Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
“Pallas Corporation?” tanya Helena kaget karena Ethan memberhentikan mobilnya di basement Pallas Corporation. Entah kenapa ia selalu merasa seperti ada magnet antara gedung tersebut dan dirinya.
Ethan tahu mengenai masa lalu Helena dan jati dirinya saat ini makanya mereka tidak melewati pintu depan yang mana banyak kamera melainkan pintu darurat. “Ya. Ada masalah?”
“Tidak. Hanya saja kau tidak bilang kita akan ke sini.”
Helena menyampirkan lengannya pada lengan Ethan sebelum memasuki ballroom yang sangat besar. Tapi baru saja beberapa langkah, mereka langsung dihadang dengan pria yang mengaku temannya Ethan.
“Wooww man. Kau membawa wanita yang cantik. Apa dia pacarmu?” ujar pria itu bernama Alex yang Helena tahu setelah berkenalan singkat.
“Jaga matamu dari adikku, Mourou.” Ethan menatap tajam Alex yang hanya memasang cengiran.
“Aku akan memperkenalkanmu dengan pemilik ballroom ini. Mungkin kau akan mendapatkan sponsor darinya.”
“Maksudmu dengan Pallas?” tanya Ethan terkekeh. Sedangkan Helena hanya diam menyimak pembicaraan mereka.
Apakah tadi Helena mendengar kata Pallas? Apakah mereka sedang membicarakan Pallas yang sama dengan Pallas-nya Hera dan Inanna? Sudah pasti bukan? Memikirkan asumsi seperti itu membuat Helena tanpa sadar penasaran dengan sosok ‘Pallas’ Venus.
“Ya. Tenang saja... Dia orang yang sangat bersahabat walau sedikit dingin.” Alex melirik kanan kiri sebelum memanggil seseorang dengan setelan berwarna abu-abu gelap yang membelakangi mereka dan Helena mengikuti pandangannya.
Mata Helena langsung membesar melihat siapa orang itu. Itu Adam! Mata mereka bertemu saling mengunci sangat lama. Dengan segera Helena memalingkan wajahnya saat mendengar Alex berbicara dengan keras lagi supaya Adam mendengarnya.
Adam berjalan mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari mata Helena. Dan itu membuat Helena risih sekaligus marah pada dirinya sendiri. Mereka sudah berhubungan lebih dari tiga minggu tapi ia tak tahu siapa Adam sebenarnya. Bagaimana bisa ia sebodoh itu. Helena memutar kembali memori lama di kepalanya. Saat mereka bercinta di gedung ini tepat di lantai paling atas.
“Ethan, Helena perkenalkan ini Adam Pallas. Dan Adam, ini Ethan dan Helena,” kata Alex membuat Helena mengalihkan wajahnya.
Adam berjabat tangan dengan Ethan secepat kilat. Dan saat Helena dan Adam akan berjabat tangan, pria itu langsung membalikkan tangan Helena sehingga dia mencium punggung tangan Helena sangat lama dengan mata yang tak pernah lepas dari Helena. Helena melirik wajah Alex dan Ethan yang mengernyit membuat ia secepat mungkin menarik tangannya.
“Tak kusangka kau mempunyai pasangan yang sangat sempurna Mr. O’Connor,” kata Adam dingin.
Ethan tersenyum mendengar pujian dari Adam seolah tak merasa ada hawa gelap disekeliling Adam. “Panggil saja Ethan, Mr. Pallas?”
“Adam.” Adam bergumam sedangkan Ethan mengangguk.
Dan ekspresi terkejut tidak bisa ditutupi Helena.
“Kau ingin pulang?” tanya Ethan saat mereka hanya berdua di sudut ruangan. Helena memandangnya penuh tanda tanya.
Setelah perbincangan dengan hawa dingin yang di timbulkan Adam, akhirnya Helena bisa menghirup udara tanpa Adam.
“Kau kelihatan tak nyaman.”
“Maaf. Aku hanya banyak pikiran.”
Ethan mengangguk. “Kau mengenalnya?”
Dengan cepat Helena menoleh.
“Dengar, aku banyak mendengar kabar bahwa Pallas itu selalu bermain perempuan. Tapi kau tahu bukan media selalu bisa ditutupi dengan dollar. Kehidupannya sangat tertutup. Masyarakat hanya mengenal Adam Pallas pria yang sukses tanpa berita negatif.”
“… Aku tahu itu.”
“Jika hubungan kalian sedang ada masalah lebih baik kau selesaikan secepatnya.”
Helena mendenguskan tawa. “Sepertinya kau salah menduga, O’Connor.”
Ethan mengangkat alisnya. “Baiklah... Jadi si Pallas bukan kekasihmu melainkan pria yang mengejar cintamu, begitu?”
“Kau berlebihan, Ethan.”
“Kau tahu kenapa aku membawamu kemari alih-alih Rachel, adikku? Kenapa aku menyuruhmu tidak memakai wig dan nama Candy?”
Helena menatap Ethan dengan pandangan tidak terbaca. “Kau mengetahui hal ini akan terjadi, Ethan? Kau tahu dia akan mendekatiku setelah perbincangan singkat tadi.”
Ethan mengangguk. “Adam Pallas cocok menjadi sebuah perisai. Pria kaya raya selalu bisa melindungi diri dan keluarganya dengan uang. Pikirkan baik-baik Helena. Jangan sampai kau melepaskan pria itu hanya karena perkelahian kecil. Karena seorang Pallas sangat bisa diandalkan. Untuk melindungimu darinya.”
Helena tidak menjawab. Ia hanya menyesap minumannya hingga Adam menghampiri mereka.
“Mau berdansa, lady?” tanya Adam spontan tanpa memperdulikan Ethan. Helena melirik Ethan yang mengangguk memperbolehkannya dengan geram. Padahal Helena berharap jika Adam tidak mengajaknya bicara selama acara berlangsung.
“Hanya 1 lagu jika permintaanku ini menganggumu,” sambung Adam dengan mengangkat satu alis. Itu bukan ajakan tapi tantangan.
“Maaf, Sir-”
“Silahkan, Sir. Dia sudah menunggu dirimu,” potong Ethan membuat Helena kesal. Pria itu sangat tidak bisa membaca situasi.
Adam membawa Helena menuju ke tengah lantai dansa. Dia menempatkan tangan Helena di atas bahunya dan tangannya berada di pinggang wanita itu.
“Sepertinya aku kurang mengenal dirimu.” Adam melirik Ethan yang melakukan flirting bersama beberapa model dalaman salah satu merk terkenal.
Helena mendengus. “Begitupun aku.”
“Kau baru saja mengetahui siapa aku, Helena.”
“Dari orang asing bernama Alex, ya.”
“Apa kau marah?”
“Tidak. Tapi murka. Dan terkejut.”
“Begitupun aku yang masih tidak tahu siapa dirimu. Ingat, Helena… aku menghormatimu. Tapi aku memiliki batas kesabaran juga.” Adam tersenyum kecil. “Percayalah, siapa aku itu tidak terlalu penting dibandingkan dengan kedatanganmu bersama pria lain.”
“Aku menganggapnya kakak kandungku.”
“I see.”
Adam berhenti bergerak. Meletakkan tangannya di pinggang Helena lalu membawa mereka keluar dari ballroom. Helena menoleh ke belakang sekilas dan mendapati dua jempol dari Ethan. Dan Helena menggeleng seolah mengatakan itu ide buruk.
“Aku menginginkanmu sebagaimana kau menginginkanku, Helena.” Adam bergumam saat mereka berjalan di lorong sepi. “Dan jangan mengatakan kau tidak setuju.”
“Ini terlalu mendadak, Adam. Dan…cukup mengejutkan untukku tahu siapa dirimu.”
Ya. Semua ini terlalu mendadak untuk Helena. Tentang siapa itu Adam dan juga proposalnya.
“Dan kau mendapatkan keuntungan dari ini semua.” Adam masih menggoda Helena dengan janji manisnya.
Helena memejamkan matanya seraya menggelengkan kepala untuk menghalau suara Ethan, Venus, dan Adam masuk ke telinganya. Meneriakkan dan menggodanya untuk setuju dengan nama Ayahnya dan keselamatannya.
Adam berhenti. “Katakan padaku kenapa kau ingin menolakku.”
“Apa aku akan menjadi pelacurmu? Hanya berada di ranjang saat kau butuh lalu menyuruhku kembali ke rumahku.”
Adam mengerutkan dahinya dalam. Bukan itu maksudnya. Memang ini melibatkan uang yang orang pikir seperti prostitusi, tapi ia tidak berfikir seperti itu. Ia hanya menginginkan Helena beberapa bulan untuk obsesinya. “Tidak, Helena. Aku tidak akan merendahkanmu seperti itu.”
Helena meremang. Ia sedikit tahu banyak siapa itu Adam Pallas dari Venus dan Ethan. Pria ini dikenali banyak orang dan juga kamera. Jika ia berada didekat Adam, cepat atau lembat jati dirinya akan ketahuan. “Aku menyukai ideku tadi.”
“Apa? Tidak. Tidak. Tidak, Helena. Kenapa̶ Oh sial… Ada apa denganmu?”
Helena mengedikkan bahu. “Candy yang akan menemanimu di tempat yang penuh kamera, bukan aku.”
Adam memandangnya cukup lama sebelum menghela nafas. Malam ini membuat pikiran mereka berdua sangat kacau. Adam bisa melihat wajah Helena yang lelah. Ia meremas kedua bahu Helena dengan lembut sebelum mendaratkan ciuman di dahinya lama. “Kau lelah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭