Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS. Chapter 17(Dewi Purnama)
Deru suara mobil yang di kendarai Edo melesat meninggalkan perhelatan acara sakral yang di buat secepat kilat itu.
Jam sembilan lebih empat puluh lima menit, mereka sudah kembali dalam kendaraan masing-masing, di lanjutkan pulang kerumah Alyra, mereka akan memberikan kejutan acara ulang tahun untuk Suci, acara paling sederhana yang di adakan di rumah Lyra, riuh suasana gadis gadis terlihat riang, termasuk wanita yang sudah sah, menjadi berstatus menikah.
Mau tidak mau, Bayu kembali duduk berhadapan dengan sang mertua, Ayah bahagia melihat Bayu yang berbeda dari laki-laki yang pernah datang melamar putrinya. Tanpa menunggu dan mengulur waktu Pria tampan dengan alis tebal itu berani mengambil pernikahan dan janji suci di hadapan Rabb-nya.
Lyra kadang mencuri pandang pada pria pria yang duduk di depan.
Hingga ketiga adik adiknya saling tatap, mereka tersenyum bahagia, Mereka begitu banyak mengabadikan momen Lyra yang nampak berbeda malam ini.
Berkali-kali Lyra melirik pada interaksi hangat sang ayah menghadapi kedua pria yang di depannya. ucapan mereka kadang serius, tertawa, membuat Alyra dan ke empat gadis itu terharu.
Tanpa sadar mereka menangis, kejadian itu seolah-olah hadiah terindah untuk mereka, Bayu masuk pada perangkapnya sendiri, dia yang terbuai kehangatan yang selama ini dia rindukan.
Petuah sang ayah mertua, merosok masuk menyentuh relung hatinya.
kadang usapan dan tepukan lembut yang mendarat di pundaknya itu energi positif yang di paksa masuk dalam kalbunya.
Bayu menikmati kebersamaan itu, yang sudah hampir beberapa tahun ini tidak pernah dia rasakan.
Tangis ke empat gadis itu memang tangisan bahagia, hingga Murni pura-pura kedapur, mengambil kue yang di buatkan tadi siang. mereka membawanya kedepan teras rumah.
Lyra melambai pada pegawai Alfamidi yang hendak menutup tokonya, karena memang waktu hampir jam sepuluh lebih, dia tidak sadar baju pengantin yang belum boleh di buka oleh sang adik, justru mengundang penasaran
Bagi kedua mahluk lain yang melihat itu.
Kedua pegawai Alfamidi mematung melihat Alyra berubah, jadi ratu malam ini yang begitu cantik. Hingga suara merdu serak khas suara Murni terdengar, melantunkan lagu ulang tahun untuk sang adik.
Suci menangis dia tidak tahu ada kejutan lain yang mereka berikan untuknya, dari penampilan sang kakaknya Murni yang berubah, juga pernikahan yang terjadi, dan ini, setelah berapa dekade dia tidak pernah merayakan hari jadinya itu dengan keluarganya.
Tangisannya pecah tanpa di buat-buat. Bahagia terharu sedih luar biasa, sesenggukan saat suara serak indah sang kakak menyanyi untuknya, hingga di susul suara Bayu ayah dan kakak dan temannya Luna, juga kedua pegawai Alfamidi teman baik Alyra selama ini.
Mereka berdua bingung, ada apa dengan temannya, Alyra yang tiba-tiba memakai pakaian seperti itu. mereka terus mengamati dengan rasa penasarannya.
Hingga sesi berdo'a, dan membaca Al-fatihah yang di pimpin sang ayah do'a begitu khidmat, penuh air mata, hingga potong kue di lakukan, Suci bingung, potongan kue pertama itu untuk siapa, semua setara di hatinya.
Hingga dengan sengaja dia berjalan kepada yang lebih tua.
"Buka mulutnya Ayah"
Pinta Suci.
"Baiklah"
Suara Ayah terdengar pasrah, suapan pertama pada sang ayah, di lanjut sang kakak, Lyra, Murni dan Luna. dan tiba tiba sisa potongan kue itu. dia colek, dan mendarat di pipi Luna, Edo, Murni, Lyra, Bayu, teman Lyra dan yang terakhir pada sang ayah.
Mereka riuh saling balas penuh canda tawa, tidak termasuk dalam rencana Bayu itu semua mengalir sendiri, kebahagiaan itu di luar dugaan mereka.
Lyra maju memotong dua alas kue dan dia berbalik pada temannya.
"Ini untuk kalian."
Lyra menyodorkan kue itu dan bingkisan kecil khusus dari Alyra untuk mereka berdua, hingga Lyra di seret di cecar dengan macan pertanyaan.
"Menikah."
Mereka terkejut luar biasa. Hingga pelukan dari kedua temannya terjadi, mereka ikut bahagia dan mendo'akan kebaikan untuk Lyra.
mereka pamit pergi dengan perasaan sedih bahagia dan tidak percaya.
Dan harusnya mereka yang memberikan kado untuk Lyra.
*****
Hingga acara harus selesai. mereka pulang, Dan sang ayah menangis, benar-benar menangis sesenggukan melepas putrinya malam ini. Luna memeluk sang ayah membawanya kedalam, kesedihan itu akhirnya terjadi juga, saat sang putri harus pergi meninggalkannya malam ini, di bawa oleh pemiliknya, yang di sandang nama sebagai suaminya.
Mereka semua terharu, tapi tetap berjalan meninggalkan rumah itu.
Riuh suara yang duduk di jok belakang. mereka memperlihat-kan jika mereka dalam suasana yang bahagia.
Adik Bayu nampak seperti mimpi. bidadari dengan balutan baju pengantin yang duduk di tengah mereka, itu kado terindah yang tuhan kirim untuk mereka.
Laju mobil terasa asing bagi Alyra, dia merasakan ada perbedaan, sedikit banyak dia kepikiran tentang setatus yang di sandangnya saat ini.
Matanya menatap kedua gadis di sampingnya, yang wajahnya belepotan dengan butter yang tadi mereka oleskan setelah acara kejutan hari jadi Suci, dari sudut mata Bayu interaksi itu bagai bintang yang terang benderang, dari kelamnya ribuan malam.
Bagaimana hidup mereka kebelakang penuh luka dan jeritan, melihat pertengkaran hebat yang di pertontonkan kedua figur besar dalam keluarga mereka, yang di sebut ayah dan ibu mereka.
Hatinya gamang tekad dan niat awal balas untuk balas dendam, yang sudah di rencanakan matang dari awal, mulus sempurna tanpa kendala, Sama seperti yang sudah dia rencanakan dari sebelumnya.
Namun hatinya kembali bersuara, bagaimana dia akan kembali menabuh petaka dalam keluarganya, yang baru saja nampak hidup kembali setelah kehadiran gadis yang sudah sah menjadi istri beberapa jam yang lalu.
"Kakak ayo!"
Suara sang adik mereka menyadarkan lamunan panjangnya, Galau sedang memenuhi otak Bayu, lulus tanpa satu kata pun, perjalanan panjang itu, hanya di dominasi suara klakson kendaraan lain yang terdengar sepanjang itu, juga suara bisik-bisik dari ketiga gadis di belakangnya yang nampak penuh kebahagiaan.
Niat balas Dendam membara malah menjadi kado terindah untuk sang adik.
Edo tidak jua bersuara, kejadian spontan tadi siang sampai saat ini masih nampak membekukan otaknya, dia belum tahu intrik dan maksud sang boss dengan kejadian yang baru saja terjadi itu.
Pintu mobil terbuka, rumah mewah itu padam tidak ada cahaya sama sekali, mereka sadar, jika dalam rumah tidak berpenghuni, hanya lampu taman yang terlihat menyala seperti obor-obor yang menyambut kepulangan pangeran dan putrinya, bak penjemputan sinderela dari kota metropolitan.
Purnama yang indah di malam ini menyambut bahagia pasangan pengantin dadakan itu. Alam seolah mendukung menyambut mereka yang nampak serasi, cahaya purnama memberi sambutan indah untuk mereka.
Dengan cahaya bintang berkerlip riang, menjadi saksi penyambutan dewi purnama malam ini.
Baju pengantin yang menjuntai kebawah mengekor menyentuh halaman, tanpa sadar Bayu mengambil ujung gaun itu, momen langka yang tak terduga, tangan Edo secepat kilat mengabadikan panorama indah yang tidak terpikir sama sekali itu.
Pangeran menggiring ketiga bidadari, dengan tangan memegang ujung gaun putih itu. Persis gambaran pangeran di dalam negri dongeng.
Lebih dari sepuluh gambar yang di ambil Edo diam-diam.
Kedua daun pintu terbuka lebar, Alyra di gandeng masuk kedalam rumah mewah itu, hingga lampu menyala, memperlihatkan rumah dengan segala kemewahannya, hingga Bayu berjongkok membuka sepatunya, dan Alyra berdiri membelakanginya, gaun itu menutup Sepatu Bayu.
"kakak Ipar"
Lyra berbalik dan tanpa sengaja pandangannya langsung saling tatap dengan bola mata tajam suaminya.
Cekrek
Satu gambar mewah tercipta lagi satu, itu di luar rencana Bayu, hingga sepatu
yang di jinjing Bayu, di raih istrinya, Lyra yang membawa itu tanpa di suruh, dia masih ingat kebiasaan sang ibu melakukan itu untuk ayahnya, memori pigur keluarga yang harmonis melekat sempurna di otaknya, Lyra berjalan duluan dan gaunnya menjuntai kebawah, terpaksa kembali Bayu meraihnya takut ke injak langkah kakinya.
Mereka berjalan menuju tangga, nampak Bayu membungkuk meraih gaun itu, tangannya memegang ujung gaun istrinya, ketiga orang yang dibawah menatap haru panorama memukau itu, "kakak,"
Keduanya berbalik bersamaan melihat kearah datangnya suara.
Cekrek tanpa di buat-buat senyum tulus nampak dari keduanya, hingga tatapan mereka kembali beradu, Momen di luar espektasi, gambar-gambar itu menyatakan jika mereka pasangan yang serasi, tanpa paksaan, terdapat cinta dari keduanya yang tidak mereka sendiri tidak tahu kapan itu terjadi.
Pintu kamar terbuka, ruangan hening, tidak seperti kamar pengantin biasanya, tidak ada hiasan apapun, namun purnama tahu dia terang menyinari langsung kamar itu, menererobos masuk pada celah jendela kamar Bayu.
Tuhan maha adil, memberikan hiasan sempurna untuk pengantin kilat itu, indah saat purnama menyinari kamar yang remang dengan udara malam yang begitu menyatu dengan mereka.
Di sanalah suasana kecanggungan mulai merasuk, Lyra bingung, dia malah berjalan menuju jendela kamar yang terlihat sorot purnama dari sana.
"Wah lihatlah kesini tuan."
Tanpa sadar Lyra melambai pada arah Bayu, dia ingin membagi pandangan purnama yang indah malam ini.
Dia menatap kekaguman, membuka jendela hingga angin malam menebak menggoyangkan kerudung pengantinnya,
Melambai menari indah, tertiup semilir angin, dia memejamkan matanya.
Nampak Dewi purnama terpampang jelas di hadapan Bayu, dia tertegun begitu indah pandangan malam ini.
Dia tersenyum sendiri, bingung antara harus mendekat atau pergi, hatinya dilanda gelisah. "Tuan kesinilah, untuk kali ini saja, aku ingin menikmati purnama bersama mu." pinta Lyra memohon.
Deg
Bayu bisa saja menolak, tapi melihat antusias gadis itu hatinya tidak tega, dia tetap mendekat tepat di samping Alyra. Memasukan tangannya ke saku celana hitamnya, pandangannya bukan melihat pada purnama, melainkan pada sorot purnama yang memantul indah pada wajah cantik yang menatap kagum
Pada keesaan sang penciptanya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Indah."
"terus."
"Dia Bersinar malam ini."
Lyra melirik kesamping-nya dan betapa terkejut saat Bayu menatap wajahnya begitu dekat, wangi maskulin menyeruak memenuhi rongga paru-parunya.
Deg.
Deg.
Lyra tersadar tatapan itu, membuat jantungnya lari maraton, dadanya bergemuruh seperti ber-tabuh gendang.
Dia buru-buru tersadar, pasti jika semua itu mimpi, Alyra ingin bangun namun tidak bisa, dia tetap pada mimpi itu.
Mimpi Aneh yang tiba-tiba harus menikah tanpa sarat tanpa tujuan.
"kenapa semua ini harus terjadi?" pertanyaan Alyra dengan tatapan menunggu jawaban, yang sudah dari tadi ingin dia utarakan.
Pertanyaan itu, membuat Bayu tidak bisa menjawabnya, dia tidak memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu dari awal.
terdiam cukup lama, mencari alasan yang masuk di akal.
"Apa keuntungan tuan dengan mengikatku seperti ini, jika tidak ada manfaat dalam hidup mu pasti kamu akan rugi, aku wanita biasa, tidak akan menemukan hal indah pada diriku."
Masih terdiam kata-kata yang tidak terpikir akan terucap dari bibir gadis di hadapannya.
"Jika aku tidak bisa membuat bahagia, atau menemukan cacat dari prilaku dan kebiasaan ku, itu bukan tanggung jawabku, Aku wanita jelek dan bodoh iya kan, tuan hanya akan sia-sia menyeret ku dalam hidup mu ini."
"Diam-lah."
Bayu tidak enak mendengar itu semua, diapun tidak tahu kenapa begitu ingin mengikat gadis itu, padahal niat awal dia memang hanya untuk balas dendam.
Alyra diam memikirkan ucapan itu. tidak menemukan jawaban dari kata itu.
Dia bingung apa yang sebenarnya pria itu rencanakan untuknya.
"Apakah aku akan di jual keluar negri?"
Pertanyaan yang aneh, tapi masuk akal juga, "kalau kamu siap, aku akan menjual mu, kamu bawel sekali."
"Enak saja main jual jual, emang laku berapa coba, 10 juta 20 juta 50 juta 100 juta satu miliyar, dua miliyar satu triliun, wah terlalu mahal segitu, tanganku sudah kasar begini, aku juga sudah tidak perawan, dan aku tidak bisa main di ranjang."
Bayu terbelalak, gadis itu semakin ngelantur, dan tadi dia bilang sudah tidak perawan, kenapa hatinya tiba-tiba sakit.
"Sekarang aku harus tidur dimana tuan?"
"Terserah."
Bayu kesal mendengar Lyra mengaku sudah tidak perawan, padahal intinya diakan cuma untuk balas dendam, tapi kenapa kecewa mendengar gadis itu mengaku tidak perawan.
Lyra pergi meninggalkan jendela, dia bermaksud turun kebawah. Menuju kamarnya.
"Tunggu mau kemana?"
"Mau turun."
"Jangan keluar dari sini."
"Kenapa?"
"pokonya jangan."
Penegasan pria yang menjadi suami saat ini, membuat Lyra berhenti melangkah.
Dia teringat sang ibu selalu begitu saat sang ayah berkata seperti itu.
"Terus aku harus tidur dengan pakaian seperti ini."
"Tunggu disini."
Bayu entah harus memulai drama itu dari mana, jadi dia yang di kendalikan wanita itu. Bergegas menuju kamar istrinya, dan hanya 4 baju yang ada disana, tidak ada baju tidur khusus.
Bayu tertegun, "seperti apa hidup mereka selama ini, baju tidurpun tidak punya"
Gerutu Bayu, Dia mondar mandir di kamar Lyra, dia menatap tempat tidur itu, dia jadi penasaran bagaimana rasanya tidur disana. Dia lupa niat awal untuk mengambil baju istrinya, dia malah merebahkan badannya disana.
Hingga lelah yang menderanya membuat dia tanpa sadar tertidur.
Giliran Lyra yang mondar mandir di kamar mewah suaminya, dia bingung keluar atau tidak, gerah dan lengket keringat melandanya, padahal disana sudah si pasang AC, terpakasa dia memberanikan dirinya untuk mandi, suara penegasan Bayu tadi untuk tetap di sana, entah kenapa membuat dia harus menurut.
Dia menuju kamar mandi suaminya, dan dia membuka gaun dengan susah payah.
setelah mandi kilat, dia terpaksa juga memakai handuk kimono milik suaminya.
Setelah keluar dia duduk menunggu begitu lama, tidak ada tanda-tanda suaminya datang.
"Ikh kemana sih dia, ambil baju kok lama banget."
Gerutu Lyra mengendap ngendap keluar kamar, dengan balutan handuk kimono yang menutupi tubuhnya. Dia celingak celinguk takut ada orang di luar.
"Akhh Aman."
Lyra mengusap dadanya, lega, padahal diam diam ada yang mengintip kelakuan nya, kedua adik iparnya begitu menikmati suasana itu mereka terkikik. Menunggu kejadian-kejadian lainnya.
Lyra masuk kamarnya, dia shock melihat Bayu ada di tempat tidurnya.
Menutup mulutnya kaget dan kesal, sampai karatan pun suaminya tidak akan datang dia tertidur disana.
Dia pelan sekali memakai baju tidur miliknya, yang harganya nggak nyampe tujuh puluh ribu itu.
Berbahan katun rayon yang nyaman di pakai tidur.
Dia perlahan memakai celananya dulu, lalu memakai baju atasannya.
rambutnya dia biarkan tergerai. Lelah juga badan yang terasa ringsek bekas perjalan panjang dengan Murni.
"Aku tidur dimana?"
Dia bingung tempat tidurnya di pakai suaminya. dia menyisi di kasurnya, menyimpan guling sebagai penyekat di antara mereka.
Dia tertidur juga disana, dengan lelah menderanya. walau pun ragu untuk tidur berdua, terasa aneh dan ragu, tidur di kamar yang sama dengan seorang pria.
Yang tidak pernah dia lakukan selama hidupnya, kecuali dengan sang ayah.?
"Nggak apa-apa Lyra kalian sudah menjadi suami istri, kamu jangan merasa risih.
Rutuk Lyra dalam hati, dia menatap wajah Bayu yang terlelap, dengan baju yang tadi masih melekat sempurna di tubuhnya.
Dia mencoba memejamkan matanya, hingga mereka pengantin itu tertidur juga disana, di kamar gudang tempat Alyra bernaung.
Uci dan Uni turun, mereka penasaran. mereka ingin melihat kakak iparnya kenapa nggak keluar lagi dari kamarnya, mereka mencoba menekan kenop pintu yang ternyata tidak di kunci itu.
Mereka saling lirik, terkikik pelan hanya pergerakan tubuhnya saja yang terlihat.
Mereka mengambil guling pelan, dan tidak ada lagi penghalang di antara mereka.
Insomnia yang di derita penghuni rumah itu tidak ada sekarang, Bayu nampak tidur tanpa beban, hingga waktu dini hari mulai menyapa, Alyra meraba gulingnya hangat. dia begitu menikmati pelukannya.
Matanya mengantuk rapat, tidak bisa walau hanya untuk membuka sebentar matanya, mengusap guling-nya pelan, hingga dia meraba sekali lagi, menegaskan benda itu terasa berbeda, dia tekan tidak empuk seperti biasanya, tersadar gulingnya padat dan kasar, selimutnya pun terasa berat.
Dia mencium wangi asing di rongga dadanya, dia memaksa membuka matanya dengan malas, menilik gulingnya dengan seksama, menguap diiringi dengan mengucek matanya beberapa kali.
"Aaaaaaa tidaaaak, pergii ....tuan kenapa kamu tidur disini?" dadanya naik turun kaget setengah mati, melihat tubuh asing di sampingnya, biasanya ketiga adiknya yang tidur disana, kini berubah tubuh dengan tangan kokoh yang memeluknya erat. Bayu entah sadar atau tidak dia tidak peduli dengan suara itu dia menikmati semua itu dia masih asik dengan rengkuhan-nya .
"Tidaaaak"
Lyra belum sadar, jika semua itu tidaklah salah mereka telah resmi menikah.
Lyra mendorong tubuh itu keras.
Dan apa yang terjadi?
Like
komentar😍😁🤗
semoga aja mey jodoh nya derek