Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Balkon gedung kampus
Angin berhembus pelan.
Balkon lantai tiga sudah dipenuhi mahasiswa. Suasana tegang, penuh bisikan dan kecemasan.
Di sisi luar pagar pembatas…
Amy berdiri di tepi balkon.
Tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah hanya butuh satu langkah untuk jatuh.
“Jangan dekati aku!” teriaknya dengan suara bergetar.
Beberapa dosen berdiri tidak jauh darinya, berusaha menenangkan.
“Amy, turun dulu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” ujar salah satu dosen.
Teman-temannya ikut bersuara.
“Amy, jangan lakukan ini!” “Kami percaya padamu!” “Turun dulu, jangan nekat!”
Amy menangis semakin keras.
Wajahnya pucat, matanya sembab. Di pipinya terlihat goresan tipis yang membuatnya tampak semakin menyedihkan.
“Aku sudah tidak kuat lagi…” ucapnya lirih. “Semua orang menyalahkanku… padahal aku korban…”
Kerumunan mulai gaduh.
“Kasihan sekali…” “Katanya dia ditindas Colly…” “Makanya sampai seperti ini…”
Amy menggeleng lemah.
“Papaku terluka… kakakku juga…” suaranya pecah. “Semua karena dia…”
Ia melangkah sedikit lebih maju.
Beberapa mahasiswa langsung berteriak panik.
“Amy, jangan!”
Seorang dosen mengangkat tangan, mencoba menenangkan semua orang.
“Tenang! Jangan membuatnya semakin tertekan!”
Amy menunduk, air matanya jatuh tanpa henti.
“Kalau aku mati…” bisiknya, “mungkin kalian baru akan percaya padaku…”
Suasana langsung hening.
Tak satu pun berani bergerak.
Semua menahan napas.
“Colly Shen telah menghancurkan hidupku!” teriak Amy sambil menangis. “Kakakku menjadi cacat karena dia! Tunanganku juga memutuskan hubungan denganku karena dia!”
Tubuhnya gemetar di tepi balkon.
“Apa gunanya aku hidup lagi? Colly… dia hanya ingin aku mati!”
Kerumunan langsung riuh.
“Amy, abaikan saja dia! Kita usir saja Colly dari kampus ini!”
“Tenang saja, Amy! Begitu dia datang, kami akan mengusirnya!” ujar salah satu dosen mencoba menenangkan.
“Dia sudah keterlaluan! Hanya karena jago bela diri, dia bertindak seenaknya!” sahut mahasiswa lain.
Suasana semakin panas.
Tiba-tiba...
“Buruk! Sesuatu terjadi!” teriak Roby sambil berlari ke arah mereka.
Semua orang menoleh.
“Roby? Ada apa?” tanya salah satu dosen.
Roby terengah-engah, wajahnya panik.
“Colly… Colly ingin bunuh diri!”
“Apa?!” seru mereka serentak.
“Dia ada di atas! Cepat, kalau terlambat bisa terjadi sesuatu!”
Seorang dosen langsung mengernyit bingung.
“Apa yang sebenarnya terjadi di kampus ini… kenapa satu per satu ingin bunuh diri?”
Tanpa berpikir panjang, mereka semua berlari menuju lantai atas.
Dalam sekejap..
Kerumunan di balkon bubar.
Amy ditinggalkan sendirian.
“Hei!” teriaknya marah. “Aku yang ditindas! Kenapa kalian malah pergi?!”
Lantai atas
Angin bertiup lebih kencang.
Di tepi bangunan…
Colly duduk santai di bibir ketinggian.
Kemeja panjang berwarna pink yang ia kenakan sudah robek di beberapa bagian. Lengan bajunya terpotong tidak rapi, memperlihatkan lebam-lebam di kulitnya.
Namun wajahnya…
Tetap tenang.
Tanpa rasa takut sedikit pun.
Seolah semua ini hanyalah permainan kecil.
“Colly! Jangan!” teriak Tannia sambil berlari mendekat. “Cepat turun! Jangan lakukan hal bodoh!”
Nada suaranya panik...terdengar begitu nyata.
Begitu para dosen dan mahasiswa sampai di atap
Langkah mereka langsung terhenti.
Semua mata membesar.
Di ujung bangunan…
Colly duduk tepat di pinggiran atap. Kakinya menggantung di udara.
Sedikit saja kehilangan keseimbangan… ia bisa jatuh kapan saja.
“Ya Tuhan…!” gumam salah satu mahasiswa dengan wajah pucat.
Beberapa orang langsung mundur setengah langkah, seolah ikut merasakan ngeri.
“Jangan bergerak! Jangan buat dia kaget!” seru seorang dosen dengan suara tegang.
Suasana mendadak sunyi.
Tak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Angin meniup rambut Colly, membuat sosoknya terlihat semakin rapuh… namun anehnya tetap tenang.
“Colly… turun dulu… kita bisa bicara…” ujar salah satu dosen dengan hati-hati, suaranya ditahan agar tidak memicu.
“Jangan mendekat!” teriak mahasiswa lain pada temannya yang hampir maju. “Kalau dia panik, dia bisa jatuh!”
Beberapa mahasiswi mulai menutup mulut, menahan tangis.
“Dia benar-benar mau lompat…” “Apa yang sebenarnya terjadi…” “Bukannya dia yang menindas Amy…?”
Bisik-bisik berubah menjadi ketakutan.
Tannia berlari ke depan, wajahnya panik.
“Colly! Jangan! Tolong turun!” teriaknya dengan suara bergetar.
Roby juga ikut berseru,
“Colly, jangan lakukan ini! Masalah apa pun bisa diselesaikan!”
Colly tiba-tiba memutar tubuhnya.
Kini ia menghadap ke arah mereka—masih duduk di pinggiran atap.
“Hati-hati!” seru semua orang serentak.
Beberapa mahasiswa refleks maju satu langkah, lalu berhenti lagi karena takut membuatnya kehilangan keseimbangan.
Suasana langsung tegang.
Pada saat itu, Amy juga berlari sampai ke lantai atas. Nafasnya terengah, tapi saat melihat pemandangan di depannya—
Wajahnya langsung berubah.
“Colly…kau sengaja,” gumamnya lirih.
Sementara itu, salah satu dosen melangkah maju sedikit, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Colly… ada apa? Katakan pada kami. Jangan melakukan hal bodoh.”
Colly menunduk.
Bahu gadis itu sedikit bergetar.
“Hidupku… sudah tidak ada artinya lagi…” ucapnya pelan.
Beberapa orang langsung menahan napas.
“Aku harus berjuang sendiri… bekerja sendiri… dan tetap ditindas tanpa henti…”
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Hidup di negeri asing tidak mudah…” “Pagi aku kuliah… malam aku bekerja…” “Aku tinggal di asrama hanya untuk menghemat biaya…”
Suaranya semakin pelan, seolah kelelahan.
“Dan… agar aku tidak disiksa oleh keluargaku sendiri…”
Kerumunan langsung gempar.
“Apa maksudnya itu?” “Disiksa keluarganya sendiri?”
Dosen itu kembali bertanya dengan hati-hati,
“Colly… siapa yang menindasmu? Di mana keluargamu sekarang?”
Colly mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, penuh “luka”.
“Mereka tidak peduli padaku…” ucapnya lirih. “Aku berjuang sendiri untuk tetap sekolah… untuk punya masa depan. Tapi di sisi lain… aku terus dipersulit oleh keluarga Long.”
Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arah Amy.
Colly melanjutkan,
“Seperti yang kalian lihat… mereka sudah beberapa kali datang untuk menggangguku…”
Seorang mahasiswa mengernyit.
“Tapi… bukankah kau bisa melawan mereka? Kenapa kau harus sedih?"
Colly tertawa pelan—pahit.
“Melawan?” ucapnya lirih. “Apakah kalian pikir semuanya sesederhana itu?”
Ia mengangkat lengannya.
Lebam-lebam terlihat jelas.
Kerumunan langsung terdiam.
“Semalam… aku diculik…” lanjutnya. “Diikat… dan disiksa…”
Beberapa mahasiswi langsung menutup mulut kaget.
“Lihat bajuku…” katanya pelan. “Ini robek karena mereka…”
Tangannya sedikit gemetar saat memegang ujung kemeja.
“Ini… baju kesukaanku…” “Dibeli oleh mamaku… saat dia masih waras…”
Suasana langsung berubah.
Rasa simpati menyebar cepat.
“Kasihan sekali…” “Ini terlalu berlebihan…” “Kita salah menilai dia…”
Bisik-bisik mulai berubah arah.
Tak jauh dari situ.
Roby mencondongkan tubuh ke arah Tannia.
“Menurutmu… aktingnya tidak berlebihan?” bisiknya pelan.
Tannia melirik Colly, lalu menjawab santai, “Kalau tidak berlebihan… itu bukan Colly namanya.”
“Kau bohong!” bentak Amy histeris. “Papaku sedang merawat kakakku! Mereka tidak pernah menculikmu!” “Kalian semua jangan percaya padanya!”
Suasana langsung tegang.
Beberapa orang saling pandang—ragu.
Colly menatap Amy sekilas.
Lalu ia tertawa pelan… pahit.
“Jadi… aku yang berbohong?” ucapnya lirih.
Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar.“Hidupku… kenapa harus seburuk ini…” gumamnya.
“Apakah di dunia ini… hanya orang kaya yang selalu menang…?” lanjutnya dengan suara bergetar. “Sedangkan aku… harus selalu kalah… padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun…”
Beberapa mahasiswa mulai terlihat tersentuh.
Colly perlahan mengangkat tangannya.
“Kalau saja aku tidak bisa bela diri…” ucapnya pelan, “mungkin semalam aku sudah mati…”
Ia menggenggam ujung kemejanya—lalu menariknya sedikit.
Kain yang robek terbuka.
Lebam-lebam di kedua lengannya terlihat jelas.
Kerumunan langsung tersentak.
“Lihat…” ucap Colly lirih. “Ini bukti… apa yang mereka lakukan padaku…”
Beberapa mahasiswi langsung menutup mulut.
“Ini sudah keterlaluan…” “Dia benar-benar disiksa…”
Suasana berubah drastis.
Tatapan mulai beralih ke Amy—tidak lagi penuh simpati, tapi kecurigaan.
Seorang mahasiswa akhirnya tidak tahan.
“Amy!” teriaknya marah. “Keluargamu sudah keterlaluan karena menyakiti orang, kenapa justru kau yang ingin bunuh diri?!”
“Benar!” “Ini terlalu berlebihan!” “Kau memutarbalikkan keadaan!”
Suara-suara mulai meninggi.
Amy membeku di tempatnya.
Wajahnya pucat.
Situasi… benar-benar lepas dari kendalinya.
“Amy… kau ini anak orang kaya,” ucap Colly dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. “Kenapa tidak melepaskanku saja… aku ini cuma orang miskin.”
Ia menundukkan kepala, bahunya sedikit bergetar seperti benar-benar sedih.
“Walau ayahmu tua dan bodoh… dia tetap ayahmu,” lanjutnya pelan.
“Dan kakakmu, walau pengecut… dia masih mencintaimu.”
Colly mengusap sudut matanya, berpura-pura menyeka air mata.
“Walaupun mereka menyusahkan… setidaknya keluargamu masih lengkap,” ucapnya lirih. “Berbeda jauh denganku…"
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄