Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sakit Kepala
"Lex, terimakasih banyak kamu sudah mau memberi tempat tinggal untukku, tapi menurutku itu terlalu cepat aku saja belum menyetujuinya!"
Disana Alex terdiam, sebenarnya dia sedikit kesal dengan jawaban Tania. Dia merasa pengorbanannya tidak di hargai sama sekali oleh Tania, dia sampai berfikir "Jadi benar Tania masih seperti dulu, urusan laki-laki dia masih punya selera tinggi! Tapi jangan panggil aku Alex kalau aku tidak bisa mendapatkan hati Tania!'' Umpatnya dalam hati.
"Lex, apa kamu marah dengan ucapanku?"
"Tidak, ya sudah kapan pun kamu mau, rumah itu sudah siap untuk kamu tempati!" Ucap Alex yang langsung bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Tania.
Disana Tania masih memperhatikan kepergian Alex, dia bingung dengan sikap Alex kadang dia bisa lembut, dan kadang juga bisa garang.
Sementara itu diruangannya Alex benar-benar marah padahal untuk berbicara pada Tania tadi saja butuh pemikiran yang rumit, dia takut salah bicara tapi nyatanya Tania malah sangat mengecewakan perasaannya.
"Tania lihat saja! kamu pasti akan bertekuk lutut di hadapanku, dan memohon-mohon untuk mendapatkan cintaku!'' Umpat Alex sekali lagi.
Tok ...tok ...tok...
Suara ketukan pintu membuat Alex sedikit kesal, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja malah sekarang ada yang ingin bertemu dengan dirinya.
"Masuk...!!" Ucap Alex dengan suara kerasnya.
Pintu di ruangan itupun mulai terbuka setelah suara di dalam mempersilahkannya untuk masuk. Di sana sudah berdiri Tania yang mulai berjalan mendekati Alex. Disana Alex tak memperhatikan siapa orang yang sudah masuk keruangannya.
"Lex, maaf kalau aku mengganggu kamu, aku hanya ingin memberikan laporan bulan ini." Ucap Tania yang langsung menyodorkan berkas ke atas meja di depan Alex.
"Ya, letakkan saja disitu, kamu boleh pergi!" Disana Tania sedikit kaget dengan ucapan Alex dia merasa Alex mengusirnya dari ruangannya. Bahkan Alex tak memindahkan padangannya sedikitpun pada Tania dia masih fokus pada pekerjaannya.
"Lex, apa kamu marah?"
"Tidak ada hak aku marah, sekarang kamu boleh pergi!" Ucap Alex sekali lagi dia sedang tidak ingin di ganggu apalagi yang mengganggunya orang yang sudah membuat hatinya kecewa.
"Baiklah aku pergi!'' Ucap Tania yang juga kesal dengan sikap Alex, padahal biasanya Alex malah yang meminta Tania untuk berlama-lama di ruangannya.
Tap ..tap ..tap... Suara langkah Tania kini terdengar mulai melangkah menjauh dari ruangan itu. Disana Alex baru mulai melirik ke arah Tania dia terlihat menghembuskan nafas kasarnya.
"Ada apa dengan Alex kenapa dia sekarang berubah! Fikir Tania dalam langkahnya menuju kemeja kerjanya.
**
Sementara itu di ruangan perawatan, Dinda sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya, Ibu Sinta dan Pak Bagas sungguh senang melihat perubahan pada putrinya, kini Dinda sudah bisa tersenyum dan tertawa.
"Sayang apa kamu betah di tempat ini?" Tanya Bu Sinta pada Dinda.
"Benar Bu, aku sangat betah bahkan rasanya aku tidak mau meninggalkan tempat ini!" Tanpa sadar Dinda berucap.
Disana kedua orang tuanya saling pandang ada apa dengan Dinda? Padahal mereka berharap mereka bisa pulang bersama putrinya.
"Bu, apa ada yang salah?" Ucap Dinda tanpa tahu apa yang membuat kedua orang tuanya terdiam.
"Tidak sayang kami tidak ada masalah tapi Ayah dan Ibu ingin sekali membawamu pulang, apa kamu tidak merindukan rumah kita?' Ucap Bu Sinta disana.
Disana Dinda mulai terdiam dia baru menyadari kalau dirinya masih di butuhkan dikeluarganya, kenapa tadi ucapannya tanpa ia fikirkan terlebih dulu mungkin saja ucapannya tadi melukai perasaan Ayah dan Ibunya. Tapi tiba-tiba kepala Dinda terasa sakit.
"Auw....ucap Dinda sambil kedua tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Kamu kenapa sayang, apa kepalamu sakit?" Tanya Pak Bagas yang sangat panik melihat perubahan pada putrinya. Tidak berbeda jauh dengan Bu Sinta disana dia juga panik melihat putrinya kesakitan.
"Mas, tolong panggilkan Dokter?'' Ucap Bu Sinta sambil memegangi badan Dinda, disana Dinda nampak merebahkan badannya di atas lantai, karena memang mereka tadi sedang duduk santai di atas lantai.
Disana Pak Bagas segera berlari keluar ruangan dia berusa meminta bantuan siapa saja orang yang berada disana, kini dia melihat sebuah meja perawat yang biasa menjaga putrinya di ujung ruangan. Dia pun segera berlari menuju meja perawat itu.
"Tolong-tolong putri saya!" Ucap Pak Bagas saat sudah sampai di meja perawat.
"Ada apa Pak! Ada apa dengan Dinda ucap perawat yang tadi mengantar Pak Bagas dan Bu Sinta keruangan Dinda, jadi dia tahu kalau orang di depannya adalah orang tua dari Dinda.
"Putri saya Dinda, dia tiba-tiba mengalami sakit kepala yang hebat!" Ucap Pak Bagas dengan nafasnya yang tidak beraturan.
"Baik, Bapak tenang dulu ya! Saya akan segera memanggil Dokter!" Ucap suster itu sambil memencet nomor telepon disana, tidak menunggu lama akhirnya panggilannya pun di terima oleh Mei asisten Dokter Anton.
"Ya Mei disini, ada yang bisa di bantu?"
"Mei, saya perawat Dinda, saya mau melaporkan kalau Dinda sekarang sedang tidak baik-baik saja, kepalanya tiba-tiba sakit hebat!"
"Baik saya akan bicara dulu pada Dokter Anton ya, harap tunggu Dokter Anton sedang ada pasien!"
"Baiklah, terimakasih ya Mei!"
"Sama-sama."
Disana Pak Bagas masih mendengarkan perawat itu berbicara dia menunggu jawaban dari perawat itu apakah ada Dokter yang bisa menolong putrinya.
"Bagaimana?" Tanya Pak Bagas yang ingin segera mendengar penjelasan perawat Dinda.
"Ya Pak, harap sabar Dokter Anton sedang ada pasien, beliau akan segera datang keruangan Putri Bapak!" Jawaban perawat itu sedikit membuat Pak Bagas kecewa karena dia tidak ingin terjadi apa-apa pada putrinya.
"Mari Pak saya akan keruangan Putri Bapak dulu saya ingin melihat keadaan Dinda, sambil menunggu Dokter Anton datang!" Ucap perawat itu ramah.
Akhirnya Pak Bagas dan perawat itu harus kembali keruangan Dinda, disana Pak Bagas terlihat nampak khawatir sekali dengan keadaan putrinya.
Sesampainya di depan ruangan Dinda mereka pun segera masuk, disana nampak Bu Sinta yang masih panik melihat putrinya kesakitan. disana perawat itu langsung mendekati Dinda.
"Din, apa kamu mendengar saya?" Disana nampak Dinda menjawab dengan postur tubuhnya yang mengatakan iya.
"Din, apa kamu tadi tidak meminum obatmu?" Tanya perawat itu, disana Dinda menggelengkan kepalanya memang benar tadi dia tidak meminumnya.
"Kenapa! Bukankah saya sering mengingatkanmu? Sekarang di mana obat itu!'' Tanya perawat itu lagi.
"A-aku sudah membuangnya!" Dengan lirih Dinda menjawab.
"Apa! Kenapa kamu buang?"
"Karena aku tidak mau ketergantungan obat aku meminum semua obat itu kecuali obat sakit kepala itu!" Ucap Dinda kesal.
"Tapi kamu masih membutuhkan obat itu untuk kesembuhanmu!"
Disana Dinda tidak menjawab dia masih memegangi kepalanya yang sangat-sangat sakit, disana Bu Sinta dan Pak Bagas saling pandang ternyata dugaan mereka salah nyatanya Dinda masih butuh perawatan, dia belum benar-benar sembuh.
***
Sedang di ruang praktek Dokter Anton disana baru saja keluar pasien yang ke tiga, hari ini waktu terasa lama dalam menangani satu pasien saja padahal masih ada beberapa pasien lagi yang menunggu.
"Dok maaf, tadi ada telepon dari ruangan VIP satu perawat itu mengatakan bahwa Dinda tiba-tiba sakit kepala hebat, dan disana butuh penanganan Dokter!"
Disana Anton langsung kaget setelah mendengar ucapan dari Mei, bukankah tadi Dinda baik-baik saja bahkan perubahannya sudah semakin baik.
"Apa! Dinda sakit kepala?"
"Benar Dok!"
"Ya sudah cancel dulu pasien berikutnya, kita langsung keruangan Dinda!" Ucap Anton yang terlihat sangat panik, disana Mei melihat perubahan pada Dokter Anton sepertinya kedekatan mereka lebih dari Dokter dan pasiennya pikir Mei disana.
Bersambung ......