REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4
Rendy dan Linda
Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.
tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----
#mohon maaf masih pemula 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Chandra
Mobil sport merah itu memasuki halaman rumah yang luas milik keluarga Chandra. Dua kakak beradik itu turun dari mobil. Tepat saat itu Dion dan Viona juga muncul dan sedikit berlari.
"Jean... Jean putraku." seru Viona meninggalkan Dion dan berlari memeluk putra pertamanya.
"Aw.. Ibu.. Aku bukan anak kecil lagi." ucap Jean yang menghindari kecupan - kecupan ringan di pipinya.
Rendy menatap iba. "Kak aku sudah berulang kali mengalami itu di rumah."
"Viona berhenti menjahili Jean. Mereka sudah dewasa bukan anak kecil lagi." kata Dion menghampiri mereka.
Viona mendelik tajam kearah Dion, "Jean ini putraku. Aku yang melahirkannya. Lihat, dia sangat mirip sama aku kan Dion?" kata Viona menarik pipi Jean dan menempelkan pipi itu dengan pipinya. "Aku bahkan lebih suka melihat Jean daripada melihat kamu Dion." sambung Viona yang membuat Dion menjadi kesal.
"Ibu.. Kenapa Ibu sangat suka buat Ayah cemburu sih?" bisik Jean kearah Viona.
"Wajah cemburunya sangat lucu sayang." jawab Viona ikut berbisik.
Rendy mendesah pelan. Hal seperti ini sudah sering terjadi.
"Viona. Kamu itu sampai tua bersamaku bukan sama Jean." Sahut Dion menarik Viona.
"Jean sayang, apa kamu tidak mau merawat Ibu saat sudah menikah nanti?" tanya Viona dengan wajah sedih.
"Huh? Mana mungkin aku mengabaikan Ibu. Aku selalu sayang sama Ibu." jawab Jean mengecup singkat pipi Viona.
"Ibu sebaiknya kita masuk ke dalam rumah." sahut Rendy.
"Huh? Kamu siapa?" tanya Viona dengan pandangan tidak mengenalnya.
Rendy menghembuskan nafas pelan, dia mendekat dan memberi kecupan singkat di pipi Viona yang membuat wanita dengan anak tiga itu sangat sumringah.
"Oh anak - anakku sayang." ucap Viona memeluk kedua putranya.
"Sayang. Ayo kita masuk." kata Dion yang merasa diabaikan istrinya.
Viona tersenyum jahil. "Aku mau masuk bersama mereka berdua."
Dion menjadi sangat kesal dan menarik Viona. "Jangan lupa aku ini suami kamu." ujarnya membawa Viona masuk.
Viona tertawa kecil dan melambaikan tangannya kepada kedua putranya yang menatap mereka dengan pandangan sulit dipercaya.
"Kenapa mereka seperti pasangan yang baru saja menikah, padahal anaknya sudah tiga dan sebentar lagi akan punya menantu." ucap Jean Chandra.
"Kak.. Aku tidak tau kalau kamu akan menikah." kata Rendy dengan nada terkejut.
"Huh? Aku? Maksudnya kamu Rendy. Kamu yang sudah punya tunangan bukan Kakak." jawab Jean dengan alis berkerut.
"Jadi Kakak masih sendiri? Kenapa? Padahal Kakak tampan lo." ucap Rendy menatap Kakaknya penuh selidik.
"Apa maksudnya itu? Jadi maksud kamu, Kakak ini gak laku?" tanya Jean Chandra sedikit kesal.
"Aku gak bilang begitu. Kakak tau , aku yakin Devan pasti punya pacar disana. Anak itu sangat aktif, punya banyak relasi dimana - mana. Dia bisa tebar pesona dan membuat para gadis datang dan memohon agar di pilih oleh Devan." kata Rendy yang mulai melangkah pergi.
"Jadi maksudnya hanya Kakak?" tanya Jean mengekori adiknya.
"Aku tidak mau banyak bicara. Aku takut mental Kakak akan terguncang." jawab Rendy berlari meninggalkan Jean di belakang.
Jean nampak berpikir sebentar lalu dia mengambil ponselnya di saku dan mencari nomor seseorang lalu menghubunginya. Saat nada sambung itu berhenti terdengar suara seseorang di seberang telepon.
"Ya?"
"Devan. Apa kamu punya pacar?" tanya Jean penasaran.
Tut ! Tut tut tut tuttttt !!!
Nada sambung terputus itu membuat Jean segera menyusul Rendy, "Ren. Aku rasa kamu memang benar."
...***************...
Sementara itu Devan Chandra menatap kesal layar ponselnya setelah Kakak Pertama menghubunginya. Devan kira ada hal yang sangat penting, ternyata pertanyaannya tidak penting sama sekali.
"Apa sih !" keluh Devan mengumpat pada ponselnya dan kembali mengikuti kelas online.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kira - kira begitulah Ayah." kata Jean Chandra setelah presentasinya di hadapan Dion Chandra.
Dion meneguk kopi hangatnya sembari menganggukkan kepalanya. "Terimakasih atas kerja kerasmu Jean." ucapnya tersenyum lembut.
"Terimakasih Tuan Muda Jean." timpal Lazio merapikan kertas - kertas yang berserakan di atas meja.
"Akhirnya aku bisa liburan sebentar." kata Jean merenggangkan sedikit otot punggungnya yang kaku.
"Bagaimana kabar Devan?" tanya Dion yang teringat dengan putra bungsunya.
"Devan tidak bisa pulang. Dia lagi ujian." jawab Jean.
"Apa ujiannya selama dua tahun berlangsung tanpa jeda?" tanya Dion mengernyit heran.
Jean menarik nafas dan menghembuskan pelan, "Ayah hubungi aja sendiri anak itu." katanya.
"Dia tidak pernah mengangkat ponselnya jika aku yang menghubungi." ucap Dion yang sudah berulang kali menghubungi putra bungsunya yang durhaka.
Jean tertawa mendengar nasib Ayahnya. " Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Jean.
"Ayah tidak tau kalau itu adalah Ibu kalian."
"Siapa yang berani tidak angkat telepon dari Ibu? Bahkan Ayah pun di sela - sela meeting yang padat jika Ibu menelepon, Ayah pasti mengangkatnya bukan? Iya kan Lazio?" ucap Jean menyalakan sebatang rokoknya.
"Itu benar Tuan Muda Jean." kata Lazio.
Dion menatap putra yang mirip istrinya itu, dia menghembuskan nafas lelah. Ternyata seperti ini rasanya punya anak sudah dewasa semua. Ujarnya dalam hati.
"Tapi Ayah jangan terlalu khawatir, aku yakin Devan akan muncul sebentar lagi." sambung Jean kembali.
"Kenapa?" tanya Dion tidak mengerti.
"Karena Ibu sudah memarahinya." jawab Jean singkat.
"Baguslah." kata Dion mulai ikut menyalakan rokoknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Devan Chandra mendesah pelan, dia turun dari helikopter pribadi milik keluarganya. Benda dengan baling - baling besar itu tidak langsung membawa dia ke rumah megah Ayahnya melainkan membawa dia ke rumah lama , tempat Kakeknya dulu tinggal. Bangunan rumah yang seperti mansion terbentang luas. Hanya ada beberapa pelayan disana yang mengurus tempat ini.
Mobil sport mewah berwarna merah terparkir tidak jauh dari tempatnya. Pemuda itu tahu persis siapa pemiliknya.
"Kak Rendy sudah sampai ya?" tanya Devan kepada salah satu pelayan yang menyambutnya.
"Tuan Muda Rendy sedang ada di ruang tamu." jawab pelayan tersebut dengan patuh membawa beberapa koper Devan.
Devan Chandra, putra bungsu Dion dan Viona. Memiliki mata elang tegas seperti Rendy. Tubuhnya bahkan lebih tinggi dari kedua kakaknya. Wajahnya adalah fotocopy Ayahnya Dion Chandra namun mahkotanya berwarna pirang keemasan yang merupakan warisan Ibunya.
Rendy merasakan kehadiran Devan. Dia tersenyum kecil, seperti biasa adiknya memiliki aura datar dan jarang tersenyum meski sebenarnya dia sangat ramah.
Rendy menaruh majalah yang dia baca saat mengisi kebosanannya menunggu kedatangan Devan. Mata elangnya memperhatikan Devan yang tidak bicara dan memilih duduk di seberang sofa. Bahkan dia tidak menyapa Kakak yang hampir dua tahun tidak dia lihat.
"Devan. Ada yang namanya basa - basi." ucap Rendy menatap saudaranya.
"Aku capek basa - basi yang basi Kak. Sebaiknya kita segera pulang. Aku harus menyiapkan banyak tenaga untuk bertemu Ibu." ucap Devan, dia bangun dan berjalan lebih dulu meninggalkan Rendy sembari menyalakan rokok elektriknya.
Rendy mencelos menatap Devan. Dia ikut bangun dan berjalan mengekori Devan.