Follow Ige author : Shalsyala
"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.
"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama
Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.
Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?
Yuuuk merapat langsung baca yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Dengan sopan Angga memberi salam pada Mami mertuanya, juga Papi mertuanya yang juga ikut datang. Setelah itu ia mendudukkan diri di kursi ruang tamu.
"Kenapa tidak bilang kalau pindah rumah? Papi mengunjungi apartemen mu tapi tidak ada orang. Untung saja papi bertemu Bi Sarah yang sedang bersih bersih disana?" Gunawan memulai obrolan.
Angga berdehem untuk mengusir rasa sungkannya. "Maafkan saya sebelumnya karena belum sempat memberi tahu kepindahan saya dan Livi ke rumah ini. Kami baru kemarin pindah, dan rencananya hari ini..." Kalimat Angga menggantung diudara saat Mami mertuanya menyela dengan cepat tanpa basa basi.
"Sungguh sangat sopan." Maya yang sejak tadi menatap tak suka ke arah Angga mulai berkomentar.
"Miii!" Gunawan melempar tatapan peringatan pada Maya untuk memilih diam.
"Tidak apa apa Angga. Papi mengerti jika kamu sangat sibuk. Papi tidak masalah." Gunawan mencoba mencairkan suasana yang tiba tiba menegang akibat celetukan istrinya.
Belum sempat menanggapi omongan mertuanya, Angga mengalihkan pandangannya pada sang istri yang sedang membawa nampan berisikan minuman hangat untuk mereka semua.
Terlihat Maya menatap penuh keterkejutan dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan putrinya. Sorot kemarahan tergambar di wajahnya.
Livi, putriku. Penerus Meta Intern Group sedang membawa nampan di tangannya. Oh Tuhaaan, kenapa Livi begitu bodoh!"
Maya hanya mengumpat dalam hati karena tak berani berkata kata saat melihat suaminya kembali menatap dengan tajam penuh peringatan. Seolah suaminya paham apa yang sedang dipikirkannya.
"Pi! Maafkan aku terlambat memberi kabar tentang kepindahan ku dan kak Angga ke rumah ini." Livi berucap setelah meletakkan cangkir teh di meja disusul kemudian dirinya mendudukkan diri di sebelah Papinya.
Gunawan tersenyum sambil mengusap sayang kepala Livi. "Tidak apa apa sayang. Papi mengerti." Gunawan menatap lembut ke arah Livi. "Ngomong ngomong ini teh siapa yang buat?" Tanyanya basa basi.
"Oh iya Pi. Aku sekarang sudah bisa buat teh dan kopi sendiri." Ucapnya riang sambil membawa secangkir teh kehadapan Papinya. "Papi cobain gih!"
Gunawan dengan senang hati meraih cangkir di tangan Livi. "Papi cobain ya?" Ucapnya lalu mulai menyesap segelas tehnya. "Enak sayang. Kamu pinter sekarang. Apa sudah bisa masak juga?" Puji Gunawan.
"Papi! Livi tidak harus melakukan itu semua!" Maya tidak bisa lagi menahan amarahnya melihat Livi benar benar terlihat akan menjadi ibu rumah tangga sesuai apa yang dikatakan Livi beberapa waktu lalu.
Semua mata yang ada menatap ke arah Maya. Gunawan berdehem sejurus kemudian menatap kembali ke arah Livi dengan lembut. "Papi bangga dengan kamu sayang. Kamu ternyata bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu." Gunawan mencoba bersikap bijaksana, melupakan niat awal kedatangannya menemui Livi adalah hendak membujuk Livi untuk mau belajar mengolah perusahaan, saat melihat senyum dan binar kebahagiaan dari mata cantik putrinya terpancar, dirinya menjadi tak tega untuk mengutarakan niatnya.
"Livi sudah cukup baik selama menjadi istri saya Pi." Angga yang sejak tadi mengamati interaksi ayah dan anak itu kini membuka suara.
"Baguslah! Jadi Papi bisa tenang dan tinggal menunggu cucu dari kalian."
Gunawan tertawa bahagia dengan ucapannya. Namun berbeda dengan Livi dan Angga yang terdiam di tempatnya. Keduanya saling pandang hingga Angga yang lebih dulu menguasai kembali dirinya, kini melempar senyum.
Sejurus kemudian Livi hanya berdehem untuk memecah kecanggungannya. "Ehmm..Papi sama Mami mau menginap malam ini?"
"Tidak!!" Maya dengan cepat melayangkan protes.
Gunawan tersenyum sambil membelai rambut panjang Livi. "Tidak sayang, Papi dan Mami pulang saja. Tapi, mengingat kalian baru menempati rumah baru, apa tidak ada acara syukuran untuk itu?" Gunawan melempar pandang bergantian ke arah Angga juga Livia. "Kita bisa mengadakan makan malam disini." Usulnya.
"Iya Pi aku setuju." Livi tersenyum kemudian memandang Angga dengan sorot mata bertanya. Angga pun segera mengangguk setuju dengan ide mertuanya.
"Tapi jika hanya berempat kurang ramai dan kurang seru. Bagaimana kalau kita undang juga Om Tama dan Tante Tari? Ajak Akbar beserta istrinya juga!" Ucap Gunawan.
Livi terdiam sejenak lalu menatap cemas ke arah Angga. Bukan karena apa, mengundang keluarga Pratama sedikit membuatnya tak nyaman. Mengingat di masa lalu ia hampir saja menjadi menantu keluarga kaya raya itu.
"Apa yang sedang aku fikirkan? Keluarga Pratama masih menjalin hubungan baik dengan Papi. Juga kak Akbar yang masih menjalin hubungan baik dengan suamiku."
"Aku terserah pada mu Liv." Angga segera menyudahi lamunan Livi. Wanita itu tergeragap ditempatnya.
"Eeh iya Kak, aku coba hubungi dulu Tante Tari. Kamu hubungi kak Akbar." Ucap Livi pada Angga.
...🌾🌾🌾🌾...
Sambungan telfon Angga tak mendapat jawaban dari Akbar di sebrang sana. Dan sekali lagi laki laki itu kembali menelfon dan kali ini malah mendapat jawaban jika nomor Akbar sedang tidak aktif.
"Tumben sekali Kak Akbar tidak bisa dihubungi?" Angga menatap layar ponselnya sambil bergumam pelan.
"Kenapa Kak?" tanya Livi.
"Ponselnya kak Akbar mati. Coba kamu hubungi Tante Tari dulu." Jawabnya.
Livi pun segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Tari. Di dering ke tiga panggilannya tersambung.
"Halo Tante, ini Livia."
"Iya Livi. Kok tumben sekali telfon Tante?
"Iya Tante, aku mau mengundang Tante. Apa nanti malam Tante dan Om Tama ada waktu? Aku mengadakan acara syukuran menempati rumah baru ku. Lebih tepatnya hanya makan malam." Ujar Livi.
"Selamat ya Livi atas kepindahan ke rumah barunya. Tapi Tante mohon maaf sekali ya Liv, Tante sepertinya tidak bisa datang. Tante sedang dijalan menuju rumah sakit."
""Lhoh! Siapa yang sakit Tan?" Semua mata kini beralih menatap ke arah Livi.
Livi mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan Tari di sebrang sana. "Baik Tante. Tidak apa apa. Aku mengerti. Hati hati ya Tan." Livi mengakhiri panggilan telfonnya.
"Siapa yang sakit Liv?" Maya bertanya.
Livi melirik ke arah suaminya. "Alya. Dia masuk rumah sakit." Ucapnya lirih.
Angga yang semula bersikap tenang seketika menegakkan duduknya. Raut wajahnya berubah tegang penuh kecemasan. Dan itu semua tak luput dari pandangan Livia.
Angga berdehem mencoba bersikap setenang mungkin. "Alya sakit apa?"
Livi menggeleng. "Tante Tari juga tidak tahu. Beliau masih di perjalanan menuju rumah sakit." Tutur Livi.
Raut wajahnya berganti layu. Hatinya tiba tiba merasa sedih. Entah sedih karena kabar jika sahabatnya sedang sakit atau sedih melihat reaksi suaminya yang mendengar kabar itu.
Tenang Livi...Tenang..!!!
"Apa kita harus kesana menjenguk menantu Pak Tama Mi?" tanya Gunawan pada Maya.
"Aku rasa tidak perlu." Maya yang notabene tidak suka dengan sosok Alya dengan tegas menolak ajakan Gunawan.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi menjenguk Liya?" Angga yang terlihat cemas pun segera mengutarakan keinginannya. Membuat semua membuat Maya dan Gunawan sedikit terkejut. Lain halnya dengan Livi. Wanita itu hanya diam dengan segala rasa yang tengah berkecamuk di hatinya.
...🌾🌾🌾🌾...
Angga dan Livi sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit dimana Alya dirawat. Dengan berat hati meninggalkan Maya dan Gunawan yang akhirnya harus pulang sejalan mereka juga pergi.
Livi terus merapalkan doa, sesekali matanya terpejam saat Angga tiba tiba menginjak pedal remnya. Dengan kecepatan tinggi laki laki itu melajukan mobilnya. Menyalip dan mengklakson segala sesuatu yang menghalangi jalannya.
Livi melirik sekilas ke arah suaminya. Wajah yang selalu tampan dengan ketenangan yang selalu tergambar itu, kali ini tak lagi ia lihat, berganti wajah cemas, panik dan terburu buru. Dan hal itu membuat sisi hatinya jauh di dalam sana berdenyut.
Hingga sampailah mereka di rumah sakit. Langkah lebar dan buru buru milik Angga membuat Livi harus setengah berlari agar tak tertinggal oleh suaminya. Baru beberapa langkah, Livi memilih untuk menghentikan langkah sambil menatap punggung suaminya menjauh hingga menghilang di belokan lorong kamar rawat inap rumah sakit. Laki laki itu sama sekali tak melihat dirinya yang masih berdiri mematung.
Sakit.
Yang dirasakan Livi saat ini saat melihat suaminya begitu panik dan dilanda ketakutan saat mencemaskan wanita lain. Wanita yang ternyata masih ada dalam hati suaminya.
...🌾🌾🌾🌾...
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜