"Bukankah aku menyuruh mu untuk mencarikan sekretaris laki-laki? kenapa yang datang perempuan?." tanya Edwin kepada Hendrik mantan sekretarisnya yang sekarang sudah pindah jabatan.
"Mau sampai kapan sih kamu Ed tidak Mau dekat dengan seorang wanita? bisa di kira semua karyawan, kamu itu direktur pencinta laki-laki."
"Aku tidak perduli dengan perkataan mereka. Lagi pula kenyataannya aku ini normal, bukan pisang makan pisang."
"Kalau kamu normal, seharusnya kamu mau dong mempunyai sekretaris perempuan, jangan menolak, terima saja dia."
"Aku tidak mau Hen. Sekretaris perempuan itu lebih menakutkan dari pada laki-laki. Bagaimana bisa di duduk di depan ku dengan belahan dada yang sangat terlihat jelas. Padahal aku sudah bilang agar memakai pakaian yang tidak kurang bahan." Edwin yang menceritakan sekretarisnya yang sudah ia pecat beberapa hari yang lalu karena bersikap tidak sopan di depannya.
"Kamu tuh aneh.. di suguhi pemandangan indah malah tidak mau." ucap Hendrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Jam istirahat sudah tiba, beberapa orang sudah keluar dari ruang kerja mereka masing-masing, begitu pun dengan Edwin dan juga Nabila.
Nabila terus berjalan di belakang Edwin untuk.menuju ke mobil. Saat tiba di depan kantor, Nabila melihat sudah ada satu mobil berwarna merah.
"Mana kuncinya?." tanya Edwin kepada seseorang berseragam serba hitam.
Laki-laki tersebut seketika langsung melempar kunci mobil ke arah Edwin, dan dengan sigap Edwin menangkap kunci tersebut.
"Ayo.." ajak Edwin menoleh ke arah Nabila.
Nabila yang mendapat ajakan dari Edwin seketika masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Sedangkan Edwin sudah duduk di kursi pengemudi. Edwin yang melihat Nabila justru duduk di belakang seketika menoleh ke arah belakang.
"Hei!." bentak Edwin menatap ke arah Nabila, hingga Nabila terkejut. "Kamu kira saya sopir?."
"Loh, bukannya biasanya bapak duduk di belakang?." tanya Nabila dengan wajah polosnya.
"Turun, dan pindah ke depan." perintah Edwin.
"Baik pak." Nabila seketika kembali turun dari dalam mobil dan duduk di samping Edwin.
Nabila yang baru pertama kali menaiki mobil Lamborghini sedikit bingung untuk memasang seatbelt.
Edwin yang melihat Nabila kesusahan sedikit mendengus kesal lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Nabila.
"Pasang gini aja ngga bisa." ucap Edwin.
Nabila yang mendapat perhatian dari Edwin seketika terhenyak, apa lagi jarak antara dirinya dan Edwin hanya beberapa cm saja. Nabila menatap ke arah kedua mata Edwin, ini menjadi pertama kalinya Nabila menatap wajah Edwin begitu sangat dekat dan sangat jelas. Tidak hanya Nabila, bahkan Edwin juga menatap ke arah wajah Nabila hingga akhirnya mereka beradu pandang.
Nabila yang mendapat tatapan dari Edwin seketika mengalihkan wajahnya ke arah luar, dan Edwin seketika menjauhkan tubuhnya dari Nabila.
"Jangan GR, aku menatap mu karena mata kamu pupilan." ucap Edwin lalu melajukan mobilnya.
Nabila yang mendengar ucapan Edwin seketika langsung meraih kaca kecil yang berada di tasnya. "Benarkah pak? mana? nggak ada?."
Edwin yang mendengar Nabila bertanya seketika tersenyum. Edwin tidak menyangka jika Nabila sepolos itu. Nabila yang melihat Edwin tersenyum langsung paham, bahwa Edwin hanya berbohong.
"Kurang ajar, bisa-bisanya aku tertipu." ucap Nabila di dalam hati.
Mobil terus melaju melewati jalan yang sedikit rame di siang hari, Nabila sedikit menoleh ke arah Edwin yang begitu terlihat berkarisma dan tampan dengan kaca mata hitam, rambut hitam tertata rapi, jas berwarna Navy, dan aroma parfum yang di kenakan nya memenuhi seisi mobil.
"Bukankah aneh, jika laki-laki setampan pak Edwin masih jomblo." Nabila yang benar-benar terkesima." His.. sadar lah Nabila.. apa kamu tertarik dengan pak Edwin, jangan gila kamu." Nabila yang mencoba tersadar dari lamunannya.
Setelah perjalanan cukup lama sekitar 30 menit, kini mereka berdua sudah tiba di sebuah restoran mewah, terlihat dari kedua mata Nabila bahwa itu adalah restoran mahal.
Edwin dan Nabila sudah turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran. Setibanya di ambang pintu, mereka berdua sudah di sambut oleh dua pelayan restoran.
"Meja pesanan anda ada di sebelah sana pak, mari saya antarkan." ucap pegawai restoran bernama Dewi sambil menunjuk ke sebuah meja di dekat taman.
Saat tiba di sebuah meja yang sudah di pesan Edwin, pelayan restoran mempersilahkan Nabila untuk duduk, kini Nabila dan Edwin duduk saling berhadapan. Nabila juga melihat dua pelayan restoran sedang menyajikan beberapa makanan dan minuman di atas meja.
"Silahkan menikmati hidangan dari restoran kami tuan dan nona." ucap Dewi.
"Thank you.." ucap Edwin.
Namun sebelum Dewi meninggalkan mereka berdua, Edwin kembali memanggilnya.
"Iya tuan.."
"Apakah pesanan saya sudah siap?" tanya Edwin sangat pelan namun Dewi bisa mendengarnya.
"Sudah tuan." jawab Dewi.
"Baiklah.. kamu bisa pergi." perintah Edwin dan Dewi seketika berjalan mundur untuk meninggalkan Nabila dan juga Edwin.
Nabila yang melihat restoran tampak sepi, tanpa ada pelanggan satu pun terkecuali mereka berdua menjadi merasa aneh, ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa yang makan di restoran tersebut bukan hanya dirinya dan Edwin.
"Kamu mencari siapa?." tanya Edwin sambil menikmati stik di depannya.
"Bukannya aneh pak, restoran sebesar ini tidak ada pengunjung lain terkecuali kita, padahal makannya juga enak."
"Restoran ini sepi karena aku sengaja memboking nya satu hari." ucap Edwin.
"Hah." Nabila yang sangat terkejut mendengar ucapan Edwin.
"Jadi bapak memboking restoran ini? untuk apa pak?." tanya Nabila.
"Untuk makan siang saya, kenapa?."
"Hah.. cuman mau makan siang bapak memboking semua tempat restoran ini? emang ngga sayang sama duitnya pak, mending di tabung."
"Suka-suka saya dong.. kamu siapa ngatur-ngatur?."
"Saya hanya mengingatkan pak, karena cari uang itu tidak mudah."ucap Nabila.
Saat Nabila dan Edwin masih menikmati makanan di atas meja, Dewi kembali mendekat ke arah Nabila dengan membawa buket bunga yang berukuran cukup besar.
"Permisi nona, ini ada hadiah buat nona, dari restoran kami." Dewi yang memberikan buket tersebut kepada Nabila.
Nabila yang mendapat sebuah buket bunga seketika terkejut. apa lagi ukurannya cukup besar. "Hah.. hadiah? tapi saya ngga ulang tahun mbak?."
"Iya ini hadiah dari seseorang untuk nona."
"Apakah dari Malio?." tanya Nabila.
Edwin yang mendengar Nabila menyebut kata Malio seketika membelalakkan matanya, padahal buket bunga itu dari dirinya.
"Kenapa kamu menyimpulkan bahwa buket bunga itu dari Malio? memang yang bisa ngasih bunga cuman Malio?." Edwin yang tiba-tiba merasa kesal.
"Bukan begitu pak.. tadi kan yang ngirim bunga si Malio-Malio itu." ucap Nabila.
"Itu dari saya, bukankah tadi saya sudah bilang kepadamu, kalau saya bisa membelikan bunga yang lebih dari pemberian Malio untukmu."
"Hah.. ini dari bapak?." tanya Nabila yang tidak percaya.
"Kenapa? kamu tidak mau? buang saja kalau tidak mau."
"Tidak pak.. saya selalu menghargai pemberian seseorang, terimakasih ya pak atas bunganya."
"Iya.." jawab Edwin singkat.
Nabila yang mendapat bunga dari atasannya seketika menjadi salah tingkah, Nabila tidak menyangka jika atasannya seromantis itu. Bahkan Edwin juga memboking semua restoran hanya untuk makan siang saja bersamanya.
"Apakah yang di katakan ibu benar, jika pak Edwin menaruh rasa kepadaku." Nabila yang bertanya-tanya di dalam hati sambil meletakkan buket bunga di sampingnya.
"Jangan berfikiran macam-macam.. aku memberi bunga itu hanya untuk mengganti bunga yang tadi aku buang dari Malio."