Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan satu malam
Arini dan Fadel saling diam saat mereka di dalam mobil. Rasa canggung itu begitu kentara antara mereka berdua. Bahkan sampai mereka tiba di hotel pun, Arini dan Fadel masih saling diam. Berjalan bersama tapi seolah tidak saling mengenal satu sama lain.
Sesekali Arini melirik pantulan Fadel di pintu lift. Namun, Arini segera melihat ke arah lain saat Fadel memergokinya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Arini mengangkat kakinya untuk melangkah. Siapa yang ada di dalam lift itu membuat Arini kembali mundur jauh satu langkah pijakan awal.
"Arini?" tanyanya.
"Wah, sudah mulai berani check in, nih?" tanyanya dengan nada meledek sambil melirik Fadel.
Arini tidak menggubris.
"Di kamar berapa? Hahaha. Fadel, tolong pesan kamar yang mahal di hotel ini. Sayang sekali jika permainan kalian dilakukan di kamar biasa. Hot nya Arini akan sia-sia."
Bugh!
"Jaga mulut Lo!" Fadel berteriak sambil menarik kerah baju Farhan yang terjatuh akibat pukulan Fadel.
"Fadel, udah." Arini mencoba menarik tangan Fadel. Sementara wanita yang bersama Farhan menarik tubuh Farhan agar menjauh dari cengkeraman Fadel.
Keributan tidak bisa dihindarkan, menarik perhatian pengunjung lain dan petugas hotel di sana.
Beberapa security pun berlari untuk melerai pertikaian Fadel dan Farhan.
"Pukul terus ... ayo pukul! Dasar pecundang! Musuh dalam selimut! Berlagak teman tapi diam-diam Lo ngambil Arini dari gue! Bangs*t!"
"Gue habisin Lo pengecut! Gue robek mulut busuk Lo!"
Farhan dan Fadel saling berteriak satu sama lain. Mereka berontak dari cengkeraman pihak keamanan hotel dan membawa mereka ke tempat yang berbeda.
Setelah diobati karena beberapa luka memar di wajah Fadel, mereka menghadap pemilik hotel untuk meminta maaf atas kejadian tadi.
"Untung kamu anak kenalan saya, jadi saya maafkan tanpa meminta ganti rugi."
"Kalau saya harus membayar ganti rugi, izinkan saya menghabisi orang itu dulu, Pak."
"Fadel ...." Arini memegang lengan Fadel.
"Sekali lagi saya minta maaf atas keributan ini, Pak. Kami benar-benar minta maaf." Arini menundukkan badan beberapa kali sebagai tanda penyesalannya.
"Gak usah gitu juga, ah!" Fadel menarik Arini keluar dari kantor pemilik hotel.
"Apa, sih. Lepasin. Kita harus minta maaf, Fad. Kita bikin gaduh di hotel orang."
"Arini!" Fadel melepaskan genggaman tangannya dari bahu Arini sambil berteriak.
Arini yang baru kali ini mendengar teriakkan Fadel pun dibuat mematung karena terkejut.
"Bukan kita, tapi dia yang mulai. Dia yang membuat keributan di sini. Bukan kita."
"Fadel, kamu mukul Farhan. Itu salah."
"Karena aku gak tahan dia merendahkan kamu. Ngerti gak, sih?"
Fadel mengusap kepalanya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Arini yang masih mematung.
Sesampainya di kamar hotel, Arini tidak mendapatkan Lean di sana. Lalu dia segera menelepon Cindy.
"Lean ada sama aku. Dia sudah tidur pulas dengan Alex. Kamu santai-santai aja sama Pak Fadel, Rin."
"Gimana aku bisa santai, wong dia habis bikin ribut di bawah."
"Ribut?"
"Emm, tadi kami bertemu Farhan. Cowok brengsek itu menghina aku, terus dihajar sama Fadel. Yaaa begitu lah."
Cindy tersenyum.
"Rin, Lean dan Pak Fadel saling sayang. Kenapa kamunya menutup diri? Mau nyari laki-laki seperti apa lagi? Pak Fadel udah lebih dari segalanya."
"Cindy, kamu harus sadar. Aku ini statusnya masih istri Farhan. Perceraian kami belum sah. Dia belum talak aku, sidang aja belum. Aku ini masih calon janda."
"Eh, iya. Aku lupa."
"Dasar kamu, ya!"
"Oh, itu toh alasan kamu mencoba menutup diri dari Pak Fadel?"
"Dia juga udah punya tunangan, Cindy. Tidak ada harapan lagi bukan?"
"Selama belum ada janur kuning melengkung, Pepet terus. Kalaupun udah ada, 'kan bisa diluruskan, Rin."
Arini dan Cindy pun tertawa.
Pembicaraan pun terputus. Arini mencuci wajah, lalu berganti pakaian dengan piyama.
Tidak adanya Lean di kamar membuat Arini merasa sangat kesepian. Dia gelelengan di atas tempat tidur. Menonton televisi pun sudah tidak ada siaran yang menarik. Bermain ponsel pun membuat dia merasa pusing.
Arini tidak sengaja meniduri ponsel anaknya. Takut ponselnya rusak, Arini mengambil ponsel itu dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Namun, sesuatu menarik perhatian Arini yang membuat dia kembali mengambil ponsel anaknya.
Benar saja. Layar ponsel Lean memakai fotonya bersama Fadel sebagai wallpaper depan.
Arini tersenyum sambil menatap Lean yang terlihat bahagia bersama Fadel.
"Kapan mereka mengambil foto ini? Kenapa aku tidak diajak juga?"
Arini mengusap-usap wajah Lean dan Fadel.
Wanita itu dibuat kaget saat ponsel Lean berbunyi. Sebuah chat masuk. Dari Fadel.
"Halo jagoan. Sudah bobo kah?"
Arini ingin membalas tapi dia takut ketahuan oleh Fadel jika itu adalah dirinya.
"Besok mau ke mana? Haruskah kita pergi berdua? Atau ajak Mama sekalian? Mau gak ya Mama pergi bareng kita?"
Lagi-lagi Arini dibuat bingung. Dibaca tapi tidak dibalas, apa itu tidak akan membuat dia bertanya-tanya.
"Lean tidur di kamar Cindy. Ini aku, Arini."
"Oh, pantas saja chat dariku tidak dibalas Lean. Biasanya dia gercep banget."
"Masa?"
"Coba aja liat time chat kami."
Arini pun scroll chat Lean dan Fadel ke atas. Benar saja, waktu chat itu masuk dan waktu Lean membalas chat dari Fadel sangat lah cepat.
"Lagi apa?" tanya Fadel.
"Pertanyaannya berasa kayak ABG lagi pacaran. Gak sekalian tanya udah makan apa belum? Atau bilang selama malam, mimpi indah, ya. Hahaha."
Chat dari Arini lama tidak dibalas oleh Fadel. Arini kembali menatap ponsel Lean. Fadel tidak juga membalas. Arini terus saja menatap ponsel itu tapi tidak ada tanda-tanda chat nya akan dibalas.
Ting tong!
Dida dikejutkan oleh suara bel kamar yang berbunyi. Arini turun dari tempat tidur menuju pintu depan. Dia berpikir itu Cindy yang mengantar Lean.
"Ya, Cindy. Seben ... tar." Suara Arin tiba-tiba melemah saat yang di depan pintu bukanlah Cindy ataupun Lean. Melainkan Fadel.
"Fad?"
"Good night," bisiknya di telinga Arini. Ibu anak satu itu membeku mendapatkan perlakuan seperti itu dari Fadel. Tanpa merasa bersalah karena membuat jantung Arini hampir copot, Fadel berlalu begitu saja. Dia kembali ke kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Arini yang masih terdiam di depan pintu.
"Kenapa diam? Kenapa wajah kamu memerah? Apa kamu tersipu olehnya?"
Suara itu mengejutkan Arini. Suara Farhan yang entah sejak kapan dia ada di sana.
"Mau apa kamu, Mas? Apa belum cukup Fadel menghajar kamu sampai babak belur untuk yang kedua kalinya? Penasaran sama yang ketiga?"
"Yang ketiga?" tanya Farhan kesal. Lalu dia menyeringai iblis.
"Coba saja kalau bisa," ucapnya sambil mendorong Arini masuk ke dalam kamar.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....