bagaimana mungkin sakit hati bisa sesakit ini?
bagaimana mungkin keadaan rumit ini menghampiriku?
tolong tuhan, aku juga manusia jika seperti ini aku juga akan melemah, sangat menjadi lemah.
tapi Tuhan memang luar biasa tidak ada rasa sakit yang tidak tergantikan dengan bahagia. semuanya hanya soal waktu.
#Pemeran Utama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widi Nuramalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Hila bangun" suara Kanya menyeruak masuk kedalam telingaku. Selimutku ditariknya kebawah
"Apaan si Nya ganggu banget si Lo" kataku dengan mata yang masih terpejam
"Shalat subuh dulu woy udah mau siang" kata Kanya dan aku tidak mempedulikannya
"Hila bangun ih kebo banget si Lo" kata Kanya lagi sambil menepuk pantatku
"Ah Kanya sakit" kataku
"Makanya bangun cepet" kata Kanya lagi dengan sekali lagi memukul pantat ku
"Aaaaaaaaaa" kataku sambil kelenjotan seperti cacing kepanasan
"Heh Lo kesurupan apa gimana" kata Kanya
"Heeuuuhhh ini Amerika apa Bandung si. Udah minggat ke Amerika yang bangunin ganggu tidur masih aja ada" gerutuku sambil mengacak rambutku pelan
"Shalat Lo gue aja masih suka shalat yang udah lama diem di negara liberal gini. Udah buruan udah mau jam enam shalat apaan Lo ampir mau jam enam" omel Kanya
"Gak Kanya gak Bunda hoby nya ganggu orang tidur aja terus" gerutuku sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Kalo udah selesai cepet keluar kita cari sarapan diluar" kata Kanya dan aku tidak menjawabnya
Semuanya udah selesai dan aku menghampiri Kanya yang sudah duduk manis di depan tv.
"Ayo gue udah siap sarapan" kataku
"Giliran makan aja Lo" kata Kanya dan berdiri lalu berjalan menuju pintu dan ku ikuti
Apartemen Kanya ada di lantai 10. Tentu saja pake lift gak pake tangga.
Kami berjalan melewati jalan-jalan yang tidak pernah sepi. Selalu ramai walaupun mahasiswa sudah hampir libur semester. Tapi para pekerja tidak ada liburnya.
"Nya, masa jalan terus sih. Dimana si ini tempat sarapannya?" Tanyaku
"Jangan bawel udah jalan aja. Itung-itung olahraga biar Lo hafal jalan juga" kata Kanya
"Lah tunjukin jalan yang pake transfortasi kek naek apa naek apanya" kataku
"Lah kalo niat naek mh naek taxi aja. Ini bukan Bandung yang ada angkot dan harus turun dimana terus naik lagi angkot mana." Kata Kanya
"Ya ya gue cape Kanya ih Lo nyebelin si" kataku
"Astaga Hila bentar lagi. Nikmatin aja. Cuci mata noh liat bule cakep-cakep tinggi, di Bandung mana ada bule." Kata Kanya
"Kata siapa? Di Bandung ada bule" elak ku
"Gak sebanyak disini maksudnya."
"Makan apa si tu bule? Taraje kali ya, pada tinggi-tinggi amat" kataku ngasal (Taraje \= tangga panjang dari bambu)
"Ngaco" kata Kanya sembari tersenyum
"Ko Lo gak tinggi-tinggi si Nya?" Tanyaku
"Yaelah nagatain gue gak tinggi. Ngaca emangnya Lo tinggi? Tetep aja nih tinggian gue"
"Ya kan gue di Bandung gak di Amerika"
"Bedanya?"
"Tu bule pada tinggi gara-gara diem di Amerika. Lah elo diem di Amerika masih aja segini"
"Mana ada. Takdir tuhan itu" kata Kanya
"Bawa-bawa takdir segala lagi Lo. Jadi ini tempat sarapannya dimana anjirrr gue udah cape." Kataku kesal
"Ini udah nyampe bawel" kata Kanya dan masuk kedalam sebuah bangunan kecil. Itu restoran tapi bukan restoran mewah.
Kanya menghampiri pelayanan untuk memesan menu. Dan berjalan menghampiri ku yang sudah duduk.
"Ini restoran apaan?"
"Makanan" jawab Kanya
"Ya iya bayi juga tau ini restoran makanan."
"Gue salah?" Tanya Kanya dan tertawa "jadi ini restoran yang cuma nyediain sarapan doang. Cuma buka pagi-pagi gini sampe jam 10." Jelas Kanya
"Tapi rame banget. Apa makanan favorit disini?" Tanyaku
"Semuanya favorit enak semua." Jawab Kanya
"Ada apa aja emang?"
"Biasa aja sandwich pada umunya isinya ada daging sapi **** bisa milih kalo emang pengen sapi sama telor atau apapun kita bisa langsung minta. Ada Quiche, salad, oatmeal, scrambled egg, omelet. Gitu-gitu aja si tapi tentunya omelet disini beda isinya 3 jenis keju." Kata Kanya panjang lebar
"Lo pesen apa buat gue?" Tanyaku
"Quiche. Biar agak kenyang. Lo kan gembul." Kata Kanya
"Oh" jawabku. Jujur saja aku hanya tau nama saja tentang Queche tapi yang pasti itu makanan berbahan dasar telur yang di dadar.
Akhirnya pesanan Kanya datang satu porsi Queche untuku dan satu porsi omelet untuk Kanya serta dua gelas teh.
Anjirrr cuma yang Kek gini doang? Batinku
Satu piring berisi satu gulung telor dadar isi dan sayuran hijau ditumpangi tomat dipinggirnya.
Dimana terkenal nya? . Dan cuma segelas teh aja. Ah Amerika dimana mewah nya si. Apa emang Kanya aja yang sengaja bawa gue ke tempat kek gini. Batinku
"Ayo makan masa mau ditongkringin aja" kata Kanya yang kulihat sudah mulai mengunyah
Aku segera memotong makananku sedikit dan kumasukan kedalam mulutku. Ternyata rasanya tidak seperti yang kubayangkan. Ini enak.
"Nah kan enak?" Tanya Kanya
"Lumayan" jawabku
"Dih jawab lumayan. Enak banget kali." Kata Kanya
"Lah terus kenapa Lo gak makan Queche?"
"Ini campuran telur sama keju ada bayam juga, jamur, sama ubi. Makanya mengenyangkan. Dan karbohidrat nya banyak. Beda sama omelet cuma telor sama 3 jenis keju. Tapi itu tetep enak. Gue dulu di bawa Ezi kesini." Jelas Kanya seperti sudah menjadi host acara wisata kuliner aja.
"Lah itu 3 jenis keju lemak semua" komentarku
"Tapi kesukaan gue ini. Kalo gak ini paling salad."
"Kek kambing makan salad" kataku dan Kanya hanya cuek.
Makananku sudah habis lebih dulu. Kanya terlalu fokus dengan hp nya makannya 1 suapan dikunyah lima menit. Lama banget.
"Nya, gak boleh nambah?" Tanyaku
"Boleh si. Tapi gue malu." Kata Kanya
"Gue mau bawa pulang ah. Makannya nanti aja yah pas di apartemen." Kataku
"Terserah Lo dah gembul. Nih uangnya sekalian bayar terus langsung pulang" kata Kanya menyodorkan beberapa lembar dolar kepadaku. Dengan cepat aku segera memesan satu porsi lagi.
Dengan senang aku melangkahkan kakiku masuk menuju apartemen Kanya dan akan kembali memakan apa yang sudah aku makan tadi.
"Kanya. Lo mau lagi gak?" Tanyaku
"Kaga ah. Gue mau mandi" kata Kanya
"Yaudah" kataku acuh dan segera melahapnya didepan tv.
Bel nya berbunyi. Segera ku hampiri pintu dan ternyata Fahrezi Dateng membawa kantong keresek putih. Hari ini dia memakai celana trening dengan Hoodie warna abu-abu pekat. Dia tampan Tuhan.
"Hallo Hila" sapanya
"Eh Ezi. Masuk" kataku dan diapun melangkah masuk "Kanya nya lagi mandi dulu" kataku
"Emang siapa yang mau ketemu Kanya. Aku mau ketemu kamu. Bukan Kanya" katanya
"Ada apa?" Kutanya "oh jaket yah? Udah kering ko ada." Kataku
"Ih bukan-bukan hahahaha sengaja aja kesini. Nih sarapan. Eh kamu lagi sarapan ternyata." Kata Ezi
"Kamu belum sarapan?" Tanyaku
"Belum. Mau barengan makanya ini dibawa kesini tapi kayanya udah pada sarapan." Kata Ezi nyengir
"Tadi aku sama Kanya udah sarapan diluar." Kataku
"Terus kamu makan lagi?" Tanya Ezi
"Iya. Gak kenyang. Mau nambah disana Kanya malu" kataku nyengir
"Hahahaha yaudah sarapan lagi aja temenin aku" kata Ezi
"Bentar yah aku ambilin piring" kataku berjalan kedapur lalu kembali.
"Kamu suka Queche?" Tanya Ezi
"Gak tau. Baru pertama" kataku
"Oh oke. Queche menu sarapan favorit aku. Kanya sukanya makan daun-daun paling salad atau paling omelet yang dia makan, makanya ini aku bawa omelet satu sama dua Queche berharap kamu suka Queche biar aku ada temennya." Kata Ezi
"Dengan senang hati" kataku
"Mau lagi?" Tanya Ezi
"Gakpp kan?" Tanyaku sambil menggigit sendok ku
"Hahaha boleh boleh nih biar gak mubajir. Jadi kamu udah abis tiga sama ini gitu?" Tanya Ezi dan aku mengangguk sedikit malu tapi bodo amat orang enak.
"Hahaha bagus deh. Aku suka. Jadi kalo sarapan kayanya aku harus bareng kamu sekarang, bukan barengan Kanya" katanya masih dengan Sedikit tertawa. membuatku sedikit canggung atau perasaan apalah ini. Jujur saja aku merasa jauh lebih enjoy tidak berfokus pada si brengsek Fahrio atau yang lainnya. Aku seperti terlahir kembali memulai semuanya dari nol dan hidup di dunia baru.
☘☘☘
semangat thot buar bsa up trus 😁😁
up dong...