"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan Keadaan
Kuala Lumpur Malaysia,
"Bagaimana Dokter dengan perkembangan suami saya?"
Antara bahagia dan ragu-ragu Haya bertanya pada Dokter yang menangani Indro.
Dokter hanya terdiam dan memandangi Haya dengan keraguan pula (suaminya? Kenapa Bu Anita bilang kemarin wanita ini adalah pembantunya? Ah.. sudahlah biar kujawab seadanya saja)
"Hem... untuk saat ini pasien harus lebih banyak istirahat, karena nanti akan ada operasi lagi yang ke dua"
Tidak ada lagi yang disampaikan Dokter itu pada Haya. Hanya informasi singkat dan terbatas saja, mengingat pesan dari Anita sebagai orang yang mengeluarkan semua biaya untuk pengobatan Indro.
Selama menemani Indro berobat selama itu pula Haya menjalani hidup tanpa arah. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, kesehariannya hanya bisa menjaga dan melihat sesekali Indro yang masih belum sadarkan diri di ruang ICU.
(Waktu terus berjalan, sudah hampir 6 bulan aku menemanimu Mas, aku juga sudah meninggalkan Antoni cukup lama. Apa yang harus aku lakukan?)
'Tes.. Tes.. ' Air mata terus mengalir deras tanpa henti. Haya sudah hampir putus asa dengan kehidupannya sekarang.
Di ruang Dokter, Anita begitu serius mendengar informasi tentang Indro yang diberikan. Dengan ditemani Dio, Dia sengaja menemui Dokter khusus itu untuk menanyakan perkembangan Indro.
Dari semua penjelasan Dokter, munculah rencana jahat Anita. Dia keluar dari ruang Dokter dan mengajak Dio masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa kita harus ngobrol di sini Anita, bukannya kita sudah berada di tempat yang aman?"
"Dio, kamu memang jauh beda dari adik kamu Rosa yang begitu cerdas! Belajarlah untuk melihat situasi dan memanfaatkannya!"
Selama mengenal Anita, Dio memang sering dimanfaatkan oleh nya. Karena Dio terlalu mengagumi dan mencintai Anita. Dengan begitu, Anita sering menggunakan Dio sebagai alat untuk menjalankan setiap rencana jahatnya.
Dio yang hanya terdiam dan mendengar semua intruksi dari Anita. Meskipun kadang rencana Anita di luar nalar, tapi Dio selalu berusaha memenuhi keinginan nya.
"Lalu bagaimana dengan janjimu pada ku Anita? Kapan aku bisa mendapatkanmu seutuhnya?"
"Bukannya semua rencana ini baru dimulai, apa kamu sudah melakukan tugasmu dengan benar?"
"Baik lah, aku terus ikuti kemauan mu, tapi ingat jangan sampai kamu mengecewakanku!"
Dia keluar dari mobil Anita dan menutup pintunya dengan kasar. Dengan postur tubuh yang tinggi dan kekar Dio berjalan dengan gagahnya masuk ke Rumah Sakit lagi.
Tujuan nya masuk menuju ruang ICU adalah untuk menemui Haya. Dengan sikap dinginnya Dia menghampiri Haya yang sedang terduduk lemas.
"Haya, aku mau ngomong sama kamu!"
"Iya Mas Dio, apa ada hubungannya dengan perkembangan kondisi suamiku?"
"Heem, ikutlah denganku!"
Haya berjalan mengikuti Dio dari belakang. Jika dilihat dari arah koridor yang mereka lewati, Dio mengajak Haya untuk berbincang di taman Rumah Sakit.
"Duduklah Haya!"
"Baik!"
Dengan nada datar dan serius, Dio menyampaikan perkembangan Indro, Dia juga menyampaikan agar Haya kembali ke Indonesia untuk sementara ini.
Haya yang sulit untuk menerima kenyataan yang disampaikan Dio, Dia berusaha menolak dan melawan.
"Bagaimana saya bisa meninggalkan suami saya dalam keadaan seperti ini Mas Dio?!"
"Tapi ini semua harus kamu lakukan, ini juga demi kebaikan keluarga kamu bukan?"
Setelah terjadi perdebatan panjang antara mereka, maka Haya lah yang tetap dan harus mengalah. Dia menyetujui semua rencana Dio meskipun bertolak belakang dengan hati nurani nya.
"Baik lah, tapi sebelum pulang ke Indonesia biarkan aku bertemu suami ku dulu."
"Oke... tiket penerbanganmu besok pagi jam 7 . Ingat jangan sampai merusak rencana ini."
Dio meninggalkan Haya sendiri di taman dalam keadaan sedih.
Sebelum kembali masuk ke Rumah Sakit, Haya duduk sendiri di taman sambil menatap langit yang mulai gelap.
(Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana Mas, hanya doa yang bisa kuberikan untuk kesembuhan mu)
Merasa sudah lebih baik dan sudah sedikit tenang, Haya kembali masuk dan menuju ruang ICU.
Keberuntungan bagi Haya, begitu Dia tiba di depan ruang ICU ada perawat yang mencari keluarga dari Indro.
"Sa.. Saya suster, ada apa dengan suami saya!?"
"Masuk lah ke dalam, pasien mencari keluarganya."
Dengan cepat Haya masuk ke ruang ICU dan duduk di dekat bed Indro. Tanpa bisa menyentuh dan hanya bisa melihat, Dia meneteskan air mata.
"Mas... aku istri mu Haya."
Tubuh yang masih terbujur kaku dengan terbungkus perban membuat Haya semakin merasa perih melihatnya. Tidak menyebut nama siapapun, Indro hanya merintih dan meminta air.
Ketika Haya kebingungan dan ingin mengambilkan air untuk Indro, Dokter yang menanganinya pun datang.
"Permisi Bu, silahkan keluar dulu, kami akan memeriksa pasien lebih lanjut."
"Ba.. Baik Dok, tapi tadi suamiku minta air."
Perawat membawa Haya keluar dari ruang ICU.
Seperti harapan palsu, sekilas Indro sadar tidak mencari keluarganya tapi merasakan betapa sakit seluruh tubuhnya karena luka bakar yang hampir 75% Dia derita.
Satu jam kemudian Dokter keluar dari ruang ICU dengan beberapa perawat. Haya dengan cepat menghampiri mereka. Lagi-lagi Haya merasa kecewa dengan kenyataan yang dihadapinya setelah mendengar penjelasan dari Dokter. Dia terlihat shock, tubuhnya lemas dan bibirnya tidak bisa berkata-kata.
(Tidak mungkin, bukankah masih lusa Mas Indro menjalani pengobatan ke Korea, kenapa bisa diajukan sekarang)
"Ya Allah... kuatkan Hamba!"
Selama menemani Indro berobat di Malaysia, wajah Haya terlihat semakin keriput dan tubuhnya semakin kurus kering. Dia tidak pernah memperhatikan kesehatannya sendiri. Begitu cintanya Dia pada suaminya, pengorbanan yang besar pun tidak Dia rasa sebagai beban.
Hanya bisa melihat suaminya yang di dorong masuk ke ambulance menuju Bandara, Dia berusaha untuk tegar dan kuat. Pandangannya tidak lepas sampai benar-benar mobil ambulance yang membawa suaminya menghilang dari pandangannya.
Tidak lama datang orang suruhan Dio menghampiri Haya.
"Bu Haya, mari saya antar ke hotel untuk istirahat dan besok pagi jam 6 saya jemput lagi untuk pergi ke Bandara."
Hanya tatapan kosong dan anggukan kepala sebagai jawaban. Dengan langkah tidak bersemangat lagi Dia mengikuti orang suruhan Dio.
Pagi harinya sebelum Haya meninggalkan Hotel, Dia sempat menelepon Rosa. Selain menanyakan kabar Antoni , Dia juga memberitahunya kalau akan kembali ke Indonesia.
Begitu selesai dengan teleponnya, Haya masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya dari pagi. Seperti biasa dalam perjalanan menuju Bandara Dia hanya terdiam dan murung.
(Sepertinya memang hanya sampai di sini peranku untuk membantumu Mas, apakah kita masih berjodoh apa tidak hanya Allah yang tahu. Tugasku sekarang hanya melanjutkan apa yang menjadi kewajiban kita untuk anak-anak. Aku berjanji akan terus mencari keberadaan Nur dimana)