Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benalu dari masa lalu
Usia Adeeva memang baru menginjak sembilan belas tahun. Sebagai mahasiswa baru di jurusan desain—yang kini ia jalani secara daring dari asrama—jiwanya masih sangat labil. Ia sering merindukan Adiba, satu-satunya orang yang benar-benar paham betapa rapuhnya ia di balik sifat pemberontaknya. Sementara Shaheer, pria berkepala tiga dengan kedewasaan yang matang, tampak seperti raksasa yang sulit ia gapai dunianya.
Sore itu, Adeeva baru saja selesai mengikuti kelas daring. Ia keluar menuju teras rumah untuk menghirup udara, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenal terparkir tak jauh dari gerbang penjagaan barak.
Revian Alfie. Pria itu benar-benar nekat.
Dengan langkah terburu-buru, Adeeva berjalan menuju gerbang. Ia tidak ingin Revian membuat keributan di lingkungan militer yang sangat sensitif ini.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Rev? Kamu bisa ditahan kalau macam-macam di sini!" desis Adeeva begitu sampai di samping mobil Revian.
Revian turun dengan wajah kacau. Rambutnya berantakan, dan matanya merah. "Aku tidak peduli, Deeva! Kamu itu masih anak-anak, kamu dipaksa menikah karena Abi-mu malu, kan? Ikut aku sekarang. Aku sudah siapkan apartemen untukmu di Jakarta. Kamu bisa kuliah dengan tenang di sana, tanpa seragam hijau ini."
"Kamu gila! Aku sudah punya suami!"
"Suami? Perwira tua itu?" Revian tertawa sinis. "Dia hanya menganggapmu sebagai beban dinas. Dia tidak mencintaimu, Deeva. Dia hanya kasihan!"
Revian mencengkeram lengan Adeeva, mencoba menariknya masuk ke dalam mobil. Adeeva memberontak, namun tenaganya kalah jauh. Para prajurit jaga di gerbang mulai memperhatikan, namun mereka ragu untuk bertindak karena mengira itu hanya urusan pribadi.
"Lepaskan dia."
Suara itu datang bukan dari gerbang, melainkan dari arah belakang mereka. Shaheer berdiri di sana, masih mengenakan seragam lorengnya setelah kembali dari latihan lapangan. Di sampingnya ada Nadhir yang menatap Revian dengan pandangan tajam.
Revian menegang, namun ia mencoba tetap terlihat berani. "Ini urusanku dengan Adeeva! Kami sudah bersama jauh sebelum kamu datang dengan otoritas militermu!"
Shaheer melangkah maju. Ia tidak langsung memukul atau membentak. Ia justru menarik Adeeva ke belakang tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai tembok pemisah yang kokoh.
"Dengar, Dokter Revian," ucap Shaheer dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Saya tahu siapa Anda. Saya tahu sejarah Anda dengan istri saya. Tapi mulai detik ini, satu langkah saja Anda mendekat atau satu jari saja Anda menyentuhnya, saya tidak akan menggunakan jalur hukum."
Shaheer mendekatkan wajahnya ke telinga Revian, suaranya merendah. "Saya akan memastikan karier medis Anda berakhir di meja pengadilan militer atas tuduhan pelecehan terhadap keluarga perwira. Dan percayalah, saya punya cukup banyak saksi untuk itu."
Nadhir ikut melangkah maju, tangannya sudah memegang borgol di pinggangnya. "Mau kami angkut sekarang, atau mau pergi dengan sopan, Dok?"
Revian gemetar. Ia melihat tatapan Shaheer yang dingin dan tidak memiliki celah untuk diajak kompromi. Ia juga sadar bahwa di belakang Shaheer, ada belasan prajurit yang siap bergerak hanya dengan satu isyarat.
"Kamu akan menyesal, Deeva! Pria ini akan mengurungmu selamanya!" teriak Revian sambil masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu pergi dengan terburu-buru.
Setelah mobil itu hilang, suasana menjadi hening. Adeeva masih gemetar, bukan karena takut pada Revian, tapi karena terkejut melihat sisi pelindung Shaheer yang begitu nyata.
"Masuk ke rumah," ujar Shaheer tanpa menoleh pada Adeeva.
Adeeva menurut tanpa protes. Di dalam rumah, Shaheer melepas baret dan perlengkapannya, lalu duduk di kursi meja makan. Ia menghela napas panjang.
"Maaf... aku tidak tahu dia akan senekat itu sampai ke sini," bisik Adeeva sambil menunduk.
Shaheer menatap istrinya yang tampak sangat kecil dan muda itu. "Dia tidak akan kembali lagi. Aku sudah memerintahkan Provost di gerbang untuk mem-blokir akses mobilnya."
"Kenapa kamu tidak marah padaku? Dia tadi bilang kita punya masa lalu..."
"Masa lalumu bukan urusanku, Adeeva. Urusanku adalah memastikan tidak ada orang yang menyakitimu saat kamu sudah memakai nama belakangku," jawab Shaheer. Ia berdiri, lalu mengusap kepala Adeeva pelan. "Kamu masih muda, masih banyak hal yang harus kamu pelajari tentang hidup. Tapi jangan pernah merasa sendirian menghadapi benalu seperti dia."
Adeeva merasakan dadanya sesak oleh rasa haru. Shaheer yang jauh lebih tua darinya ternyata memiliki kesabaran yang tidak pernah ia temukan pada pria mana pun, termasuk ayahnya.
"Terima kasih... Kapten," ucap Adeeva tulus.
"Sama-sama. Sekarang ganti bajumu, kita makan malam di luar. Aku tidak mau kamu stres memikirkan dia," ajak Shaheer.
Di saat yang sama, di luar rumah, Kaysan sedang mengintai dari balik pohon, melihat adegan haru itu sambil tersenyum. Ia menoleh ke arah Fathiyah yang kebetulan baru pulang dari rumah sakit.
"Lihat tuh, Dok. Bang Shaheer sudah jadi pahlawan. Dokter kapan mau saya selamatkan dari status jomblo?" goda Kaysan.
Fathiyah hanya mendengus, namun kali ini ia tidak membalas dengan kata-kata pedas. Ia melihat bagaimana Shaheer menjaga Adeeva, dan ia mulai menyadari bahwa mungkin, hanya mungkin, kakaknya memang menemukan apa yang selama ini ia cari dalam diri gadis pemberontak itu.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...