DISKRIPSI
Tersebutlah di Distrik Ahinan Dusun Be jie
ada sepasang suami istri yang telah dikaruniai seorang Anak perempuan yang bernama Mey Ling. Dan anehnya di punggung Mey Ling seperti ada tatto yang bertuliskan Lady Ma,seorang selir dari masa Dinasty Ming
.
Pada saat berumur 12 tahun anak ini bermimpi di ajak ke sebuah goa oleh sang nenek dan di wariskan harta karun. Tersebarnya berita itu membuat banyak pihak memburu harta ini.
Suatu hari berita ini sampai keKaisaran, yang menyebabkan Mey Ling menjadi rebutan para pendekar dan para Prajurit Kekaisaran. Untuk mencari harta karun banyak terjadi pertempuran dan pertumpahan darah. Merasa menjadi ujung tombak permasalahan ini, May Ling akhirnya melarikan diri dalam kegelapan malam di sebuah hutan bambu.
Tapi sesuatu telah terjadi ke pada May Ling
Apakah Itu??
Silahkan Reader baca kelanjutan kisah Mey Ling Reinkarnasi Lady Ma.
Reader akan di ajak bernostagia di Negara Tirai Bambu, Mengenal gunung yang indah...
Lembah yang seperti sorga atau Sungai yang airnya bening berwarna hijau seperti permandian bidadari Sorga.
💜💜💜💜💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak halangan.
Bab.18
Bukan main senangnya hati Penduduk
Desa Cang Po, melihat pengacau Desa nya sekarang sudah tiada. Mereka memuji-muji Fang Yin dan Fao Shin.
Bagi Mereka dua Orang itu adalah
utusan Dewa dari langit. Mereka lalu menengadah ke atas dan bertrimakasih atas lenyapnya pengacau dari Desa Mereka.
"Maaf Sastrawan muda, Kami penduduk
Desa menghaturkan banyak trimakasih kepada Tecu berdua, kalau tidak ada Tecu Kami bisa mati semua," bicara seorang Kepala Desa sambil menjura.
"Itu sudah tugas Kami, seandainya
suatu hari nanti ada pengacau atau
ada kemalangan di Desa Kalian, tolong salah satu pergi ke Istana untuk mengadu kepada Kami. Jangan.takut, Kami segera akan datang," kata Fao
Shin m tegas, Dia lupa bahwa saat ini
Dia sedang menyamar. Kode mata dari Pang Yin tidak di mengerti. Tentu. saja
semua penduduk lalu bersimpuh dan
memberi hormat.
"Salam Paduka, Kami tidak tahu bahwa
Paduka berdua adalah Pangeran yang lagi menyamar," kata mereka hampir berbarengan. Merasa bersalah Fao Shin lalu berdiri matanya melirik Fang Yin.
"Paman, Bibi semua, karena perjalanan
Kami cukup jauh untuk itu Kami segera
mohon pamit. Besok lusa Kami pasti akan singgah. Kami juga sangat bertrimakasih kepada Kalian yang setia kepada Kaisar,, ," sahut Fao Shin mencakupkan kedua tangannya. Fang
Yin hanya tersenyum melihat ulah Fao Shin.
"Tapi Paduka, Kami ingin menyampaikan
sesuatu kepada Paduka," kata seorang Ibu maju kedepan.
"Maaf Bibi, Aku sangat menghargai Bibi,
tapi saat ini Kami betul-betul sangat buru-buru karena dilain Desa juga tertjadi hal
begini. Maafkanlah Kami berdua.
Fang Yin dan Fao Shin cepat keluar dari
kerumunan warga, terlihat wajah Ibu-ibu
kecewa karena menolak pemberian
Mereka berupa seorang Gadis untuk di
jadikan Selir.
Lega rasanya keluar dari kerumunan
Warga, seandainya Mereka mau melayani Warga bisa sampai malam Mereka di
Desa itu. Ketika Mereka sampai di sebuah Sungai Fang Yin lalu menyuruh Fao Shinbturun itu Fao Shin lalu tertawa.
"Aku adalah Kaisar berhati Iblis akan turun
dari Kuda," sahut Fang Yin jenaka. Mereka
lalu tertawa berdua.
"Besok-besok ingat kalau lagi menyamar.
Untung Mereka sebelumnya menyangka
Kita Sastrawan sehingga Anak Gadisnya
tidak di keluarkan," kata Fang Yin sambil
mendekatkan Kudanya ke Sungai. Air
Sungai yang Jernih mengundang rasa
ingin mandi.
"Aku mau mandi dulu," kata Fang Yin.
"Aku ikut, sekarang Kita adalah Rakyat
jelata bebas melakukan apapun. Enak
sekali menjadi Rakyat," sahut Fao Shin
sangat senang.
"Kalau begitu jangan pulang ke Istana,
Kita menjadi Rakyat saja," sahut Fang
Yin yang sudah pernah menyamar di
Lembah Pujian sebagai Murid Gong Li.
"Tidak!!, jadi Rakyat hidup susah," kata
Fao Shin ingat akan kejadian di Desa
tadi, Mereka ketakutan kalau ada orang
Jahat atau Perampok.
"Bersyukurlah menjadi Pangeran bisa
makan dan tidur enak, banyak Selir dan semua Orang menghormati," sahut Fang
Yin menyudahi mandinya.
Kemudian Mereka makan berdua sambil
berbincang-bincang.
"Fang Yin kenapa Kamu tidak mau
mengambil salah satu dari wanita yang
yang dihibahkan kepadamu," kata Fao
Shin Tiba-tiba.
"Karena Aku tidak menyukainya. Bagiku
Wanita bukan sebagai Obyek pemuas
nafsu saja, tapi lebih dari itu," sahut Fang
Yin mengingat Ibunya.
"Apakah Kamu mencintai seorang gadis?, tidak mungkin Kamu berpikiran begitu
kalau Kamu tidak suka kepada seseorang, kecuali Kamu mencintai sesama jenis.
"Aku mencintai seseorang yang saat ini masih Aku cari. Karena waktu itu Dia
hilang dari tempat tidur. Aku berjanji tidak akan menikah kalau orang itu belum Aku temui," kata Fang Yin dengan wajah sedih.
"Semoga Fang Yin bisa bertemu dengan Orang itu, dan harapanmu bisa tercapai,"
sahut Fao Shin.
Menjelang senja hari, Mereka sudah
tiba di puncak sebuah bukit hijau, tanpa sengaja Mereka memandang ke bawah ke arah barat, nampaklah serombongan orang. Hati Fang Yin berdebar tegang karena dia mengenal orang yang berpakaian seragam merah itu adalah
rombongan yang dulu pernah diajak
bersama ke Perguruan Shaolin.
Fang Yin memperhatikan rombongan
itu, tapi tidak ada Mey Ling atau Gadis bercadar di antara Mereka. Hatinya pasrah, tapi Dia yakin suatu hari nanti
Dia akan bertemu dengan Mey Ling.
"Kita akan bermalam disini, kalau Kita meneruskan perjalanan Kita akan kemalaman dan biasanya ada binatang buas disini," kata Fang Yin mengikat Kudanya ke batang pohon.
“Hushh, Fang Yin, jangan lancang bicara Aku jadi takut tidur;" Fao Shin berkata dan dia merasa seram, memandang ke kanan kiri.
"Hemm, kalau Xian Mong masih hidup, tentu Dia akan mencari Kita kesini dan melepaskan ribuan ular, Dia juga akan
membunuh Kita," kata Fao Shin ikut
menakuti.
"Tapi sebelum khayalan mu tercapai
Xian Mong keburu di bunuh oleh
pujaan hatiku," sahut Fang Yin tertawa.
“Fang Yin semoga engkau tahu bahwa akulah yang bertanggung jawab atas keselamatanmu, maka engkau tidak boleh pergi begitu saja dariku tanpa sepengetahuanku. Mengerti?” kata
Fao Shin.
"Mengerti Pangeran muda yang baik
hati dan tidak sombong," sahut Fang
Yin merogoh Serulingnya.,
Ketika enak-enak rebahan ada suara
tangisan yang bersahutan. Fang Yin
dan Fao Shin seketika berdiri, ada
seorang Ibu yang menangis berteriak
meminta Putrinya. Tiga orang lelaki
sedang memanggul seorang gadis
di pundaknya. Ketika melewati Fang
Yin dan Fao Shin Wanita itu Lalu
berteriak.
"Tolonglah Kami Tuan, Putri Kami di
culik mau di bawa ke Kota Raja,"
teriak wanita itu bersimpuh di Kaki
Fang Yin.
"Kurang ajar, turunkan Gadis itu," teriak
Fao Shin menghadang ketiga laki-laki
itu.
"Sastrawan gembel jangan ikut campur
kami menjalankan perintah Raja," sahut
Laki-laki itu menantang.
"Raja tidak mungkin memerintah untuk
melarikan Gadis orang," bentak Fang
Yin langsung mengeluarkan Pedang.
"Hahaha...Sastrawan dungu, Kamu
tahu apa, setiap hari Aku di perintahkan untuk mencari Gadis perawan untuk
Kaisar," kata Laki-laki berbaju Hitam
sinis.
"Kalian sudah mencemarkan nama
Kaisar patut di bunuh," teriak Fao Shin
meloncat maju dan menyerang.
Dengan sigap Lelaki kurus menyambut
serangan Fao Shin. Kemudian Fang Yin
juga mencabut pedangnya dan mulai
menghadapi dua Orang yang serentak
menyerangnya. Mendapat serangan bertubi-tubi tidak membuat Fang Yin
kewalahan, karena lawan ilmu silatnya
masih dasar.
"Hiiaaattt!! bentak Fang Yin memutar
pedangnya, kemudian pedangnya
beradu dengan lawan. Terdengar suara
pedang patah. Ternyata pedang lawan sudah menjadi dua.
"Jangan sombong dulu, mari Kita lanjutkan permainan ini," sahut lawan
mengeluarkan rantai besi yang di
putar-putar seperti gangsing.
Ciaattttt...trang...tringgg.
Suara senjata terdengar nyaring. Fao
Shin juga bertempur sangat seru. Fang Yin yang memegang pedang Pusaka kembali bertarung melawan orang
yang memakai rantai besi. kegigihan
lawan perlu di acungin jempol karena
Mereka sebenarnya sudah terdesak.
*******
"
tahta, waria, Echa ja yak😜😜
akupun punya Mey..jurus seribu akun🙈🙈🤭