Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~17 Damai di luar perang di dalam
Suasana di lorong sayap timur istana sunyi senyap. Hanya suara langkah kaki Layla yang berirama pelan, disertai bunyi gemerincing gelang perak di pergelangan tangannya yang lemah. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena gugup yang berbeda—rasa ragu yang selama ini tersimpan rapi, kini harus ia sampaikan di hadapan pria yang pernah dianggapnya sebagai penjara.
Pintu kamar Raja Gustaf tidak tertutup rapat, menyisakan celah cahaya remang dari lampu minyak di dalam. Saat ia melangkah masuk dan memberi salam, punggung lebar Raja itu tampak tegak di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman dalam. Gustaf sedang memandangi kegelapan malam, seolah pikirannya pun masih belum tenang meski pengadilan tadi siang telah berakhir dengan kemenangan damai.
"Apa yang membawamu datang menemuiku, malam-malam seperti ini?" tanya Gustaf, suaranya berat namun tenang. Ia tidak berbalik, seolah sudah hafal aroma sederhana yang dibawa Layla—campuran wangi cendana dan bunga melati kering.
"A-ku..." Layla terbata. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh, menelan ludah untuk menenangkan diri. Ia masih ingat betul bagaimana perasaannya dua hari lalu, saat dipaksa datang ke istana ini: benci, kecewa, dan merasa dikhianati oleh takdir akibat pernikahan aliansi ini. Dulu, ia menganggap Gustaf bukan suami, melainkan musuh ayahnya, orang yang merebut kedamaian tanah kelahirannya.
Tapi hari ini... segalanya berubah.
Layla menarik napas panjang, lalu menundukkan kepala lebih dalam.
"Hamba datang... untuk mengucapkan terima kasih, Yang Mulia," ucapnya pelan namun jelas, kata-kata itu akhirnya lolos dari bibirnya. "Dua hari lalu, saat hamba melangkah masuk ke gerbang istana ini, hati hamba penuh dengan rasa kecewa dan amarah. Hamba menganggap pernikahan ini sebagai penjara, dan Baginda sebagai orang yang telah merenggut kebebasan hamba serta kedamaian Candra."
Gustaf diam. Ia perlahan memutar tubuhnya. Wajahnya yang gagah dan berkarisma kini diterangi cahaya remang, bayangannya jatuh panjang ke lantai. Matanya menatap tajam, namun tidak lagi berapi-api seperti dulu.
"Lalu?" tanyanya singkat, memintanya melanjutkan.
"Tapi hari ini..." suara Layla sedikit bergetar, matanya mulai berkaca-kaca kembali teringat kejadian di pendopo tadi. "Baginda berbicara di depan semua orang. Baginda mengakui kesalahan, mengakui kekalahan, dan dengan berani menawarkan perdamaian. Baginda rela merendahkan diri demi rakyat dan demi kebenaran yang hamba perjuangkan."
Ia mengangkat wajah, menatap manik mata Gustaf dengan berani, sama seperti saat ia menahan pedang itu di dadanya tempo hari.
"Baginda tidak harus melakukan itu. Baginda Raja Jaya Wijaya, pemimpin yang disegani seantero wilayah ini. Baginda bisa saja memerintah, memaksa, atau bahkan menghukum hamba yang dianggap terlalu berani bicara. Namun Baginda memilih jalan damai. Dan yang paling hamba syukuri... Baginda mengizinkan hamba pulang ke Candra. Membawa kedamaian, bukan perang."
Layla berjongkok sedikit, memberi penghormatan tulus.
"Terima kasih, karena telah mendengar suara hamba. Terima kasih, karena telah membuktikan... bahwa dugaan buruk hamba selama ini salah. Baginda tidak sekejam yang hamba kira."
Hening menyelimuti ruangan itu cukup lama. Angin malam masuk lewat celah jendela, mengibarkan ujung kain jubah Gustaf. Raja itu menatap wajah Layla lekat-lekat. Ia melihat ketulusan yang murni di sana, sesuatu yang jarang sekali ia temukan di antara orang-orang di sekelilingnya—yang biasanya hanya penuh sanjungan atau rasa takut.
Gustaf melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah, hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal. Tinggi badannya membuat Layla harus mendongak sedikit.
"Kau tahu, Layla..." suara Gustaf terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Selama 15 tahun aku memegang kekuasaan ini, semua orang datang kepadaku dengan harapan sesuatu. Ada yang minta jabatan, ada yang minta harta, ada yang minta kasih sayang, atau sekadar ingin diakui. Tapi kau..."
Ia menjeda, matanya meneliti wajah wanita di hadapannya itu.
"Kau datang dengan tangan kosong, hanya membawa keberanian dan kebenaran. Kau satu-satunya orang yang tidak pernah meminta apa-apa untuk dirimu sendiri, namun justru mendapatkan segalanya karena ketulusanmu."
Gustaf mengulurkan tangan perlahan, lalu dengan lembut menyentuh bahu Layla. Sentuhannya tidak kasar, tidak menguasai, melainkan penuh penghargaan.
"Aku sadar, selama ini aku memerintah dengan pedang karena aku berpikir kekuatan adalah segalanya. Tapi kau mengajarkanku... bahwa kekuatan yang sesungguhnya ada pada hati yang berani mengampuni dan berani meminta maaf. Kau bukan sekadar jembatan perdamaian, Layla. Kau adalah cermin yang menunjukkan padaku, seperti apa pemimpin yang seharusnya ada."
Wajah Layla memerah mendengar kata-kata itu. Ia menundukkan pandangan, hatinya berdegup kencang bukan lagi karena takut, tapi karena rasa hormat yang perlahan tumbuh, menggantikan rasa benci yang pernah ada.
"Besok," ucap Gustaf lagi, tangannya masih bertahan sebentar di bahu itu sebelum ditarik kembali. "Kita akan berangkat ke Candra. Aku akan berjalan di sampingmu, bukan sebagai Raja yang menaklukkan, tapi sebagai suami yang memohon maaf atas kesalahan masa lalu ayahku dan kesalahanku sendiri. Apakah kau siap mendampingiku, Ratu Layla?"
Layla mengangkat wajah kembali, senyum tipis namun tulus tersungging di bibirnya. Cahaya lampu minyak memantul indah di matanya.
"Hamba siap, Baginda. Hamba akan berjalan di samping Baginda, sampai ke tanah kelahiran hamba, dan kembali lagi ke sini." Layla tersenyum pasrah, seolah takdir yang mengikatnya sendiri.
"Bagus," Gustaf tersenyum tipis, senyum langka yang jarang dilihat orang lain. "Sekarang istirahatlah. Perjalanan esok hari akan panjang dan melelahkan. Pastikan kau bersiap sepenuhnya."
"Baik, Baginda. Selamat malam." Layla menunduk hormat lagi, lalu berbalik perlahan meninggalkan kamar itu.
Saat pintu tertutup di belakangnya, Gustaf berdiri diam di tempatnya. Ia kembali menghadap jendela, namun kali ini pikirannya bukan lagi pada urusan kerajaan atau perang. Bayangan wajah Layla, ketegasan dan kelembutannya, terus berputar di kepalanya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, rasa yang asing namun membuatnya merasa lebih hidup dari sebelumnya.
Sementara itu, di ujung lorong yang gelap, sesosok tubuh bersembunyi di balik tiang besar. Bayangannya memanjang di lantai batu. Ratu Yasmin.
Ia baru saja sampai hendak menemui Raja Gustaf dengan alasan menyampaikan sesuatu, namun ia mendengar segalanya. Percakapan itu, kata-kata manis Gustaf, dan sikap raja yang begitu lembut pada wanita itu... semuanya menembus dadanya seperti belati tajam.
Genggaman tangannya pada kain selendang makin erat hingga buku jarinya memutih. Rasa iri yang tadi sudah membara, kini menjadi api yang siap melahap segalanya.
"Lihatlah itu"... batin Yasmin mendesis marah. "Bahkan di malam hari pun dia harus mengambil apa yang menjadi hakku. Perhatiannya, kata-kata manisnya... semuanya jatuh pada wanita asing itu. Kau pikir kau sudah menang, Layla? Tunggu saja sampai perjalanan besok. Aku pastikan kau tidak akan pernah sampai ke Candra dengan berjalan tegak lagi."
Dengan langkah senyap dan wajah yang berubah dingin membatu, Yasmin berbalik pergi ke arah kamarnya, menyusun rencana busuk yang semakin matang di dalam kepalanya.
Damai baru saja diumumkan, tapi perang di balik dinding istana sebenarnya baru saja benar-benar dimulai.