NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Lamaran Jeno

Pagi hari pernikahan tiba.

Aequoria bangun lebih awal dari biasanya. Lampu-lampu bioluminesensi di seluruh kota dinyalakan paling terang — biru, ungu, hijau — seperti bintang-bintang yang jatuh ke dasar laut. Pasir putih di alun-alun kota dibersihkan hingga berkilau. Karang-karang dihiasi dengan bunga laut segar dan mutiara.

Para Siren dari berbagai kerajaan datang memenuhi undangan. Kerajaan Selatan, Barat, Timur — bahkan Utara mengirim utusan. Bukan Kael, tapi Theron, yang datang dengan senyum teduh dan membawa hadiah berupa seratus mutiara hitam langka.

"Untuk Ratu Aequoria," kata Theron pada Lira yang menyambutnya di gerbang. "Sebagai tanda persahabatan."

"Ratu akan senang," jawab Lira. "Silakan masuk."

Di dalam istana, Nana sedang berdiri di depan cermin dari batu kaca.

Gaun pengantinnya tidak seperti gaun manusia. Gaun itu terbuat dari rumput laut perak yang ditenun khusus — lembut, berkilau, mengalir seperti air. Di kepalanya, mahkota mutiara kecil — bukan mahkota upacara, tapi mahkota yang lebih sederhana, lebih pribadi.

Di dadanya, Jantung Aequoria berdenyut — tidak sabar.

"Kau cantik, Yang Mulia," bisik dayang yang membantunya berdandan.

"Terima kasih."

"Jeno Siren yang beruntung."

Nana tersenyum. "Aku yang beruntung."

Di ruangan lain, Jeno sedang berjuang dengan pakaiannya.

Sebagai mempelai pria, ia harus mengenakan jubah upacara Siren kuno — jubah panjang dari rumput laut emas, dihiasi sisik-sisik kecil berwarna biru. Jubah itu berat. Tidak praktis. Dan Jeno hampir tersedak saat memakainya.

"Kau tidak perlu gugup," kata Lira yang membantunya. "Kau hanya akan berenang di depan ribuan Siren, mengucapkan sumpah, lalu menikah."

"Itu sebabnya aku gugup."

"Ratu juga gugup."

· "Ratu tidak pernah gugup."*

"Ratu Siren. Sama."

Jeno menghela napas. Ia melihat ke cermin — bayangannya terlihat aneh. Jubah emas, sisik biru, rambut yang disisir rapi. Ia tidak terbiasa.

"Jeno," panggil suara dari pintu.

Jeno menoleh. Raja Valerius berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis.

"Yang Mulia," Jeno membungkuk.

"Jangan panggil Yang Mulia. Panggil Ayah."

Jeno membeku. "Apa?"

"Kau akan menikahi anakku. Artinya kau anakku sekarang."

Jeno tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya sesak — bukan karena sakit, tapi karena haru.

"Ayah," bisiknya.

Raja Valerius mengangguk. "Bagus. Sekarang, ayah ingin bilang sesuatu."

Ia berenang mendekat, menatap mata Jeno.

"Ayah tahu kau bukan Siren kaya. Bukan bangsawan. Bukan pangeran. Tapi ayah juga tahu kau sudah menjaga Nanara selama sepuluh tahun. Kau mengorbankan segalanya untuknya. Kau mencintainya — bukan karena takhta, bukan karena darah biru, tapi karena dia."

Raja Valerius meraih bahu Jeno.

"Kau pantas menjadi suaminya, Jeno. Ayah merestui."

Jeno menunduk. Matanya basah. "Terima kasih, Ayah."

Upacara dimulai saat matahari laut — ubur-ubur raksasa — bersinar paling terang.

Nana berdiri di pintu gerbang istana. Di depannya, jalan pasir putih membentang hingga ke altar di tengah alun-alun. Para tamu berjejer di kiri dan kanan, menatapnya dengan mata penuh hormat.

Raja Valerius berenang di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Siap, Nak?"

"Siap," jawab Nana. Jantung Aequoria di dadanya berdebar kencang — dug-dug-dug — seperti genderang perang.

Mereka berenang perlahan menyusuri jalan pasir.

Di altar, Jeno menunggu. Ia berdiri tegak, jubah emasnya berkilau di bawah cahaya, matanya biru pucat menatap Nana — lembut.

Ketika Nana tiba di sampingnya, Raja Valerius melepaskan tangannya.

"Jaga dia, Jeno," bisiknya.

"Akan aku jaga, Ayah. Sampai napas terakhirku."

Raja Valerius tersenyum. Ia berenang mundur, meninggalkan Nana dan Jeno berdua di altar.

Lira maju sebagai pemimpin upacara. Ia membuka gulungan kuno dari kulit ikan paus, berisi sumpah pernikahan Siren.

"Nanara Ciel Aequoria," kata Lira. "Apakah kau bersedia menerima Jeno sebagai suamimu — dalam hidup dan mati, dalam pasang dan surut, dalam lagu dan diam?"

Nana menatap Jeno.

"Bersedia," jawabnya.

"Jeno dari Aequoria — apakah kau bersedia menerima Nanara sebagai istrimu — dalam hidup dan mati, dalam pasang dan surut, dalam lagu dan diam?"

Jeno menatap Nana.

"Bersedia," jawabnya. Suaranya bergetar — sedikit, tapi Nana mendengarnya.

Lira tersenyum.

"Maka dengan air pertama dan samudra terakhir, aku menyatakan kau sebagai suami-istri. Kau boleh mencium pengantinmu."

Jeno berenang mendekat.

Ia meraih wajah Nana dengan kedua tangannya — lembut, seperti dulu di ruang latihan, saat pertama kali mereka berciuman.

"Aku mencintaimu, Nanara," bisiknya.

"Aku juga mencintaimu, Jeno," bisik Nana balik.

Mereka berciuman — di depan ribuan Siren, di bawah cahaya ubur-ubur raksasa, di tengah bunga laut yang bermekaran.

Aequoria bersorak.

Lira menangis.

Zara berpura-pura tidak menangis.

Raja Valerius tersenyum — senyum terlebar dalam sepuluh tahun.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!