Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 18
Kepergian Rara yang dipanggil ibunya menyisakan banyak kebahagiaan di hati Aabid.
Banyak hal yang seharusnya tidak penting bagi seorang Aabid menjadi penting setelah mendengar celoteh gadis kecil itu.
Ia bahkan bisa senyum-senyum sendiri kala mengingat percakapan tak penting bersama Rara, namun mampu membuatnya merasa di liputi oleh kebahagiaan tiada tara.
Khumaira Azzahra namanya saat Aabid bertanya. Lalu tidur bersama selina adalah kegemaran yang tak bisa ditinggalkannya.
Kala Aabid bertanya lagi perihal akan tidur dengan Siapa ketika selina sudah menikah nanti, ia pun menjawab dengan percaya dirinya akan tetap di sana.
Bagi Aabid yang kaku, mungkin hal seperti itu sudah mampu menggelitik, dan bisa sedikit mencairkan hati yang membeku.
"Astaghfirullah." Aabid kembali bangkit dari bersantai di pembaringan.
Kala sadar ada yang harus ia kerjakan dan tak bisa lagi di tunda-tunda. Dengan cepat ia meraih ponsel yang kini terlihat sudah terisi penuh di sampingnya.
Banyak yang harus ia hubungi, termasuk sang mama yang sudah barang tentu mengkhawatirkannya.
Aabid segera menekan bagian samping dan ponsel pun menyala.
Sesaat matanya terpejam, mengingat nomor siapa yang harus ia hubungi dan hafal.
"Arga," gumamnya lalu membuka mata setelah berusaha keras mengingat digit angka demi angka yang semoga saja tidak salah sambung.
"Nggak ada pulsa lagi?" gerutu Aabid yang tak bisa menghubungi Arga menggunakan nomor pribadi.
Terpaksa ia pun menggunakan panggilan WA. Niatnya tak mau Arga tahu nomor Harun lalu menghubunginya setiap saat, namun apa boleh buat.
Yang penting sekarang ia bisa menelpon orang yang ada di Jakarta dan memulai rencana. Masalah nomor Harun akan ia pikirkan lagi nanti.
"Hallo." Akhirnya suara yang Aabid begitu ingin dengar menyapa telinga.
"Hallo, Arga. Ini aku Aabid."
"Aabid?"
"Saya Aabid Pradipta. Ini nomor orang. Hanya nomor kamu yang saya ingat, jadi saya hubungi kamu." lagi.
"Pak Aabid?! Siap, Pak!"
"Arga, ada hal penting yang mau saya bicarakan."
"Siap, Pak."
"Arga saya sedang cuti, tidak perlu seformal itu."
Arga menghela napas, mengubah suasana lebih santai.
"Oke, lah, bid. Ada apa? Kamu udah siuman dari sakit hati?" tanya Arga selengekan.
"Arga."
"Sorry. Sorry."
Arga dan Aabid adalah teman SMA, Arga memilih masuk Bintara karena sedikit pemalas sementara Aabid memilih masuk Akademi Kepolisian.
Dengan berjalan nya waktu mereka akhir nya bertemu di tempat yang sama namun dengan posisi berbeda, Arga yang masih berstatus Briptu sedangkan Aabid yang masuk setelah nya langsung memiliki pangkat IPDA dan membuatnya harus menjadi bawahan dari teman sendiri.
"Hey, Arga. Aku kena begal. Di daerah Bandung."
"Hah?! Terus kamu di mana? Eh, maksudnya kamu gimana?" Sentak Arga yang membuat Aabid menjauhkan ponsel dari telinga.
"Lecet sedikit tapi selamat. Ada anak muda yang menolong ku. Tapi aku kehilangan semua barang berharga. Motor, dompet, dan yang parahnya mereka tahu kalau aku polisi dari kartu identitas yang juga mereka bawa sekarang."
"Terus?"
"Aku sedang berusaha mencari berbagai informasi, karena mereka pasti bersembunyi setelah tahu kalau korbannya polisi. Kebetulan ada yang menolongku di kampung ini. Tapi ada indikasi oknum polisi yang membantu begal itu, karena sudah lama beroperasi tapi belum ada tindakan. Jadi aku putuskan untuk menetap dan menyelidiki."
"Lalu rencananya gimana? Aku samperin kamu atau?"
"Nggak usah. Kamu kirim saja bantuan ke sini. Tugaskan di titik-titik yang aku berikan, nanti aku kirim melalui WA. Aku takut anak yang menolongku ini jadi incaran mereka. Penyamaran harus sedemikian rupa. Jangan sampai gagal."
"Oke, akan segera dilaksanakan."
"Satu hal lagi. Kirim ponsel dan uang untukku, nanti tempat dan waktunya aku share dan harus dengan cara apa uang itu sampai ke tanganku nanti aku kasih tahu, jangan gegabah. Berikan beserta nomor yang sama dengan nomor terdahulu."
"Hem."
"Dan yang paling penting kamu pergi ke mall atau butik anak, cari baju anak yang paling bagus."
"Baju anak?!" tanya Arga kebingungan.
"Iya. Usianya 7 tahun. Tinggi dan badannya sepantaran Dena, cucunya Pak Hakam. Tahu, kan? Kamu beli tiga atau berapa. Nanti aku ganti kalau pulang. Pilih yang paling bagus dan mahal."
"Emang untuk siapa."
"Kamu jangan banyak tanya, lakukan saja perintahku. Ini hp orang, aku nggak bisa lama-lama. Aku tunggu secepatnya. Jangan menghubungi kalau aku tidak menghubungi. Kamu kirim pulsa ke nomor ini secepatnya, aku tunggu sekarang!"
Aabid segera menutup telepon secara sepihak dan menghapus riwayat panggilan kala terdengar suara langkah seseorang mendekat ke kamar.
"Dito?" gumam Aabid begitu melihat siapa yang datang.
Dito membuang muka dengan segara. Ia bergegas menuju lemari, dan membukanya untuk mencari baju ganti.
"Dito, masih marah sama saya?" tanya Aabid menurunkan segala gengsi dan egonya yang tinggi.
Namun, Dito tak menjawab dan justru bersikap seolah tak ada suara.
"Hei, Dito. Saya ngomong sama kamu," Aabid kembali mencoba untuk mengajak Dika bicara.
"Kok ada suara, tapi orangnya nggak ada, ya?! Setan kali, ya," kata Dito, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
"Dito."
"Setan emang!" pungkas Dito dengan mantap ke arah Aabid namun sama sekali tak melihat wajahnya kemudian melenggang pergi ke luar meninggalkan kamar.
Aabid mengerjap beberapa kali, baru kali ini dia di perlakukan seolah tak ada dan tidak disegani oleh anak bau kencur yang usianya bahkan jauh di bawahnya itu.
Ponsel di genggaman Aabid kembali berdering saat ia masih mematung tak percaya dengan kejadian barusan.
Aabid pun mengalihkan pandangan pada ponsel di genggaman, terlihat sebuah token pengisian pulsa masuk di dalamnya. Ia lalu segera menghubungi mamanya.
"Assalamualaikum, Ma."
"Aabid?! Wa'alaikumsalam. Hp Kamu kenapa nggak bisa di hubungi? Terus ini kamu, pakai nomor pribadi kenapa?" cecar sang mama dengan berbagai tanya begitu mendengar suara yang begitu ia rindukan.
"Hp-nya ilang waktu Aabid pergi jalan-jalan. Ini hp orang, maka nya Aabid pake nomor pribadi. Nanti mama telpon orang ini lagi."
"ilang?! Kok, bisa?"
"Iya, jatuh kali. Jadi kalau misal ada yang menghubungi minta uang atau apa lewat nomor itu jangan digubris. Ini aku masih nyuruh temen ngurus nomor ke galery."
"Oh, gitu, ya. Tapi kamu baik-baik aja, kan?"
"Baik, tapi akan lebih baik lagi kalau mama nggak usah kirim orang buat ngikutin Aabid"
Di balik telepon Arumi hanya bisa menelan ludah nya, tenggorokan nya seketika mengering begitu mendengar ucapan anaknya itu. Laporan yang di berikan orang suruhannya memang berakhir gagal mengikuti Aabid.
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣