happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon سسكي, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan teman
Ustaz Hafid menghentikan langkahnya, ia memandang ke arah gerbang. Melihat gadis yang sedang berusaha membujuk satpam.
"Pak Dandang, buka dong pintunya."
Sudah kesekian kalinya kalimat permohonan keluar dari bibir Cika kepada Pak Dandang agar ia diizinkan untuk keluar.
"Tunjukkan kartu izin dulu, Neng. Baru bapak akan buka pintunya," sahut Pak Dandang.
Sudah menjadi peraturan di pesantren itu, tanpa ada kartu izin yang diberikan oleh ustaz atau ustazah para santri tidak diperbolehkan untuk keluar. Penjagaan memang sangat ketat di pesantren milik Kyai Abdullah.
"Aku sudah minta izin kok, ke Ustaz Hafid tadi, Pak," tutur Cika berbohong.
Sudut bibir Ustaz Hafid tertarik mendengar ucapan itu. Isteri kecilnya itu menjual namanya.
Itulah kenapa alasan utama Ustaz Hafid tidak ingin menyusul Cika, karena tidak akan mudah bagi isterinya itu keluar dengan begitu saja.
Ia memberikan isyarat kepada Pak Dandang melalui kedipan matanya. Pak Dandang yang juga kebetulan melihat kehadiran Ustaz Hafid menganguk paham.
"Woy Pak! Main kedipan sama siapa, sih?" Cika bertanya sengit.
Kesedihannya hilang begitu saja. Sekarang ia kesal dengan pak satpam itu.
Cika mengikuti arah pandang Pak Dandang, terlihat Ustaz Hafid di sana. Ustaz Hafid yang kedapatan buru-buru melanjutkan langkahnya lagi menuju masjid dengan santai. Berpura-pura tidak terlibat.
Bukan Cika namanya, kalau tidak geram dengan sikap Ustaz Hafid. Ia segera berlari kecil ke arah suaminya itu.
"Dasar Ustaz jahat! Nggak peka!"
Cika berdiri tepat di depan Ustaz Hafid. Ia merentangkan kedua tangannya, tidak memberikan jalan bagi pria itu.
"Mau kabur silakan, tapi sepertinya tidak bisa ...."
Ustaz Hafid tertawa mengejek di akhir kalimatnya, membuat Cika benar-benar kesal.
"Nanti aku panjat temboklah," jawab Cika ketus.
Ia mencubit pinggang Ustaz Hafid dengan keras, meluapkan kekesalannya.
"Ustaz sudah wudhu Cika, jadi batal wudhunya."
Ustadz Hafid mengeluh, mengusap pinggangnya yang teramat sakit.
"Aku nggak peduli."
Cika mengambil sajadah di tangan Ustaz Hafid, tidak hanya sajadah ia menarik peci hitam yang dipakai oleh Ustaz Hafid.
"Astagfirullah, Cika. Sini sajadah sama pecinya," pinta Ustaz Hafid.
Cika tersenyum miring, menyembunyikan kedua benda itu di belakang punggungnya.
"Apa, mau marah?" sungut Cika.
"Enggak. Jangan salahkan ustaz bila, ustaz memelukmu di sini."
Ustaz Hafid mengunci pergerakan Cika, ingin mengambil peci dan sajadahnya.
"Jangan peluk-peluk!" teriak Cika keras, yang berhasil mengundang perhatian beberapa santri putri yang sedang berjalan juga menuju masjid.
"Sini sajadah dan peci ustaz dulu." Ustaz Hafid tidak mau kalah.
"Nggak akan!"
Cika tetap mempertahankan kedua benda tersebut, meskipun Ustaz Hafid ingin merebut dengan paksa.
"Jangan nakal."
"Biarin." Kedua benda itu hampir terlepas dari tangan Cika. Namun, dengan gerak cepat ia langsung menggigit lengan Ustaz Hafid.
"Aww." Ustadz Hafid merintih kesaktian, ia melepaskan pelukannya.
Cika berlari secepat kilat setelah memberikan satu gigitan tersebut, senyum kemenangan terbit di bibirnya.
"Itu bukan seberapa, Ustaz. Jangan pernah main-main dengan aku," teriak Cika dari kejauhan. Mengangkat jari jempolnya ke atas lalu diarahkan ke bawah. "Huh ... cemen!"
Cika meninggalkan Ustaz Hafid, ia tetap membawa peci dan sajadah milik suaminya itu.
Baru satu langkah, ia masuk ke dalam asrama putri. Teman-temannya sudah memeluk tubuhnya dengan erat.
"Maafkan kami, Cika."
"Kami sudah memfitnah kamu."
"Kami benar-benar menyesal."
Ucapan permintaan maaf terus terlontar dari teman-temannya. Mereka tidak segan-segan menangis di pelukan Cika. Sungguh mereka sangat menyesal.
Cika terharu, gadis ini ikut meneteskan air matanya. "Aku sudah maafin kalian kok," ucapnya dengan seulas senyum tipis.
Mereka semakin mempererat pelukannya.
"Sudah ah, sesi menangisnya." Cika melepaskan pelukannya.
"Maaf Cika, kami cuman takut kamu masih marah," sahut salah satu dari mereka.
"Nggak kok, santai saja kalau sama aku," jawab Cika.
"Iya sudah kami ke masjid duluan. Kamu cepatan yah."
"Iya, aku sebentar lagi nyusul kok."
Para santri putri lainnya segera pergi. Tinggal Novi dan Dinda yang ada dalam asrama.
"Cika ...," Suara Novi dan Dinda terdengar sendu. Mereka berdua benar-benar merasa sangat bersalah karena tidak mempercayai Cika.
Cika tidak menghiraukan panggilan itu, ia berjalan ke lemarinya lalu mengambil mukenah. Peci dan sajadah milik Ustaz Hafid ia simpan di dalam lemari itu.
"Maafin kami." Novi dan Dinda berjalan mengekor di belakang Cika.
"Nggak."
"Lah, kok gitu sih Cika? Yang lainnya kamu maafin, kami kok nggak?" tanya Novi.
"Kalau sama kalian berdua aku masih kecewa," sahut Cika tanpa menoleh.
Novi dan Dinda menarik lengan Cika, kedua sahabatnya itu merengek minta maaf.
"Cika, aku sebenarnya percaya sama kamu, tapi Novi aja yang menjadi setan, dia menggodaku untuk menuduhmu juga. Jadi, aku ikut-ikutan saja," jelas Dinda mencoba meyakinkan.
"Mana ada, jangan nyebar fitnah kamu, Din," bantah Novi tidak terima.
"Benar kok. Kamu saja yang percaya sama sih Kak Ayuni yang nyinyir itu, Vi. Aku 'kan kalem."
"Huh dasar, main salahin orang. Aku mana tahu." Novi mencebik kesal.
Cika memandang malas, kupingnya terasa panas mendengar perdebatan yang terjadi antara kedua sahabatnya itu. "Berisik!"
"Cika sudah dong marah-marahnya. Suer, kami benar-benar menyesal." Novi berdiri di depan Cika. Melipatkan kedua tangannya di depan dada. "Please ... maafin kami," ucapnya memohon.
"Iya betul kata Novi, maafin kami Cika. Allah saja maha pemaaf kepada umatnya. Masa kamu nggak." Dinda terus membujuk.
Cika mengembuskan napas panjang. "Iya, iya aku maafin kok. Eits ... ada syaratnya tentu."
"Apa syaratnya?" Novi dan Dinda bertanya tidak semangat. Sahabatnya itu selalu saja ada maunya.
"Kerjain tugas aku. Bagaimana Din, Vi?"
"Tugas apa?" tanya mereka bersamaan.
"Suruh mencatat terus tugas matematika," sahut Cika antusias. "Novi kamu kerjain tugas matematika aku, kalau Dinda mencacat saja karena tulisan bagus," sambungnya lagi.
Dengan seenak jidatnya ia menyuruh kedua sahabatnya itu.
Novi dan Dinda diam sejenak, menimang-nimang keputusannya.
"Huft baiklah, kali ini aja," tutur Novi pasrah.
Cika ber 'iyes' kegembiraan dalam hatinya.
"Oke, terima kasih. Makin sayang sama kalian berdua." Cika melangkah kakinya kembali menuju masjid.
Dinda dan Novi saling beradu pandang setelah itu