Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah dia?
Bab 16 : Benarkah dia?
Tubuh Su Yelan terhuyung ke belakang.
Detik itu terasa melambat.
Kakinya kehilangan pijakan, udara dingin menyentuh punggungnya, dan ia sudah bersiap
menyambut benturan keras dengan lantai kayu yang dingin.
Namun sebuah tangan bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Yan Yuxing melangkah maju.
Dengan gerakan lincah, ia meraih pinggang Su Yelan dan menariknya kembali ke dalam
pelukannya.
Tubuh mereka bertabrakan pelan.
Punggung Su Yelan menempel di dada pria itu.
Hangat.
Kuat.
Dan… terlalu akrab.
Napasnya tertahan.
Untuk sesaat, dunia seolah sunyi.
Hanya terdengar detak jantungnya sendiri dan entah kenapa, ia merasa detak itu tidak hanya
miliknya.
Aroma samar kayu cendana dari tubuh Yan Yuxing menyelinap masuk ke indra penciumannya.
Aroma yang pernah ia kenal.
Enam tahun lalu.
Kenangan itu datang tanpa diundang.
sebuah pelukan di tepi kolam teratai
sebuah suara yang memperkenalkan nama dengan santai
sepasang mata yang tersenyum padanya seolah dunia hanya milik mereka berdua
Shen Lanruo.
Nama itu bergetar di dalam hatinya.
Namun secepat kenangan itu muncul, Su Yelan langsung tersadar.
Wajahnya menegang.
Ia mendorong tubuh Yan Yuxing dan mundur satu langkah.
Jarak tercipta.
Dingin.
Seolah semua kehangatan tadi hanyalah ilusi.
Di sisi lain, Yan Yuxing tidak bergerak.
Tangannya masih sedikit terangkat di udara, seakan belum siap melepaskan sesuatu yang baru saja ia genggam.
Kehangatan di lengannya menghilang.
Dan anehnya, hatinya terasa kosong.
Perasaan itu datang tiba-tiba dan tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Namun ia segera menekannya.
Matanya kembali tajam, dingin, terkendali.
Ia tidak boleh gegabah.
Jika Su Yelan benar-benar adalah Shen Lanruo yang kembali
ia tidak boleh menakutinya.
Tidak lagi.
Tidak untuk kedua kalinya.
Ia sudah kehilangan wanita itu sekali.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Dengan nada lebih tenang dari sebelumnya, ia berkata,
"Su Yelan telah menyembuhkan mataku"
Suara rendahnya terdengar stabil, namun ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.
"Untuk itu… aku berhutang budi."
Su Yelan tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya dengan waspada.
Yan Yuxing melanjutkan,
"Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat.
Tatapannya mengunci wajah gadis itu.
"Taruhan satu bulan kita… belum berakhir."
Alis Su Yelan berkerut.
Nada kesal langsung muncul di wajahnya.
"Sebelum aku yakin bahwa mataku tidak akan mengalami efek samping," lanjut Yan Yuxing
perlahan, "kau harus tetap tinggal di Paviliun Tinta".
Udara di antara mereka menjadi berat.
Seperti ada sesuatu yang menekan dari segala arah.
Setelah beberapa detik, Su Yelan akhirnya membuka mulut.
Nada suaranya dingin.
"Jadi… ini alasanmu menjadikanku buronan dan menangkapku di depan umum?"
Tatapan matanya tajam seperti pisau.
Yan Yuxing tidak menghindar.
Bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Membawamu kembali dengan cara itu, katanya pelan, "adalah pilihan terakhirku"
Su Yelan mendengus.
"Pilihan yang sangat buruk.
Ia melipat tangan di depan dada.
"Apakah semua pria bangsawan sepertimu memang suka menggunakan kekuasaan untuk
menindas orang lain?"
Yan Yuxing tidak marah.
Sebaliknya, ia mendekat satu langkah.
Tidak terlalu dekat
namun cukup untuk membuat jarak mereka kembali terasa sempit.
"Kalau aku bisa melihat sejak awal," katanya dengan suara rendah, "kau pikir kau masih bisa kabur?
Pertanyaan itu seperti menekan titik lemah.
Su Yelan terdiam sejenak.
Namun ia segera membalas,
"Jadi ini salahku?
Yan Yuxing menatapnya dalam-dalam.
"Kalau bukan salahmu lalu bagaimana kau menjelaskan bahwa kau pergi diam-diam, membawa bundelmu, tanpa sepatah kata pun?".
Su Yelan membuka mulut
namun tidak ada kata yang keluar.
Ia tidak bisa menjelaskan.
Tidak mungkin menjelaskan.
Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ia kabur karena takut dikenali?
Takut masa lalunya terbongkar?
Takut… hatinya goyah lagi?
Melihat ekspresi terdiamnya, senyum tipis muncul di wajah Yan Yuxing.
Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti
senyum seseorang yang akhirnya menangkap sesuatu yang selama ini ia kejar.
Itu membuat Su Yelan semakin kesal.
Namun sebelum suasana menjadi semakin tegang
Yan Yuxing berbalik.
"A-Shun.
"Siapkan makan malam.
Nada suaranya kembali dingin dan tegas.
"Su Yelan adalah tamu. Layani dengan baik.
......................
Malam turun perlahan.
Langit di luar jendela berwarna gelap kebiruan, dan lampu-lampu minyak di Paviliun Tinta mulai dinyalakan satu per satu.
.Cahaya hangat memenuhi ruangan.
Namun suasana di dalam hati Su Yelan masih bergejolak.
Ia berniat tidak makan.
Sebagai bentuk perlawanan.
Sebagai cara menjaga jarak.
Namun niat itu runtuh saat aroma makanan mulai memenuhi ruangan.
Hangat.
Menggoda.
Sup ayam yang direbus lama mengeluarkan aroma lembut.
Ikan kukus dengan jahe segar menyebarkan wangi yang bersih.
Uap nasi putih naik perlahan, membawa kehangatan yang sederhana namun menenangkan.
Perutnya berbunyi pelan.
Su Yelan menggertakkan gigi.
Yan Yuxing duduk di seberangnya, memperhatikan semuanya.
Namun ia tidak berkata apa-apa.
Hanya menuangkan anggur pir ke dalam cangkir kecil.
"Kalau kau ingin marah," katanya santai, "lanjutkan saja setelah makan.
Nada suaranya tenang, seolah ia benar-benar tidak peduli.
Itu justru membuat Su Yelan semakin kesal.
Akhirnya ia duduk.
Dengan wajah cemberut, ia mulai makan.
Awalnya ia mencoba menjaga sikap.
Namun rasa lapar mengalahkan segalanya.Ia makan lebih cepat dari biasanya.
Dalam pikirannya
setiap potongan daging adalah Yan Yuxing.
Setiap gigitan penuh amarah.
Yan Yuxing hampir tertawa melihat itu.
Namun ia menahan diri.
Sebaliknya, ia terus mengisi cangkir Su Yelan dengan anggur.
Satu cangkir.
Dua.
Tiga.
Perlahan, pipinya mulai memerah.
Matanya menjadi sedikit berkabut.
Su Yelan menatapnya.
Tatapan yang biasanya tajam kini melembut.
"Kalau aku tahu…" gumamnya.
"bahwa orang yang harus kuobati adalah kau…
Jarinya terangkat.
Menunjuk langsung ke wajah Yan Yuxing.
"Aku tidak akan pernah menerima tugas itu… "
Nada suaranya mulai goyah.
"Tidak akan pernah… "
Yan Yuxing menatapnya diam-diam.
Ada sesuatu yang bergetar di hatinya.
"Apakah kau ingat taruhan kita?" tanya Su Yelan lagi.
Yan Yuxing mengangguk pelan.
"Ya. "
"Kalau begitu…
Su Yelan mendekat sedikit.
"kau masih berhutang padaku"
Ia menatapnya dengan mata setengah terpejam.
"Permintaan maaf. "
Tubuhnya tiba-tiba melemah.
Ia hampir jatuh.
Namun Yan Yuxing sudah lebih dulu menangkapnya.
Ia memeluknya dengan lembut.
"Kau mabuk," bisiknya.
"Tidak…"
Su Yelan menggeleng pelan.
Ia mencengkeram pakaian Yan Yuxing.
"Kalau kalah… bayar…
"minta maaf… "
Kata-katanya terputus-putus.
Namun cukup jelas.
Yan Yuxing menatap wajahnya.
Wajah yang begitu dekat.
Wajah yang… terlalu mirip dengan seseorang di dalam ingatannya.
Dan akhirnya
ia berbisik.
"Aku minta maaf."
Suara itu rendah.
Dalam.
Penuh penyesalan yang telah terpendam selama enam tahun.
Ia tidak hanya meminta maaf kepada Su Yelan.
Ia meminta maaf kepada Shen Lanruo.
Wanita yang telah ia gagal lindungi.
Wanita yang telah ia kehilangan.
Namun Su Yelan tidak benar-benar mendengarnya.
Pikirannya sudah kabur.
Kenangan masa lalu dan masa kini bercampur.
Tubuhnya terasa panas.
Ia tanpa sadar mendekat
menggosokkan pipinya ke dada Yan Yuxing.
Seperti mencari sesuatu yang hilang.
Seperti mencari rumah.
Yan Yuxing menegang.
Keyakinan di hatinya semakin kuat.
Ini bukan kebetulan.
Semua ini tidak mungkin kebetulan.
"Lan’er…
Nama itu hampir keluar dari bibirnya.
Namun ia menahannya.
Tepat saat itu
"Ugh
Su Yelan tiba-tiba muntah.
Dan seluruh isi perutnya
jatuh tepat di pakaian Yan Yuxing.
......................
Keesokan harinya.
Cahaya matahari sudah tinggi ketika Su Yelan membuka mata.
Kepalanya berdenyut.
Perutnya tidak nyaman.
Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat kejadian semalam.
Namun ingatannya hanya potongan-potongan kabur.
Saat itu pintu terbuka.
Xiao Tao masuk dengan langkah hati-hati.
Berbeda dari sebelumnya, sikapnya kini penuh hormat.
"Su Guniang sudah bangun.
Su Yelan memijat pelipisnya.
"Jam berapa sekarang?
"Hampir tengah hari."
"T- tengah hari?!
Ia langsung duduk tegak.
Namun saat ia melihat sekeliling
ia membeku.
Ini bukan kamarnya.
Dan entah kenapa
jantungnya tiba-tiba berdebar tidak nyaman.
Seolah ia tahu…
ada sesuatu yang terjadi semalam.
Sesuatu yang mungkin
tidak ingin ia ingat.