Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Sore itu, senja merambat perlahan dilangit. Menorehkan semburat jingga keemasan yang memantul di kaca-kaca gedung bertingkat.
Di depan gerbang gedung fakultas bisnis, terlihat seorang pria berjas biru tua sedang berdiri; bersandar pada mobil hitam miliknya. Wajahnya lelah, namun tatapan matanya penuh harap. Hamish, pria itu telah menunggu disana saat jam menunjukan hampir pukul lima sore, segera setelah jam kantor nya berakhir.
Ia tidak memiliki nomor ponsel Thania dan tentu saja ia tidak menghubungi gadis itu. Karena pikirnya, ia tak merasa perlu melakukan itu. Namun Hamish tetap bersikeras menunggu gadis itu di depan Fakultas Bisnis seperti orang bodoh.
Sejak Thania tinggal di rumahnya beberapa waktu lalu karena perkuliahan gadis itu dikota, Hamish mulai merasa akrab. Ia sudah mengantar gadis itu dua kali dan menjemputnya sekali. Namun hari ini bisa jadi ia menjemput Thania untuk yang kedua kalinya jika gadis itu datang padanya.
Dan hari ini Hamish menunggunya… datang di jam yang sama saat bertemu Thania kemarin.
Sejak pukul empat lewat empat puluh lima menit. Ia sudah datang dan menepikan mobilnya. Menunggu.
Pukul lima lewat sepuluh. Ia mulai keluar dan berdiri disamping mobilnya sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar kampus, berharap melihat siluet gadis berambut panjang itu melangkah keluar dari gedung fakultas.
Namun tidak ada.
Waktu terasa berjalan lambat, dan matahari tenggelam semakin dalam. Bayangan jalan semakin panjang, dan lampu-lampu taman kampus mulai menyala satu per satu; menerangi sekitar jalan kampus. Mahasiswa yang berlalu-lalang semakin sedikit, berganti dengan sepi dan deru angin senja yang menyejukan saat menyentuh kulit.
Hamish melihat jam di tangan kirinya. Pukul enam lewat lima belas.
Hamish duduk kembali di dalam mobilnya. Jari jemarinya menggenggam erat setir yang dingin. Wajahnya mulai cemas. Ia tidak tahu harus menghubungi, siapa?
Tidak tahu siapa teman-teman Thania, tidak tahu jadwal kelasnya, tidak tahu apakah Thania sudah dirumah atau masih berada di area kampus. Ia bahkan tidak tahu apakah Thania tahu bahwa dirinya sedang menunggu didepan fakultasnya hari ini. Tapi Hamish sudah terlanjur berharap.
Karena kemarin ia bertemu gadis itu, diarea yang sama, Thania menghampirinya dengan wajah polos dan senyuman hangat, menyapanya dengan suara ceria yang entah kenapa mulai menjadi candu dalam hari-harinya.
Hamish mencoba menepis pikiran negatif. Mungkin Thania sedang ada tugas kelompok atau dia sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Atau bisa saja Thania tidak berpikir Hamish akan menjemputnya di kampus.
Pukul enam lewat tiga puluh. Langit sudah gelap dan gerbang fakultas bisnis terlihat telah ditutup penjaga kampus. Tidak ada lagi suara mahasiswa yang terdengar saat berlalu-lalang, hanya lampu di sekitar jalan kampus yang menyala temaram dan suara serangga kecil yang memecah kesunyian. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Hamish menyalakan mesin mobil dan perlahan menjalankannya keluar area kampus.
Di dalam perjalanannya, pikirannya terus gelisah dan bertanya-tanya kemana gadis itu pergi. Namun sesaat Hamish tersadar akan sesuatu.
Ia menyadari dirinya hanyalah seorang pria dewasa yang memiliki peran sebagai seorang paman untuk Thania. Dan Thania adalah gadis muda yang masih bertumbuh dewasa dengan keingintahuan lebih dan memiliki banyak waktu untuk mengenal hal baru. Seharusnya Hamish tidak menjadikan dirinya seperti tembok yang membatasi kebebasan gadis itu. Mencemaskan keberadaannya dan memperlakukan Thania seperti anak kecil yang harus pulang kerumah tepat waktu.
Ketika Hamish berada di persimpangan jalan dan lampu lalu lintas menunjukan lampu merah dan sesaat berubah menjadi hijau, Ia tidak mengambil jalan pulang yang seharusnya berbelok ke kanan. Pria itu mengambil jalan lurus dengan kecepatan normal di jalan yang ramai. Dan tak lama dari itu Hamish menepikan mobilnya ke sebuah restoran.
Pria itu tidak tahu apa yang membuatnya berhenti ditempat ini. Mungkin hanya rasa hampa yang berseling rasa marah pada Thania yang tidak ada ketika pria itu menjemputnya, meski gadis itu sendiri tidak melakukan kesalahan apapun secara langsung pada Hamish.
Restoran itu terasa hangat, cahaya lampu kuning temaram selalu menyelimuti di setiap sudutnya dan suasana tenang didalam restoran itu terasa akrab. Aroma daging panggang menyambut begitu Hamish melangkah semakin jauh ke dalam restoran.
Pria itu mendekati meja kasir dan menyebutkan pesanan dengan suara rendahnya.
"Satu large steak truffle sauce. Take away, tolong." Ucap Hamish, seolah kalimat itu telah dipikirkan saat ia masuk ke restoran.
"Baik, totalnya sembilan ratus ribu." Pelayan kasir mencatat pesanannya sambil tersenyum ramah.
Hamish menjawab dengan senyuman kilas lalu mengeluarkan kartu debitnya dan langsung menggesekkan nya pada mesin transaksi hingga struk pembayarannya keluar.
Setelah melakukan pembayaran Hamish berjalan menuju sebuah meja yang membuatnya merasakan dejavu menyenangkan. Ia duduk di kursi yang sama saat kemarin dirinya makan malam bersama Thania.
Seolah menjadi kenangan yang indah, Hamish terbayang akan kehadiran Thania di seberangnya. Gadis itu tersenyum ceria sambil memakan steak yang sangat ia suka dengan senyuman manis yang selalu merekah di wajahnya tampak begitu menghangatkan dan membuat suasana hatinya ikut terbawa senang.
"Oh My God! Really, uncle? Aku tidak bisa percaya ini, ternyata begini rasanya makan daging termahal di dunia." Katanya saat itu dengan ekspresi antusias yang tampak lucu dimata Hamish.
Tanpa disadari seorang pelayan datang menghampirinya, dia meletakan pesanan yang sudah terbungkus rapi dengan tampilan yang cukup terlihat eksklusif.
"Pesananmu, Tuan." Lalu pelayan itu segera pergi.
Kini, Hamish beranjak dari duduknya; membawa pesanannya itu——bukan karena harga, bukan karena rasa, tapi karena perhatian. Mungkin dengan ini, Thania akan tahu jika ia dipikiran. Diperhatikan. Bahkan ditunggu.
Hamish berjalan menuju mobilnya dan segera pulang. Mobilnya menyusuri jalan malam yang mulai sepi; membuat perjalanan pulangnya terasa lebih cepat. Hingga pria itu sampai dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi rumah.
Suasana sepi seperti biasanya, setiap kali pria itu pulang kerumah saat malam hari. Ditangan kanannya ia menggenggam bingkisan makan malam yang ingin ia berikan pada seorang gadis yang terkadang membuatnya teringat dan mengambil alih perhatiannya.
Langkahnya kini tertuju pada kamar Thania. Sesaat ketika Hamish masuk, semerbak aroma wangi yang lembut dan menjadi ciri khas aroma tubuh gadis itu tercium begitu lekat.
Di meja belajarnya, pria itu meletakan bingkisan makan malam yang berisi steak kesukaan Thania dengan hati-hati. Tak ada catatan dan pesan yang tertulis. Namun Hamish berharap Thania akan menyukainya dan memakan makan malam pemberiannya Hari ini. Walaupun mungkin saja gadis itu sudah makan diluar bersama orang lain.
"Semoga kau memakan makan malammu dengan lahap, Thania." Gumam Hamish.
Kemudian ia keluar dari kamar Thania dan menutup pintunya perlahan.
Kini Hamish melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.
.
.
.
.
.
.
To be continue.....
Tidak lelah lelah aku mengucapkan jangan lupa votenya gais☺