Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?
Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.
Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
Darrel Pov
Gue lagi duduk di sofa kamar gue. Pikiran gue sekarang tertuju pada taruhan sialan itu.
Flashback On
"Abis mutusin Cindy ya?" tebak Roy.
"Yoi," jawab gue.
"Sekarang target lo siapa?" tanya Baim.
"Gue belum ada target.”
"Mending kita taruhan aja," kata Baim.
"Taruhan apa?" tanya gue.
"Lo harus nyari cewek bad girl yang sama sekali belum pernah pacaran dan lo harus cari cewek itu di luar sekolah ini!"
"Ok, kebetulan banget bokap nyuruh gue pindah."
"Jangan mainin perasaan cewek terus! Apalagi cewek yang masih polos," nasihat Adit.
"Jangan sok alim lu Dit," ejek Roy.
"Dit, lo ikut gue pindah sekolah ya?" ajak gue. Adit hanya mengangguk pasrah.
Flashback Off
Kurang bodoh apa coba? Gue terjebak di dalam taruhan sialan.
***
Author Pov
Sudah dua hari Darrel meminta maaf dan memberi barang yang selalu ditolak oleh Clarissa. Tetapi sudah dua hari pula Clarissa melakukan ujian cinta dari Bryon. Rencananya dia akan menyudahi ujian ini, karena tidak tega.
"Ah, frustasi gue di tolak melulu.” Darrel mengacak rambutnya frustasi.
"Ckckck, kacian Kak Dallel ditolak melulu," ejek Adit dengan nada sok di imutin.
"*** lo, gue lagi frustasi gini lo malah ngejek, lo sahabat gue bukan?"
Adit terkekeh pelan.
"Tenang sobat, gue punya usul, gimana kalau lo buat mmm ... dia suka apa?"
Darrel mengerutkan kening.
"Maksud?" tanya Darrel bingung.
"Dasar b*go, maksud gue apa kesukaannya Clarissa?"
"Gak tau ... eh, eh, tunggu dulu kayaknya gue tau deh!"
"Apa?" tanya Adit.
"Gula kapas."
"Ya udah, lo kasi dia gula kapas, tapi lo yang buat, terus lo hias-hias," usul Adit.
Senyum Darrel langsung mengembang.
"Bagus juga ide lo, kenapa gue kaga kepikiran dari kemarin ye." Darrel langsung beranjak dari duduknya.
"Lo mau kemana?" tanya Adit.
"Mau belajar buat gula kapas sama mas-mas yang jualan di taman," kata Darrel.
"Gue ikut, males gue di rumah!”
"Ini rumah gue kali! Ya udah ayo!" Darrel keluar kamar disusul Adit di belakangnya.
"Tepatnya bokap lo!" ujar Adit.
"Bodo!" kata Darrel acuh.
***
"Lo niat banget sih minta maaf ke Clarissa," kata Adit saat telah berada di dalam mobil.
"Gue juga bingung kenapa gue jadi kayak gini? Biasanya cewek yang ngejar-ngejar gue, tapi sekarang malah gue," kata Darrel bingung.
"Itu namanya KAR-MA," ejek Adit.
"Siapa sih karma itu? Pengen gue gebukin," kata Darrel konyol.
"B*go lo!" ejek Adit.
"Lo oon!”
***
“Udah sampai," kata Darrel pada Adit.
Mereka pun keluar dari mobil yang telah terparkir di taman.
"Sejuk di sini!" Darrel menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
"Namanya juga taman," kata Adit.
"Siapa bilang ini neraka?" tanya Darrel.
"Gak ada."
"Au ah gelap.” Darrel berjalan menuju bapak-bapak yang biasanya jualan gula kapas.
"Dek mau beli gula kapas?" tanya Si bapak-bapak yang tidak author kenal namanya.
"Nggak saya mau--" tiba-tiba ucapan Darrel terputus.
"Sialan lo ninggalin gue!" Adit berlari menuju Darrel.
"Yang ada lo yang kabur ninggalin gue," bela Darrel.
"Tau ah, cepet sono buat!" suruh Adit.
"Pak saya mau belajar buat gula kapas. Bapak mau ga ngajarin saya?” tanga Darrel.
"Asalkan ada uang, saya sih mau."
***
Clarissa Pov
Cielah ketemu lagi kita yak! Udah lama nggak ada pov gue nih *demo sama author*. Ambil golok, pisau dapur dan palu lalu ... taruh kembali hehehe ... kalau gue beneran bunuh su Author bisa-bisa nggak dilanjut ni cerita. Ampun thor!
Ngomong-ngomong udah dua hari si Darrel, kesayangan gue, eh, apaan dah bahasa gue. Lanjut ke topik, si Darrel udah dua hari berturut-turut minta maaf sama gue, tapi ... gue belum maafin dia. Bukan karena masih marah, orang gue seneng dicium dia, eh. Maaf teman-teman otak gue lagi error. Ah apaan sih? Lanjut lagi, gue gak marah tapi masalahnya abang gue si Bryon yang playboy cap kadal itu ga ngasi gue maafin dia, ah tapi gue udah ga tega gue.
"Woi bengong mulu!" Verrel tiba-tiba dateng terus duduk di kasur sebelah gue.
"Apaan sih lo?" tanya gue sewot.
"Ngelamunin apaan lo?" tanyanya.
"Nggak ada," bohong gue.
"Boong lo!" Verrel mencolek pipi gue.
"Siapa yang boong, udah-udah pergi sana," usri gue sambol mendorong punggung Verrel.
"Jahat lo sama kakak, kualat baru tau!" Verrel keluar dari kamar gue.
Apa sih dosa gue? Kenapa gue bisa punya kakak-kakak macam mereka. Capek hati gue ngadepin tingkah mereka yang ngeselin terus.