Kelanjutan cerita dari "The Promise"
Setelah tubuh Bianca kembali ternyata membawa dampak buruk bagi Arsenio.
Arse menderita Thantophobia yaitu ketakutan akan kehilangan seseorang. Yang mana membuat dirinya begitu posesif terhadap Bee, dia melakukan segala sesuatu secara berlebihan.
Bagaimana cara Arse untuk kembali sembuh?
Kembali hadirnya Lyra dan Bellena menambah kemelut hubungan mereka.
Mereka dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit.
Apakah hubungan mereka bisa bertahan?
Simak kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk
🐝🐝🐝
Mall Taman Anggrek menjadi tujuan Bianca mengajak pacarnya yang tidak tahu apa itu kencan. Dia ingin mengajak Arse nonton film sekaligus makan siang bersama. Senyum terus mengembang di wajah cantiknya, dari dulu dia ingin melakukan hal ini bersama pacarnya kelak.
"Bee, kita pindah tempat yuk!" Arse merasa risih dengan tatapan lapar wanita disebelahnya.
"Filmnya kan baru mulai!"
"Kita pesan tiket lagi, aku akan booking seluruh tempatnya."
"Jadi tidak seru dong, dari dulu aku menginginkan hal seperti ini jadi nikmati saja."
Arse hanya bisa pasrah menuruti kemauan Bianca sedangkan wanita disebelahnya semakin menjadi tangannya mulai merayap menyentuh paha Arse yang mana hal itu membuat Arse tampak bergidik ngeri apalagi usianya sudah sekitar empat puluh tahunan.
"Singkirkan tangan kotormu itu wanita mesum! Tubuhku ini hanya milik Bee ku seorang jangan sembarangan menjamahnya!" teriak Arse.
Sontak seluruh mata yang ada disitu mengarah ke arah Arse saat ini. Bianca yang merasa malu akhirnya menarik tangan Arse untuk keluar.
"Kau selalu merusak suasana! bisa tidak kita berkencan dengan normal!" gerutu Bianca.
"Dia duluan Bee, memang aku ini pria apa seenaknya menjamah tubuhku yang berharga ini."
"Itu karena kau kelihatan cabul makanya kurangi otak mesummu itu agar mereka tidak lapar saat melihatmu!"
Bianca melenggang menuju food court yang ada di mall itu.
"Bee, kenapa makan disini? Aku tidak terbiasa makan di tempat seperti ini. Ayo kita makan di restaurant langgananku saja."
"Dilarang protes!"
Arse pun mengalah, beberapa menit menunggu makanan pun datang. Bianca begitu senang melihat nasi kulit kesukaannya. Tapi lain dengan Arse yang bingung melihat makanan apa itu.
"Bee, ini apa?"
"Kulit ayam crispy, cobalah!"
"Kulit ayam?"
Seketika mata Arse membulat, bagaimana bisa manusia memakan kulit ayam pikirnya. Arse langsung melemparkan makanannya dan Bianca di lantai.
"Arse, kau ini apa-apaan!"
"Kau mau membunuh kekasih tampanmu ini ya."
Bianca hanya mendesah pelan, padahal dia ingin berkencan biasa seperti orang lainnya tapi kenapa begitu susah.
"Pilihlah sesuka hatimu Bee ku sayang."
Saat ini mereka berada di sebuah toko berlian. Arse yang tidak tahan dengan gaya kencan ala Bianca ingin menunjukkan bahwa dirinya itu kaya jadi tidak perlu membawanya pergi nonton atau makan sesuatu yang aneh pikirnya.
"Tidak ada yang ku suka!"
"Kau yakin? jangan malu Bee, uangku tidak akan habis."
Bianca yang mulai jengah akhirnya meninggalkan Arse begitu saja.
"Bee, tunggu! kenapa meninggalkanku?"
"Aku mau pulang!"
"Kenapa? Acara kencannya sudah selesai?"
"Kau selalu menggagalkannya!" kesal Bianca.
Kini Bianca menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mulai menangis karena dari tadi Arse benar-benar membuat mood nya hancur.
"Hei, kenapa menangis?" Arse kini mulai bersalah. Tapi, dia benar-benar tidak paham gaya berkencan yang diinginkan Bianca itu seperti apa.
"Baiklah, aku akan menurut kali ini," ucap Arse sambil mengelus kepala Bianca yang masih menangis karena kesal padanya.
"Benarkah?" Bianca langsung berbinar.
Arse mengangguk mengiyakan. Dia akan berusaha tidak menolak keinginan Bianca lagi. Wanitanya begitu unik pikirnya dia membawa ke toko berlian tapi dia tidak mau tapi justru senang dengan hal-hal kecil begini. "Aku tidak akan pernah melepasmu, Bee." gumamnya dalam hati.
🐝🐝🐝
"Bee, ini apa?"
Karena di mall tadi kencannya gagal, Bianca berpikir akan membawa Arse ke tempat wisata saja. Kali ini tidak boleh gagal pikir Bianca.
"Ini namanya cilok."
"Ci.. Ci.. apa?"
"Cilok, kang bule," ucap penjual cilok itu.
Mereka berhenti di penjual cilok karena Bianca menginginkannya, Arse yang baru pertama kali melihat makanan itu tentu saja bingung bukan main. Bentuknya seperti bakso tapi beda yang ini kenapa di goreng pikirnya.
"Cobalah," tawar Bianca.
Arse menggeleng menolak tapi melihat kekasihnya mulai kesal lagi akhirnya dia membuka mulutnya.
Awalnya dia ragu-ragu menguyah setelah itu matanya membulat rasanya begitu luar biasa.
Bahkan sekarang Arse membeli semua cilok itu.
"Dua puluh delapan tahun yang sia-sia," gumamnya.
"Apa yang sia-sia?" tanya Bianca.
"Sia-sia karena baru merasakan makanan aneh ini."
Bianca terkekeh sepertinya dia harus menanyakan kehidupan Arse seperti apa, kenapa hal seperti ini saja tidak tahu.
Kini mereka berdua duduk di atas pondok yang terletak di atas pohon pinus, sebelumnya Arse menolak karena Bianca memaksa akhirnya dia mau juga, pemandangan dari atas begitu menakjubkan. Dia segera merangkul kekasihnya dalam dekapannya. Sungguh ini hal baru bagi seorang Arse.
"Daddy mu orang Indonesia bukan? kenapa tidak tahu bahasa daerah sini?"
"Kau lupa ya sayangku, Mom ku orang Jerman. Sebelum Dad dan Mom ku mendirikan perusahaan di Indonesia kami semua tinggal di Jerman. Tapi setelah itu aku pindah ke Amerika dari sekolah menengah hingga kuliah."
"Sepuluh tahun lalu? bagaimana bisa ada di danau itu?"
"Ah itu, aku baru saja tamat sekolah dan akan masuk kuliah. Aku menerima tantangan Sam dan Chris."
"Apa setelah itu tidak pernah mencariku lagi? Aku menunggumu selama sepuluh tahun."
"Ck! aku beberapa kali kesitu saat berkunjung ke Indonesia."
"Benarkah?"
"Hm, kau waktu itu gadis kecil yang menggemaskan."
"Kau juga waktu itu seperti titisan Acaprio."
"I Love you, My Bee."
"I Love you too, My Arse."
Mereka berdua menikmati kebersamaan mereka saat ini hingga akhirnya Bianca teringat sesuatu.
"Ah, aku lupa memberitahumu, kau pasti akan senang mendengarnya."
"Apa itu?"
"Papaku sudah merestui kita, dan mengundangmu nanti malam ke rumah."
"What?"
Arse langsung berdiri dari tempatnya karena terkejut, hal inilah yang diinginkan selama ini restu dari papa mertua.
"Kenapa baru bilang sekarang?" teriaknya.
Arse langsung meraih ponselnya dan menghubungi James.
"James, cepat booking salon untukku aku ingin melakukan perawatan."
"I-ya Bos."
Tut!
"Arse, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Bianca heran.
"Tentu saja melakukan perawatan, aku ingin kelihatan sempurna di depan papa mertua. Dan Bee maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku akan menyuruh Mark menyusulmu kesini. Aku ingin melakukan beberapa persiapan untuk nanti malam," terangnya.
"Ngh, Arse ini hanya makan malam biasa saja loh, tidak perlu heboh seperti itu."
"Biasa apanya Bee, aku ingin menjadi menantu idaman."
Arse segera berlalu meninggalkan Bianca yang masih mematung karena bingung.
"Kok aku punya firasat buruk ya," gumamnya.
🐝🐝🐝
****Bonus**** visual
Arsenio Putra Atmadja/Arse
Bianca Mahendra/Bee
arse buang ke laut
aku senang arse nelangsa slma 7 mlm
keren banget kak..
marvelous.. marvelous.. marvelous..
kisah ini sungguh luar biasa..
walopun tetap didominasi dg kesomplakan Arse, tapi alur ceritanya sungguh mengharu biru bikin termehek-mehek.. 🥺🥺😭😭
tapi akhirnya tetap happy ending.. 🥰🥰🥰
g sabar baca sekuel lanjutannya..
sehat2 terus ya kak.
tetap semangat untuk berkarya.. 😘😍🥰🤩