Aluna Maharani dan Reza Mahesa sudah bersahabat sejak SMA. Mereka kuliah di jurusan yang sama, lalu bersama-sama bekerja di PT. Graha Pratama hingga hampir tujuh tahun lamanya.
Kedekatan yang terjalin membuat Aluna yakin, perhatian kecil yang Reza berikan selama ini adalah tanda cinta. Baginya, Reza adalah rumah.
Namun keyakinan itu mulai goyah saat Kezia Ayudira, pegawai kontrak baru, masuk ke kantor mereka. Sejak awal pertemuan, Aluna merasakan ada yang berbeda dari cara Reza memperlakukan Kezia.
Di tengah kegelisahannya, hadir sosok Revan Dirgantara. Seorang CEO muda yang berwibawa dari perusahaan sebelah, sekaligus sahabat Reza. Revan yang awalnya sekadar dikenalkan oleh Reza, justru membuka lembaran baru dalam hidup Aluna. Berbeda dengan Reza, perhatian Revan terasa nyata, matang, dan tidak membuatnya menebak-nebak.
Sebuah kisah tentang cinta yang salah tafsir, persahabatan yang diuji, dan keberanian untuk melepaskan demi menemukan arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iqueena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA KAMU?!
Dengan cepat ia melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dengan langkah ringan namun penuh semangat.
Di depan sana, aroma gurih yang begitu menggoda sudah tercium jelas. Hidung Reza langsung menangkap bau khas rempah bercampur wangi minyak panas yang membuat perutnya ikut bergejolak.
Ia melirik ke arah sebuah gerobak sederhana dengan papan kayu bertuliskan Martabak Telur Spesial Nusantara. Makanan favorit nya saat kuliah dulu, bahkan sangking sukanya, ia rela kesana setiap hari demi satu porsi martabak itu.
Ia berjalan mendekat, menyapa ramah penjual yang tampak sedikit menua tapi masih sama cekatannya seperti dulu.
"Pakde, saya pikir nggak jualan lagi, soalnya pernah lewat sini tapi nggak pernah buka."
Penjual itu menoleh, menatap Reza sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Eh, Reza! Kamu toh? Lama banget nggak kelihatan. Kemarin-kemarin memang jarang buka, ngikut suasana hati." jawab penjual itu sambil tertawa kecil.
Reza ikut tertawa, rasa hangat nostalgia membanjiri dirinya. "Ah, pakde ini kayak gen z aja, jualan ikut suasana hati."
"Martabak telur nya empat bungkus ya, Pakde" tambahnya.
"Siap, Za. Tunggu sebentar ya." ucap Pakde penjual itu sambil membuat martabak dengan cekatan.
Reza sempat melirik ke arah mobilnya, memastikan Aluna masih tertidur pulas.
"Hm, ini pasti bikin Aluna seneng juga nanti." batinnya, membayangkan wajah sahabatnya yang akan protes dulu tapi akhirnya ikut lahap makan martabak itu.
****
Setelah mendapatkan pesanannya, Reza kembali ke mobil dengan wajah puas. Ia menaruh kotak martabak di kursi belakang, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen Aluna.
Tak butuh waktu lama, aroma gurih martabak yang hangat itu menyebar ke seluruh kabin mobil. Aluna yang sejak tadi tertidur pulas mulai mengerutkan hidungnya.
"Hmmm... Martabak ya?" gumamnya pelan, masih dengan mata terpejam.
Reza melirik sekilas dan tersenyum geli melihat sahabatnya bisa terbangun hanya karena aroma makanan. Ia pun menepikan mobil ke bahu jalan, lalu meraih kotak martabak dari kursi belakang.
"Martabak Nusantara, Na. Ayo makan dulu sebelum pulang." katanya sambil membuka kotak berisi martabak telur hangat itu.
"Wah, lama banget nggak makan martabak ini!" serunya, langsung menyambar sepotong dan memasukkannya ke mulut.
Setelah memakan satu gigitan, mata Aluna berbinar. "Emmmm, rasanya nggak berubah, Za. Sama enaknya kayak dulu."
Reza menoleh dengan pipi penuh martabak, lalu meneguk air mineral sebelum menjawab,. "Bener, Na. Nggak berubah."
Setelah puas menyantap beberapa potong martabak di mobil, keduanya saling melempar tawa kecil. Reza menutup kembali kotak martabak dan meletakkannya di kursi belakang.
Mobil kembali melaju di jalanan kota yang mulai padat menjelang malam. Lampu-lampu jalan menyala, memantulkan cahaya hangat ke kaca mobil.
Aluna bersandar di kursi, kali ini matanya tak langsung terpejam. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan suasana kota yang terasa berbeda ketika bersama Reza.
****
Pukul 20.35. Mereka tiba di apartemen, Aluna dan Reza turun dari mobil. Tak lupa, Reza menyerahkan satu bungkus martabak ke tangan Aluna.
Aluna dengan senang hati menerimanya, namun matanya langsung tertuju pada dua kotak lain yang masih dibawa Reza.
"Kamu beli empat kotak, Za?" tanyanya heran.
Reza mengangguk santai. "Iya. Satu tadi udah kita makan di mobil, satu buat kamu, dan dua ini mau aku bawa pulang."
Aluna terkekeh kecil, menatapnya geli. "Segitunya, Za? Sampai harus dua kotak buat kamu sendiri."
Namun Reza menggeleng cepat, sedikit kikuk. "Bukan… yang satu ini bukan buat aku. Aku mau kasih ke orang yang aku suka."
Lagi-lagi jawaban tak terduga itu membuat dada Aluna terasa berat, seolah ada beban yang menekan. Namun ia berusaha tetap terlihat biasa saja.
"Cieee… udah mulai berani nih sekarang," godanya sambil tersenyum, meski hatinya sedikit bergetar.
Reza hanya tersenyum malu, pipinya memanas. "Udah, Na. Kamu naik aja, ya. Aku mau lanjut jalan lagi."
Aluna mengangguk pelan. Reza lalu memasukkan kembali martabak ke dalam mobil, kemudian segera masuk dan duduk di kursi kemudi.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan area parkir. Aluna dan Reza sempat saling melambaikan tangan, sebelum akhirnya Aluna berbalik dan melangkah menuju lift dengan langkah pelan..
"Bersiap lah Aluna, hari yang akan membuat hatimu hancur akan segera datang" batinnya lirih, sambil menarik napas panjang
****
Sesampainya di depan pintu apartemennya, Aluna menekan tombol sandi seperti biasa. Namun alisnya langsung berkerut. Pintu itu tidak terkunci, bahkan sedikit terbuka, seolah seseorang telah lebih dulu masuk.
Degupan jantungnya makin kencang. Ia menelan ludah, lalu dengan ragu mendorong pintu itu perlahan.
Pintu terbuka, menyingkap ruang tamu yang cukup gelap. Lampu utama mati, hanya cahaya samar dari dapur yang menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Tatapannya terhenti pada sosok asing di balik sofa. Seorang pria duduk diam, kepalanya tertutup hodie gelap. Bahunya sedikit bergerak, menandakan ia masih bernapas tenang.
Aluna melangkah masuk, tubuhnya kaku, setiap hembusan napas terasa berat. Suara langkahnya membuat pria itu menoleh perlahan. Dari balik bayangan, terdengar suara rendah dan tenang namun dingin.
"Kau sudah pulang?" kata pria itu, seolah sudah menunggunya.
Jantung Aluna seakan jatuh ke perut. Dengan cepat ia bersuara tegas meski suaranya sedikit bergetar.
"Siapa kamu!?"
...----------------...
Siapa lagi ini? Bagaimana dia tau kata sandi apart Aluna?
Penyusup? Pencuri? Psycho?
Dukung karya ini agar tetap berlanjut ya, jangan lupa like dan komen sebagai bentuk dukungan kamu. Gamsahamnida 🥰🌹
kirain alasan apa ke.