NovelToon NovelToon
ONS With Daddy

ONS With Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Nikahkontrak / Duda / Tamat
Popularitas:493.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ridz

"Aku hamil!"

Sebuah kalimat yang terlontar dari Adlin ditengah kehidupannya yang sedang tidak baik-baik saja.

Kehormatannya direnggut dan ayahnya meninggal setelah mengetahui kenyataan pahit putrinya.

Adlin yang bingung dengan kondisinya hanya bisa menangis, sampai ia sadar bahwa ia tengah mengandung anak dari bossnya sendiri yang sudah merenggut kehormatannya.

Mampukah Adlin hidup bersama Gibran yang arogan dan kasar serta menerima kenyataan bahwa Gibran adalah mantan suami ibu tirinya saat ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 18: Kau Pria Paling Menjijikkan

Adlin, Gibran dan Aulita tampak tengah menikmatinya sarapan pagi mereka, hari ini adalah hari Senin ceria untuk memulai pekerjaan mereka, terlebih Adlin tampaknya sudah mempunyai rencana bagus untuk hari ini.

"Ul nanti ke sekolah nya, diantar sama Mom dan Dad yah, biar temen Ul tahu kalau Ul udah punya Mommy," pinta Ul menatap kedua orang tuanya.

"Boleh," jawab Gibran singkat kemudian menyelesaikan makanannya.

"Sayang? Kamu udah selesai nyuci piringnya? Berangkat yuk takut telat," teriak Gibran pada Adlin yang tengah sibuk didapur.

"Iya, bentar," jawab Adlin.

"Yaudah aku sama Ul, nungguin di mobil yah," Gibran berdiri dan memakai arlojinya dan menarik tangan putrinya untuk keluar dari rumah. "Udah selesaikan nak? Yuk kita ke mobil,"

Aulita mengangguk ia mengambil tasnya kemudian mengikuti Daddynya yang kini menarik tangannya, Gibran membuka pintu rumahnya dan terkejut sesaat melihat sosok Zuhra yang kini ada didepannya.

"Mas Gibran," Zuhra berlari memeluk Gibran erat, Gibran yang mendapat perlakuan itupun segera menepisnya dengan kasar sebelum Adlin melihat kejadian ini.

"Gatau malu kamu," bisik Gibran pada Zuhra, rahangnya mengeras seketika. "Mau apa kamu kesini?"

"Aku hanya ingin bertemu dengan anakku Aulita, ia tidak pernah mengenaliku semenjak dia lahir, kau bahkan membatasi ku untuk bertemu dengannya," jawab Zuhra berkaca-kaca.

Gibran mengeluarkan ekspresi kesal kemudian menarik tangan Zuhra dengan kasar keluar dari halaman rumahnya, Zuhra sedikit mengadu karena memang cengkraman tangan Gibran yang kuat.

"Ini semua salahmu, jadi jangan menyesal kalau dia tidak mengenalmu," Gibran menaikkan nada bicaranya pada Zuhra.

Zuhra mendongakkan kepalanya bingung seolah sedang meminta penjelasan.

"Kau lupa? Kau selingkuh dengan pria itu dan kau meninggalkanku bersama Aulita, sendirian dan sekarang kau mengatakan kau merindukannya, kau benar-benar tidak waras, Zuhra," Gibran menghela napas berat. "Lebih baik kau pergi dari sini, aku sudah muak melihat wajahmu,"

"Tapi,"

"PERGI!" teriak Gibran mengagetkan Zuhra.

Zuhra terdiam kemudian melangkahkan kakinya pergi dengan derai air mata, hatinya benar-benar hancur sekarang, dan tidak yang mampu mengobatinya, andaikan Gibran tahu apa alasannya, dia tidak akan bersikap kasar begini.

Melihat Zuhra tidak ada, Gibran segera kembali kerumah nya, ia sudah melihat Adlin dan Aulita yang menunggunya.

"Darimana saja?" tanya Adlin melihat Gibran yang tampak penat.

"Tidak ada, sudah siap? Yuk berangkat nanti telat," Gibran masuk kedalam mobil disusul oleh Adlin dan Aulita.

Disepanjang jalan Gibran hanya diam, tidak seperti biasanya, hanya suara hening sampai mereka tiba didepan sekolah Aulita.t

"Kamu hati-hati yah, jangan bandel," pesan Aulita mengecup kening putrinya.

"Iya Mom,"

Gibran hanya tersenyum kemudian menjalankan mobilnya kembali menuju kantor, entah kenapa menurut Adlin hari ini Gibran berbeda, tapi dia tidak tahu kalau kejadian dengan Zuhra membuat pikirannya terganggu.

"Kenapa? Kok diam aja?" tanya Adlin menatap suaminya.

"Gpp," jawab Gibran singkat.

"Bohong, gak biasanya begini, pasti ada sesuatu," Adlin memberi tatapan menyelidik.

"Gaada apa-apa kok, beneran," Gibran memberikan senyum terbaiknya kemudian mengelus rambut Adlin perlahan.

 

Gibran kini sudah ada di ruangannya sementara Vanya juga sibuk diruangan nya sendiri, sebagai sekretaris dia perlu privasi untuk mengatur semua materi meeting, presentasi, jadwal dan keperluan Boss sekaligus suaminya itu.

Gibran tengah fokus ke laptopnya sebelum kejadian pagi tadi bersama Zuhra terulang di kepalanya, pelukannya yang hangat bahkan tidak berubah sedikitpun, tapi Gibran sudah tidak memiliki perasaan apapun, Zuhra yang meninggalkannya dan Zuhra tidak pantas untuk kembali padanya.

Disaat tengah asik mengerjakan algoritma perusahaan di laptopnya, Gibran berhenti sejenak mana kala mengetahui seseorang masuk keruangan nya.

"Sayang? Ada apa?" tanya Gibran masih fokus ke laptopnya tapi dari aroma parfumnya dia sudah tahu kalau itu adalah Adlin.

"Aku mau menghukum mu," bisik Adlin yang membuat Gibran balik menatapnya.

Adlin tersenyum sinis kemudian menarik Gibran untuk berdiri, ia memperbaiki setelan jas suaminya itu dan mengalungkan kertas bertuliskan sesuatu ke leher Gibran.

:SAYA BERJANJI AKAN MENJADI BOS YANG BAIK, SAYA TIDAK AKAN MARAH, MEMBENTAK DAN SEMENA-MENA KEPADA KARYAWAN, DAN JIKA SAYA MELAKUKANNYA SAYA AKAN MENAMBAH GAJI KARYAWAN TERSEBUT TIGA KALI LIPAT'

Kira-kira begitulah tulisan yang ada pada kertas tersebut, Gibran hanya melongo membacanya, ide gila macam apa yang sekarang sedang dipikirkan Adlin untuknya.

"Kau ingin mempermalukan ku?" protes Gibran hendak melepaskan kertas tersebut.

"Jika kau melepasnya aku tidak ingin dicium lagi," ancam Adlin yang membuat Gibran mati kutu.

"Tapi tidak begini juga, sayang," Gibran memelas dan memohon agar Adlin menghentikan ide gilanya.

Tapi menurut Adlin itu cemerlang, dan kusebut ide itu aesthetic.

"Bukan aku yang mau tapi, anak kita," Adlin mengelus perutnya dan mengeluarkan mata binarnya kepada Gibran.

"Baiklah, kurasa anak kita sedang mengerjai Daddynya," Gibran menyerah.

"Ayo keluar," ajak Adlin menarik tangan Gibran.

Gibran masih berdiri entah apa yang dipikirkannya sampai terlintas senyum mesum diwajahnya.

"Cium dulu, baru aku keluar," Gibran menyodorkan pipinya untuk dicium.

Adlin hanya menatapnya kesal kemudian menciumnya cepat, Gibran sangat puas seolah melupakannya kejadian tadi pagi, memang Adlin adalah wanita spesial.

Gibran menggandeng tangan Adlin keluar dari ruangan-nya, bak pengantin baru yang turun dari altar semua mata karyawan tertuju pada mereka berdua.

Karyawan masih tidak percaya, benarkah sosok Gibran enam tahun yang lalu kembali? Gibran yang manis, humoris dan humble? Atau masih Gibran yang arogan, tidak berperasaan dan playboy?

"Ayo ucapkan," bisik Adlin pada suaminya.

"Apanya?" tanya Gibran pada Adlin.

"Itu," Adlin menunjuk tulisan yang menggantung dileher suaminya dengan dagunya.

Gibran menghela napas. "Saya Gibran Andra Anindito, berjanji tidak akan berbuat kasar dan membentak karyawan saya lagi,"

"Jika kau melakukannya?" Adlin melanjutkan kalimat Gibran.

"Apanya?"

"Konsekuensinya," jawab Adlin malas dengan sikap lemot suaminya.

"Jika saya melakukannya, maka saya akan menaikkan gaji karyawan tersebut tiga kali lipat pada bulan berikutnya,"

Semua karyawan yang ada disana bersorak gembira, sebab sosok Gibran yang ada didepannya sangat manis dan menyenangkan, mereka bersyukur ada Adlin yang bisa mengubah batu menjadi tanah.

"Kau puas?"

"Ya,"

"Happy?"

"Tentu,"

 

Setelah kejadian atas permintaan Adlin tadi, semua karyawan kembali bersuka cita, kehangatan dikantor yang sudah hampir beku itu kini kembali setelah enam tahun menghilang.

Adlin tengah duduk diruangan nya, mengatur ulang jadwal sang suami, sebelum ia merasakan seseorang memasuki ruangannya dan mengunci pintunya.

"Marcel? Apa yang kau lakukan disini?" Adlin berdiri sambil membereskan map-nya.

Marcel adalah pacar atau lebih tepatnya tunangan dari Diah, sahabat Adlin, Marcel sangat terobsesi dengan Adlin.

Ia pernah mengungkapkan bahwa ia mencintai Adlin dan akan meninggalkan Diah untuk dirinya, padahal situasinya mereka sudah tunangan.

Kontan hal itu ditolak oleh Adlin, kenapa dia harus menukar persahabatannya dengan hal segila itu, dia rasa Marcel memiliki gangguan jiwa.

"Aku dengar kau sudah menikah, dan itu menyakiti hatiku kau tahu," Marcel menyeringai dan hendak menerkam Adlin.

"Kau mau apa?"

"Menghancurkan hidupmu, jika bos mu saja bisa menikmatimu, maka aku juga akan melakukan hal yang serupa," Marcel semakin menyeringai.

"Jangan gila Marcel!" teriak Adlin. "Tolong!"

Adlin berteriak namun tidak dihiraukan oleh Marcel, sedangkan diluar sana tampak Gibran berjalan menuju ruangan istrinya tapi sesaat sebelum memutar knop pintu, ia mendengar teriakan dari Adlin.

"Adlin?" Gibran segera mendobrak pintu ruangan tersebut dan melihat Adlin meringkuk dan didepannya sudah ada Marcel seperti orang gila.

Gibran langsung memukul Marcel sehingga membuat keributan yang membuat Diah dan karyawan lain datang, Diah yang melihat tunangannya dipukuli oleh bosnya kaget, Marcel yang ketahuan segera berlari dari sana, Gibran hendak mengejarnya namun ditahan oleh Adlin.

"Apa dia menyentuhmu? Apa yang terluka," tanya Gibran sedikit shock.

"Apa yang terjadi?" tanya Diah bingung.

"Kau lihat? Apa yang dilakukan tunangan sialanmu itu kepada istriku? Dia hendak melecehkan istriku dan kau masih bertanya kenapa?" Gibran berteriak didepan Diah.

Adlin mencoba menenangkan Gibran karena itu bukan salah sahabatnya, namun apa daya Gibran yang tadinya manis dan menyenangkan berubah menakutkan dan tempramental.

"Kurasa kau hanya memberi pengaruh buruk untuk Adlin, kemasi barangmu dan keluar dari sini, kau dipecat," lanjut Gibran emosi.

"Pak Bos! Apaan sih gak harus gini juga!" teriak Adlin kesal.

"Diam Adlin Diam! Dia itu pengaruh buruk untukmu, pacarnya keluarganya, semua itu busuk, dia hanya ingin melukaimu," Entah pemahaman darimana yang diterima akal sehat Gibran, hanya karena kesalahan Marcel, Gibran harus menghina keluarganya dan dirinya.

"Saya permisi pak," Diah meneteskan air matanya kecewa, lima tahun ia bekerja disini, mengabdikan diri kepada perusahaan Gibran, dan dia harus keluar secara tidak terhormat, itu melebihi sakit apapun, tapi Diah tidak benci pada Gibran apalagi Adlin, ia membenci Marcel, dia sangat tega melakukan itu kepada sahabatnya sendiri.

Bukan masalah hati lagi, tapi jika ada yang berani menyentuh sahabatnya, Diah tidak akan pernah diam, karena Adlin baginya adalah orang yang teramat ia sayangi dari bangku SMA.

"Kau gila, kau tidak punya hati, kau pria brengsek!" Adlin menampar pipi Gibran kesal, tidak seharusnya ia mengatakan hal itu kepada sahabatnya.

"Aku?" Gibran menunjuk dirinya dan menjeda sejenak. "Tidak punya hati? Setelah semua yang kulakukan kau mengatakan aku tidak punya hati?"

Gibran membentak Adlin kembali, seakan akan semua emosinya terhadap Zuhra ia lampiaskan dengan baik pada kejadian ini.

"Benar kata Leo, aku seharusnya tidak menikahi wanita murahan sepertimu, wanita miskin, tidak tahu diri dan tidak tahu malu," lanjut Gibran, hati Adlin seketika sakit mendengar kalimatnya.

"Harusnya kubiarkan saja kau mengandung anakmu itu dengan aib, aku bahkan ragu kalau itu anakku, bisa saja kau melakukannya dengan pria lain, wanita liar,"

"Cukup! Kau sudah keterlaluan, harusnya aku tidak percaya begitu saja dengan ucapan cintamu, harusnya aku menolak cintamu dan membiarkanmu mati saat itu juga, tapi aku hanya kasian pada Aulita, dia sudah kehilangan ibu, kakek dan nenek karena ayahnya dan kini dia harus kehilangan ayahnya yang mati konyol karena ditolak cintanya," balas Adlin tersenyum sinis. "Harusnya kau malu, kau pria paling menjijikkan yang pernah aku kenal, membawa wanita masuk keruanganmu, bermain denganmu dan kau bahkan tidak mengerti perasaan wanita itu ketika kau campakkan, harusnya kau bersyukur hanya aku yang hamil, karena aku bukan orang jahat yang akan menyimpan dendam,"

Pipi Gibran memerah menahan malu sedangkan posisinya kini diperhatikan karyawan lain.

"Kau membuatku malu dan aku membalasnya, cukup adil bukan?" Adlin tersenyum memperbaiki dasi Gibran dan berjalan keluar untuk mengejar Diah.

Gibran terdiam malu dan menatap tajam semua karyawannya. "Apa yang kalian lihat? Sana kerja!"

- TBC

Btw kalian suka Gibran manis dan menyenangkan atau Gibran arogan dan tempramental?

Jawab dikomen yah!

1
Annie Soe..
Bab 1 kagi di revisi,
bab 2 ? huuu langsung kejaammm...
Lanjuuttt...
Ibuk Kumaiyah
Luar biasa
Dyah Oktina
kasihan thor... suami masih boleh nengokin debay d dalam perut selama tdk ada masalh dgn kandungan istrinya... malah semakin tua umur kandungan bagus unk membuka jalan lahir..asal d lakukan perlahan2.... begitu 👍🏻
Dyah Oktina
eh..... belum jd suami istri... kan baru besok mau nikahnya... lupa ya thor... terlalu banyak judul yg d tulis nih kayaknya.. 🤭
Ridz 🔹: duh ibu ini novel lama blum revisi wkwk
total 1 replies
Meyke Joyce Rantung
Koq Sasa ....
Meyke Joyce Rantung
Aulia sudah 10 tahun, tapi...masih kecil ya😅
Meyke Joyce Rantung
Bukannya Alea itu kembaranx Gibran...Koq jadi adik tiri
Ridz 🔹: ini karya lama banyak cacat logikanya kak, aku ga saranin buat dibaca hehe
total 1 replies
Sri Rahayu
maaf thor d kepalaku lanksunk ada fikiran anak q adalah anak n cucu mama tiri q...y salaammm 🤦‍♀️maaf y thor😁😁😁🙏
Sri Rahayu
sadis man......
umi b4well (hiatus)
ini othor satu satunya yg bikin saya ngakak ngikngik setiap naca novelnya
umi b4well (hiatus)
oke deh.lagian udah trauma saya..
umi b4well (hiatus)
waduh....panjang bangat sedang direvisi
umi b4well (hiatus)
hahaha😂😂😂😂
Eli Masmuda
baru mulai baca thor
Dengpa 78
sadis juga ini othornya 😂😂
Made Elviani
benih" cinta .......iya kyaknya walo Gibran perlu perjuangan
Made Elviani
harusnya kalo punya masalah kan lbh baik d bicarakan dgn suami loh sbg pasangan suami istri .......lah ini kok Zuhra malah curhat n minta tolong ya sm Rizwan ..,....n memilih cerai dr Gibran .......gimana gitu ya pemikiran Zuhra ......pusing sendiri akunya
Made Elviani
suka n Jonny banget dih main ancam" mulu
Made Elviani
gak asyik gak bisa baca part 1nya Ridz
Ndhe Nii
ini sih sama dg perkosaan...bisa d laporkan dan dalam keadaan sadar serta masih menyakiti....😀...tp berhubungan ini sebuah novel...okelahh... gimana othorr mengemasnya hingga mudahan jd bacaan yang okeee... lain dr yg lain..🙏😀😀🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!