Intinya mereka berdua sudah tidak punya apa-apa, minta dikasihani.
anonim
Are menyiapkan tempat dan modal awal untuk buka bengkel sebagai ucapan terima kasih pada Jaka yang tidak memilih pergi malam itu.

Masa depan Jaka jadi jelas.
anonim
Dian dan Desti menerobos masuk kantor Angkasa Group.

Desti menepis tangan Satpam yang menghadang.

Zelia mendengar suara gaduh dari lobby.

Typo Author, Bu Desti dan Nona Dian. Staf-nya keliru sebut yang mana Ibu yang mana anak.

Zelia akan menemui mereka.
anonim
Are menghubungi Jaka memastikan apa yang dilihat Jaka malam itu. Apa Jaka yakin ?

Yakin seratus persen dan Jaka siap jadi saksi.

Are kembali mengusut peristiwa yang dialami Wina. Bukti-bukti dikumpulkan.
Berkas diserahkan ke kantor polisi.

Nama Viola disebut secara resmi.

Viola tidak datang ketika ada pemanggilan. Melarikan diri.

Tidak lama Viola ditemukan.

Viola masuk sel.

Are menemuinya.

Viola - semua yang dilakukan karena tidak mau kehilangan Are.
anonim
Jaka teman Are tidak sengaja melihat berita dari ponselnya.

Video yang dilihat menampilkan wajah seorang wanita.

Tiba-tiba muncul di ingatannya. Jaka memastikan apa yang dilihat.

Peristiwa malam kecelakaan yang terjadi pada Wina terlintas di benaknya.

Jaka fokus kembali ke layar.

Wanita itu yang menabrak Bu Wina waktu itu. Jaka yakin sekali.

Jaka menghubungi Are lewat ponselnya.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Wina memberi kabar kalau Zelia sudah diperbolehkan pulang.

Are mengajak pulang.
Dan mengatakan pulang ke rumah kita. Aku, kamu, anak kita, papa dan Ibu.

Zelia melamunkan kehidupan di masa lalunya. Sampai ditanya Are - kenapa melamun.

Akhirnya Zelia pulang dengan jemarinya menggenggam lengan Are.
anonim
Semalam Zelia bisa tidur nyenyak lagi dalam pelukan Are.

Walau masih marah, Zelia tidak pergi menghindar dari Are.

Pagi hari Are bangun duluan. Zelia masih terlelap. Are memberikan kecupan singkat di pipi Zelia.

Are yang sudah dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantor.

Are menatap Zelia yang masih meringkuk, lalu memberi kecupan di keningnya.

Are pamit ke kantor.
anonim
Malam hari Zelia siap untuk tidur. Mata sudah terpejam.

Merasa ada pergerakan di sisinya.

Are yang merindukan istrinya dan ingin dekat dengan anaknya.

Zelia tidak suka, didorongnya bahu Are. Are tidak bergeser sedikitpun.

Lengan Are melingkar di pinggang Zelia. Zelia mencoba melepaskan diri, tidak bisa.

Akhirnya Zelia tidak menolak pelukan dari Are. Sejatinya Zelia tidak benar-benar ingin menjauh.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Yang ada di ruang rawat cuma Wina. Zelia di kamar mandi.

Wina di suruh istirahat, Are yang jaga Zelia.

Are membuka pintu kamar mandi - Zelia kaget pastinya.

Zelia telanjang bulat. Are suaminya gitu loh. Di suruh keluar.

Are juga mau mandi.

Are mode merayu. Dipraktekkan apa yang dikatakan manajernya waktu itu 😄. Sayangnya Zelia masih marah
anonim
Zelia mau pulang. Merasa bosan. Juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya terlalu lama.

Are sudah menempatkan orang-orangnya di kantornya Zelia.

Yang satu pingin kembali. Yang satunya ingin di sini, di sisinya.

Pradana datang ke ruang rawat Zelia. Ingin mengetahui kondisi Zelia.

Zelia mengatakan - sudah lebih baik. Akan pulang. Kembali ke kehidupannya.

Zelia bicara panjang lebar tentang kehidupannya. Semua yang dibicarakan orang-orang, Zelia utarakan.

Pradana juga bicara panjang lebar. Bicara jujur, yang awalnya menolak karena apa yang ada di belakang Zelia.

Pradana juga minta maaf atas kejadian kemarin pada Zelia dan menyebut dirinya "Papa" untuk Zelia.

Are dan papanya sudah bicara banyak. Tinggal Zelianya maunya bagaimana lagi setelah mendengar itu semua.
anonim
Veyron gerak cepat atas instruksi yang diberikan Are.

Satu persatu orang-orang yang berada di malam itu mulai jatuh.

Are mengeluarkan pernyataan resmi terkait putusnya kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Viola.

Semua akses di tutup.

Ayah Viola menyadari, sudah tidak punya langkah lagi.
anonim
Are terbangun. Aksi kecil penuh perhatian ia lakukan pada Zelia.

Are kesiangan. Berjalan cepat ke kamar mandi.

Zelia membuka mata. Dia merindukan Are. Tapi rasa kesalnya masih menggunung 😄.

Are pamit ke kantor - tak ada respon dari Zelia.

Are mengecup kening Zelia. Zelia tidak menghindar.

Zelia menyentuh keningnya, bekas kecupan.
anonim
Benar-benar nyaman tidur nyenyak pasangan suami istri, sampai Veyron ketuk pintu, tetap tidak terbangun.

Pilihan Veyron bijaksana. Dia pergi tanpa membangunkan.

Zelia terbangun. Hangat dalam pelukan Are - mata masih terpejam. Zelia hampir menolak keberadaan Are. Tangannya hendak mendorong dada Are. Belum sadar kalau Are yang memeluknya.

Zelia membuka mata - baru sadar Are yang memeluk dalam tidurnya.

Zelia membiarkan dirinya dalam pelukan Are. Kembali memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
anonim
Zelia tidur nyenyak dalam pelukan Are.

Perawat dan Wina mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar perawatan.

Wina memberi isyarat pada perawat untuk diam ketika ingin bicara.

Wina berbisik pada perawat untuk membiarkan mereka tidur sebentar. Anak dan menantunya akhir-akhir ini kurang istirahat.

Mereka keluar, pintu ditutup pelan.
anonim
Malam hari Zelia sudah terlelap.

Are dengan hati-hati naik ke ranjang pasien.

Are merebahkan diri di sisi Zelia. Dengan ragu menarik tubuh Zelia ke dalam pelukannya.

Respon Zelia bagus tanpa sadar tubuhnya mencari posisi yang nyaman.

Walau Zelia marah, bawah sadarnya pasti merindukan pelukan Are.

Are mendekap Zelia lebih erat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!