Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Ingin dan Takut
Pertemuan itu… seharusnya sederhana.
Dua orang bertemu.
Berbicara sebentar.
Lalu kembali ke hidup masing-masing.
Tapi tidak untuk Nara dan Arka.
Sejak hari di kafe itu, ada sesuatu yang berubah lagi.
Bukan seperti dulu.
Tapi juga… bukan seperti sebelumnya.
“Lo sampai rumah?”
Pesan itu muncul malamnya.
Dari Arka.
Nara menatap layar ponselnya cukup lama.
Jantungnya berdetak lebih cepat
hal yang sudah lama tidak dia rasakan.
Dulu, pesan seperti itu biasa.
Sekarang… terasa berarti.
“Udah.”
Akhirnya dia balas.
Singkat.
Beberapa detik.
Balasan datang lagi.
“Good.”
Hanya satu kata.
Tapi cukup untuk membuat Nara… diam.
Karena di satu sisi itu terasa seperti dulu.
Tapi di sisi lain semuanya tidak lagi sama.
Hari-hari setelah itu berjalan aneh.
Tidak ada janji untuk bertemu lagi.
Tapi mereka tetap saling menghubungi.
Kadang Arka yang mulai.
Kadang… Nara.
“Lo lagi apa?”
“Kerjaan gimana?”
“Udah makan?”
Percakapan sederhana.
Ringan.
Tapi justru itu yang berbahaya.
Karena perlahan…
mereka mulai nyaman lagi.
Dan kenyamanan itu… mengingatkan.
Suatu malam, Nara duduk sendiri di kamarnya.
Ponsel di tangan.
Chat dengan Arka terbuka.
Dia membaca ulang percakapan mereka beberapa hari terakhir.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang berlebihan.
Tapi juga… tidak netral.
“Gue lagi ngapain sih…”
Bisiknya pelan.
Karena dia sadar
ini bukan sekadar ngobrol biasa.
Ini… mulai terasa lagi.
Di sisi lain, Arka juga merasakan hal yang sama.
Dia sedang duduk di meja kerjanya.
Laptop terbuka.
Tapi pikirannya tidak di sana.
Melainkan pada satu nama yang terus muncul di layar ponselnya.
Nara.
Arka menghela napas panjang.
Mengusap wajahnya.
“Jangan mulai lagi…”
Gumamnya.
Tapi dia tahu
dia sudah mulai.
Hari berikutnya, mereka bertemu lagi.
Bukan kebetulan.
Kali ini… direncanakan.
“Cuma ngobrol,” kata Arka waktu itu.
Dan Nara… mengiyakan.
Sekarang, mereka duduk berhadapan.
Di tempat yang berbeda.
Tapi suasananya…
terlalu familiar.
“Lo masih suka kopi pahit ya?”
Arka bertanya sambil melihat minuman di depan Nara.
Nara tersenyum kecil.
“Iya. Nggak berubah.”
Arka ikut tersenyum.
“Tapi lo berubah.”
Nara menatapnya.
“Lo juga.”
Hening.
Bukan canggung.
Tapi penuh dengan hal yang tidak diucapkan.
“Ka…”
Nara akhirnya bicara.
Suaranya lebih serius.
Arka langsung menatapnya.
“Kita lagi ngapain?”
Pertanyaan itu
akhirnya keluar.
Arka terdiam.
Beberapa detik.
“Ngobrol?”
Jawaban paling aman.
Nara tersenyum tipis.
“Iya. Tapi… nggak sesederhana itu.”
Hening.
“Lo ngerasain juga kan?” lanjut Nara.
Arka tidak langsung menjawab.
Karena dia tahu… dia merasakannya.
“Gue nggak mau balik ke situasi yang sama,” kata Nara pelan.
Kalimat itu jujur.
Dan penting.
Arka mengangguk.
“Iya.”
“Tapi gue juga nggak bisa pura-pura ini biasa aja.”
Dan itu
adalah inti dari semuanya.
Tarik.
Mereka ingin dekat.
Tapi juga takut terluka lagi.
“Gue masih nyaman sama lo,” kata Arka akhirnya.
Nara menunduk.
Tersenyum kecil.
“Gue juga.”
Hening.
—l
Dan justru itu masalahnya.
“Nyaman itu bahaya, Ka.”
Nara berkata pelan.
Arka mengernyit.
“Karena itu bikin kita lupa… kenapa kita pernah hancur.”
Kalimat itu langsung menampar kenyataan.
Arka terdiam.
Tidak bisa membantah.
“Terus kita harus gimana?” tanyanya.
Nara mengangkat wajah.
Menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
ada ketegasan di matanya.
“Kita harus jujur.”
Satu jeda.
“Ini… bukan tentang kita yang dulu.”
Arka menahan napas.
“Dan kalau kita mau mulai lagi…”
Dia berhenti.
“…harus dari awal. Tanpa pura-pura.”
Kalimat itu menggantung.
Bukan penolakan.
Tapi juga… bukan penerimaan.
Hanya satu hal kemungkinan.
Arka menatapnya lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama
mereka tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Tidak berharap terlalu jauh.
Tapi juga… tidak menutup diri.
Kereta kehidupan mereka yang dulu pernah berhenti sekarang mulai bergerak lagi.
Pelan.
Hati-hati.
Di antara ingin…
dan takut.
Dan kali ini mereka tahu
satu langkah yang salah…
bisa membuat semuanya runtuh lagi.
Tapi tetap saja
mereka memilih… mencoba.