mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Darah dan nama dalam turnamen
Suasana di arena utama semakin tegang. Setelah kemenangan Lin Xieng melawan Bai Heng, perhatian semua sekte, klan, dan mata-mata tersembunyi mulai terfokus padanya. Namun turnamen belum selesai. Darah belum cukup tertumpah, dan nama-nama besar belum sepenuhnya bangkit.
Babak semifinal akan mempertemukan empat nama yang kini disebut-sebut sebagai ‘Empat Pilar Muda’—Lin Xieng, Yao Qingshan dari Sekte Angin Senja, Shen Rou dari Klan Seratus Daun, dan Han Mo dari Sekte Tombak Hitam. Empat nama, empat gaya, namun hanya satu yang boleh berdiri di puncak.
Di belakang arena, Lin Xieng membasuh wajahnya dengan air dari kendi batu. Wajahnya dingin, tapi nadinya berdetak cepat. Aura altar naga tadi masih bergetar dalam tubuhnya, seolah ingin membangkitkan ingatan dari zaman purba yang tak dimengertinya.
Yufei berdiri di sampingnya. “Shen Rou lawanmu berikutnya. Wanita itu bukan sekadar ahli pedang. Dia pewaris langsung dari teknik Daun Menari dalam Sepuluh Angin, teknik ilusi yang bisa menipu indra.”
Lin Xieng mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tak bisa mundur sekarang.”
“Bukan hanya tentang menang atau kalah,” kata Yufei pelan. “Kini nama-mu sudah tercatat. Dan darahmu… sudah ditandai.”
**
Di tribun atas, para tetua sekte berbincang dengan suara nyaris tak terdengar.
“Jejak formasi naga telah bangkit. Lembah Tianmu bukan lagi tempat netral,” kata Tetua Mo Tian, wajahnya kelam.
“Kita harus hentikan dia sebelum ia masuk ke Gunung Tanpa Bayangan,” timpal tetua dari Sekte Angin Senja. “Tapi tak bisa terbuka. Biarkan turnamen ini jadi panggung terakhirnya.”
**
Arena semifinal adalah lapangan pasir putih yang dikelilingi tiang-tiang kristal. Cahaya siang menyinari arena dari atas, menciptakan ilusi cahaya yang menari. Shen Rou sudah menunggu, pedangnya panjang dan ramping, pakaiannya serba hijau, dan aura ketenangan terpancar dari tubuhnya.
“Lin Xieng,” sapanya halus. “Jika kau bisa melewati sepuluh bayanganku, aku akan mengakui kekuatanmu.”
Lin Xieng tak menjawab. Ia menarik napas dalam, dan berjalan ke tengah arena.
Gong dibunyikan.
Dalam sekejap, Shen Rou menghilang. Bayangannya berkelebat menjadi sepuluh, dua puluh, lalu lebih dari tiga puluh. Pedang-pedang ilusi melayang, menari dalam angin seperti daun gugur yang membawa kematian.
Namun Lin Xieng tidak melawan dengan kekuatan. Ia menutup matanya, membuka dunia spiritualnya, dan membiarkan aura naga di tubuhnya membaca getaran tanah.
“Ini bukan ilusi biasa… dia memakai formasi ruang kecil,” pikir Lin Xieng cepat.
Seketika, kakinya menghentak tanah. Aura naga melonjak dari tubuhnya, membentuk lingkaran pelindung yang meredam getaran palsu. Matanya terbuka. Ia melihat satu sosok yang tidak bergerak seperti bayangan lain—Shen Rou asli.
Ia melesat.
Shen Rou tersentak, namun terlambat. Pukulan Lin Xieng menghantam pedangnya, membelokkan arah, dan mendorong tubuh wanita itu mundur hingga menabrak batas arena.
“Pemenang: Lin Xieng!”
Para penonton terdiam beberapa saat, lalu meledak dalam sorak-sorai. Namun para tetua sekte kini mulai bergerak secara diam-diam.
“Nama-nya terlalu cepat naik.”
“Kita harus kirim seseorang ke Gunung Tanpa Bayangan lebih dulu.”
“Dan darahnya… harus disegel sebelum ia bangkit sepenuhnya.”
Sementara itu, Lin Xieng duduk sendirian di ruang meditasi. Batu gioknya kembali memancarkan cahaya. Jalur menuju Gunung Tanpa Bayangan semakin terang. Tapi dari arah selatan, satu titik merah muncul dalam peta spiritualnya.
Seseorang… sedang mencarinya. Seseorang dengan aura yang mirip dengan darahnya sendiri.
Yufei masuk tanpa suara.
“Final akan digelar saat matahari mencapai puncaknya besok. Lawanmu: Han Mo.”
Lin Xieng tidak menoleh. “Aku tahu. Dan setelah itu… kita menuju utara.”
“Ke Gunung Tanpa Bayangan?”
“Ya,” ucap Lin Xieng pelan. “Di sanalah… aku akan menemukan darahku yang hilang, dan nama asliku.”
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan