NovelToon NovelToon
Mr. Governor

Mr. Governor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: SheisUgly

Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.

Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WE GOT MARRIED

...Terkadang ada nama yang tertulis di buku nikah tapi tidak tertulis dihati....

...❤Bukan_Author❤...

🌿🌿🌿🌿🌿

Ganis terbangun saat mendengar suara keyboard beradu dengan jari. Matanya mengerjap karena pencahayaan yang temaram dari lampu tidur di atas nakas. Ganis sedikit mengangkat kepalanya melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Wanita itu mengucek matanya untuk memperjelas pandangan.

Jam 01.30 dini hari.

Dengan mata sedikit mengantuk, Ganis mencari sumber suara yang membuatnya terbangun.

Terlihat di sudut ruangan tepatnya di sofa, Ganis melihat Ndaru tengah mengetik di papan keyboard. Wajahnya bersinar berkat cahaya dari layar laptop yang ada di depannya.

Gadis itu masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Disaat semua orang tidur, Ndaru masih sibuk di depan laptop.

Tidak mungkin jam segini, Ndaru bermain chatting dengan seseorang. Meskipun Ndaru punya ponsel dengan kapasitas 256GB keluaran terbaru, dia hanya bapak-bapak yang hanya memiliki beberapa aplikasi penting. Whatsapp, Instagram dan Twitter. Hanya itu. Alih-alih aplikasi alay anak muda.

Apa mungkin dia Bekerja? Beberapa waktu lalu sebelum mereka menikah, Ndaru pernah menelponnya di tengah malam dan juga sedang bekerja.

Rengganis menyingkap selimut yang menutupi badan. Dan saat itu juga kesadarannya terkumpul. Seingatnya tadi, Ganis belajar bersama Sadewa di ruang keluarga. Setelah PR Sadewa selesai dikerjakan, Sadewa mengajaknya bermain halma. Ketika sudah bosan dengan permainan itu, Sadewa bercerita tentang kegiatannya di sekolah seraya tidur di pangkuan Rengganis.

Lalu, dia tidak ingat apapun setelahnya karena dia tadi tertidur bersama Sadewa di sofa. Tapi kenapa Rengganis sekarang berada di dalam kamarnya???

Suara sandal jepit diseret mengalihkan perhatian Ndaru yang sibuk di depan laptop. Dilihatnya istri yang baru satu minggu dinikahinya karena kepentingan politik ini. Dia tampak kusut berjalan terhuyung dengan tangan menggaruk kepala. Mulutnya menguap lebar, terlihat dia masih mengantuk namun sedikit dipaksakan.

"Maaf ya, saya malah bangunin kamu tidur. Tadinya saya mau lembur di ruang kerja tapi..."

"Kayaknya tadi saya ketiduran di ruang keluarga deh. Kenapa bisa pindah kesini?" Rengganis mengusap wajahnya, kemudian duduk di sebelah suaminya.

Ndaru sudah yakin, cepat atau lambat, istrinya itu pasti akan bertanya padanya kenapa bisa berpindah tempat padahal dia sedang tidur.

"Sebelumnya maafin saya ya, tadi saya yang mindahin kamu sama Sadewa" Ndaru pura-pura menyibukkan dirinya lagi di depan laptop. Jarinya mulai beradu dengan papan keyboard, tapi entah kenapa otaknya tiba-tiba kosong.

Berganti dengan bayangan hal-hal berlebihan dan prasangaka buruk sang istri.

"Mas Ndaru mindahin saya kesini?Gimana caranya?" Ganis menguap lagi. Matanya terpejam dengan tubuh bersandar di sofa.

"Saya gendong kamu" Jawab Ndaru dengan bibir bergetar. Siap-siap jika istrinya menyadari suatu hal.

Mata Ganis reflek terbuka. Ndaru yang masih menatap layar laptop berpura-pura hendak mengetikkan kalimat sudah menduga istrinya akan mengamuk.

"Mas Ndaru gendong saya? Kenapa enggak di bangunin aja !" Ganis protes pada Pak Gubernur karena tanpa izin dia melanggar privasi yang telah mereka sepakati sebelumnya.

"Kamu tidurnya nyenyak banget. Kalau aku bangunin, Sadewa yang tidur di pangkuan kamu juga ikutan bangun" Hanya itu alasan yang bisa digunakan Ndaru untuk melindungi diri dari amukan Bu Gubernur. Ganis melirik kesal.

Ndaru berani sumpah niatnya baik. Dia hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istri dan anaknya. Saat Ndaru tiba dirumah, dia melihat istri dan anaknya tengah tertidur lelap di sofa. Meja juga terlihat berantakan, terdapat papan permainan halma dan beberapa buku legenda.

Ndaru menyadari, ada sesuatu yang berbeda dari yang istrinya lakukan dulu. Selain istrinya itu melarang anaknya bermain di tempat yang kotor, istrinya juga melarang permainan yang bisa menimbulkan ruangan kotor dan berantakan. Tidak seperti Rengganis yang membiarkan Sadewa bermain hingga membuat ruangan tengah seperti kapal pecah.

"Besok-besok jangan kayak gitu lagi." Ganis melirik kesal kearah suaminya yang kini fokus mengetik. Bukan apa-apa, Ganis hanya merasa asing dengan pria yang menikahinya ini. Sejak menikah seminggu yang lalu, baru kali ini dia melihat Ndaru ada di kamar mereka.

"Aku dimaafin kan?" Ndaru menatap istrinya dengan wajah kalem dan menghanyutkan bagi Rengganis. Dan sudah pasti, istrinya yang seperti terkene hipnotis Romy Rafael langsung mengangguk. Ndaru lega, dia tidak perlu adu argumen dengan istrinya di pukul 02.00 dini hari.

Ndaru melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Istrinya yang penasaran ikut mengintip di layar. Apa yang di kerjakan Pak Gubernur di tengah malam begini?

"Mas Ndaru ngapain sih jam segini belum tidur?" Tanya Ganis memecah kesunyian malam.

Ndaru menggeser laptop agak mendekat kedepan Rengganis agar istrinya itu juga melihatnya. Ndaru mengambil pulpen, menunjuk sebuah gambar desain yang terpampang di layar. Ganis mengamati dengan seksama. Ternyata ini adalah desain sebuah bangunan. Ini bangunan dua lantai dengan pilar-pilar penyangga. Ada eskalator untuk menghubungkan lantai satu dan dua. Tidak ada sekat, dan ruangannya tampak luas. Ganis belum paham ini bangunan apa.

"Ini desain pasar tradisional berkonsep modern" Ndaru menunjuk salah satu bagian gambar dan Ganis masih memperhatikan.

"Dua hari sebelum pernikahan kita, saya sempat mengunjungi salah satu daerah pesisir pantura. Saya dan bupati setempat sama-sama punya ide jika pasar tradisional yang lama harus di rombak jadi pasar tradisional modern. Biar yang dagang nyaman dan pembelinya juga nyaman. Tidak kumuh juga di musim hujan" Ndaru tersenyum, pandangannya seperti menerawang, membayangkan bagaimana kondisi pasar modern itu. Pasti lebih nyaman dan bersih. Geliat ekonomi juga semakin berkembang disana.

"Cuma daerah ini aja apa ada yang lain?" Tanya Rengganis penasaran.

"Sepertinya ada lima daerah yang memperbarui pasar tradisionalnya. Dan khusus yang ini, akan menjadi daerah percontohan" Ndaru menggeser panel untuk memperjelas gambar.

"Itu desainnya Mas Ndaru yang bikin?"

"Bukan, tadi bupati yang mengirimkan file desainnya sama saya"

Ganis memutar bola mata seraya menahan tawa. Dia mengira, orang seperti Ndaru itu bisa dalam segala hal. Rupanya spesifikasi yang di elu-elukan Bu Lita dan Bu Wita, menyebut Ndaru sebagai Calon Gubernur serba bisa saat istirahat di Ruang Guru nyatanya hanya omong kosong.

"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur lagi aja. Maaf ya, gara-gara saya lembur disini kamu jadi bangun" Ndaru menjauhkan badan dari laptop di meja dan duduk tegak. Menatap istrinya yang sekarang malah terjaga.

"Nggak apa-apa kok" Mendadak suasana canggung tercipta. Dia ingin bertanya, dimana Ndaru selama beberapa malam ini. Ganis selalu tidur di jam sembilan malam. Sedangkan pada jam itu, Ndaru masih berada diluar rumah.

Ndaru pergi pagi hari. Pada saat anak-anak sarapan, Ndaru juga tidak ikut sarapan bersama anaknya. Ndaru juga tidak pernah mengantar anaknya sampai ke teras rumah saat anaknya akan berangkat sekolah. Setidaknya melihat mereka mengawali hari, atau sekedar memberikan Semangat. Alih-alih sebuah nasehat.

Ganis jadi iba pada tiga anak kucing itu. Sebenarnya hidup seperti apa yang mereka jalani.

"Saya emang jarang tidur disini. Soalnya banyak kerjaan yang harus saya periksa di ruang kerja. Karena dimalam hari saya lebih bisa fokus".

Ndaru kembali mencondongkan badan menghadap laptop. Jarinya mulai beradu pada papan keyboard dan mengetik. Kini, suara ketikan di malam yang hening kembali dominan.

Mungkin pernikahan yang sedang mereka jalani adalah pernikahan yang tidak normal. Terlihat sempurna dari luar. Sepasang suami istri yang terlihat bahagia, melengkapi satu sama lain. Begitulah kira-kira bunyi kalimat artikel yang sering Ganis baca di internet dan akun gosip.

Ndaru dan Rengganis adalah pasangan suami istri yang boleh jadi panutan pasangan suami istri lainnya. Mereka terlihat serasi dan harmonis. Juga tiga anak Ndaru yang tampak bahagia karena keluarga mereka menjadi lengkap dengan hadirnya ibu baru.

Padahal, pengantin baru itu, begitu rapi menyimpan kebobrokan rumah tangga yang baru dibangun. Pernikahan yang dilandasi dengan kepentingan masing-masing Individu.

Anak-anak Ndaru lah yang sebenarnya paling merasakan dampak dari pernikahan ini. Mereka seperti dipaksa keadaan untuk menerima hal yang mereka tak suka. Seakan luka karena perceraian orang tuanya yang meninggalkan trauma bagi mereka, ibu kandung yang tak pernah memberi kabar ditambah lagi dengan kehadiran ibu baru yang mau tidak mau harus mereka terima. Diperparah dengan Ndaru yang selalu sibuk bekerja hingga ketiga anaknya bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuannya.

Mereka terlampau mandiri.

Abimanyu jarang berkomunikasi dengan sang ayah. Jika si sulung kesulitan mengerjakan PR, maka dia lebih sering meminta bantuan pada seseorang lewat telepon. Ketimbang menelpon Ayahnya sendiri. Ganis pernah tak sengaja memergoki Abimanyu yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Menanyakan pelajaran sekolah dan menunggu email dari orang itu di laptopnya.

Meskipun Nawang juga masuk peringkat tiga besar di kelas selama ini, Ndaru jarang memuji jerih payah anaknya. Hingga Nawang berambisi ingin ikut olimpiade matematika agar ayahnya bisa sedikit menghargai usahanya jika peringakat kelas tidak membuat ayahnya merasa bangga.

Ganis terenyuh dengan sikap Nawang. Karakter jutek yang ditunjukkannya selama ini hanya untuk berkamuflase dari rapuhnya hati seorang anak bernama Nawang.

Sadewa juga bercerita kalau Ndaru juga tidak pernah hadir saat pembagian rapot anak-anaknya. Mereka harus meminta bantuan Pak Mul atau Mbok Sum untuk mengambil rapot mereka.

Ganis ingin semuanya berubah.

Ganis ingin anak-anak Ndaru mendapat hak mereka berupa kasih sayang lebih dari ayahnya. Setidaknya, Ganis bisa mendapat bayaran setimpal karena menukar kebebasannya untuk menikahi Ndaru dengan senyuman ceria dari tiga anak kucing itu.

"Kamu ngantuk?" Suara Ndaru yang masih terdengar nyaring membuat Ganis tercekat.

"Udah tanggung Mas, Nggak bisa tidur lagi." Ganis merebahkan badan lagi dengan lebih nyaman di sofa. Ndaru malah terkekeh.

"Ok deh besok saya lembur di ruang kerja aja. Tadi saya pindah kesini karena AC disana rusak. Belum sempat manggil orang untuk benerin." Ndaru melirik sebentar kearah sang istri yang kini malah ikut terjaga bersamanya.

"Nggak usah Mas. Lembur disini aja" Suara Ganis yang serak membuat Ndaru menghentikan kegiatan mengetiknya dengan jari masih terpaku diatas papan keyboard.

"Apa enggak ganggu kamu?"

Ganis menggeleng pelan. " Kita kan udah sepakat berbagi kamar. Masa tiap malam Mas Ndaru nginap di ruang kerja?" Tentu saja permintaan Ganis membuat Ndaru menatap intens istrinya yang masih mengenakan celana hitam dan kaos berlengan panjang ini.

Apa Ganis tak salah bicara? Setidaknya pertanyaan itu yang ada di kepala Ndaru.

"Setelah saya pikir-pikir kita harus jadi partner yang baik. Bukannya kita satu tim dan satu tujuan ya?"

Ganis ingat salah satu acara reality show dari Negeri asal Byun Baekhyun yang ditontonnya 3 hari yang lalu saat Ganis merasa kesepian dan tak tau harus berbuat apa.

"Nanti kamu malah ngira saya nyuri kesempatan?" Ndaru sekarang mencibir Ganis dan itu membuat sang istri malah cemberut.

Ganis menggeret laptop Ndaru, menekan panel exit sebelum menyimpan data dan berganti membuka situs youtube.

"Nis, kamu mau nonton apa?" Ndaru terheran-heran, ekor matanya mengikuti gerakan sang istri yang mengetikkan kata kunci di kolom pencarian.

WE GOT MARRIED

"Coba Mas Ndaru nonton acara ini sampai habis. Kita harus bisa menjalankan pernikahan seperti acara reality show Ini. Ada subtitle English nya kok enggak susah kan?"

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Abimanyu, Nawang dan Sadewa seketika ternganga. Seperti melihat monas yang digusur dan dipindah langsung ke Palangkaraya.

Pagi ini, Ayahnya duduk di meja makan bersama mereka dengan senyum ramah.

Ini adalah hal yang jarang terjadi. Mengingat Ayahnya itu selalu pulang malam ketika anaknya sudah tidur dan berangkat pukul 6 pagi.

Kini, sang ayah tersenyum memandang anaknya yang akan sarapan. Sedangkan ketiga anak kucing menatap tak percaya seakan semua ini hanya mimpi.

"Ayo, kita sarapan dulu"

Dengan canggung, Nawang dan Abimanyu memakan sereal bercampur susu. Si bungsu yang sedang tergila-gila dengan omellete buatan Rengganis tersenyum lebar. Dia melirik Rengganis yang menepati janjinya mengajak Ayahnya sarapan pagi.

Dibalik senyumnya, Rengganis merasa apa yang diperbuatnya kali ini akan membuat Nawang dan Abimanyu bertambah membencinya. Mengira rayuan mautnya bisa memperdaya Ndaru agar perhatian pada mereka. Tapi jika tidak dimulai merubah sikap Ndaru terhadap anaknya dari sekarang, Ganis yakin Ndaru tidak akan respect dengan anaknya sendiri.

Mereka juga jujur tidak ingin memanggilnya Ibu, bunda, mama atau panggilan lain merujuk pada Ibu yang sebenarnya. Ganis mengerti akan hal itu.

"Saya, Mas Abim sama Sadewa sepakat bahwa kita belum bisa memanggil Tante dengan sebutan Ibu. Karena Tante bukan orang yang melahirkan kami" Tegas Nawang kemarin malam saat mereka bermain di ruang keluarga.

"Tante enggak keberatan kok. Kalian kan masih punya ibu yang melahirkan kalian. Jadi kalian juga tidak harus memanggil Tante seperti memanggil ibu kandung kalian sendiri" Ganis tidak akan terbawa perasaan dengan permintaan anak-anak Ndaru. Gadis itu juga menyadari bahwa dia bukan ibu kandung mereka.

"Tante...." Sadewa berhambur ke pelukan Rengganis dan mengajaknya bermain halma.

Ganis menghela nafas, semoga usahanya untuk membuat Ndaru memperhatikan sang anak tidak sia-sia.

Anak-anak berlarian ke depan memasuki mobil yang pintunya sudah di buka oleh Pak Mul. Sadewa melambaikan tangan kepada orang tuanya sebelum pintu di tutup.

"Apa anak-anak seperti itu setiap pagi?" Tanya Ndaru masih menatap mobil yang dikemudikan Pak Mul berbelok dari pagar utama menuju jalan raya.

"Mulai sekarang Mas Ndaru harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mereka, setidaknya cukup di pagi hari. Jika mereka dewasa nanti Mas Ndaru enggak akan pernah menyesal" Ganis tersenyum memandang suaminya kemudian masuk kedalam rumah.

"Bu Wakil Gubernur minta nomer ponsel kamu boleh ya??" Tanya Ndaru seraya mengambil beberapa file dan memeriksanya sedangkan deru mobil dinas sudah terdengar di depan.

"Boleh Mas, masa saya cuma diam aja dirumah. Saya kan juga pengen mengembangkan terobosan baru seperti Mas Ndaru" Ganis terkekeh mengingat obrolan mereka tadi malam tentang rencana pembangunan pasar modern.

"Bagus, kamu juga harus punya gebrakan baru sebagai Bu Gubernur. Kamu juga boleh memilih staf kamu sendiri biar kerjaan kamu lebih mudah" Ndaru menutup filenya dan bersamaan pula Pramana datang untuk memberitahu schedule untuk hari ini.

Ganis mengernyitkan alis. Apa dia perlu staf untuk membantu??

"Ok, sayang aku berangkat dulu ya?" Ndaru sedikit mengerlingkan mata, mengode jika mereka adalah suami Istri setidaknya di depan Pramana.

Ganis menyambut tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.

"Hati-hati Mas....."

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

...Selamat siang yorobun.......

...masih ada yang menanti gak sih??...

...Semoga sehat selalu yaaa...see you....

1
Bunny³²
astagaa mamaknyaa nih kok lngsung begini.
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
Bunny³²
wahh ga bener
baru kenal udh main tangan ajaa...
Bunny³²
parahhh
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
Bunny³²
kasihan sekali, ibunyaa kmnaa
Agna
Pumpkin emang bikin gemeeezzzzzz
Agna
mewakili aku ni, aku punya anak tiri 3, cowok semua
Agna
/Drool//Drool//Drool/
Agna
mmmhhh... kayakx Gamis jd penggemar pak Gubernur sejak awal lihat ya ..
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
Agna
sy selalu kangen mba Author, makax sy sering baca ulang
Agna
sy baca berulang2, random🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat
Nara
keren
Agna
kangen baca kisah romansa yg elegan kayak gini, ada rekomendasi novel lain? Ndaru Ganis berulang² sy baca
Sari Alyaa
T.O.P B.G.T👍👍🤩
Ratna Mareliana
baca ke 3 x nya.. kangen ganis sm mas ndaru
May Keisya
ibu ko gitu...ga dapet pelajarankah dr pernikahannya yg dl ancur
May Keisya
kebykn laki2 ky gini klo hbs nikah knp pd berubah jadi siluman... kelakuan asli terlihat ketika sdh menikah
May Keisya
mematikan😭🤣🤣
Renesme
Baguss 👍👍
Sandisalbiah
hah... jauh² pindah ke Amrik gak taunya masih ada satpol pp yg ngerajia kamar.. 🤭🤭🤭🤭🤭
Sandisalbiah
gak ada visual pumkin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!