Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Pistol yang Berubah Menjadi Lomba Lari
Pagi itu, kabut tipis menyelimuti area perbukitan di luar Roma, tempat yang biasanya digunakan klan De Luca untuk menyelesaikan sengketa "kehormatan". Tanah lapang itu dikelilingi oleh pohon-pohon zaitun tua yang menjadi saksi bisu sejarah kekerasan keluarga mereka. Namun, hari ini, sejarah tersebut terancam dicoreng oleh sesuatu yang jauh lebih mematikan daripada peluru: ketidakmampuan Bianca menggunakan senjata api.
Di tengah lapangan, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan rambut klimis dan jaket kulit mahal. Namanya Marco "Si Belut" Moretti, sepupu Isabella yang merasa terhina karena rumor bahwa Lorenzo De Luca menyebut klan Moretti sebagai "singa ompong yang butuh masker lumpur". Marco menantang Lorenzo untuk sebuah duel kehormatan satu lawan satu.
"Lorenzo!" teriak Marco, suaranya menggema di lembah. "Kau telah menghina kehormatan Moretti dengan leluconmu yang merendahkan. Hari ini, kita selesaikan seperti pria sejati. Sepuluh langkah, berbalik, dan tembak!"
Bianca—yang terjebak dalam tubuh perkasa Lorenzo—berdiri dengan lutut yang gemetar. Ia memegang sebuah pistol Beretta 92FS seolah-olah itu adalah seekor tikus mati yang menjijikkan. Di sampingnya, Valerio dan Dante berdiri sebagai saksi, sementara Lorenzo (dalam tubuh Bianca) berdiri di garis pengawas dengan wajah sepucat kapas.
"Mas... Mas Lorenzo... tolong saya," bisik Bianca melalui mikrofon tersembunyi. "Saya nggak bisa nembak! Terakhir saya megang senjata itu cuma pistol air pas lomba agustusan di kampung!"
"Tenang, Bianca!" suara Lorenzo terdengar panik di telinga Bianca. "Kau hanya perlu berakting berani. Marco itu pengecut, dia akan gemetar kalau melihat tatapan mataku. Masalahnya, tatapan mata itu sekarang ada di wajahmu! Jadi, melototlah seolah-olah kau ingin memakannya hidup-hidup!"
Bianca mencoba melotot, tapi karena ia sangat ketakutan, matanya malah terlihat seperti orang yang sedang kelilipan debu.
"Lorenzo! Kau sudah siap?!" tantang Marco lagi sambil mengokang pistolnya.
Valerio melangkah maju untuk memberikan aba-aba. "Aturannya sederhana. Kalian berdiri saling membelakangi. Aku akan menghitung satu sampai sepuluh. Pada hitungan kesepuluh, kalian berbalik. Siapa yang paling cepat, dia yang hidup."
Dante menyipitkan mata. "Lorenzo, kenapa kau memakai sepatu lari bukannya bot kulitmu?"
Bianca melirik ke bawah, ke arah sepatu kets neon yang ia paksa Lorenzo beli kemarin. "Ini... ini teknologi baru, Dante. Biar pijakannya lebih mantap, nggak licin kena embun."
Sebenarnya, Bianca sudah menyiapkan rencana cadangan. Jika ia tidak bisa menembak, ia harus bisa lari.
"Posisi!" teriak Valerio.
Bianca dan Marco berdiri saling membelakangi. Punggung Bianca yang lebar bersentuhan dengan punggung Marco. Bianca bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dada bidang Lorenzo.
"Satu..." Valerio mulai menghitung.
Bianca melangkah maju. Duh, kalau saya mati sekarang, kasihan ibu kos di Jakarta nggak ada yang bayar tunggakan, pikirnya.
"Dua..."
Lorenzo di pinggir lapangan hampir tidak bisa bernapas. "Ingat, Bianca! Pada hitungan kesembilan, kau harus sudah menarik pelatuk pengamannya!"
"Tiga..."
Bianca mulai berkeringat dingin. Jaket kulitnya terasa sangat berat.
"Empat... Lima... Enam..."
Marco terus melangkah dengan mantap. Ia adalah penembak jitu, dan ia tidak sabar untuk melubangi kepala Lorenzo De Luca yang menurutnya sudah mulai gila.
"Tujuh..."
Bianca mulai mengambil napas pendek-pendek. Ia teringat nasihat emaknya: Kalau ada bahaya dan nggak bisa lawan, lari sejauh mungkin, Nduk!
"Delapan..."
"Sembilan!"
Tepat sebelum hitungan kesepuluh, Bianca tidak berbalik. Alih-alih berputar dan menembak, ia justru melakukan start lari sprint 100 meter. Begitu Valerio membuka mulut untuk meneriakkan "Sepuluh!", Bianca sudah melesat maju ke arah semak-semak dengan kecepatan yang belum pernah dilihat dalam sejarah mafia Italia.
"SEPULUH!"
Marco berbalik dengan cepat, siap melepaskan tembakan. Namun, di depannya tidak ada siapa-siapa. Ia hanya melihat punggung Lorenzo yang sedang berlari zig-zag menjauhi lapangan sambil berteriak.
"TOLONG! ADA ORANG GILA BAWA PISTOL! MAMA, BIANCA MAU PULANG!" teriak Bianca dengan suara bariton Lorenzo yang menggelegar di seluruh lembah.
Marco terpaku. Ia menurunkan pistolnya dengan wajah melongo. "Apa... apa yang terjadi? Lorenzo De Luca melarikan diri?"
Valerio dan Dante membeku di tempat. Mereka melihat kakak mereka, sang singa Roma, sedang melompat melewati pagar kayu dengan lincahnya dan menghilang di balik deretan pohon zaitun.
"Lorenzo?" Valerio berkedip tidak percaya. "Dia... dia kabur?"
Lorenzo (tubuh Bianca) langsung menepuk wajahnya sendiri. "Habis sudah... reputasiku hancur berkeping-keping menjadi debu kosmik."
Namun, Marco tidak tinggal diam. Merasa dihina karena lawannya tidak mau bertarung secara "terhormat", ia mulai mengejar. "KEMBALI KAU, PENGECUT! HADAPI AKU SEPERTI PRIA!"
Maka terjadilah pemandangan paling aneh di perbukitan Italia. Seorang mafia kelas atas dari klan Moretti mengejar bos besar klan De Luca, bukan dalam aksi kejar-kejaran mobil yang dramatis, melainkan lomba lari lintas alam.
Bianca terus berlari. Tubuh Lorenzo ternyata sangat kuat dan memiliki stamina luar biasa. "Gila, ini paru-parunya kapasitas berapa liter sih? Nggak capek-capek!" gumam Bianca sambil terus melompati batu-batu besar.
"Bianca! Berhenti lari dan tembak dia!" teriak Lorenzo melalui interkom. "Dia mengejarmu! Kalau kau tidak menembak, dia yang akan menembak punggungmu!"
"Nggak mau, Mas! Dosa nembak orang! Mending saya ajak dia lomba maraton!" balas Bianca sambil terengah-engah.
Bianca melihat sebuah bukit kecil di depannya. Ia mendapatkan ide cemerlang. Karena ia sering menonton kartun di TV, ia tahu bahwa cara terbaik untuk menghentikan pengejar adalah dengan jebakan gravitasi.
Saat Marco mulai mendekat, Bianca tiba-tiba berhenti di balik sebuah pohon besar. Marco yang sedang berlari kencang tidak bisa mengerem mendadak.
"Dapet kau, Lorenzo!" seru Marco sambil mengarahkan pistolnya.
Tapi Bianca lebih cepat. Ia menggunakan kaki panjang Lorenzo untuk menyandung kaki Marco.
GUBRAK!
Marco terjatuh tersungkur, pistolnya terlempar ke arah semak-semak. Sebelum Marco bisa bangkit, Bianca justru tidak memukulnya. Ia malah jongkok di samping Marco yang sedang meringis kesakitan.
"Mas Marco, capek ya?" tanya Bianca dengan wajah polos (di wajah Lorenzo yang sangar). "Lagian Mas galak banget sih pagi-pagi. Mending kita olahraga begini, sehat lho buat jantung. Lihat tuh, mukanya udah merah kayak kepiting rebus."
Marco menatap Bianca dengan tatapan ngeri. "Kau... kau sudah gila, Lorenzo! Kenapa kau tidak menembakku?"
"Habis pelurunya mahal, Mas. Sayang," jawab Bianca santai. "Gimana kalau kita damai aja? Mas pulang, bilang sama Isabella kalau saya ini lagi sakit tipes, jadi nggak bisa duel lama-lama. Gimana?"
Tepat saat itu, Valerio, Dante, dan Lorenzo (tubuh Bianca) sampai di lokasi. Mereka melihat Lorenzo (Bianca) sedang duduk santai di samping Marco yang terkapar.
"Lorenzo!" bentak Valerio. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa dia tidak mati?!"
Bianca berdiri, merapikan jasnya yang kini kotor kena tanah. "Val, kematian itu membosankan. Tadi saya baru saja memberikan 'edukasi fisik' pada Marco. Saya tunjukkan bahwa klan De Luca lebih cepat dari peluru. Benar kan, Marco?"
Marco, yang merasa sangat bingung dan sedikit trauma karena baru saja disapa dengan ramah oleh musuh bebuyutannya, hanya bisa mengangguk pasrah. "Dia... dia terlalu cepat. Aku tidak bisa membidiknya."
Dante menatap Bianca dengan tatapan menyelidik. "Kau lari zigzag, melompati pagar, lalu menyandungnya? Itu bukan gaya bertarungmu, Lorenzo. Kau biasanya langsung menembak di antara kedua mata lawan tanpa berkedip."
"Nah, itu dia masalahnya, Dante," Bianca merangkul bahu adiknya yang kaku. "Dunia ini sudah terlalu banyak darah. Kita butuh variasi. Anggap saja ini sportmanship tingkat tinggi."
Lorenzo (tubuh Bianca) mendekat, memberikan air minum pada tubuh aslinya. Ia berbisik, "Kau benar-benar beruntung Marco itu bodoh. Tapi Valerio dan Dante tidak sebodoh itu. Kau berhutang penjelasan besar padaku nanti malam."
Bianca hanya nyengir, lalu menoleh ke arah Valerio yang masih tampak sangat kecewa. "Ayo pulang! Saya laper banget. Tadi lari 2 kilo lumayan juga bakar kalori."
Sambil berjalan kembali ke mobil, Bianca sempat berteriak pada Marco yang masih terduduk di tanah. "Mas Marco! Jangan lupa pakai balsem ya kalau kakinya pegel! Nanti saya kirimkan dari Palazzo!"
Marco hanya bisa terdiam, memikirkan apakah dia baru saja kalah duel atau baru saja mendapatkan teman lari pagi yang baru.
Hari itu, reputasi Lorenzo De Luca sebagai pembunuh berdarah dingin mungkin mulai bergeser menjadi "pelari lintas alam yang ramah". Dan bagi kembar tiga De Luca, misteri tentang perubahan kepribadian kakak mereka kini sudah mencapai puncaknya.
Dante menatap punggung Bianca yang berjalan dengan gaya santai, lalu berbisik pada Valerio, "Kita harus melakukan tes DNA pada orang itu. Atau setidaknya, kita harus memeriksa apakah otaknya tertukar dengan otak asistennya yang semprul itu."
Valerio hanya mendengus. "Aku tidak peduli otaknya tertukar atau tidak. Yang jelas, dia harus mengembalikan sepatu kets neon itu. Itu benar-benar merusak pemandangan."
Sementara itu, Bianca merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Ia berhasil selamat dari duel pistol tanpa harus meneteskan darah setetes pun. Meski ia harus berlari sampai napasnya hampir putus, bagi Bianca, itu jauh lebih baik daripada harus menjadi pembunuh.
Duh, untung dulu di sekolah saya sering lari dikejar guru BP kalau bolos, batin Bianca sambil masuk ke dalam mobil Maserati. Ternyata pengalaman itu berguna juga di dunia mafia.
......................
Glosarium Bahasa Italia di Bab Ini:
Sportmanship: Sportivitas (istilah internasional).
Maraton: Lari jarak jauh.
Ciao: Halo/Sampai jumpa.
Signore: Tuan.
Veloce: Cepat.
Stupido: Bodoh.