NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Beberapa menit berlalu.

Namun—

yang terjadi malah semakin… tidak masuk akal bagi Liora. Ada perubahan sikap dari saga yang dingin.

“Air.”

Saga berbicara lagi. Liora langsung bergerak.

“Hah? Iya—”

Ia hendak turun. Namun lagi-lagi—

ditahan.

“Kamu saja.”

DEG.

Liora membeku. “Dari sini?”

Saga mengangguk tipis. “Ambil.”

Liora melirik meja. Tidak terlalu jauh.

Namun tetap… ia harus sedikit mencondongkan tubuhnya.

Dengan posisi—

masih di pangkuan Saga. Wajahnya langsung memerah.

Namun tetap ia lakukan. Tangannya meraih gelas.

Hampir jatuh.

Namun berhasil. Ia kembali duduk tegak. Lalu menyodorkan.Saga tidak mengambilnya.

Sebaliknya—

ia sedikit mendekat.

“Minumkan.”

DEG!

Liora benar-benar kaku.

“A-aku…?”

Tatapan Saga tidak berubah.

Tenang. Namun penuh perintah.

“Cepat.”

Liora menelan ludah. Tangannya gemetar.

Namun perlahan—

ia mengangkat gelas itu. Mendekatkannya ke bibir Saga.

Saga minum.

Pelan.

Tatapannya tidak lepas dari wajah Liora. Yang kini merah padam.

***

Di sudut ruangan, beberapa pelayan berdiri. Menyaksikan tuannya.

Dan benar-benar…

bingung.

Itu tuan mereka. Yang selama ini dingin.

Kejam.

Tak tersentuh.Namun sekarang—

duduk santai. Dengan seorang gadis di pangkuannya.

Meminta dilayani. Seolah… tidak bisa jauh.

Salah satu pelayan bahkan menelan ludah.

“Ini… Tuan Saga?” bisiknya pelan. Yang lain hanya menggeleng kecil.

Tidak percaya. Ada juga yang mencibir iri.

" Wanita itu pasti yang menggoda Tuan!..."

***

Sementara itu—

Liora masih duduk kaku. Namun perlahan…

sesuatu berubah. Rasa takutnya masih ada.

Tapi kini—

ditambah dengan rasa lain.

Aneh. Membingungkan.

Karena di balik semua ini—

ia tahu. Luka itu tidak cukup parah untuk membuat Saga seperti ini.

Ia hanya…

mencari alasan. Untuk menahannya tetap dekat.

Dan saat Liora menyadari itu—

matanya perlahan terangkat. Menatap Saga.

Dan untuk sesaat—

tatapan mereka bertemu. Tidak ada ancaman. Tidak ada amarah. Hanya sesuatu yang lebih dalam.

Lebih… berbahaya. Sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Namun—

tidak bisa ia hindari. Tangannya masih berada di bahu Saga.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menariknya pergi.

Di dalam mansion itu—

bukan hanya ketakutan yang tumbuh. Namun juga sesuatu yang lain.

Yang pelan.

Namun pasti.

Mengikat keduanya dalam cara yang semakin sulit dilepaskan.

***

Malam semakin larut.

Mansion itu sunyi. Hanya lampu ruang tamu yang masih menyala redup.

Saga masih duduk di sofa. Seolah tidak berniat pindah ke kamar.

Dan—

Liora masih di sana.

Di pangkuannya.

Sejak tadi.

Ia sudah beberapa kali ingin turun.Namun setiap kali ia bergerak—

tangan Saga selalu lebih dulu menahan. Seakan sudah hafal setiap niatnya.

“Saga… aku capek,” ucap Liora pelan.

Suaranya lembut.

Sedikit memohon. Saga tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertuju padanya.

“Tidur di sini.”

DEG.

Liora langsung menegang. “Di… sini?”

Ia melirik sekitar. Walau tidak ada siapa-siapa.

tetap saja.

posisi ini membuatnya tidak nyaman.

Saga mengangguk tipis. “Temani aku.”

Nada suaranya rendah. Tidak memaksa seperti biasanya.

Namun justru itu.

membuat Liora semakin sulit menolak. Ia menelan ludah.

Namun perlahan.

kepalanya mengangguk. “Iya…”

***

Beberapa saat kemudian—

Liora bersandar sedikit. Masih di pangkuan Saga. Namun kini tubuhnya mulai lelah. Matanya perlahan mengantuk.

Tanpa sadar—

kepalanya jatuh ke dada Saga.

DEG.

Ia tersentak sedikit. Ingin bangun.

Namun...

tidak jadi.

Karena tangan Saga. sudah lebih dulu menahan kepalanya. Membiarkannya tetap di sana.

“Jangan banyak gerak, tidur saja” gumamnya.

Suaranya lebih pelan dari biasanya.

Lebih… dalam.

Liora diam. Jantungnya berdegup cepat. Ia juga bisa mendengar detak jantung Saga.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan anehnya— itu membuatnya sedikit… tenang. Meski ia tidak ingin mengakuinya.

***

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tiba-tiba—

klik

Suara kecil terdengar. Pintu terbuka.

Salah satu anak buah Saga masuk dengan cepat.

Wajahnya serius.

“Tuan—”

Langkahnya terhenti. Matanya langsung membesar.

Melihat pemandangan di depannya.

Saga.

Dengan Liora di pangkuannya.

Sangat dekat.

Hening beberapa detik.

Lalu..

tatapan Saga perlahan beralih.

Dingin.

Menusuk. “Apa.”

Satu kata.

Namun cukup membuat udara terasa berat. Pria itu langsung menunduk cepat.

“Maaf, Tuan… ada laporan dari luar.”

“Bicara.”

“Beberapa sisa orang tadi… masih terlihat bergerak di area pinggir kota.”

Tatapan Saga berubah.

Lebih gelap.Aura di sekitarnya langsung berubah dingin.

Liora yang masih bersandar—

langsung merasakannya. Tubuhnya menegang.

Ketakutan itu kembali muncul. Saga diam beberapa detik.

Lalu—

“Habisi.”

Suaranya rendah. Namun penuh keputusan.

“Jangan sisakan.”

“Baik, Tuan.”

Pria itu langsung pergi. Pintu kembali tertutup.

Hening lagi.

Namun kali ini—

berat. Liora perlahan mengangkat kepalanya.

Menatap Saga. Wajahnya pucat.

“Ka-kamu… beneran…”

Ia tidak melanjutkan. Namun matanya sudah cukup berbicara.

Saga menatapnya balik.

Dalam.

Tanpa rasa bersalah.

“Itu dunia ku.”

Jawabnya singkat.

“Kalau mereka hidup… mereka akan kembali.”

Liora menggigit bibirnya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram baju Saga.

Takut.

Namun tidak menjauh.

Saga memperhatikan itu.

Dan tanpa sadar—

tangannya naik. Menyentuh rambut Liora.

Mengusap pelan. Gerakan yang kontras dengan kata-katanya tadi.

“Jadi,” lanjutnya pelan, “jangan keluar dari sisiku.”

Deg.

Liora menatapnya. Campur aduk.

Takut.

Bingung.

Namun juga… terikat. Karena semakin ia melihat.

semakin ia sadar.

pria ini berbahaya.

Sangat.

Namun di saat yang sama,ia juga menjadi satu-satunya tempat aman…

yang ia miliki sekarang.

Dan itu—

hal paling menakutkan dari semuanya. Liora perlahan kembali bersandar.

Tidak sepenuhnya nyaman. Namun juga… tidak menolak.

Saga tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya tetap di sana.

Menahan.

Menjaga.

Menguasai.

Di antara ketenangan malam, romansa dan ancaman berjalan berdampingan.

Dan Liora—

terjebak tepat di tengahnya.

***

Malam itu akhirnya memaksa mereka berpindah. Liora hampir tertidur di ruang tamu.

Kepalanya masih bersandar di dada Saga saat matanya benar-benar berat.

Dan tanpa banyak kata—

Saga berdiri. Menggendongnya.

DEG.

Liora sedikit terbangun. Refleks tangannya langsung mencengkeram kemeja Saga.

“Sa… Saga…”

Suaranya lirih.

Setengah sadar.

“Diam.”

Balasnya pelan. Langkahnya mantap menuju kamar.

Pintu terbuka. Lampu kamar redup.

Dan tanpa banyak gerakan—

Saga meletakkan Liora di atas ranjang.

Namun—

tangannya belum dilepas. Liora menatapnya.

Masih mengantuk. Namun ada sedikit kesadaran.

Ia langsung mencoba menjauh.

“T-tidur sendiri…”

bisiknya pelan. Namun sebelum ia sempat bergeser jauh

Saga sudah lebih dulu naik ke ranjang.

Menariknya kembali.

DEG!

Tubuh Liora menegang.

“Saga…”

Suaranya gemetar. Tangannya menahan dada pria itu.

Memberi jarak.

Namun..

tidak berhasil. Saga menatapnya. Dalam.

Dekat.

Terlalu dekat.

“Temani aku.”

Ucapnya pelan.

Bukan perintah keras. Namun tetap tidak bisa ditolak.

Liora menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

Ia ingin menolak.

Ingin menjauh.

Namun.

tatapan itu…membuatnya diam.

Perlahan.

tangannya yang semula menahan langsung turun.

Tidak lagi mendorong menjauh.

Saga menarik selimut. Menutup mereka berdua.

Tangannya melingkar di pinggang Liora. Menariknya lebih dekat.

Hingga tidak ada lagi jarak.

DEG.

Liora benar-benar kaku. Napasnya tidak teratur.

Namun kali ini—

ia tidak berontak. Tidak seperti sebelumnya.

Ia hanya diam.Matanya menatap ke samping. Berusaha menenangkan diri.

Namun tubuhnya tetap tegang. Saga merasakannya. Tangannya sedikit bergerak. Mengusap punggung Liora.

Pelan.

Tidak kasar.

Gerakan yang… aneh. Tidak sesuai dengan dirinya.

“Masih takut?” tanyanya rendah.

Liora diam.

Beberapa detik.

Lalu,

sedikit mengangguk.

Jujur.

Saga tidak marah. Tidak juga menjauh.

Ia justru mendekatkan wajahnya.

Hingga suaranya terdengar sangat dekat di telinga Liora.

“Biasakan.”

DEG.

Kalimat itu membuat napas Liora tercekat.

Namun anehnya, tidak sepenuhnya membuatnya ingin kabur.

Karena...

pelukan itu…tidak menyakitkan. Hanya… mengikat.

Beberapa menit berlalu.

Napas Saga mulai teratur. Namun tangannya tidak lepas.

Tetap di sana.

Menahan.Seolah takut kehilangan.

Sementara Liora.

perlahan. tubuhnya mulai rileks.

Sedikit.

Sangat sedikit.Matanya terpejam. Meski masih ada rasa takut—

ia mulai terbiasa dengan kehadiran itu.

Dengan kedekatan itu. Dengan pria itu. Yang seharusnya ia benci.

Namun kini—

menjadi satu-satunya yang selalu ada di dekatnya.

***

Di luar kamar.para pelayan yang masih berada disana hanya bisa saling pandang.

Bingung.

Tidak percaya.

Tuan mereka…

tidur di mansion. Dengan seorang gadis.

Dan tidak mengusirnya. Tidak menjauh.

Bahkan—

membiarkannya sedekat itu. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Apa Tuan sudah berubah? pikir mereka.

***

Di dalam kamar—

tidak ada suara lagi. Hanya dua napas yang perlahan menyatu dalam ritme malam.

Namun di balik ketenangan itu—

ada batas yang perlahan menghilang. Batas antara takut dan terbiasa. Antara dipaksa dan menerima.

Dan tanpa mereka sadari— itu adalah awal dari sesuatu yang lebih dalam.

Lebih rumit. Dan lebih sulit untuk dilepaskan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung..........................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!