Demi melunasi hutang orang tuanya, Venzara harus menerima pernikahan paksa dengan anak majikan bibinya. Mau tidak mau, Venza akhirnya menerimanya dan siap menerima syarat yang ditentukan.
Tidak hanya terikat dalam pernikahan paksa, Venza juga harus menerima perlakuan buruk dari suaminya. Namun, sosok Venza bukanlah perempuan yang lemah, bahkan dia juga perempuan yang berprestasi. Sayangnya, perekonomian keluarganya tengah diambang kehancuran.
Jalan satu-satunya hanya bisa menikahkan Venza dengan lelaki kaya dengan kondisinya yang lumpuh.
Akankah Venza mampu bertahan dengan pernikahannya? yuk simak kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungguh malu
Saat berada dalam kamar mandi, Venza sedikit gugup untuk membantu suaminya berdiri.
"Kamu gak perlu takut, pegangin aja pundak aku. Tenang aja, gak akan jatuh." Ucap Venza saat hendak membantu suaminya berdiri.
"Enggak gak gak, mendingan kamu panggil saja pak Erik. Bisa bisa aku jatuh karena mu, dan aku tidak mau mati sia-sia. Sudah sana cepetan panggil pak Erik sekarang juga." Tolak Razen sambil menepis tangan milik istrinya.
"Kalau aku panggil pak Erik, apa gunanya aku menjadi istrimu. Sudahlah, lebih baik kamu nurut saja denganku. Kalau sampai kamu jatuh dan sakitmu lebih parah, maka aku siap untuk dipenjarakan." Jawab Venza yang tidak mau dianggap sepele orang lain, meski ia sadar dengan status sosialnya.
"Kamu itu ya, benar-benar perempuan kerasa kepala."
"Aku tidak peduli dengan omongan kamu, tugasku hanya merawat kamu, tidak lebih. Sekarang ayo berpegang pundak ku, dan kamu bisa menekannya sekuat tenaga kamu." Ucap Venza dengan posisinya yang siap untuk menjadi alat bantu suaminya berdiri, lantaran tidak ada alat penyangga apapun di dalam kamar.
Razen yang masih sedikit kesal dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah menjadi galak, terpaksa nurut meski sangatlah kesal.
Dengan penuh hati-hati, Venza sedikit demi sedikit menyerong agar mudah memutarbalikkan badannya. Setelah itu meraih tangan suaminya dan diarahkan tepat pada tengkuk lehernya.
Dengan berat badan yang cukup lumayan beratnya, sebisa mungkin si Venza berusaha untuk kuat.
"Kata ibu kamu yang sakit bagian kaki yang kanan, benarkah? kalau iya, jangan sekali-kali dipaksa untuk ikutan mengimbangi kaki kiri, akibatnya bisa gatal dan sakitnya menjadi luar biasa."
"Sok tahu kamu. Sudahlah gak usah menjelaskannya padaku, dokter saja menyerah." Jawab Razen dengan ketus.
"Karena kamu terlalu dimanjakan oleh kursi roda, dan kamu malas untuk melakukan terapi." Jawab Venza dengan tegas.
"Kamu itu cerewet banget sih, tinggal kerjain apa yang harus kamu kerjain sesuai perintahku susah amat." Ucap Razen masih dengan kekesalannya.
"Kalau aku gak cerewet, mana mau kamu menuruti ku. Mulai sekarang jadwal kamu menggunakan kursi roda ada waktunya tersendiri, dan nanti akan aku pesankan alat bantu untukmu berjalan. Bila perlu kursi roda ini tidak perlu kamu gunakan, ini hanya akan membuatmu malas untuk terapi." Kata Venza sambil memapah suaminya berpindah ke tempat untuk membuang air kecil.
"Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku bisa buang air kecil?"
Seketika, Venza dibuatnya melongo dan bengong, lantaran apa yang sudah ia lakukan benar-benar sangat menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan, dirinya harus membantu suaminya berada dalam kamar mandi, sedangkan pernikahan keduanya hanya sebatas merawat.
"Kenapa kamu diam? bukankah sudah aku bilang sama kamu untuk panggilkan Pak Erik, ini nih jadinya." Ucap Razen dan membuat Venza sangatlah malu.
"Tenang aja, aku gak akan melihat. Aku akan memejamkan kedua mataku. Percaya denganku, karena aku tidak tertarik dengan kepunyaan mu."
"Aku pegang omongan kamu, awas saja kalau kamu diam-diam penasaran."
"Dih! kepedean."
Razen hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis mendengar jawaban dari istrinya.
"Tutup kedua matamu, pastikan tertutup dengan benar. Aku berhitung, Satu, dua, tiga, tutup kedua matamu." Ucap Razen dan dengan terpaksa harus buang air kecil ditemani istrinya.
Sedangkan Venza sendiri berusaha untuk tidak ceroboh, pastinya akan sangat memalukan jika dirinya melakukan kecerobohan.