“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat di Ruang Tamu
Aditya melangkah masuk ke dalam rumah megah itu dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Pak Tyo, sang pemilik rumah, mempersilakannya duduk di ruang tamu yang dihiasi furnitur klasik mahal. Namun bagi Aditya, kemewahan ini terasa hambar dan penuh kepalsuan.
"Silakan diminum, Adi," ujar Pak Tyo ramah, mencoba mencairkan suasana.
Segelas teh hangat yang masih mengepul tersaji di meja kaca, bersanding dengan berbagai stoples kue kering premium. Bu Effi duduk tepat di depan Aditya dengan senyum yang dipaksakan terlihat manis.
"Ada gerangan apa kamu ke sini malam-malam, Di? Sepertinya penting sekali, ya kan, Pa?" tanya Bu Effi dengan nada yang dibuat-buat lembut. Sang suami hanya mengangguk pelan, menyembunyikan kegelisahan di balik senyum tipisnya.
Tiba-tiba, sebuah suara melengking memanggil namanya dari arah tangga. "Mas Adi?!"
Ketiga orang di ruang tamu itu serempak menoleh. Lidia tampak menuruni tangga dengan tergesa-gesa, wajahnya berbinar riang. Ia segera menghampiri dan duduk di sofa tepat di samping Aditya, tanpa jarak.
"Mas Adi kok nggak bilang kalau mau ke sini? Tahu begitu, Lidia siap-siap dulu biar cantik menyambut kedatangan Mas," ucap Lidia manja, mencoba meraih lengan Aditya.
*Wanita murahan ini... lihat saja nanti,* batin Aditya. Rasa mual menjalar di perutnya melihat tingkah laku Lidia. Ia segera bergeser menjauh, ingin langsung ke inti masalah.
"Om Tyo," panggil Aditya dengan suara berat. Pak Tyo menatap putra sahabatnya itu dengan saksama. "Sebelumnya, saya ingin minta maaf atas nama orang tua saya."
Suasana mendadak hening. Tak ada yang menyahut, hanya detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu. Aditya melanjutkan, mengabaikan tatapan memuja Lidia yang terus mengincarnya.
"Mengenai kedatangan Om dan Tante ke rumah tempo hari... yang berkata seolah menyudutkan orang tua saya tentang perjodohan saya dengan Lidia," Aditya menjeda kalimatnya, matanya menghunus tajam ke arah Pak Tyo. "Padahal, perjodohan itu sebenarnya tidak pernah terjadi, Om Tyo."
DEG!
Bu Effi tertegun, senyumnya luntur seketika. "A-Adi, maksudmu..."
"Om, bukankah Ayah saya tidak pernah menyetujui secara langsung keinginan Om untuk menjodohkan Lidia dengan saya?" tambah Aditya dingin.
Pak Tyo menelan ludah dengan susah payah. Aura di sekeliling Aditya terasa kian mencekam. "Saya pun tidak pernah menjawab 'iya' mengenai perjodohan yang Om tawarkan sebelumnya."
Bu Effi hendak menyela, namun Aditya memotongnya lebih cepat. "Jadi atas dasar apa Om dan Tante dengan beraninya datang ke rumah orang tua saya secara tiba-tiba dan menyudutkan mereka?"
"Menyudutkan apa maksud kamu, Adi?! Kami tidak menyudutkan siapa pun!" bentak Bu Effi, wajahnya memerah karena merasa terhina.
"Oh ya?" Aditya menaikkan sebelah alisnya, menantang.
"Adi, Om akan jelaskan," lerai Pak Tyo, mencoba menenangkan istrinya. "Kami bukannya ingin menyudutkan. Kami hanya butuh kejelasan untuk putri kami, Lidia. Kami ingin beriktikad baik. Lidia menyukaimu, Adi. Dia berkeinginan menjadi istrimu."
"Lagipula apa bagusnya gadis yang kamu lamar itu?!" sahut Bu Effi dengan nada menghina. "Jelas putri Tante jauh lebih pantas ke mana-mana daripada gadis itu!"
"Ma, jangan begitu," tegur Pak Tyo yang mulai merasakan bahaya.
"Gitu apa, Pa?! Aditya harus sadar! Lidia ini berpendidikan, cantik! Mending Lidia daripada anak buruh pabrik yang jelek dan kampungan itu!" seru Bu Effi merendahkan.
"CUKUP, NYONYA EFFI!" suara Aditya menggelegar, penuh amarah yang siap meledak. "Anda tidak berhak mencela calon istri saya!"
Hening seketika mencekam, seolah petir menyambar tepat di tengah ruangan.
Lidia ternganga. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kata 'calon istri' keluar dengan mudah dari mulut pria yang ia puja.
"Meskipun gadis saya hanya anak buruh pabrik, dia tahu etika! Dia berpakaian sopan dan tidak pernah mengumbar tubuhnya pada siapa pun, termasuk saya! Tidak seperti putri kesayangan Anda ini!"
"ADITYA!" bentak Bu Effi. Pak Tyo menatap Aditya dengan bingung, sementara Lidia mulai gemetar di tempat duduknya.
"Putri kesayangan Om ini selalu datang ke tempat kerja saya dengan pakaian terbuka, mencoba merayu saya, bertingkah seperti wanita murahan! Apakah menurut Om, wanita seperti ini pantas menjadi istri saya?"
Pak Tyo menatap Lidia yang kini tertunduk dalam, wajahnya pucat pasi. Tanpa diketahui orang tua mereka, Lidia memang sering melakukan hal-hal nekat itu demi menarik perhatian Aditya.
"Saya tegaskan sekarang juga. Saya, Aditya Sakti Wijaya, tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Jadi, jangan pernah lagi mengusik keluarga Wijaya atau berani mengganggu calon mertua saya."
Aditya mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan gertakan terakhir. "Atau... hutang lima ratus juta Om dari Ayah saya beberapa tahun silam akan saya bahas kembali. Dan Om harus melunasinya malam ini juga tanpa kurang sedikit pun."
DWAR!
Pak Tyo nyaris terjatuh dari duduknya. Wajahnya pucat pasi seputih kertas. "Nak Adi..."
"Bagaimana, Om?" tanya Aditya dingin.
Bu Effi bungkam seribu bahasa. Hutang itu... ia tahu suaminya memilikinya, namun ia mengira Pak Wijaya sudah melupakannya karena persahabatan mereka.
"Aditya, kamu jangan macam-macam..." suara Bu Effi bergetar, ketakutan.
"Macam-macam? Kalian yang mulai berulah lebih dulu. Apa saya tidak boleh membalasnya?" Aditya menatap Lidia yang kini sudah banjir air mata. "Ayah saya sudah sangat baik membantu kalian dengan uang sebesar itu, tapi ini balasan kalian? Menghina keluarganya?"
Pak Tyo menitikkan air mata. Malu dan hancur menyatu dalam dadanya. Ia bangkit dengan ragu, meraih lengan Aditya dengan tangan yang bergetar. "Maaf... Om minta maaf, Nak Adi... Tolong jangan bahas hutang itu lagi. Om benar-benar tidak sanggup melunasinya sekarang."
Pak Tyo menangis tersedu-sedu. Ia merasa sangat hina di depan anak sahabatnya sendiri. "Om akan melupakan niat perjodohan ini. Om akan menegur Lidia dan Effi. Kami akan meminta maaf pada orang tuamu."
Aditya terdiam sejenak. Ia merasa sedikit tidak tega melihat tangis Pak Tyo, namun ia tahu gertakan ini diperlukan agar mereka jera.
"Saya akan pertimbangkan untuk melupakan hutang itu, asalkan kalian meminta maaf secara tulus kepada Ayah dan Ibu saya."
Aditya bangkit, merapikan pakaiannya dengan tenang. "Kalau begitu, saya pamit. Selamat malam."
Ia melangkah gagah meninggalkan rumah itu, meninggalkan keluarga Tyo yang hancur dalam kesadaran dan rasa malu. Tangis Lidia pecah begitu pintu tertutup. Ia frustasi, dendam, dan malu karena rahasia kelam papanya terbongkar.
"Papa mohon, Ma... Lidia... turuti syarat Aditya. Kita tidak bisa melawan mereka," lirih Pak Tyo sambil memeluk istrinya yang hanya bisa menatap kosong ke depan.
━◦○◦━◦○◦━◦○◦━◦○◦━◦○◦━◦○◦━◦○◦━◦○◦
🌌 Hela Napas di Ujung Badai
Di sisi lain, di balkon kamarnya, Pak Wijaya sedang menatap rembulan saat ponselnya bergetar.
"Alhamdulillah, semua beres, Yah. Adi yakin mereka tidak akan berani lagi," lapor Aditya dari seberang telepon.
Pak Wijaya menghela napas lega. "Bagus, Nak. Terima kasih. Sekarang istirahatlah."
Setelah menutup telepon, Pak Wijaya bergumam pelan pada angin malam. "Tyo, maafkan aku jika cara putraku terlalu keras... tapi kita memang harus saling sadar diri."
Bersambung__
____