Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Naya
Bab 17 – Naya
Putaran air coklat dengan es batu di dalam gelas kaca membuat aku terhipnotis. Suara bising musik di kafe kecil itu, tidak bisa membuatku berhenti melamun. Banyak pesan dari Risa, Shanaz dan Devi di ponselnya, tapi tidak ada satu pun yang mau aku dibalas.
Risa : Elu sama Bima ada apa?
Devi : Coba elu pikirin lagi, ketemu orang tuanya Bima, bukan kayak ketemu macan kok. Elu nggak bakalan digigit.
Shanaz : Kak, kasian Kak Bima nyariin tuh!
Memang sih, orang tua Bima itu manusia. Dan aku tahu orang tuanya itu bukan orang tua kandung. Dan mereka berada dari kalangan biasa, bukan kalangan artis. Tapi mungkin karena semuanya terlalu mendadak, aku kayaknya nggak sanggup untuk menerima lamaran Bima.
Ponselku berdering.
Dari siapa lagi? Kak Risa, Shanaz, atau Devi? Tanyaku sambil mengambil ponselku, ternyata dari mama. Apa Bima ke rumah? Gila sih, berarti niat banget dia…
Aku melamun ke arah barista yang sedang sibuk membuat minuman di depanku. Beberapa orang sedang duduk WFC di kursi lain. Mataku terpaku di pojokkan ada orang yang sedang, sepertinya pacaran, ngobrol sambil tertawa.
Dulu, aku dan Alfian seperti itu. Dulu, semuanya berjalan seperti alami dan apa adanya, tidak ada yang memaksa, atau situasi yang seperti sekarang, serba diburu-buru.
Ponselku berdering lagi. Aku terpaksa menjawabnya. “Halo?”
“Nay, kamu di mana?” tanya mamaku.
“Di kafe,” aku benar-benar ada di kafe, tidak berbohong.
“Kafe kantor?” tanya mama lagi.
“Kenapa?” tentu saja aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Prinsip dalam hidupku, aku tidak mau berbohong pada orang tuaku.
“Risa neleponin mama, katanya kok kamu nggak ke kantor!”
“Oh, lagi mau wfc di tempat lain, Ma.”
“Bilang sama Risa, biar dia nggak nyariin.”
“Iya, ntar aku bilang.”
“Jadi sekarang kamu di kafe mana?”
Aku menghela napas, ternyata mama cuma ditanyain Risa saja, “Aku lagi di kafe molding.”
“Ya udah. kabarin Kak Risa dan yang lain.”
“Iya, Ma.”
Aku tutup telepon. Pesan dari Bima terlihat kembali.
Bima : Kamu belum mau ketemu sama orang tua aku?
Bima : Its okay. Aku kasih kamu waktu.
Bima : Tapi kasih tau aku, kamu maunya gimana?
..
Bima : Apa aku salah?
Aku menghela napas, mengacak-acak kepalaku, lalu merapikan kerudungku. Aku kembali fokus ke laptop. Ada beberapa lowongan kerja yang membuatku tertarik. Memang menjadi WO sebetulnya menjanjikan, apalagi Risa memang berniat untuk membuat WO-nya menjadi besar, tapi sepertinya aku harus punya rencana cadangan.
Setelah mencoba bikin CV dan memikirkan apakah mau cari kerja kantoran atau tidak. Tiba-tiba pintu kafe terbuka.
Semua menatap ke arah pintu kafe. Tentu saja, karena yang masuk ke dalam kafe itu adalah Celsi. Meski bukan artis, tapi orang tahu dia cocok jadi model. Kulitnya bersih, mulus, pakaiannya juga fashionable, seperti Bima.
Aku berusaha bersembunyi di balik laptop. Semoga kalau aku tidak menatap matanya, Celsi tidak tahu aku ada di sini. Semoga setelah dia beli kopi, dia langsung pergi. Semogaaaa…
Celsi duduk di hadapanku dan berkata, “Kamu kenapa tiba-tiba ngilang?”
Mati! Ternyata dia ke sini bukan mau beli kopi, tapi emang lagi nyari aku.
Aku melirik di balik laptop, menatap matanya yang duduk dengan kedua tangan di atas meja dan mata serius menatapku. Tangannya lalu menutup laptopku.
“Eh, kak Celsi,” kataku sambil nyengir.
“Bima nyariin kamu tau nggak?”
“Oh…, ehm, iya. Aku low bat!” kataku melirik ke ponselku.
Ponselku menyala karena ada notifikasi pesan masuk dari Risa, sehingga Celsi bisa melihat batereai ponselku masih 70%.
“Oh, low bat?” tanyanya.
“Iya, ini baru di cas, kak,” kataku sambil membalikkan ponselku.
“Nay, kita ini udah sama-sama dewasa. Kalau ada yang nggak kamu suka, atau ada pertanyaan, atau ada yang bikin kamu bingung. Mending omongin aja. Kita cari jalan tengah atau solusinya.”
Aku menelan ludah, tidak bisa bicara. Aku tidak mau jadi dewasa terlalu cepat seperti ini. Aku pengen bisa jadi anak muda yang masih mengejar mimpi. Dan mungkin karena itu, Alfian memutuskan pertunanganku.
“Aku kasih tau Bima, kamu ada di sini ya?” Celsi mengambil ponselnya dan mengetik pesan.
“Kak Celsi tau dari mana aku di sini?”
“Aku ke rumah kamu,” jawabnya sambil masih mengetik pesan.
Sudah kuduga.
“Oke, kalau kamu nggak mau ngomong sama Bima. Coba cerita sama aku, ada apa?” tanya Celsi.
Aku adalah anak tunggal. Nggak punya kakak atau adik. Kalau boleh milih, aku mau aja sih Celsi jadi kakak aku. Pasti semua pertanyaanku bisa dijawab, meski mungkin kalau dia jadi kakak aku bakalan jadi kakak yang bawel ngatur-ngatur adiknya.
“Kamu nggak mau jawab?”
“Aku…,”
“Ya?”
“Aku takut ketemu orang tuanya Bima, Kak,” kataku akhirnya menyerah. “Aku takut mereka nganggep aku anak kecil. Takut dijudge gen z, aku …”
“Itu aja?” tanya Celsi.
Aku menunduk, “Sebenernya bukan cuma itu sih,”
“Tapi?”
--
Aku mengikuti Celsi turun dari taksi online. Kami masuk ke sebuah kantor yang berbentuk rumah di Jakarta Selatan. Rumah itu besar. Ada ruangan studio, ada ruangan meeting dengan meja besar, dan ada ruangan dengan televisi yang besar. Aku dan Celsi masuk ke sebuah ruangan kecil. Mungkin ruangan itu tempat kerjanya Celsi.
Ternyata Bima sudah ada di sana.
“Mending kalian ngobrol deh berdua,” kata Celsi menutup pintu.
Aku benar-benar seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh dua orang kakak.
“Oke, nggak ada yang mau ngomong, kalau gitu aku yang jelasin,” kata Celsi berdiri di antara aku dan Bima. “Jadi Naya denger gosip soal elu deket sama cewek, Bim.”
“Oh,” Bima kaget. “Itu cuma gosip. Kan kamu tahu aku cuma serius sama kamu.”
“Bukan cuma itu,” Celsi seolah menahan tawa. “Dia juga denger katanya kamu mau nikah.”
“Oh,” Bima menatap Celsi, lalu menatapku. “Ya memang, aku mau nikah sama kamu.”
“Tapi katanya kamu ketemu WO juga, udah siapin pernikahan kamu!” akhirnya aku menunjukkan gosip di sebuah akun media sosial.
Sebuah postingan foto Bima memberikan coklat ke Mutia dan Bima menggandeng Mutia di mall. Dengan caption Bima sedang dekat dengan perempuan! Dan sering ketemu WO!
Bima menatap Celsi, lalu tertawa terbahak-bahak. Celsi ikutan tertawa.
Gila! Aku dianggap bener-bener kayak anak kecil!
“Kenapa malah pada ketawa sih?” tanyaku kesal.
Bima dan Celsi masih tertawa.
“Oke. Kalau aku ternyata cuma dijadiin bercandaan!” aku balik badan, lalu membuka pintu kantor. Tapi Bima menarik tangan dan menahanku.
“Cewek itu namanya Mutia, dia itu anak dari temannya ibuku. Ibuku ingin menjodohkan aku sama dia. Aku jelas nggak mau. Makanya begitu aku ketemu kamu, buat apa aku tunda, mending aku nikah sama kamu, daripada dijodohkan dengan cewek-cewek macam itu lagi.”
“Ehmmm,”
“Soal WO. Aku ketemu orang WO, ya kan kamu! Kamu orang WO-nya,” kata Bima sambil melirik Celsi yang tersenyum ramah.
Sial. Kok aku jadi beneran kaya orang bodoh, kayak anak kecil yang labil dan nggak punya pendirian. Mungkin wajahku sekarang sudah berubah merah.
Tiba-tiba Celsi keluar ruangan.
“Kemana, kak?” tanya Naya.
Celsi hanya tersenyum, lalu keluar ruangan dan menutup pintu.
Jantungku berdebar tiga puluh juta kali lebih cepat dari pada perputaran bulan mengelilingi bumi. Aku hanya berdua dengan Bima!