Astri Wijaya mengenal Pasquela Sioulus sebagai pria yang tampan dan disukai banyak wanita.
Dia tidak berharap lebih untuk dicintai dan dimiliki oleh Pasquela, karena ia tahu apa yang harus diterimanya saat ia menerima seorang Pasquela Sioulus.
Perjalanan cinta mereka seperti menyusuri jalan sunyi hanya berdua tanpa mengetahui apakah ada rintangan didepannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18.
Pasquela masih merasa kesal karena telepon nya tidak dijawab oleh Astri sehingga dirinya menghubungi temannya.
" Halo tampan ?, sedang berada dimana ?," terdengar suara wanita yang sangat merdu membuat Pasquela tertawa.
" Aku sedang di Singapura dan aku merasa sangat kesepian," jawab Pasquela langsung.
" Benarkah ?, aku tidak percaya seorang pria sepertimu bisa merasakan kesepian."
" Oh ayolah Azilia, apakah kamu tidak mau menolongku?, temani aku berbicara sebentar!," pinta Pasquela membuat wanita yang dipanggil Azilia tertawa.
" Baiklah..., aku akan menemani mu berbicara. Apa yang ingin kamu bicarakan tampan ?," tanyanya merayu.
" Apa yang kau lakukan ketika pertama kali kamu menyukai ku ?," tanya Pasquela membuat Azilia tertawa keras.
" Hey, apakah kamu sedang jatuh cinta sementara dia tidak peduli padamu ?," tanya Azilia disela-sela tawanya.
" Aku tidak tahu. Aku hanya merasa penasaran karena ia sama sekali seperti tidak membalas perhatian ku," jawab Pasquela jengkel.
" Kamu masih tahap penasaran karena dia tidak membalas perhatianmu. Memangnya siapa dirimu baginya hingga ia harus membalas perhatianmu ?," tanya Azilia kalem.
" Kau benar, aku bukan siapa-siapa baginya," jawab Pasquela pelan hingga Azilia menegurnya.
" Apakah kamu ingin dianggap sebagai pria yang pantas menerima perhatiannya ?, kalau ya, kejar terus sama seperti aku mengejar dirimu dulu sebelum akhirnya aku sadar bahwa kamu Pasquela adalah lelaki tampan yang tidak bisa menjadi milikku," jawab Azilia tertawa.
" Apakah itu artinya aku akan seperti dirimu ?,"
" Well, anggap saja kamu sudah berusaha. Mengenai hasilnya tergantung seberapa berharga dirimu untuknya." jawab Azilia lagi.
" Baiklah. Terima kasih sudah mengganggu waktu mu."
" Apakah kamu tidak ingin ditemani seseorang?, aku punya teman yang saat ini berada di Singapura. Dan aku yakin kamu mengenalnya."
" Siapa ?,"
" Abyana ."
" Tidak. Terima kasih. Aku tidak mau berhubungan dengan temanmu itu. Wanita yang sangat menuntut dalam segala hal," jawab Pasquela cepat.
" Oke, kalau begitu aku tunggu kabar terbaiknya." ucap Azilia sebelum menutup telepon nya.
Malam ini Pasquela dan Astri sama-sama berada sendiri tanpa teman yang menemani.
" Sebaiknya aku segera tidur supaya aku fokus ketika melakukan presentasi besok," kata Astri setelah selesai membaca email yang baru dikirim oleh keluarganya di Singkawang sebagai tambahan informasi.
Sinar matahari menyentuh wajah Astri membuatnya terbangun karena merasa silau.
" Astaga, ternyata semalam aku lupa menutup gorden jendela," katanya pelan ketika melihat darimana cahaya matahari masuk hingga menyilaukan mata.
Setelah melihat jam, Astri dengan cepat mandi karena ia tidak ingin terlambat untuk bertemu dengan perwakilan Presdir dari National Bank.
Dengan berpakaian rapi dan rambut ikalnya yang digelung di atas tengkuknya membuat Astri terlihat dewasa dibanding dengan usianya yang baru 18 tahun.
Dengan penuh rasa percaya diri dan keyakinan yang tinggi ia menuju National Bank dengan menggunakan taxi yang berada didepan hotel tempatnya menginap.
Astri sudah berada di lobby dan ia menuju meja resepsionis untuk menanyakan tempat dimana ia bisa menemui Perwakilan dari Presdir.
" Selamat pagi. Saya dari keluarga Wijaya dan sudah membuat janji dengan perwakilan Presdir melalui Nona Liana." kata Astri pada wanita yang bertugas di balik meja resepsionis.
" Baik Nona, silahkan tunggu sebentar, saya akan menghubungi Nona Liana lebih dulu." ucapnya.
Astri memperhatikan lobby dimana Bank National berada dan ia merasa sedikit gentar membayangkan bagaimana wajah orang yang akan ditemuinya nanti.
" Nona Wijaya silakan Anda kelantai 10 ruang 6. Nona Liana sudah menunggu Anda." kata resepsionis tersebut dengan ramah.
" Terima kasih."
Astri segera menuju lift dan perhatian tidak teralihkan ketika ia mendengar sapaan penuh hormat dan juga rasa kagum dari orang-orang yang berada di lobby pada seorang lelaki yang berjalan dengan langkahnya yang lebar menuju lift yang berada di bagian lobby sebelah kanan.
" Apakah dia orang yang akan aku temui ?, apakah orang itu masih muda ?, bukan lelaki setengah baya dengan tubuh yang gempal ," kata Astri tersenyum dengan pikirannya sendiri mengenai orang yang akan ditemuinya.
emang hrs ketemu sm astrid