NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 17

"Kalau dari hotel tempat kita nginep, ada nggak ya bangunan warna merah tua yang bawahnya toko barang antik sama kedai kopi cat hijau?"

Arga diam sejenak, mengolah pertanyaan tak lazim itu. "Saya tidak tahu detail bangunan sekitar. Kenapa kamu menanyakan itu?"

"Mmm... masalahnya, saya sekarang berdiri di depan toko itu, Pak," sahut Kinan santai, memiringkan kepalanya menatap papan nama toko yang berbahasa Mandarin. "Dan sepertinya... saya nyasar."

Arga seketika berdiri dari kursinya, membuat kursinya terdorong ke belakang. "Nyasar? Kamu gak lihat peta di ponsel kamu?"

"Sinyal internet saya mendadak hilang, Pak. Ini juga saya bisa nelpon karena lagi numpang Wi-Fi kedai kopi di pinggir jalan. Saya tadi keasyikan jalan ngikutin tembok mural, pas sadar ternyata udah enggak tahu lagi ini di daerah mana."

Arga memijat pangkal hidungnya, seraya menghembuskan napas panjang. "Jangan bergeser dari tempat kamu berdiri sekarang," perintah Arga.

"Eeh? Nggak apa-apa kok, Pak. Bapak kasih tahu aja nama stasiun MRT terdekat, nanti saya tanya orang..."

"Kinan," potong Arga. "Kirim nama plang jalan terdekat dan tetap di sana. Saya yang akan jemput kamu."

Sambungan telepon itu terputus begitu saja usai Arga melontarkan perintahnya.

Kinan menggelengkan kepala pelan, menatap layar ponselnya yang kembali gelap. "Kebiasaan banget main matiin telepon seenaknya," gumamnya santai.

Tak lama perhatian Kinan teralih ke kedai kopi itu. Aroma biji kopi sangrai yang harum menelusup keluar dari pintu kafe yang terbuka.

"Daripada berdiri di pinggir jalan, mending nunggu sambil ngopi," putusnya riang.

Kinan melangkah masuk, memesan segelas es kopi, lalu memilih duduk di teras luar. Sambil menikmati minumannya di tengah cuaca sore Singapura, tangannya bergerak santai menorehkan garis-garis sketsa di buku kecilnya. Menurutnya ini bukanlah musibah tersesat, melainkan bonus jalan-jalan yang tidak disengaja.

Sementara itu di kamar hotel, Arga baru saja menerima pesan singkat berisi nama jalan dan nama kedai kopi tempat Kinan berada. Begitu Arga menyalin alamat itu ke peta di handphone keningnya langsung berkerut.

Jarak dari City Hall ke lokasi Kinan sekarang cukup jauh. Wanita itu benar-benar berjalan kaki melewati beberapa blok hanya karena mengikuti dinding bermural.

Rasa cemas mulai muncul di pikiran Arga. Sebagai pria yang terbiasa hidup teratur dan penuh perhitungan, ia langsung membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Kinan yang tidak punya kuota, tidak paham jalanan kota ini, dan bisa makin bingung jika kedai itu tutup. Selain itu, bayangan Mama Mira dan Ibu Rina mendadak melintas. Jika terjadi apa-apa pada Kinan di hari pertama mereka tiba, ia tentu harus bertanggung jawab penuh di depan kedua orang tua mereka.

Tanpa memikirkan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, Arga menyambar jasnya, mengunci kamar, dan segera turun ke lobby untuk mencari taksi.

Selama perjalanan, Arga tidak bisa santai. Matanya berkali-kali menatap jam di pergelangan tangan, sementara jarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan gelisah.

"Bisa lebih cepat, Pak?" tanya Arga pada sopir taksi.

"Sabar, Pak. Jalanan sore ini lumayan padat," balas sang sopir tenang.

Arga menghela napas panjang. Sikap tenang dan kontrol diri yang selalu ia jaga mendadak buyar hanya karena seorang wanita yang terlalu santai menikmati perjalanannya.

Taksi akhirnya berhenti di tepi persimpangan jalan. Arga membayar ongkosnya, lalu melangkah keluar. Matanya memperhatikan deretan toko di sekitarnya, sampai pandangannya terhenti pada papan nama kedai kopi berwarna hijau.

Di sana, Kinan terlihat sedang duduk bersandar sambil mengayunkan kakinya santai, menyesap es kopi dari sedotan.

Langkah Arga yang tadinya terburu-buru mendadak terhenti. Rasa khawatir yang tadi menghantuinya mendadak berganti menjadi kejengkelan.

Arga melangkah mendekat. Bayangan tubuhnya yang tinggi mendadak menutupi sinar matahari sore yang mengenai meja Kinan.

Kinan mendongak. Melihat Arga berdiri di depannya dengan jas rapi dan raut wajah serius, Kinan bukannya takut, malah tersenyum lebar.

"Wah... Pak CEO! Cepat banget sampainya? Naik apa ke sini?" sapa Kinan riang sambil memamerkan es kopinya.

Arga memejamkan mata sejenak, menahan napas panjang untuk menjaga kesabarannya.

"Bisa-bisanya kamu duduk santai minum es di saat kamu baru saja bilang kalau tersesat?"

"Ya... daripada saya panik nangis di pinggir jalan, mending nunggu Bapak sambil ngopi," sahut Kinan polos. Ia berdiri lalu merapikan tas selempangnya. "Lagian kopinya enak, lho. Bapak mau?"

Arga membalikkan badan, memberi isyarat agar Kinan mengikutinya ke jalan utama. "Jalan di depan saya. Jangan sampai kamu hilang lagi gara-gara melamun melihat tembok."

Kinan menyamakan langkah kakinya di samping Arga. "Ya maaf, Pak... Muralnya memang bagus, sayang kalau dilewatkan."

"Ini bukan masalah muralnya, Kinan," gerutu Arga begitu mereka menghentikan taksi kosong di pinggir jalan. Pria itu membukakan pintu dan menyuruh Kinan masuk lebih dulu sebelum ia menyusul di sebelahnya.

Begitu pintu taksi tertutup, Arga menoleh, menatap Kinan dari samping.

"Kamu tahu berapa banyak laporan yang harus saya tinggalkan di kamar cuma buat menyusul kamu ke sini?" cecar Arga. "Jadwal kerja saya sore ini jadi berantakan."

Kinan memiringkan kepalanya, menatap Arga tanpa merasa bersalah. "Kan tadi saya sudah bilang, Bapak kasih tahu saja nama stasiun MRT terdekat, nanti saya bisa tanya orang sekitar. Bapak sendiri yang maksa mau jemput..."

"Karena kamu itu tanggung jawab saya di sini," potong Arga cepat, suaranya sedikit meninggi. "Kamu sadar tidak ini di negara orang? Kalau terjadi apa-apa sama kamu di jalan, saya harus jawab apa sama Mama dan Ibu kamu?"

Kinan mendadak menghentikan sedotannya. Ia menatap Arga yang tampak menahan kekesalan.

"Kamu tahu tidak...Setelah saya aktifkan handphone saya ini... Mama telepon saya dua jam sekali cuma buat nanyain kamu," lanjut Arga. "Kalau Mama tahu kamu hilang, Mama bisa langsung terbang ke sini dan marahin saya habis-habisan. Kamu mau tanggung jawab?"

Otak Kinan berputar mencari cara agar omelan pria di sebelahnya ini segera berhenti.

"Iya, iya, Pak CEO. Saya paham, saya yang salah, saya kan sudah minta maaf." potong Kinan cepat sambil merogoh tas dan membuka galeri foto di ponselnya. "Tapi daripada Bapak marah-marah terus, nih lihat deh..."

Kinan menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Arga, memotong pandangan pria itu yang tadinya hendak menatap ke luar jendela.

"Lihat nih, Pak! Ternyata artis Indonesia ini terkenal banget di sini," celetuk Kinan, menunjuk foto poster pameran di layarnya. "Dia jadi VIP Brand Ambassador buat pameran perhiasan mewah di galeri. Katanya bakal ada acara red carpet juga. Cantik banget ya, Pak? Auranya berkelas banget. Bapak tahu dia, kan? Natasha Vanya."

Mata Arga otomatis tertuju pada layar ponsel di depannya.

Seketika itu juga, kalimat omelan yang sudah siap keluar dari mulut Arga hilang tanpa sisa.

Arga terpaku dan matanya tertuju pada foto Natasha di ponsel Kinan. Pria yang biasanya selalu punya jawaban kaku untuk membalas ucapan orang lain itu kini kehilangan kata-kata.

Kinan, yang menyadari perubahan raut wajah Arga yang mendadak diam dan kaku, mengerjap bingung.

"Pak CEO?" Kinan menggerakkan jarinya pelan di depan mata Arga. "Kok malah melamun? Jangan-jangan Bapak fans beratnya, ya?"

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!