Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
Lucinda menggigit kuku jarinya, wajahnya semakin muram ketika mendengar rumor yang menyebar tentangnya.
Sejak Eva diperkenankan sebagai tunangan Felix, hubungan keluarga lucinda sedikit bermasalah. Baik dari segi sosial atau ekonomi, terlebih rumor yang tersebar mengatakan lucinda mandul.
Lucinda menoleh, melihat ibunya masuk ke kamarnya.
"mama ini bagaimana?" lucinda mendekat pada ibunya.
"tenang saja, ada yang membantu kita sayang", ibunya menunjukkan sebuah amplop dengan stempel bunga aster.
Lucinda tersenyum, dia masih ada kesempatan untuk menaiki tahta ratu di masa depan.
Di istana putri Mahkota, Eva tidak banyak melakukan aktivitas. Seharusnya dia ada kelas tata Krama kerajaan, dan beberapa pembelajaran urusan politik kerajaan. Tapi entah kenapa semua di batalkan sepihak.
Eva melihat ke arah taman dari jendela, disana ada banyak pelayan berlalu lalang mempersiapkan perjamuan untuk kerajaan Utara yang akan datang. Dikabarkan kalau dua kerajaan ini sudah lama bersekutu, dan sampai sekarang hubungan mereka masih sangat baik hingga keturunan termuda mereka.
Eva ingat sejarah mengatakan kalau pangeran mahkota dari negeri Utara adalah teman satu sekolah dengan Felix, mereka dekat sejak menjadi kesatria dimasa awal mereka menjadi putra mahkota. Hingga sekarang mereka sangat menjaga keharmonisan pertemanan mereka.
"nona yang mulia pangeran mahkota datang", Eva menutup jendela kamar.
Felix datang seperti biasa, entah hanya mengawasinya agar tidak kabur, atau sungguhan ingin dekat dengannya. Yang pasti opsi pertama itu lebih wajar dari apapun.
para pelayan menyiapkan camilan dan teh untuk mereka berdua, Felix tidak berbicara apapun sepanjang teh di seduh dan camilan di sajikan. Eva meminum tehnya, mencoba lebih rileks berhadapan dengan Felix.
"ku ingat kau bisa memainkan pedang dan busur", Eva sedikit tersedak,menatap Felix tajam.
"kenapa anda bertanya?", Felix meletakkan cangkir dan tersenyum miring.
"kami hanya kekurangan pelatih ya baik, Ilos adalah wadah dari para ahli bertarung hebat yang ku tahu, jadi bisakah kau ajarkan beberapa prajurit kelas Beta?".
Eva berpikir sejenak, dia tidak terlalu handal memainkan pedang, jika memanah dia sangat mahir. Jika dia melatih beberapa prajurit Odelions, dia bisa punya alasan untuk berlatih pedang di arena.
Felix tenang meminum tehnya, alasan dia membatalkan kelas tata Krama dan pendidikan. Itu karena Eva belum cocok dengan dunia politik kerajaan, di ingat dia handal dalam pengobatan dan perang. Dia cocok untuk menjadi pasangan nya di medan perang, walau memberi izin dia melatih ada resiko eva melatih kemahirannya.
Tapi, selagi Eva masih di Odelions, dia bukan lawan untuk Felix. Dia bertekad untuk bisa menikahi Eva dengan cepat. Dia ingat permintaan Izkye mengenai Eva yang harus kembali ke Ilos saat waktu kedewasaan, jujur sedikit mencurigakan, bahkan dia sampai meminta pasukan bayangan nya untuk mengecek latar belakang eva dan sampai sekarang belum ada kabar.
Dia harus mencari cara agar Eva terus berada di samping nya, bahkan jika_
"yang mulia pangeran", Felix sedikit tersentak.
Eva menatap Felix aneh, " anda mendengarkan saya kan".
Felix mengelap bibir, tersenyum kecil pada Eva.
"pertama saya mendengar kan anda sejak awal, dan yang kedua kita pasangan yang akan segera menikah, bisa kah kau panggil saya sedikit lebih santai saja".
Eva mendengus kesal. Dia tidak suka berbicara santai dengan musuh, dia lebih suka membantainya dengan sekali tebas dari pada berbasa-basi.
Felix terkekeh, dia mudah saja menebak isi pikiran Eva dari ekspresi wajah Eva yang terlalu jujur. Tentu opsi keduanya di tolak Eva karena itu terkesan mereka sudah saling menerima satu sama lain.
"tenang saja, jika anda menjadi ratu Odelions tidak akan ada yang berani menyerang Ilos mu. Jika kau tidak berniat kabur", Felix kembali meminum tehnya.
Eva meremas gaunnya, secara tidak langsung Felix seperti mengisyaratkan nya untuk tidak kabur dari Odelions secara nekat, atau Ilos mempersiapkan diri untuk berperang dengan Odelions.
Felix seberapa pergi ketika ajudannya melapor ada urusan yang ingin menemuinya, Eva menghela nafas untuk mengatur ekspresi wajahnya. Jika dia tidak mengontrol emosinya, dia khawatir akan mengacak-acak kamarnya.
"velysa". Eva menatap ke arah jendela.
Gadis dengan rambut coklat dan bermata karamel datang, pelayan yang selalu menemaninya dan yang menjadi satu-satunya pelayan yang tidak kaku dengannya datang.
"apa anda ingin berendam lagi?", tebak velysa.
"yah kau tau kan jam-jam seperti ini aku sudah tidak tahan", Eva melepas satu persatu perhiasannya sebelum melepas gaun nya.
Velysa terkekeh, segera menyiapkan apa saja yang dibutuhkan Eva untuk berendam. Sejak awal dia melayani Eva, velysa sedikit nyaman dengan perlakuan Eva yang terlihat santai saja.
Velysa berpikir ketika dia mendapat tugas melayani calon putri mahkota, dia akan di rundung karena berasal dari kaum budak. Tidak taunya Eva sangat baik memperlakukan nya, bahkan nada bicara Eva seperti berbicara dengan teman seumuran nya saja.
Eva terlihat nyaman ketika tubuhnya terendam air dingin, rambut hitamnya yang terurai tanpa berkilau ketika terkena air. Velysa berjaga di belakang Eva, jika gadis itu membutuhkan sesuatu,Walau dia tau Eva tidak pernah meminta apapun ketika sedang berendam.
Eva menatap pantulan dirinya dalam air, masih berpikir cara dia bisa lepas dari Felix secara alami. Jika menunggu Felix mati entah seberapa lama lagi, jika ada cara lain untuk bisa pergi dari Felix selagi dia belum menikah.
Dia bersyukur masa kedewasaan nya belum datang, jadi pernikahan mereka masih di tunda sampai Eva melewati upacara kedewasaan. Dia masih ada waktu untuk bisa kembali ke Ilos dalam keadaan belum di sentuh Felix sedikitpun.
"Hais kenapa juga dia memilihku, para lady bangsawan kan banyak. Dan kenapa pernikahan, bukan imbalan ganti saja sih. Bikin aku pusing". eva memasukkan seluruh tubuh ke dalam air agar sedikit rileks.
Velysa tersenyum, sedetik kemudian dia menghunuskan belati kecil ke leher sosok di belakangnya, tatapan datar Felix membuat velysa terkejut.
Velysa membungkukkan memohon maaf pada Felix yang tidak tau kalau dia ada di belakangnya, entah sejak kapan Felix mengawasi di belakangnya. Bukannya Felix menemui utusan, kenapa bisa secepat itu kembali ke istana putri mahkota.
Felix memberi isyarat agar velysa pergi, membiarkan dia yang berjaga disana. Sebagai pelayan velysa hanya bisa menurut pergi, sebentar velysa melihat tatapan Felix yang terarah pada punggung Eva yang baru keluar dari air.
Tubuh velysa kaku dan merinding, dia seperti melihat sosok yang sangat mengerikan di balik tatapan Felix pada Eva. Bergegas dia pergi sebelum ada masalah lain.
Felix bersandar pada pilar yang cukup menutup dirinya, mengawasi dalam diam Eva yang asik berendam. Sesekali tersenyum melihat ekspresi wajah Eva yang terkadang berubah-ubah.
mata merahnya menjadi gelap ketika dia melihat sesuatu yang sepatutnya tidak dia lihat, tangan Eva yang polos mengeluarkan kilau tipis bersamaan dengan air yang seperti terangkat sepersekian detik sebelum kembali terjun ke bawah.
Sekarang dia tau alasan eva harus kembali ke Ilos saat waktu kedewasaan nya.
...****************...