Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di ruang tengah kediaman Pratama pagi itu mendadak gaduh. Ratu, yang sudah siap dengan jaket kulit hitamnya, berdiri berkacak pinggang di depan Aditya. Di sampingnya, Noah sudah memakai tas ranselnya dan memegang helm kecil bermotif detektif Conan, memasang wajah paling memelas yang ia punya.
Aditya memijat pangkal hidungnya, menatap kunci motor gede miliknya yang digenggam erat oleh Ratu.
"Tidak, Ratu. Jakarta sedang panas-panasnya, dan kamu mau mengantar Noah pakai moge itu? Pakai mobil saja, lebih aman dan ada AC-nya."
Ratu mulai merengek dengan nada manja yang dibuat-buat "Duh, Kak Adit pelit banget sih! Macet, ini udah kesiangan, Kak! Kalau pakai mobil, Noah bisa telat ujian matematika. Pakai motor itu cuma butuh lima belas menit lewat jalan tikus. Ayolah, Kak... pinjam ya?"
Noah Ikut menarik-narik ujung kemeja Aditya "Iya, ayah... Noah mau pamer sedikit sama teman-teman kalau dijemput Tante keren pakai motor balap. Sekali ini saja, Yah. Noah janji bakal belajar perkalian tujuh sampai hafal!"
Ratu memutar bola matanya malas, apa tadi , perkalian tujuh, yang ada tujuh puluh triliunan, tapi dalam hatinya ia tersenyum, keponakan jenius nya ikut membujuk kakaknya.
Aditya menoleh ke arah istrinya"Sayang, lihat muridmu ini! Dia benar-benar tidak bisa dikasih tahu," seru Aditya meminta bantuan istrinya yang sedang merapikan meja makan.
Nadine mendekat sambil membawa segelas jus. Ia melihat Ratu yang sudah mulai berakting seolah-olah akan menangis jika tidak diizinkan.
"Ratu, kamu itu sudah besar. Jangan seperti anak kecil merengek begitu. Dan Noah, jangan ajari Tante kamu jadi pembangkang." ucap Nadine tegas.
Ratu malah semakin menjadi-jadi "Kak Nadine... ini bukan soal gaya-gayaan. Ini soal efisiensi! Lagipula, aku sudah rindu mencium aroma aspal Jakarta dari atas mesin 600cc ini. Kak Adit sayang, kakakku yang paling ganteng sejagat raya... boleh ya?"
"Ayah... kalau Ayah izinkan, Noah janji tidak akan bilang ke Ibu kalau kemarin Ayah sembunyi-sembunyi makan mie instan di dapur malam-malam." ucap Noah tersenyum penuh arti.
Aditya langsung melotot ke arah Noah, sementara Nadine memberikan tatapan penuh selidik pada suaminya.
"Noah! Kamu... oke, oke! Ambil kuncinya, Ratu! Tapi ingat, pakai helmnya yang benar, dan jangan berani-berani ngebut lebih dari 40 km/jam!"
Ratu langsung bersorak kegirangan. Ia mencium pipi Nadine sekilas lalu menarik tangan Noah menuju garasi.
"Siap, Bos! Noah, ayo cepat! Sebelum Ayah kamu berubah pikiran."
Sebelum berangkat, Ratu sempat merapikan jilbabnya agar tidak berantakan di balik helm, sementara Noah dengan semangat memasang pelindung lututnya.
Aditya hanya bisa menggelengkan kepala melihat moge hitamnya menderu keluar gerbang. Ia meraih ponselnya untuk mengecek GPS motor, memastikan dua perusuh kesayangannya itu tetap di jalur yang benar.
"Kenapa semua wanita di rumah ini dan bahkan anakku sendiri selalu bisa membuatku bertekuk lutut?" gumam Aditya pasrah, namun ruangan keluarga menjadi sangat mencengangkan, Aditya memegang tengkuknya yang sedikit merinding, lalu ia mengedarkan pandangannya, ternyata istrinya sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ehmmmm....mas!" serunya dengan suaranya yang sangat lembut namun mematikan, membuat bulu kuduk Aditya berdiri.
____
Di tengah hiruk-pikuk klakson dan polusi udara Jakarta, Ardiansyah kembali dibuat tak berkutik dari balik kemudi mobilnya. Matanya terpaku pada sebuah motor gede hitam legam yang berhenti tepat di depan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah.
Di atas motor itu, Ratu tampak sangat tangguh dengan jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya, namun tetap terlihat santun dengan jilbab yang dimasukkan rapi ke dalam kerah jaket. Di belakangnya, Noah duduk dengan tas sekolah yang hampir sebesar punggungnya, memeluk pinggang tantenya erat-erat.
Tiba-tiba, Ratu melirik ke arah kaca spion, lalu menunduk melihat kaki Noah. Ia menyadari sesuatu. Tanpa ragu, Ratu menurunkan standar motor gedenya, turun sejenak, dan berlutut di aspal yang panas tepat di samping roda depan mobil Ardiansyah.
"Noah, Tante bilang apa? Tali sepatunya diikat mati, Sayang. Kalau tersangkut rantai motor bagaimana?" ucap Ratu lembut.
"Tadi sudah kencang, Tante. Mungkin dia mau lepas sendiri karena bosan di sekolah terus." sahut Noah tersenyum, menampilkan kedua gigi depannya yang sudah tanggal.
Ratu tertawa kecil sambil jemarinya yang lincah menyimpul tali sepatu Noah dengan sangat kuat. Ia menepuk pelan sepatu keponakannya itu sebelum kembali naik ke atas moge. Ardiansyah, yang menyaksikan adegan itu dari jarak hanya dua meter, merasa dadanya bergemuruh.
"Luar biasa... Dia bisa menghajar gangster dengan brutal, tapi sekarang dia juga bisa begitu lembut pada seorang anak di tengah jalanan seperti ini. Kamu sebenarnya terbuat dari apa, Ratu?" gumam Ardiansyah dengan takjub.
Ratu, yang seolah memiliki indra keenam, tiba-tiba menoleh ke belakang dan mendapati mobil Ardiansyah tepat di belakangnya. Ia membuka kaca helmnya sedikit, lalu memberikan jempol menghadap ke bawah, lalu ia tujukan ke arah kaca depan mobil Ardiansyah dengan senyum mengejek yang khas.
Ratu berteriak tipis di tengah kebisingan "Jangan melamun, Pak CEO! Lampunya Akan hijau dua detik lagi. Jangan sampai diklakson angkot!"
Ardiansyah tersentak, wajahnya mendadak panas karena tertangkap basah sedang mengagumi wanita itu. Benar saja, lampu berubah hijau dan Ratu langsung memacu mogenya dengan lincah, meliuk di antara kemacetan, meninggalkan mobil Ardiansyah yang masih mencoba menetralkan detak jantungnya.
Ardiansyah melirik ke kursi penumpang, di mana terdapat tas kerja dan beberapa berkas proyek hotel Angga. Ia teringat luka lebam di tangan Ratu semalam. Ia pun meraih botol antiseptik lalu menyemprotkannya sedikit ke telapak tangannya sendiri hanya untuk menghirup aromanya, mencoba mencari ketenangan di tengah rasa kagum dan cemburu yang mulai bercampur aduk.
Ia melihat ponselnya menyala, menampilkan pesan dari Nisya "Kak, hari ini Nisya berangkat dengan Tuan Angga, Ayah yang meminta. Maaf ya Kak."
Ardiansyah tidak membalas pesan itu, ia akan menanyakannya di kantor, namun ia berubah pikiran, sepertinya ruang terbuka sangat cocok untuk kepalanya yang terasa pusing, Ia segera membalas pesan Nisya " Saya akan meninjau proyek sekarang, nanti kau bisa menyusul nya" .
___
Di atas motor, Noah berbisik di dekat telinga Ratu.
"Tante, tadi Tuan Ardiansyah melihat kita terus. Kayaknya dia naksir motor kita... atau naksir Tante?" Celetuk Noah dengan polosnya.
"Hus! Fokus sekolah, Noah. Jangan banyak spekulasi, nanti data di otakmu penuh!"
Ratu merapikan jilbabnya yang sedikit tertiup angin kencang di balik helmnya. Ia harus tetap fokus. Baginya, Ardiansyah adalah wilayah terlarang, meski ia sendiri tak bisa membohongi diri bahwa tatapan Ardiansyah di lampu merah tadi terasa sangat berbeda namun ia akan menepisnya dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian, Ratu telah sampai di depan sekolah elite Noah.
"Nah, sudah sampai tuan muda" ucap Ratu dengan bangga.
"Terimakasih prajurit " balas Noah terkekeh.
Noah berlari masuk ke dalam kelasnya setelah Ratu mengantar dirinya sampai ke depan pintu masuk kelasnya.