Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Main Serong?
'Rasanya aneh, diikuti seperti ini... ' Marni dalam hatinya.
Suasana desa begitu sepi seiring dengan terbenamnya matahari. Jagat menepati janjinya untuk menjaga jarak dengannya, namun hati Marni tetap was-was. Dia tidak ingin menjadi gunjingan tetangga karena pergi bersama pria yang bukan suaminya.
Sampai di depan rumah, Marni menengok ke belakang. Disana ada Jagat yang berdiri sambil memegangi perutnya sedangkan satu tangan yang lain memberikan kode untuk segera masuk ke dalam.
Marni pun akhirnya membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Jagat melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikuti atau melihat keberadaannya.
Langit perlahan menjadi gelap, dan Jagat pun bergegas untuk pulang.
Marni terduduk di kursi reotnya.
Dia memegang dadanya, "Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak nyaman?"
Menyadari baju pinjaman dari Jagat sekarang kotor dengan tanah dan darah, Marni pun beranjak untuk membersihkan dirinya.
Diseka nya pelan-pelan, wajah dan seluruh tubuhnya dengan menggunakan ember dan kain kecil sobekan dari kain jarik yang sudah tidak terpakai, warisan dari ibunya.
Dia melihat lengannya yang dibalut dengan kain putih berserat. Serta ada bekas tetesan obat yang baunya khas sekali, berwarna merah seperti darah namun sedikit agak kecoklatan.
"Akh!" Marni memekik kesakitan saat lilitan kain itu dilepaskan dari lengannya.
Dia bisa melihat luka sabetan benda tajam di lengannya itu.
"Huufhhh," Dia menghela nafasnya.
Badannya terlilit kain jarik, sehingga tubuh bagian atasnya bisa dengan mudah dia bersihkan.
"Kemarin tanganku yang dia sakiti. Apa selanjutnya aku akan m*ati di tangan Mas Joko?" Marni bergumam sendiri, dia tersenyum getir sebelum akhirnya mengambil baju ganti dan memakaikan tubuhnya pakaian yang bersih.
Kebaya dengan bawahan kain jarik yang dibuat seperti rok pendek sebetis.
Sedangkan Joko sekarang masih di pangkalan ojeg.
"Belum pulang?" tanya seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya.
"Belum,"
"Kenapa?" tanya orang itu.
Joko hanya tersenyum.
"Barangkali masih ada yang mau ngojeg. Kamu? Jam segini keluyuran, apa tidak dicariin sama simbok mu?"
"Aku bilang mau beli telur, besok aku akan pergi ke kota. Mengadu nasib disana, barangkali itu menjadi jalan hidup yang terbaik untukku dan simbok,"
"Warisanmu banyak. Kenapa kamu malah pergi ke kota?" Joko menengok, dia menatap wanita itu dengan lembut. Sangat berbeda saat dirinya menatap istrinya sendiri.
"Lagi pula, sepertinya aku perhatikan kehidupan kamu sudah lebih baik. Sudah tidak bekerja lagi di rumah tuan tanah. Itu artinya kamu sudah bisa menjual warisan bapak ibumu, kan Jen?"
"Warisan apa? Aku ini tidak punya apa-apa selain rumah simbok. Semuanya sudah terjual untuk membayar hutang-hutang Mas Budi, "
"Kakakmu?"
Jenar mengangguk.
"Itulah yang membuat kami hidup susah seperti sekarang ini. Aku ke kota juga karena tidak ada pilihan. Aku disuruh mencari tamu selanjutnya untuk datang ke desa kita,"
"Tamu? Tamu apa, Jen?" tanya Joko.
"Tamu yang bisa----" Jenar hampir keceplosan.
"Intinya, supaya desa kita ini lebih ramai dan kehidupan kita juga tidak begini-begini saja, Mas... " Tangan Jenar tidak sengaja menyentuh paha Joko.
"Maaf," Jenar menarik tangannya lagi.
Joko yang sudah lama menyukai Jenar pun meraih tangan itu.
"Akan sangat berbahaya untuk wanita seperti kamu ini pergi. Apalagi tidak ada orang menjaga kamu, Jen..." Joko merasa harus bicara seperti ini.
"Lebih berbahaya dan menyakitkan melihat orang yang kita cintai menikah dengan sahabat kita sendiri, Mas.. . " ungkap Jenar.
"Maksudnya?" Joko menautkan alisnya.
"Mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki juga sebuah penyiksaan yang berat,"
"Kamu mencintai aku, Jen?" tanya Joko pada Jenar yang kini memalingkan wajahnya.
Angin malam berhembus, memainkan rambut panjang Jenar. Joko menyerongkan duduknya, dia menarik dagu wanita yang kini ada di dekatnya.
"Kamu mencintai aku, Jen?" tanya Joko suaranya makin berat, nafasnya memburu hebat.
Namun yang ditanya hanya tersenyum canggung.
"Tentu! Aku sangat mencintaimu, Joko!" Jenar dengan suara yang tidak biasa saat wajah mereka semakin dekat.
Dan toiba-tiba saja, wajah Jenar berubah menjadi wajah Marni.
Joko yang kaget pun seketika menjauh dan berteriak, "Rrghh!" dia sampai terjungkal dari tempat duduknya.
"Set, set, setan!" ucapnya susah payah sambil menyalakan mesin motornya.
Sedangkan Jenar yang melihat Joko lari pun terheran-heran.
"Kenapa dia lari? Kenapa dia mengataiku setan? Memangnya wajahku semenakutkan itu?" Jenar kesal melihat pria yang baru saja berbincang dengannya lari ketakutan.
Sedangkan Joko mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. Awalnya dia mau pulang ke rumah ibunya. Namun, ditengah jalan dia berubah pikiran.
"Apa jangan-jangan Marni sudah m*ati? Ah tidak mungkin. Dia tidak mungkin m*ati, bahkan sebulan tidak makan pun dia tidak mungkin m*ati!" Joko bergelut dengan pikirannya sendiri.
Angin malam berhembus menusuk kulit. Suasana desa yang sepi membuat Joko semakin mempercepat laju motornya.
Brak!
Motornya ditinggalkan begitu saja sesaat dia sampai di rumah reot Marni.
Rumah yang dulu menyimpan harta benda, namun sekarang ludes masuk ke perut mertua beserta adik iparnya.
"Hhuufh," Joko dengan nafas yang terengah-engah
Dadanya naik turun, sesekali dia melihat ke belakang, merasa diawasi.
Lampu gantung yang biasa menyala dan memberikan penerangan seadanya, kini mati. Bahkan lampu petromak itu terasa dingin.
Joko menyentuh lampu gantung itu, "Jangan bilang dia sudah membus*uk di dalam sana!" ucap Joko yang perlahan menyentuh gagang pintu.
Cek lek!
Ngeeekk!
Suara pintu yang dibuka.
Tidak ada siapa-siapa. Suasana dalam rumah juga gelap gulita. Jantung Joko semakin berdebar-debar, seperti masuk ke rumah hantu, bau pengap sangat
Dan tiba-tiba ada yang muncul dari dalam bilik kamar.
"Mas Jaga--?" lirih wanita itu sambil menengok ke arah pintu, dia tidak menyelesaikan ucapannya.
"Marni?" Joko mengucek matanya, dia meyakinkan sosok yang di depannya itu seorang manusia, bukan setan atau jelmaan jin.
Sedangkan Marni kemudian keluar dengan sebuah lentera di tangannya dengan nyala yang semakin redup.
"Jaga? Siapa yang kamu maksud?" Joko yang penasaran dengan nama yang diucapkan istrinya.
Sementara Marni hanya diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang meluncur dari mulut pria yang masih menjadi suaminya.
"Apakah kamu bersama orang lain?" Joko yang menerobos masuk ke dalam bilik kamar dan dia mencari disemua sudut.
"Jangan-jangan kamu main serong ya, Marni?!" tuduh Joko. Sedangkan Marni hanya diam mematung melihat suaminya yang sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaannya. Jelas-jelas terakhir kali mereka bertemu itu, mereka bertengkar hebat, sampai terjadi sebuah kejadian yang bukan hanya membuat sakit fisik namun juga batin.
"Tadi siapa yang kamu sebut itu? Hah?" Joko yang memb*bi buta.
"Mungkin kamu salah dengar, aku menyebut namamu tadi," Marni datar.
"Pendengaranku masih normal. Jelas-jelas kamu ini menyebut nama orang lain! Oh jadi sekarang mau ini berani ya? Menyukai orang yang bukan suamimu? Berani kamu, ya?!" Joko menendang lemari kayu yang sebentar lagi roboh.
"Pergi dari sini. Ini rumahku, jangan sekali-kali kau menyentuh rumah yang bukan milikmu, " Marni yang masih terpaku di tempat. Badannya membelakangi Joko.
"Berani kamu melawan suamimu? Heh?" Joko berbicara, namun Marni tidak bergeming sedikitpun.
"Jangan-jangan kamu ini main dukun? Kamu ingin meneror aku? Iya? Aku ini---"
"Jangan-jangan kejadian mistis di desa ini juga karena ulah kamu? Benar kan? Kamu ini dalang dari segala kerusuhan di desa! Dasar wanita tidak berguna! Beraninya kamu main kotor!" Joko terus saja mengecam Marni.
Joko berjalan keluar dan menabrak bahu istrinya yang masih terdiam di tempatnya tanpa beranjak satu jengkal pun.
"Rgghhhh!" Joko membanting kursi rotan yang ada di ruang tamu.
"Sudah ku peringatkan! Jangan setuju brang yang bukan milikmu!" Marni kemudian menendang punggung Joko hingga pria itu tersungkur.
"Hahahahahahah?!! Laki-laki kotor, tidak berguna!"
"Erkk!" Joko mengelap hidungnya yang mengeluarkan darah akibat benturan keras.
Dia berbalik dan melihat Marni yang sedang menempel di dinding.
Joko terbelalak, dia menunjuk Marni dengan wajah yang ketakutan.
"Mau kemana kamu?!" teriak Marni dari atas.
Srek srek arek!
Pintu terkunci.
"Buka! buka!" Joko beringsut. dia menggedor pintu dengan sekuat tenaga.
Namun sepertinya sia-sia.
"Jangan Marni! Pergi! Pergi kamu!" teriak Joko.
Dan sebuah seringai muncul di wajah Marni....