Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Benang Hitam Masa Lalu
Malam di Mapo terasa lebih tenang setelah kepulangan keluarga besar Smith. Matteo baru saja meninggalkan apartemen Chae-young setelah sesi makan es krim yang penuh tawa bersama si kembar. Meski Chae-young sudah mulai membuka hati—terlihat dari caranya yang tidak lagi sekaku papan saat Matteo menyentuh pundaknya—tetap saja ada lubang besar di hatinya yang belum tertutup.
Kenapa baru sekarang?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Chae-young saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, dengan jepit rambut bunga lili yang masih terpasang indah.
Kau punya segalanya, Matteo. Kau punya koneksi, kau punya uang. Jika kau benar-benar ingin mencariku lima tahun lalu, kau pasti bisa. Tapi kau membiarkanku hancur sendirian.
Rasa bersalah atas malam itu memang ada, tapi luka akibat pengabaian selama lima tahun jauh lebih nyata bagi Chae-young.
Di bawah gedung apartemen, Matteo masuk ke dalam mobil sport hitamnya dengan senyum tipis yang masih tersisa. Ia tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, sebuah mobil sedan perak yang sudah agak kusam terparkir di bawah bayang-bayang pohon.
Di dalam mobil itu, Park Soo-hee mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Matanya yang penuh iri menatap tajam ke arah Matteo yang sedang memundurkan mobilnya.
"Siapa pria itu?" desis Soo-hee.
"Wajah itu... mata biru itu..."
Soo-hee gemetar, bukan karena takut, tapi karena gairah jahat yang meledak di dadanya. Ia baru saja melewati masa-masa paling kelam dalam hidupnya. Setelah berhasil merebut tunangan Chae-young lima tahun lalu dan menikahinya, dunia seolah berbalik menghukumnya. Suaminya bangkrut total satu bulan yang lalu, terlilit hutang judi, dan akhirnya Soo-hee memutuskan untuk menceraikan suaminya itu.
Soo-hee yang kini seakan merasa tidak punya apa-apa, sementara kakaknya yang ia anggap sampah keluarga karena hamil di luar nikah, justru terlihat didekati oleh pria yang auranya seperti dewa.
"Tidak mungkin... tidak mungkin si kembar haram itu punya ayah sekelas dia," gumam Soo-hee. Ia segera mengambil ponselnya, memotret plat nomor mobil Matteo dan profil samping pria itu sebelum mobilnya melesat pergi.
Bagi Soo-hee, kebahagiaan Chae-young adalah penghinaan baginya. Jika ia harus hancur, maka Chae-young harus tetap berada di bawah kakinya.
Keesokan harinya, Matteo kembali menunjukkan pesonanya. Ia tidak datang ke butik, melainkan mengirimkan sebuah buket bunga Lily of the Valley yang sangat langka ke alamat Chae-young dengan catatan kecil.
"Aku tahu bunga ini favoritmu. Sampai jumpa siang nanti. - M"
Chae-young menatap bunga itu dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja hendak meletakkan bunga itu di vas ketika pintu butiknya terbuka dengan kasar. Bukan pelanggan, tapi badai masa lalu yang ia hindari.
Park Soo-hee.
"Wah, wah... lihat siapa yang sekarang sedang bermain menjadi putri di istana bunganya," sapa Soo-hee dengan nada sarkastik yang kental. Ia melangkah masuk, matanya menilai setiap sudut butik Chae-young dengan tatapan meremehkan.
Chae-young menghela napas, mencoba tetap tenang. "Apa yang kau lakukan di sini, Soo-hee? Jika tidak ada urusan, silakan keluar. Aku sibuk."
"Sibuk apa? Sibuk melayani pria kaya yang semalam keluar dari apartemenmu?" Soo-hee mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Chae-young.
"Aku melihatnya, Kak. Pria tampan dengan mobil mewah. Siapa dia? Apa dia mangsa barumu? Atau jangan-jangan dia adalah pria bodoh yang kau tipu dengan mengatakan dia ayah dari si kembar?"
"Jaga bicaramu, Soo-hee!" Chae-young menepis tangan Soo-hee yang hendak menyentuh bunga pemberian Matteo.
"Dia bukan urusanmu."
"Tentu saja dia urusanku jika dia berpotensi memberikan harta pada keluarga kita!" Soo-hee tertawa melengking, tawa yang penuh dengan kepahitan.
"Aku akan bercerai, Kak. Aku butuh uang. Dan melihatmu didekati pria setingkat itu, aku rasa kau harus berbagi keuntungan denganku."
Chae-young menatap adiknya dengan rasa kasihan. "Kau tidak berubah. Tetap serakah dan licik. Pergilah, sebelum aku memanggil keamanan."
"Panggil saja!" Tantang Soo-hee.
Tatapan Soo-hee yang penuh kebencian seolah menembus dinding pertahanan Chae-young. Di balik aroma bunga Lily of the Valley yang segar, bau busuk masa lalu mendadak menyeruak kembali. Chae-young meremas pinggiran meja butiknya, mencoba menahan gemetar di tangannya.
"Kenapa? Kau takut rahasiamu terbongkar?" Soo-hee tertawa, suaranya terdengar seperti gesekan amplas di telinga Chae-young.
"Kau pikir pria setingkat dia akan tetap memujamu jika tahu kau adalah wanita yang sengaja menjual diri di hotel lima tahun lalu?"
Chae-young menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ingatannya tentang malam itu memang sudah kembali sejak kecupan Matteo, tapi ada satu kepingan puzzle yang baru saja ia sadari setelah melihat seringai Soo-hee.
Lima tahun lalu, Chae-young hanyalah seorang gadis yang kelelahan. Sebagai tulang punggung keluarga setelah ibu mereka meninggal, ia bekerja siang malam untuk membiayai pengobatan Ayah dan gaya hidup Soo-hee yang rakus. Ayah mereka selalu berusaha adil, membagi kasih sayang dengan rata, namun bagi Soo-hee, itu tidak pernah cukup. Ia ingin tabungan masa tua Ayah, ia ingin perhatian mutlak, dan ia ingin menghancurkan Chae-young yang selalu dianggap sebagai anak emas.
Malam itu, Soo-hee sengaja menuangkan sesuatu ke dalam minuman Chae-young di sebuah bar kecil—obat perangsang yang dosisnya cukup kuat untuk melumpuhkan logika. Rencana Soo-hee sangat keji, ia ingin menjual kakaknya sendiri kepada seorang pria tua berperut buncit yang sudah membayar mahal demi memuaskan dendam irinya.
"Kau yang membawaku ke kamar itu, Soo-hee," bisik Chae-young parau.
"Ya, aku membawamu ke sana agar kau hancur!" sahut Soo-hee tanpa rasa bersalah.
"Tapi kau memang jalang yang beruntung. Kau keluar lagi dari kamar yang sudah kusiapkan karena merasa kepanasan, dan kau menghilang di lorong hotel. Aku mencarimu ke mana-mana, tapi kau sudah masuk ke kamar lain."
Chae-young tertegun. Jadi itu alasannya. Ia keluar dari kamar pertama karena merasa ada yang salah, gairahnya tidak terkontrol, dan ia secara tidak sengaja masuk ke kamar 2007 milik Matteo yang tidak terkunci rapat. Jika ia tetap di kamar pertama, ia mungkin sudah hancur di tangan pria tua pesanan Soo-hee.
"Lalu kau pulang pagi harinya dengan kemeja pria yang kebesaran," lanjut Soo-hee dengan senyum kemenangan.
"Aku kecewa karena bukan pria tua itu yang menyentuhmu, tapi melihatmu menangis dan ketakutan itu sudah cukup bagiku. Aku berhasil menghancurkan martabatmu."
Dada Chae-young terasa sesak. Ia teringat sebulan setelah kejadian itu, saat ia menemukan hasil lab dan foto USG di tasnya. Ia mencoba menyembunyikannya rapat-rapat, namun Soo-hee yang licik mencuri dokumen itu.
Dengan tangan dingin, Soo-hee memasukkan bukti kehamilan itu ke dalam amplop tanpa nama dan mengirimkannya langsung ke tangan Ayah mereka. Kejadian itu terjadi tepat satu bulan sebelum pesta pertunangan Chae-young dengan pria pilihan Ayah.
"Ayah meninggal karena kau, Soo-hee," suara Chae-young bergetar hebat.
"Kau yang mengirimkan rahasiaku itu. Kau tahu Ayah punya penyakit jantung, dan kau sengaja membunuhnya dengan berita itu!"
"Ayah mati karena malu punya anak sepertimu!" teriak Soo-hee.
"Bukan karena aku! Seharusnya kau yang merasa bersalah karena membiarkan dirimu hamil oleh pria entah berantah!"
Chae-young memejamkan mata. Bayangan Ayahnya yang jatuh tersungkur sambil memegang dadanya setelah membaca isi amplop itu kembali menghantuinya. Ayahnya tidak pernah sempat mendengar penjelasannya. Ayahnya pergi dengan kekecewaan mendalam, meninggalkan Chae-young dalam lubang penderitaan sendirian selama lima tahun.
"Pergilah, Soo-hee," ucap Chae-young dingin, suaranya kini terdengar hampa.
"Uang, harta, atau pria. Kau tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Kau sudah membunuh Ayah, dan aku tidak akan membiarkanmu membunuh masa depan anak-anakku."
"Kita lihat saja nanti, Kakak tersayang," Soo-hee menyambar tasnya, matanya berkilat penuh dendam.
"Jika pria bermata biru itu tahu kalau kau masuk ke kamarnya karena efek obat dan hampir menjadi santapan pria tua, aku ragu dia akan tetap menganggap ini sebagai takdir yang indah."
Soo-hee melangkah keluar, membanting pintu butik hingga kacanya bergetar. Chae-young terduduk lemas di lantai, air matanya jatuh membasahi kelopak bunga Lily of the Valley pemberian Matteo.
Kini ia tahu segalanya. Kebetulan di malam itu adalah hasil dari kekejaman adiknya sendiri. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kebahagiaannya saat ini dibangun di atas puing-puing tragedi yang merenggut nyawa ayahnya.
Di luar butik, Matteo yang baru saja sampai untuk menjemput Chae-young makan siang, melihat Soo-hee keluar dengan wajah penuh amarah. Matteo mengernyitkan dahi. Ia merasakan ada sesuatu yang salah. Ia segera masuk ke dalam dan menemukan Chae-young yang sedang menangis tersedu-sedu di lantai.
"Chae-young-ah!" Matteo berlari menghampiri, menarik wanita itu ke dalam dekapannya.
"Apa yang terjadi? Apa wanita yang barusan keluar melakukan sesuatu padamu?"
Chae-young hanya bisa menggeleng dalam pelukan Matteo. Bagaimana ia bisa menceritakan bahwa pertemuan mereka lima tahun lalu adalah sebuah kesalahan yang direncanakan untuk menghancurkannya? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa pria di depannya ini adalah orang yang secara tidak sengaja menyelamatkannya dari nasib yang lebih buruk, namun sekaligus menjadi alasan Ayahnya tiada?
Matteo mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Chae-young. "Siapa pun yang menyakitimu, akan aku hancurkan, Chae-young. Aku berjanji."
Chae-young hanya terisak. Ia menyadari satu hal, badai ini belum berakhir. Soo-hee adalah iblis yang nyata, dan jepit rambut bunga lili di kepalanya kini terasa lebih berat dari biasanya, membawa beban rahasia yang sanggup menghancurkan segalanya sekali lagi.